- Beranda
- Stories from the Heart
Until The Day
...
TS
yohanaekky
Until The Day

********************************
Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.
~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.
Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.
Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.
© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.
INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
96
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#55
08 The Enemy's Attack
Aku menguap dan menggeliat di atas ranjang yang sangat empuk. Rasanya nyaman sekali. Tetapi matahari telah masuk melalui celah jendela kamarku sehingga mau tak mau aku bangun.
"Selamat pagi," sapaku pada seorang pelayan yang berjalan lalu di depan pintu kamarku.
Bukannya ucapan balasan seperti yang biasanya kudapatkan, tetapi justru ekspresi terkejut.
"Ada apa? Mengapa kau seperti itu?" tanyaku keheranan.
"Puteri, An-anda, bagaimana Anda--Anda sudah bangun?" Ia begitu terbata- beta sehingga hal ini bertambah mengherankan.
Aku menaikkan alisku. "Karena ini sudah pagi. Jadi aku bangun. Mengapa pertanyaanmu aneh seperti itu?"
Pelayan itu menggeleng kemudian minta diri dari hadapanku.
"Ada apa dengannya?" gumamku. Sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya. Aku sudah merasa lapar.
Di ruang makan, tidak ada satu pun makanan tersedia di atas meja. Aku mencari seorang pelayan disana, tetapi yang kulihat adalah reaksi yang sama seperti pelayan sebelumnya. Aku menghiraukannya dan memintanya menyajikan makanan. Perutku sudah benar-benar perlu diisi.
Aku duduk di tempat yang biasa menjadi tempat dudukku. Baru beberapa detik, langkah-langkah kaki yang cepat terdengar dari luar ruangan.
Aku mengamat-amati siapa yang akan keluar dari pintu. Tampak Sotiras muncul dengan nafas terengah-engah. Ia kemudian menghampiriku.
Sotiras meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua bahuku. Ia mengamat-amatiku dengan seksama sambil berkata, "Kau-kau baik-baik saja?"
Pertanyaannya sungguh aneh bagiku. "Mengapa aku harus tidak baik?" kutanyakan kembali padanya.
"Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?" Sotiras bertanya kembali.
Aku berdecak. "Kau ini lucu. Tidak. Kita lucu. Kita saling bertanya tetapi tidak menjawab," aku tertawa kecil. "Kalau begitu, baiklah aku yang menjawab. Aku tidak tahu apa maksudmu. Memangnya apa yang terjadi semalam? Oh tidak. Aku bertanya kembali." Sekali lagi aku tertawa.
Di luar dugaan, Sotiras memelukku. "Kukira aku akan kehilanganmu."
Apa yang Sotiras sedang katakan? Apa yang terjadi hingga membuatnya berkata seperti itu? Ada yang aneh.
"Syukurlah kau masih disini."
"Uh, tentu," ucapku lirih.
"Apo," kudengar namaku dipanggil.
Sotiras melepaskanku dari pelukannya. Aku pun dapat melihat Raja dan Ratu datang mendekat.
Aku beranjak dari kursi dan memberikan hormat kepada mereka.
"Duduklah saja," Ratu meminta. Ia membimbingku untuk duduk kembali dan duduk di sebelahku. Ekspresi wajahnya tampak aneh, seperti mengkhawatirkan sesuatu.
Aku berpaling pada Raja yang duduk di sisi lain meja bersebelahan dengan Sotiras. Ia juga menunjukkan ekspresi yang sama. Ini mengherankan. Semua orang yang kutemui menunjukkan kekhawatiran.
Kurasa aku perlu menanyakan hal ini. Namun ketika aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, aku teringat akan pertemuanku dengan Eiteréia. Hari ini adalah jadwal pelajaran sastra dengannya!
"Maafkan aku. Kurasa aku harus segera pergi," ucapku pada Raja, Ratu dan Sotiras.
"Mau kemana kau, Apo?" tanya Raja.
Kuberitahukan padanya mengenai jadwalku.
"Tunggu. Bukannya kemarin kau sudah bertemu dengan Eiteréia?" ungkap Sotiras.
Aku menggeleng sambil tersenyum. "Tidak. Belum. Hari ini aku akan bertemu dengannya."
Sotiras memandang kepada Raja dan Ratu seolah menyampaikan sesuatu yang tersembunyi artinya bagiku.
"Apo," Ratu membuatku berpaling padanya, "kau sudah menjalani pertemuan dengan Eiteréia kemarin."
Aku menggeleng. "Tidak, Ratu. Aku tahu betul hari ini adalah jadwalku." Aku bersikeras. "Dan kalau aku diijinkan, aku perlu meninggalkan tempat ini untuk bersiap-siap."
Ketiga orang yang duduk di dekatku itu kembali saling memandang. Aku tidak tahan melihatnya. Kali ini aku benar-benar perlu menanyakannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua orang yang kutemui pagi ini tampak begitu khawatir saat melihatku?" ungkapku tanpa menahan-nahan lagi.
Ratu membelai kepalaku. Ia Memandangku dengan tatapannya yang begitu lembut. "Apo," ucapnya, "semalam sesuatu terjadi. Kita ada di luar istana untuk menghadiri perayaan tahunan kerajaan dan kau sedang berada di luar gedung bersama dengan Sotiras. Saat itu sesuatu meledak di dekatmu dan membuatmu terluka sehingga kehilangan banyak darah semalam."
Ini tidak masuk akal. Apa yang kudengar sungguh tidak masuk akal. Namun tidak mungkin juga mereka berbohong dan merekayasa semuanya ini. Tidak ada keuntungannya. Hanya saja, aku benar-benar tidak habis pikir bahwa aku tidak dapat mengingat kejadian yang Ratu ceritakan sehingga untuk mempercayai hal ini menjadi sulit rasanya.
"Ratu, maafkan aku karena sejujurnya aku--bagaimana caraku mengatakannya?" Aku berpikir sejenak. Aku tahu mereka sedang menungguku. "Aku tidak merasakan sakit apapun. Apalagi kehilangan banyak darah seperti yang baru saja Ratu ceritakan."
