- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#271
Part 37.3: Sand Versus Fire
Maaf gan telat
Tiba-tiba Ervan melihat salah seorang anak buah James berlari meninggalkan teman-temannya yang bersembunyi di balik pohon. Di saat itulah Ervan menembak kaki anak buah James. Akibatnya, dia jatuh tersungkur di atas rerumputan hutan kota. Manusia itu mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya.
Seseorang tetap muncul dari balik pepohonan untuk menolong korban Ervan. Dia tetap nekat maju meskipun sudah dilarang oleh temannya. Baru beberapa langkah, kepala si penolong langsung dilubangi oleh peluru Ervan. Orang yang mencoba menolong itu langsung roboh dan tak bergerak lagi. Dalam selisih waktu yang cukup sedikit, kini giliran korban Ervan yang kepalanya disantap oleh peluru yang sangat cepat. Dua anak buah James roboh dalam waktu singkat. Sekarang tinggal dua: seorang manusia dan vampire.
Eyes of Markmanship milik Ervan juga berniat membunuh manusia yang kabur. Tembakan Ervan meleset. Peluru-pelurunya hanya menghantam batang pohon. Manusia itu berhasil kabur meninggalkan Hutan Kota Manggarai.
Setelah kejadian itu, semuanya menjadi hening. Mata sakti milik Ervan melakukan zoomingke pohon tempat vampire bersembunya. Ervan sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda pergerakan.
Ervan merasakan punggungnya dihantam dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi, dia merasakah panas yang menyengat punggungnya. Ervan cepat-cepat berguling dan mencoba untuk mengamati penyerangnya. Bukan wajah penyerang yang dia dapat, melainkan sebuah kaki yang menendang rahangnya dan membuatnya terhempas. Punggung Ervan mendarat di trotoar. Semenatara Black Hawksendiri terlempar ke bawah sofa.
Si vampire tak memberi Ervan kesempatan. Dengan kecepatan tinggi, vampire pengendali api itu mencoba memukul Ervan dengan tinjunya. Dengan segenap kesadaran yang masih ada, Ervan menggunakan pengendalian pasirnya untuk melindungi dirinya dari serangan vampire. Tinju si vampire ditepis oleh pasir Ervan. Di saat itu, Ervan menggunakan tinjunya yang dipenuhi oleh pasir untuk menyerang balik. Vampire ini sadar dan langsung melompat mundur. Sekarang mereka berdua terengah-rengah. Vampire berdiri di gazebo sedangkan Ervan berdiri di trotoar. Jarak mereka sekarang ada tujuh meter.
Ervan paham bahwa vampire itu memprovokasinya. Dia lalu menonaktifkan pengendalian warnanya sehingga terlihatlah wujudnya. Dia tersenyum pada si vampire. Kedua tangannya menggenggam pisau.
Setelah mendengar hal itu, si vampire segera mengambil senapan milik Ervan. Maksudnya adalah memaksa Ervan agar mau tidak mau harus berduel dengannya. Begitu si vampire mengembalikan pandangannya ke tempat Ervan berdiri, yang dilihat si vampire hanyalah jalan trotoar kosong.
Sekali lagi Ervan berkamuflase dengan pengendalian warnanya. Jarak Ervan memang tidak begitu jauh dari vampire dan tentu saja Ervan masih bisa mendengar teriakan lawannya yang penuh amarah. Ervan tidak merespon amarah lawannya itu. Dia berjalan mendekati seluncuran untuk mengambil pasir.
Tidak ada jawaban dari Ervan.
Panah pasir yang menusuk tubuh vampire mulai berubah menjadi pasir kembali. Luka-lukanya mulai beregenerasi. Si vampire semakin marah. Di tengah amarahnya, dia membakar gazebo yang sudah hancur. Api yang berkobar menerangi tempat di sekitar si vampire, sehingga terlihatlah sesosok manusia berwarna hitam legam yang sedang berdiri di dekat seluncuran. Itulah Ervan. Melihat kesempatan itu, si vampire segera menggunakan kecepatan vampirenya untuk mendekati Ervan. Tinjunya yang diselimuti api mendarat di perut Ervan. Sekali lagi membuat Ervan terhempas dan membentur tangga besi seluncuran.