Kulihat setetes air mata membahasi pipi Ratu.
"Mengapa Ratu menangis?" Aku merasa bersalah jadinya. Mungkin perkataanku telah menyinggungnya barusan. Aku menyesal telah mengatakannya.
"Sotiras, bawa Apo kembali ke kamarnya," Raja meminta pada puteranya yang kemudian langsung disetujui oleh Sotiras.
Dengan enggan aku beranjak dari kursi. Pasalnya aku belum sempat mencicipi sedikit pun makanan demi memuaskan perutku. Namun nampaknya perutku tak mau berkompromi dengan permintaan Raja. Perutku berbunyi kelaparan.
Aku hanya menyeringai ketika semuanya berpaling padaku.
"Astaga, kau lapar." Ratu menunjukkan penyesalan. "Raja, lebih baik dia makan lebih dahulu." Ia menghapus air matanya.
Aku yang bahkan belum melangkah sedikit pun dari posisiku sebelumnya kembali duduk.
"Kau tenang dia, Sotiras." Raja meminta.
Aku melambaikan kedua telapak tanganku sambil berkata, "Tidak perlu, Raja. Biarkan saja Sotiras melakukan pekerjaannya. Aku juga akan baik-baik saja makan sendirian." Kuyakinkan Raja yang tampak sedih melihatku.
"Ini perintah, Sotiras." Raja justru menegaskan kembali perkataannya.
Aku tidak dapat membantah lagi. Kubiarkan saja Sotiras melakukan apa yang Raja perintahkan, daripada nantinya aku yang kena masalah.
Raja dan Ratu pun meninggalkan ruangan. Sotiras kemudian duduk di sebelahku menggantikan Ratu.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Pasti ada sesuatu yang lebih sehingga seluruh isi kerajaan ini tampaknya memandangku dengan kekhawatiran atau kesedihan. Aku harus mencari tahu -- tetapi setelah aku mengenyangkan perutku.
Makanan dan minuman pun tersedia di depanku. Tanpa basa-basi aku segera melahapnya. Mungkin sekitar lima menit lamanya aku berhasil menghabiskan semuanya.
"Kau sudah kenyang?" Sotiras menanyaiku sambil tertawa kecil.
Aku mengangguk. "Tapi mengapa kau tertawa?"
"Kau benar-benar tidak anggun. Puteri macam apa yang makan seperti tadi?" Ia mengejekku.
Aku mendesis. "Karena aku memang bukan puteri, kau tahu itu. Aku hanyalah seorang rakyat biasa yang beruntung karena dijadikan seorang puteri," ucapku sedikit kesal. "Dan kau tahu Sotiras, aku bahkan masih belum paham mengapa Raja menjadikanku seorang puteri. Aku tidak merasa spesial. Aku rasa masih banyak di luar sana banyak gadis yang lebih menawan, pintar, dan berasal dari keluarga yang baik dan kaya. Bukankah itu kriteria yang sesungguhnya untuk menjadi seorang puteri?"
Sotiras hanya mengangkat kedua bahunya.
"Itu bukan tanggapan yang kumau. Sungguh tidak membantu," ungkapku terang-terangan yang kemudian aku sadari bahwa aku terlalu berani mengatakan hal semacam itu pada seorang Pangeran. "Ayolah, antar aku ke kamarku. Raja memerintahkanmu untuk mengantarku, bukan?"
Sotiras berdiri. "Kalau begitu ayo, tuan puteri." Ia berlagak membungkuk.
Melihatnya aku tertawa kecil. Kemudian aku juga berdiri dan melangkah menjauhi meja. Sotiras dan aku kemudian berjalan keluar dari ruang makan menuju kamarku.
"...sungguh malang sekali gadis itu," samar-samar aku mendengar ucapan itu saat aku berbelok hendak sampai di depan kamarku.
Aku melangkah mendekati suara itu dan melihat Bibi Eirini dan Paman Timiotita sedang mengobrol dengan Raja dan Ratu.
Mereka menyadari kehadiranku lalu berhenti mengobrol. Raja tampaknya memberi isyarat kepada Sotiras karena ia kemudian mengajakku masuk ke kamarku.
Di dalam hati aku merasa sangat kesal. Semua orang tampak khawatir melihatku, tetapi tak ada seorang pun yang sepertinya mau untuk mengatakan apa sebabnya. Jika itu seperti apa yang Ratu ucapkan, bukankah mereka seharusnya senang karena aku tidak mati tetapi masih hidup?
Segera sesudah aku masuk ke dalam kamar, aku membuka pintu yang menuju balkon dan berdiri disana. Sotiras berjalan mengikutiku dan berdiri di sampingku.
Kami tidak berkata apapun selama beberapa menit di awal. Namun aku tidak tahan sehingga aku akhirnya mengungkapkan emosiku dengan bertanya, "Ada rahasia apakah ini? Tolong beritahukan padaku. Jika kau tahu -- tidak, kau pasti tahu. Jadi tolong beritahu aku sesuatu. Apa yang terjadi?"
"Apo," Sotiras tidak melanjutkan. Ia menahannya.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanyaku dengan nada meninggi.
Sotiras justru menggeleng. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia membuatku benar-benar kesal.
"Aku ingin sendiri. Dapatkah kau membiarkan aku disini sendiri?" dengan halus aku mengusirnya. Aku beruntung aku masih dapat menahan emosiku saat ini. Jika tidak aku akan berteriak dan sudah melemparkan barang yang ada di dekatku dengan asal.
"Baiklah." Sotiras melakukan seperti yang kuminta tanpa membantah. Atau mungkin ia tak dapat membantah karena aku memberikan penekanan bahwa aku kesal dan aku ingin sendiri.
Sepeninggal Sotiras, aku duduk di kursi empuk yang ada di balkon. Jantungku berdetak lebih kencang karena emosiku meninggi. Nafasku juga mulai terasa cepat jadinya.
"Mengapa seperti ini?" ucapku pada diriku sendiri demi meluapkan kekesalan. "MENGAPA?" Kubenturkan kepalan tanganku pada pegangan kursi.
Situasi seperti ini -- dimana aku tidak mengetahui apapun saat yang lainnya tahu -- membuatku tidak dapat tahan untuk tinggal diam. Tampaknya aku harus mencari tahu sendiri. Apapun caranya, aku harus mencari tahu. Satu-satunya jalan adalah keluar dari istana. Dengan begitu aku dapat bertanya pada warga kerajaan lainnya atau mungkin lebih baik -- Elpida!
Aku beranjak dari kursi dan berjalan mondar-mandor sambil memikirkan caranya. Jika aku keluar melalui pintu depan, sudah pasti aku tidak akan diperbolehkan. Kuamati sekeliling balkon untuk mencari sebuah jalan yang mungkin saja dapat kulewati.
Ada tangga! Ya ada tangga yang kulihat tertutup oleh dedaunan. Tangga itu terbuat dari akar-akaran. Mungkin aku dapat menggunakannya untuk turun dari sini.
Situasi cukup mendukung. Tidak ada penjaga di sekitar sini. Ini adalah kesempatan bagiku.
Perlahan aku menuruni tangga itu. Kuperkuat pasanganku agar tidak terpeleset. Aku benar-benar hati-hati saat melangkah karena gaun yang kupakai ini cukup mengganggu. Namun aku masih beruntung gaun ini hanyalah gaun tidur yang tidak—
Tunggu dulu. Gaun? Mengapa aku tidak mengganti dengan pakaian lainnya yang lebih memudahkanku untuk bergerak? Kupikir aku masih menyimpan pakaian dan celanaku yang lama. Tapi--tidak. Aku tidak boleh kembali. Aku dapat menghilangkan kesempatan seperti ini.
Aku pun meneruskan upayaku menuruni tangga. Meski sulit, pada akhirnya aku mampu sampai di tanah.
Mataku cukup tajam untuk melihat pergerakan di sekitarku. Sejauh ini, tidak seorang pun tampak terlihat berlalu lalang. Hanya ada pada penjaga yang berbaris di sekitar jalan masuk istana yang ada di bagian depan. Sementara itu, bagian taman di samping istana cukup sepi. Mungkin itu adalah jalan yang dapat kulewati. Aku dapat keluar istana melalui pintu samping.
Dugaanku benar. Taman tidak dijaga. Perlahan tapi pasti aku berjalan mengendap-endap agar tidak terlihat. Pintu samping istana sudah tampak dekat. Aku melanjutkan perjalanan.
Sialnya, pintu itu terkunci. Aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Seharusnya sebelum kemari aku mencari kunci untuk membuka pintu ini.
"..ya, kita harus berjaga-jaga. Elpida, kau kesana."
Mendengar nama Elpida disebut, pandanganku langsung berpaling ke arah luar istana darimana suara itu berasal. Aku melihat Elpida!
"Psst," aku berbisik. "Elpida! Elpida!"
Elpida pun berpaling. Tepat padaku yang dibatasi oleh pintu istana. Ia segera menghampiriku.
"Apa yang kau lakukan disini?" Elpida tampak terkejut. Namun raut wajahnya berubah. Awalnya aku tidak tahu mengapa sampai ketika ia berkata, "Ka-kau baik-baik saja?"
Reaksinya sama dengan yang lainnya. Elpida sama saja dengan orang-orang di istana.
"Iya dan kau tidak perlu khawatir. Saat ini aku perlu keluar dari istana dan berbicara denganmu." Kuberitahu Elpida dengan nada kesal. "Kau tahu bagaimana caranya aku keluar dari sini? Aku tidak ingin seseorang melihatku dan menyuruhku masuk kembali ke kamarku."
Elpida menggeleng. "Kau tidak boleh keluar dari istana, Apo."
"Mengapa begitu? Memangnya apa alasannya?" Aku mendesaknya agar menjelaskan padaku.
Sekali lagi Elpida menggeleng. "Tidak, Apo. Aku tidak dapat melanggar perintah Raja."
"Perintah apa?" Aku menyahut.
"Raja meminta semua orang untuk menjagamu. Kau tidak boleh--" Elpida tidak melanjutkan. Ia tampak bersalah. "Sudahlah. Aku tidak dapat berlama-lama disini. Aku harus melakukan penjagaan. Kau kembalilah ke dalam. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Elpida sungguh tidak membantu. Menyebalkan. Ia kemudian meninggalkanku sendirian dan pergi entah kemana.
Aku berjalan kembali menuju ke dalam gedung istana dengan kesal. Kutemukan sebuah dahan pohon yang kecil terjatuh di jalan setapak dan kuambil. Demi meluapkan emosiku, aku memukul-mukulkannya pada pagar istana yang diselimuti oleh tanaman merambat yang sangat tebal.
Pada suatu titik dimana aku memukul pagar, dahan itu masuk ke dalam pagar dan lepas dari genggamanku. Aku terkejut saat melihatnya.
Dengan ragu-tahu aku meraba bagian itu dengan tangan kananku. Kubelah tanaman merambat itu dengan kedua tanganku yang menunjukkan sisi luar istana. Terhampar padang rumput yang selalu kulihat dari balkon kamarku.
Ini adalah keberuntungan! Aku dapat keluar dari istana dan mencari tahu. Tanpa berpikir panjang, aku pun keluar dari istana melalui celah itu.
Angin sepoi-sepoi menerpa seluruh tubuhku dan menerbangkan rambutku yang tergerai. Rasanya ingin berhenti untuk menikmatinya, tetapi aku harus mencari informasi yang kubutuhkan. Tak seorang pun di istana atau yang berhubungan dengan istana mau untuk memberikanku informasi. Menemui orang di luar istana dan bertanya pada mereka adalah satu-satunya jalan.
Aku berjalan menjauh dari istana dan melewati padang rumput itu. Belum jauh aku menyusuri padang rumput, telah kulihat perumahan yang indah yang letaknya mungkin satu atau dua kilometer saja jauhnya. Aku meneruskan perjalanan sampai kesana.
"Nak, mengapa kau di luar sini?" seorang pria tua dengan penampilan rapi mendatangiku.
Tampaknya pria ini tidak mengenaliku sebagai Puteri. Ini pertanda baik. "Ah, iya, Pak. Aku tadinya bersama dengan keluargaku, tapi aku tidak tahu sekarang dimana mereka. Kami terpisah."
"Malang sekali kau, nak. Orang tuamu mungkin telah diculik oleh Katastrepsei." Pria itu menepuk-nepuk bahuku.
"Katastrepsei?" tanyaku tidak paham akan ucapannya.
Pria itu tertawa kecil. "Nona muda, semua orang di kerajaan tahu siapa itu Katastrepsei. Memangnya kau orang baru di -- ah! Apakah kau Puteri yang baru diumumkan oleh Raja semalam?"
Aku terhenyak mendengarnya. "Pssst. Bapak, mohon jangan katakan pada siapapun. Aku tidak ingin ditemukan oleh anggota istana bahwa aku di luar kerajaan. Aku ingin mencari tahu dahulu apa yang sedang terjadi."
Pria itu tidak langsung menanggapi. Ia terdiam untuk beberapa lama. Selama itu pula aku berharap bahwa ia akan mengabulkan permintaanku. Aku perlu mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Ayo pergi ku rumahku saja. Disini tidak akan lagi." Itulah yang akhirnya pria itu katakan.
Sebelum ia berubah pikiran, aku pun mengikutinya. Kami berjalan beberapa lama hingga sampai di sebuah rumah yang tampak sama dengan rumah-rumah lain yang di sekitarnya.
Pria itu menutup pintu setelah masuk ke dalam rumahnya. Ia mempersilakanku duduk di sofa berbulu di ruang tamu.
"Symponia! Aku pulang." Pria itu berseru. Seseorang muncul beberapa saat kemudian.
Seorang pemuda seumuran Sotiras muncul. Ia tersenyum saat melihatku dan aku membalas senyumannya.
Pemuda bernama Symponia itu memberiku hormat sembari berkata, "Tuan Puteri."
"K-kau tahu?" Aku terkejut hingga terbata-bata.
Symponia tertawa kecil tapi kemudian ditegur oleh pria itu. "Maaf kakek."
"Bukan padaku, tapi padanya." Pria itu mengingatkan.
"Maaf, Puteri." Symponia mematuhi ucapan kakeknya. "Puteri, kita bertemu semalam. Sotiras memperkenalkanmu padaku dan kedua temanku yang lain."
Semalam. Itulah saat yang aku tidak ingat. "Begini, uh, Symponia?"
"Ya, Puteri." Symponia mengiyakan.
"Ada sedikit masalah padaku. Uh, bagaimana cara mengatakannya? Tapi begini. Aku tidak mengingat apapun yang terjadi semalam ataupun sehari yang lalu. Dapatkah kau memberitahuku?"
Symponia dan kakeknya saling berpandangan. Mereka seperti berkomunikasi melalui pikiran dan aku tidak tahu menahu mengenai apapun yang mereka katakan, tetapi setelah itu kakek Symponia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke rumah lebih dalam sementara Symponia sendiri duduk di sofa berseberangan denganku.
"Puteri, semalam di perayaan tahunan kerajaan, Raja mengumumkan pada semua orang yang hadir mengenai pengangkatan tuan Puteri menjadi anggota kerajaan. Disitulah kita bertemu. Lalu kau pergi keluar bersama Sotiras. Saat kalian kembali, tubuhmu sudah bersimbah darah dan kau dibawa pergi. Setelah itu aku tidak tahu." Panjang lebar Symponia menceritakannya.
Aku masih tidak puas dengan jawabannya. Semua itu mirip dengan ucapan Ratu pagi ini. "Apakah kau tahu lebih dari itu? Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Kupandang dia dengan ekspresi memelas agar dia tahu bahwa aku sungguh ingin tahu.
"Musuh besar kerajaan, Katastrepsei, kali ini menyerang lebih dahsyat. Biasanya setelah kami memenangkan Pertempuran Besar, dia akan menyusun strategi untuk menyerang di tahun berikutnya. Namun tampaknya ia menjadi lebih kuat kali ini sehingga ia tak perlu menunggu untuk melakukan serangan balik."
Pertempuran Besar? Musuh besar? Dimana aku pernah mendengarnya? "Lalu?"
"Kurasa Raja dan Ratu telah mempersiapkan pasukan keamanan kerajaan untuk berjaga dan bersiap untuk menyerang Katatrepsei kalau ia menyerang kerajaan, bahkan negeri ini."
Selama aku hidup di luar kerajaan, aku tidak pernah mengetahui Katatrepsei itu ada. Untuk mempercayai ucapan Symponia jadi terasa sulit. Secara jujur, kuungkapkan itu padanya.
"Puteri, itu karena Katatrepsei sudah menjelma menjadi manusia seperti kita."
"Tunggu, tunggu. Menjelma katamu? Memangnya apa wujud aslinya?"
"Tidak ada yang tahu pasti, Puteri. Itulah yang membuat kami merasa kesulitan untuk mencarinya dan juga kediamannya. Kami belum dapat membinasakannya sepenuhnya. Di luar kerajaan, ia akan menjadi seorang manusia yang gemar menghasut para rakyat sehingga terjadi kejahatan dimana-mana.
Namun karena kita masih ada dalam masa Evnoia -- masa dimana Katatrepsei menjalani hukuman -- ia tidak dapat bergerak bebas untuk merusak negeri ini. Namun karena beberapa tahun terakhir kekuatannya bertambah, beberapa rakyat sudah diculik. Ada yang sudah berhasil diselamatkan, tetapi ada juga yang belum."
Sekarang semuanya sudah terbuka. Apa yang sedang terjadi benar-benar mengerikan.
Suara derap langkah kereta kuda terdengar dari luar rumah. Secara spontan aku dan Symponia beranjak dari sofa dan melihat dari jendela apa yang terjadi.
"PERHATIAN WARGA PERUMAHAN TINGKAT SATU. RAJA MEMERINTAHKAN UNTUK MENGGELEDAH RUMAH KALIAN. HARAP SEMUA PENGHUNI PERUMAHAN BERDIRI DI LUAR RUMAH."
"Selamat pagi," sapaku pada seorang pelayan yang berjalan lalu di depan pintu kamarku.
Bukannya ucapan balasan seperti yang biasanya kudapatkan, tetapi justru ekspresi terkejut.
"Ada apa? Mengapa kau seperti itu?" tanyaku keheranan.
"Puteri, An-anda, bagaimana Anda--Anda sudah bangun?" Ia begitu terbata- beta sehingga hal ini bertambah mengherankan.
Aku menaikkan alisku. "Karena ini sudah pagi. Jadi aku bangun. Mengapa pertanyaanmu aneh seperti itu?"
Pelayan itu menggeleng kemudian minta diri dari hadapanku.
"Ada apa dengannya?" gumamku. Sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya. Aku sudah merasa lapar.
Di ruang makan, tidak ada satu pun makanan tersedia di atas meja. Aku mencari seorang pelayan disana, tetapi yang kulihat adalah reaksi yang sama seperti pelayan sebelumnya. Aku menghiraukannya dan memintanya menyajikan makanan. Perutku sudah benar-benar perlu diisi.
Aku duduk di tempat yang biasa menjadi tempat dudukku. Baru beberapa detik, langkah-langkah kaki yang cepat terdengar dari luar ruangan.
Aku mengamat-amati siapa yang akan keluar dari pintu. Tampak Sotiras muncul dengan nafas terengah-engah. Ia kemudian menghampiriku.
Sotiras meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua bahuku. Ia mengamat-amatiku dengan seksama sambil berkata, "Kau-kau baik-baik saja?"
Pertanyaannya sungguh aneh bagiku. "Mengapa aku harus tidak baik?" kutanyakan kembali padanya.
"Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?" Sotiras bertanya kembali.
Aku berdecak. "Kau ini lucu. Tidak. Kita lucu. Kita saling bertanya tetapi tidak menjawab," aku tertawa kecil. "Kalau begitu, baiklah aku yang menjawab. Aku tidak tahu apa maksudmu. Memangnya apa yang terjadi semalam? Oh tidak. Aku bertanya kembali." Sekali lagi aku tertawa.
Di luar dugaan, Sotiras memelukku. "Kukira aku akan kehilanganmu."
Apa yang Sotiras sedang katakan? Apa yang terjadi hingga membuatnya berkata seperti itu? Ada yang aneh.
"Syukurlah kau masih disini."
"Uh, tentu," ucapku lirih.
"Apo," kudengar namaku dipanggil.
Sotiras melepaskanku dari pelukannya. Aku pun dapat melihat Raja dan Ratu datang mendekat.
Aku beranjak dari kursi dan memberikan hormat kepada mereka.
"Duduklah saja," Ratu meminta. Ia membimbingku untuk duduk kembali dan duduk di sebelahku. Ekspresi wajahnya tampak aneh, seperti mengkhawatirkan sesuatu.
Aku berpaling pada Raja yang duduk di sisi lain meja bersebelahan dengan Sotiras. Ia juga menunjukkan ekspresi yang sama. Ini mengherankan. Semua orang yang kutemui menunjukkan kekhawatiran.
Kurasa aku perlu menanyakan hal ini. Namun ketika aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, aku teringat akan pertemuanku dengan Eiteréia. Hari ini adalah jadwal pelajaran sastra dengannya!
"Maafkan aku. Kurasa aku harus segera pergi," ucapku pada Raja, Ratu dan Sotiras.
"Mau kemana kau, Apo?" tanya Raja.
Kuberitahukan padanya mengenai jadwalku.
"Tunggu. Bukannya kemarin kau sudah bertemu dengan Eiteréia?" ungkap Sotiras.
Aku menggeleng sambil tersenyum. "Tidak. Belum. Hari ini aku akan bertemu dengannya."
Sotiras memandang kepada Raja dan Ratu seolah menyampaikan sesuatu yang tersembunyi artinya bagiku.
"Apo," Ratu membuatku berpaling padanya, "kau sudah menjalani pertemuan dengan Eiteréia kemarin."
Aku menggeleng. "Tidak, Ratu. Aku tahu betul hari ini adalah jadwalku." Aku bersikeras. "Dan kalau aku diijinkan, aku perlu meninggalkan tempat ini untuk bersiap-siap."
Ketiga orang yang duduk di dekatku itu kembali saling memandang. Aku tidak tahan melihatnya. Kali ini aku benar-benar perlu menanyakannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua orang yang kutemui pagi ini tampak begitu khawatir saat melihatku?" ungkapku tanpa menahan-nahan lagi.
Ratu membelai kepalaku. Ia Memandangku dengan tatapannya yang begitu lembut. "Apo," ucapnya, "semalam sesuatu terjadi. Kita ada di luar istana untuk menghadiri perayaan tahunan kerajaan dan kau sedang berada di luar gedung bersama dengan Sotiras. Saat itu sesuatu meledak di dekatmu dan membuatmu terluka sehingga kehilangan banyak darah semalam."
Ini tidak masuk akal. Apa yang kudengar sungguh tidak masuk akal. Namun tidak mungkin juga mereka berbohong dan merekayasa semuanya ini. Tidak ada keuntungannya. Hanya saja, aku benar-benar tidak habis pikir bahwa aku tidak dapat mengingat kejadian yang Ratu ceritakan sehingga untuk mempercayai hal ini menjadi sulit rasanya.
"Ratu, maafkan aku karena sejujurnya aku--bagaimana caraku mengatakannya?" Aku berpikir sejenak. Aku tahu mereka sedang menungguku. "Aku tidak merasakan sakit apapun. Apalagi kehilangan banyak darah seperti yang baru saja Ratu ceritakan."
Kulihat setetes air mata membahasi pipi Ratu.
"Mengapa Ratu menangis?" Aku merasa bersalah jadinya. Mungkin perkataanku telah menyinggungnya barusan. Aku menyesal telah mengatakannya.
"Sotiras, bawa Apo kembali ke kamarnya," Raja meminta pada puteranya yang kemudian langsung disetujui oleh Sotiras.
Dengan enggan aku beranjak dari kursi. Pasalnya aku belum sempat mencicipi sedikit pun makanan demi memuaskan perutku. Namun nampaknya perutku tak mau berkompromi dengan permintaan Raja. Perutku berbunyi kelaparan.
Aku hanya menyeringai ketika semuanya berpaling padaku.
"Astaga, kau lapar." Ratu menunjukkan penyesalan. "Raja, lebih baik dia makan lebih dahulu." Ia menghapus air matanya.
Aku yang bahkan belum melangkah sedikit pun dari posisiku sebelumnya kembali duduk.
"Kau tenang dia, Sotiras." Raja meminta.
Aku melambaikan kedua telapak tanganku sambil berkata, "Tidak perlu, Raja. Biarkan saja Sotiras melakukan pekerjaannya. Aku juga akan baik-baik saja makan sendirian." Kuyakinkan Raja yang tampak sedih melihatku.
"Ini perintah, Sotiras." Raja justru menegaskan kembali perkataannya.
Aku tidak dapat membantah lagi. Kubiarkan saja Sotiras melakukan apa yang Raja perintahkan, daripada nantinya aku yang kena masalah.
Raja dan Ratu pun meninggalkan ruangan. Sotiras kemudian duduk di sebelahku menggantikan Ratu.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Pasti ada sesuatu yang lebih sehingga seluruh isi kerajaan ini tampaknya memandangku dengan kekhawatiran atau kesedihan. Aku harus mencari tahu -- tetapi setelah aku mengenyangkan perutku.
Makanan dan minuman pun tersedia di depanku. Tanpa basa-basi aku segera melahapnya. Mungkin sekitar lima menit lamanya aku berhasil menghabiskan semuanya.
"Kau sudah kenyang?" Sotiras menanyaiku sambil tertawa kecil.
Aku mengangguk. "Tapi mengapa kau tertawa?"
"Kau benar-benar tidak anggun. Puteri macam apa yang makan seperti tadi?" Ia mengejekku.
Aku mendesis. "Karena aku memang bukan puteri, kau tahu itu. Aku hanyalah seorang rakyat biasa yang beruntung karena dijadikan seorang puteri," ucapku sedikit kesal. "Dan kau tahu Sotiras, aku bahkan masih belum paham mengapa Raja menjadikanku seorang puteri. Aku tidak merasa spesial. Aku rasa masih banyak di luar sana banyak gadis yang lebih menawan, pintar, dan berasal dari keluarga yang baik dan kaya. Bukankah itu kriteria yang sesungguhnya untuk menjadi seorang puteri?"
Sotiras hanya mengangkat kedua bahunya.
"Itu bukan tanggapan yang kumau. Sungguh tidak membantu," ungkapku terang-terangan yang kemudian aku sadari bahwa aku terlalu berani mengatakan hal semacam itu pada seorang Pangeran. "Ayolah, antar aku ke kamarku. Raja memerintahkanmu untuk mengantarku, bukan?"
Sotiras berdiri. "Kalau begitu ayo, tuan puteri." Ia berlagak membungkuk.
Melihatnya aku tertawa kecil. Kemudian aku juga berdiri dan melangkah menjauhi meja. Sotiras dan aku kemudian berjalan keluar dari ruang makan menuju kamarku.
"...sungguh malang sekali gadis itu," samar-samar aku mendengar ucapan itu saat aku berbelok hendak sampai di depan kamarku.
Aku melangkah mendekati suara itu dan melihat Bibi Eirini dan Paman Timiotita sedang mengobrol dengan Raja dan Ratu.
Mereka menyadari kehadiranku lalu berhenti mengobrol. Raja tampaknya memberi isyarat kepada Sotiras karena ia kemudian mengajakku masuk ke kamarku.
Di dalam hati aku merasa sangat kesal. Semua orang tampak khawatir melihatku, tetapi tak ada seorang pun yang sepertinya mau untuk mengatakan apa sebabnya. Jika itu seperti apa yang Ratu ucapkan, bukankah mereka seharusnya senang karena aku tidak mati tetapi masih hidup?
Segera sesudah aku masuk ke dalam kamar, aku membuka pintu yang menuju balkon dan berdiri disana. Sotiras berjalan mengikutiku dan berdiri di sampingku.
Kami tidak berkata apapun selama beberapa menit di awal. Namun aku tidak tahan sehingga aku akhirnya mengungkapkan emosiku dengan bertanya, "Ada rahasia apakah ini? Tolong beritahukan padaku. Jika kau tahu -- tidak, kau pasti tahu. Jadi tolong beritahu aku sesuatu. Apa yang terjadi?"
"Apo," Sotiras tidak melanjutkan. Ia menahannya.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanyaku dengan nada meninggi.
Sotiras justru menggeleng. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia membuatku benar-benar kesal.
"Aku ingin sendiri. Dapatkah kau membiarkan aku disini sendiri?" dengan halus aku mengusirnya. Aku beruntung aku masih dapat menahan emosiku saat ini. Jika tidak aku akan berteriak dan sudah melemparkan barang yang ada di dekatku dengan asal.
"Baiklah." Sotiras melakukan seperti yang kuminta tanpa membantah. Atau mungkin ia tak dapat membantah karena aku memberikan penekanan bahwa aku kesal dan aku ingin sendiri.
Sepeninggal Sotiras, aku duduk di kursi empuk yang ada di balkon. Jantungku berdetak lebih kencang karena emosiku meninggi. Nafasku juga mulai terasa cepat jadinya.
"Mengapa seperti ini?" ucapku pada diriku sendiri demi meluapkan kekesalan. "MENGAPA?" Kubenturkan kepalan tanganku pada pegangan kursi.
Situasi seperti ini -- dimana aku tidak mengetahui apapun saat yang lainnya tahu -- membuatku tidak dapat tahan untuk tinggal diam. Tampaknya aku harus mencari tahu sendiri. Apapun caranya, aku harus mencari tahu. Satu-satunya jalan adalah keluar dari istana. Dengan begitu aku dapat bertanya pada warga kerajaan lainnya atau mungkin lebih baik -- Elpida!
Aku beranjak dari kursi dan berjalan mondar-mandor sambil memikirkan caranya. Jika aku keluar melalui pintu depan, sudah pasti aku tidak akan diperbolehkan. Kuamati sekeliling balkon untuk mencari sebuah jalan yang mungkin saja dapat kulewati.
Ada tangga! Ya ada tangga yang kulihat tertutup oleh dedaunan. Tangga itu terbuat dari akar-akaran. Mungkin aku dapat menggunakannya untuk turun dari sini.
Situasi cukup mendukung. Tidak ada penjaga di sekitar sini. Ini adalah kesempatan bagiku.
Perlahan aku menuruni tangga itu. Kuperkuat pasanganku agar tidak terpeleset. Aku benar-benar hati-hati saat melangkah karena gaun yang kupakai ini cukup mengganggu. Namun aku masih beruntung gaun ini hanyalah gaun tidur yang tidak—
Tunggu dulu. Gaun? Mengapa aku tidak mengganti dengan pakaian lainnya yang lebih memudahkanku untuk bergerak? Kupikir aku masih menyimpan pakaian dan celanaku yang lama. Tapi--tidak. Aku tidak boleh kembali. Aku dapat menghilangkan kesempatan seperti ini.
Aku pun meneruskan upayaku menuruni tangga. Meski sulit, pada akhirnya aku mampu sampai di tanah.
Mataku cukup tajam untuk melihat pergerakan di sekitarku. Sejauh ini, tidak seorang pun tampak terlihat berlalu lalang. Hanya ada pada penjaga yang berbaris di sekitar jalan masuk istana yang ada di bagian depan. Sementara itu, bagian taman di samping istana cukup sepi. Mungkin itu adalah jalan yang dapat kulewati. Aku dapat keluar istana melalui pintu samping.
Dugaanku benar. Taman tidak dijaga. Perlahan tapi pasti aku berjalan mengendap-endap agar tidak terlihat. Pintu samping istana sudah tampak dekat. Aku melanjutkan perjalanan.
Sialnya, pintu itu terkunci. Aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Seharusnya sebelum kemari aku mencari kunci untuk membuka pintu ini.
"..ya, kita harus berjaga-jaga. Elpida, kau kesana."
Mendengar nama Elpida disebut, pandanganku langsung berpaling ke arah luar istana darimana suara itu berasal. Aku melihat Elpida!
"Psst," aku berbisik. "Elpida! Elpida!"
Elpida pun berpaling. Tepat padaku yang dibatasi oleh pintu istana. Ia segera menghampiriku.
"Apa yang kau lakukan disini?" Elpida tampak terkejut. Namun raut wajahnya berubah. Awalnya aku tidak tahu mengapa sampai ketika ia berkata, "Ka-kau baik-baik saja?"
Reaksinya sama dengan yang lainnya. Elpida sama saja dengan orang-orang di istana.
"Iya dan kau tidak perlu khawatir. Saat ini aku perlu keluar dari istana dan berbicara denganmu." Kuberitahu Elpida dengan nada kesal. "Kau tahu bagaimana caranya aku keluar dari sini? Aku tidak ingin seseorang melihatku dan menyuruhku masuk kembali ke kamarku."
Elpida menggeleng. "Kau tidak boleh keluar dari istana, Apo."
"Mengapa begitu? Memangnya apa alasannya?" Aku mendesaknya agar menjelaskan padaku.
Sekali lagi Elpida menggeleng. "Tidak, Apo. Aku tidak dapat melanggar perintah Raja."
"Perintah apa?" Aku menyahut.
"Raja meminta semua orang untuk menjagamu. Kau tidak boleh--" Elpida tidak melanjutkan. Ia tampak bersalah. "Sudahlah. Aku tidak dapat berlama-lama disini. Aku harus melakukan penjagaan. Kau kembalilah ke dalam. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Elpida sungguh tidak membantu. Menyebalkan. Ia kemudian meninggalkanku sendirian dan pergi entah kemana.
Aku berjalan kembali menuju ke dalam gedung istana dengan kesal. Kutemukan sebuah dahan pohon yang kecil terjatuh di jalan setapak dan kuambil. Demi meluapkan emosiku, aku memukul-mukulkannya pada pagar istana yang diselimuti oleh tanaman merambat yang sangat tebal.
Pada suatu titik dimana aku memukul pagar, dahan itu masuk ke dalam pagar dan lepas dari genggamanku. Aku terkejut saat melihatnya.
Dengan ragu-tahu aku meraba bagian itu dengan tangan kananku. Kubelah tanaman merambat itu dengan kedua tanganku yang menunjukkan sisi luar istana. Terhampar padang rumput yang selalu kulihat dari balkon kamarku.
Ini adalah keberuntungan! Aku dapat keluar dari istana dan mencari tahu. Tanpa berpikir panjang, aku pun keluar dari istana melalui celah itu.
Angin sepoi-sepoi menerpa seluruh tubuhku dan menerbangkan rambutku yang tergerai. Rasanya ingin berhenti untuk menikmatinya, tetapi aku harus mencari informasi yang kubutuhkan. Tak seorang pun di istana atau yang berhubungan dengan istana mau untuk memberikanku informasi. Menemui orang di luar istana dan bertanya pada mereka adalah satu-satunya jalan.
Aku berjalan menjauh dari istana dan melewati padang rumput itu. Belum jauh aku menyusuri padang rumput, telah kulihat perumahan yang indah yang letaknya mungkin satu atau dua kilometer saja jauhnya. Aku meneruskan perjalanan sampai kesana.
"Nak, mengapa kau di luar sini?" seorang pria tua dengan penampilan rapi mendatangiku.
Tampaknya pria ini tidak mengenaliku sebagai Puteri. Ini pertanda baik. "Ah, iya, Pak. Aku tadinya bersama dengan keluargaku, tapi aku tidak tahu sekarang dimana mereka. Kami terpisah."
"Malang sekali kau, nak. Orang tuamu mungkin telah diculik oleh Katastrepsei." Pria itu menepuk-nepuk bahuku.
"Katastrepsei?" tanyaku tidak paham akan ucapannya.
Pria itu tertawa kecil. "Nona muda, semua orang di kerajaan tahu siapa itu Katastrepsei. Memangnya kau orang baru di -- ah! Apakah kau Puteri yang baru diumumkan oleh Raja semalam?"
Aku terhenyak mendengarnya. "Pssst. Bapak, mohon jangan katakan pada siapapun. Aku tidak ingin ditemukan oleh anggota istana bahwa aku di luar kerajaan. Aku ingin mencari tahu dahulu apa yang sedang terjadi."
Pria itu tidak langsung menanggapi. Ia terdiam untuk beberapa lama. Selama itu pula aku berharap bahwa ia akan mengabulkan permintaanku. Aku perlu mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Ayo pergi ku rumahku saja. Disini tidak akan lagi." Itulah yang akhirnya pria itu katakan.
Sebelum ia berubah pikiran, aku pun mengikutinya. Kami berjalan beberapa lama hingga sampai di sebuah rumah yang tampak sama dengan rumah-rumah lain yang di sekitarnya.
Pria itu menutup pintu setelah masuk ke dalam rumahnya. Ia mempersilakanku duduk di sofa berbulu di ruang tamu.
"Symponia! Aku pulang." Pria itu berseru. Seseorang muncul beberapa saat kemudian.
Seorang pemuda seumuran Sotiras muncul. Ia tersenyum saat melihatku dan aku membalas senyumannya.
Pemuda bernama Symponia itu memberiku hormat sembari berkata, "Tuan Puteri."
"K-kau tahu?" Aku terkejut hingga terbata-bata.
Symponia tertawa kecil tapi kemudian ditegur oleh pria itu. "Maaf kakek."
"Bukan padaku, tapi padanya." Pria itu mengingatkan.
"Maaf, Puteri." Symponia mematuhi ucapan kakeknya. "Puteri, kita bertemu semalam. Sotiras memperkenalkanmu padaku dan kedua temanku yang lain."
Semalam. Itulah saat yang aku tidak ingat. "Begini, uh, Symponia?"
"Ya, Puteri." Symponia mengiyakan.
"Ada sedikit masalah padaku. Uh, bagaimana cara mengatakannya? Tapi begini. Aku tidak mengingat apapun yang terjadi semalam ataupun sehari yang lalu. Dapatkah kau memberitahuku?"
Symponia dan kakeknya saling berpandangan. Mereka seperti berkomunikasi melalui pikiran dan aku tidak tahu menahu mengenai apapun yang mereka katakan, tetapi setelah itu kakek Symponia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke rumah lebih dalam sementara Symponia sendiri duduk di sofa berseberangan denganku.
"Puteri, semalam di perayaan tahunan kerajaan, Raja mengumumkan pada semua orang yang hadir mengenai pengangkatan tuan Puteri menjadi anggota kerajaan. Disitulah kita bertemu. Lalu kau pergi keluar bersama Sotiras. Saat kalian kembali, tubuhmu sudah bersimbah darah dan kau dibawa pergi. Setelah itu aku tidak tahu." Panjang lebar Symponia menceritakannya.
Aku masih tidak puas dengan jawabannya. Semua itu mirip dengan ucapan Ratu pagi ini. "Apakah kau tahu lebih dari itu? Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Kupandang dia dengan ekspresi memelas agar dia tahu bahwa aku sungguh ingin tahu.
"Musuh besar kerajaan, Katastrepsei, kali ini menyerang lebih dahsyat. Biasanya setelah kami memenangkan Pertempuran Besar, dia akan menyusun strategi untuk menyerang di tahun berikutnya. Namun tampaknya ia menjadi lebih kuat kali ini sehingga ia tak perlu menunggu untuk melakukan serangan balik."
Pertempuran Besar? Musuh besar? Dimana aku pernah mendengarnya? "Lalu?"
"Kurasa Raja dan Ratu telah mempersiapkan pasukan keamanan kerajaan untuk berjaga dan bersiap untuk menyerang Katatrepsei kalau ia menyerang kerajaan, bahkan negeri ini."
Selama aku hidup di luar kerajaan, aku tidak pernah mengetahui Katatrepsei itu ada. Untuk mempercayai ucapan Symponia jadi terasa sulit. Secara jujur, kuungkapkan itu padanya.
"Puteri, itu karena Katatrepsei sudah menjelma menjadi manusia seperti kita."
"Tunggu, tunggu. Menjelma katamu? Memangnya apa wujud aslinya?"
"Tidak ada yang tahu pasti, Puteri. Itulah yang membuat kami merasa kesulitan untuk mencarinya dan juga kediamannya. Kami belum dapat membinasakannya sepenuhnya. Di luar kerajaan, ia akan menjadi seorang manusia yang gemar menghasut para rakyat sehingga terjadi kejahatan dimana-mana.
Namun karena kita masih ada dalam masa Evnoia -- masa dimana Katatrepsei menjalani hukuman -- ia tidak dapat bergerak bebas untuk merusak negeri ini. Namun karena beberapa tahun terakhir kekuatannya bertambah, beberapa rakyat sudah diculik. Ada yang sudah berhasil diselamatkan, tetapi ada juga yang belum."
Sekarang semuanya sudah terbuka. Apa yang sedang terjadi benar-benar mengerikan.
Suara derap langkah kereta kuda terdengar dari luar rumah. Secara spontan aku dan Symponia beranjak dari sofa dan melihat dari jendela apa yang terjadi.
"PERHATIAN WARGA PERUMAHAN TINGKAT SATU. RAJA MEMERINTAHKAN UNTUK MENGGELEDAH RUMAH KALIAN. HARAP SEMUA PENGHUNI PERUMAHAN BERDIRI DI LUAR RUMAH."
0