Serangan si vampire belum selesai hingga di situ. Vampire pengendali api ini menembaki Ervan dengan apinya. Ervan berhasil menepis semua api yang mengarah padanya sambil naik menuju puncak seluncuran. Tiba-tiba si vampire bergerak mendekati Ervan dan dengan tinju apinya, dia mencoba menyerang Ervan. Serangannya hanya mengenai tangga seluncuran karena Ervan sudah naik di puncak seluncuran. Vampire ini segera menaiki seluncuran sementara Ervan meluncur dengan kepala di bawah dan tubuh terlentang sambil melakukan pengendalian pasir. Dia menghantam si vampire yang baru mencapai puncak seluncuran dengan pasir yang sudah dipadatkan. Kali ini giliran si vampire yang terhempas dan mendarat di batang pohon sebelum tubuhnya membentur trotoar.
Begitu Ervan mencoba berdiri, dia sedikit memuntahkan darah. Dirinya paham bahwa muntah darahnya disebabkan karena tinju api yang mendarat di perutnya. Ervan mendengus sebal ketika melihat beberapa bagian depan bajunya hangus karena terbakar. Dia teringat punggungnya juga terkena serangan api. Secara reflek dia meraba punggungnya. Kulit punggungnya sedikit melepuh.
Menggunakan api itu mengetahui tempatku berada, pikir Ervan yang segera tersenyum,Ah, jangan bodoh, dia membakar gazebo bukan untuk mengetahui keberadaanku tapi karena amarahnya sendiri.
Ervan tetap tenang dan melapisi tinjunya dengan pasir. Tinju mereka beradu dan akibatnya pasir Ervan berhamburan. Kaki kiri vampire mulai bergerak dan menendang ke kepala Ervan. Ervan menahan tendangan vampire, mengambil pisau dan mencoba menusuk jantung vampire. Vampire langsung mundur sehingga pasak milik Ervan hanya mengenai udara kosong. Langsung saja, Ervan melempar pasaknya dengan bantuan Eyes of Markmanship yang locktepat ke jantung lawannya dan di saat yang bersamaan pula si vampire melemparkan apinya ke Ervan. Vampire itu menjerit ketika pasaknya menusuk tangannya. Jantungnya terselamatkan oleh tangannya yang bergerak ketika melemparkan apinya. Ervan terluka oleh api si vampire. Celananya hangus dan membuat kulit kakinya melepuh.
Si vampire benar-benar tidak memberikan kesempatan pada Ervan. Dia mencabut pisau yang menembus kulitnya dan membakarnya. Tahu apa yang akan dilakukan si vampire, Ervan mencabut pisau yang ada di sabuknya. Dia mulai menyerang Ervan dengan membabi-buta. Berkali-kali si vampire mencoba menusuk leher Ervan dengan pisau yang digenggamnya. Tangan kanan mereka saling berduel pisau dan tangan kiri mereka berduel pengendalian alam. Karena tak kunjung kena, vampire itu mencoba melukai segala bagian tubuh Ervan. Dentingan dari dua buah logam terus beradu menimbulkan suara dentingan. Sesekali si vampire menyemburkan api dan sesekali pula Ervan menusuk si vampire dengan tombak pasirnya. Ervan berhasil menangkis dan menepis hampir semua serangan lawannya tapi kulitnya yang tak dilapisi oleh pasir terbakar oleh api. Untuk membalik keadaan, Ervan langsung melompat dan mendaratkan kakinya yang sudah dilapisi pisau pasir ke leher si vampire. Tendangannya meleset karena si vampire menghindarinya sehingga hanya melukai dadanya. Meskipun begitu, vampire itu mundur dan memegangi lukanya.
Kali ini giliran Ervan yang menyerang vampire. Ervan tidak menyerang dengan tinjunya lagi dan tentunya kali ini dengan pasir. Pasir-pasir Ervan terus mendesak vampire. Ervan membuat tombak-tombak pasir yang terus menusuk tubuh si vampire sedikit demi sedikit. Vampire itu dengan susah payah menepis serangan Ervan. Di saat seperti itu, vampire itu masih saja sempat menyembur Ervan dengan apinya. Sehingga Ervan terpaksa mundur dengan beberapa bagian baju yang terbakar. Sambil memadamkan api di celananya, Ervan menciptakan sebuah bola pasir yang ukurannya sebesar bola voli. Ervan menggunakan bola itu dan menabrakkannya berkali-kali ke tubuh vampire seperti permain pinball. Berkali-kali, si vampire berusaha menepis bola pasir yang menyerangnya. Hingga vampire itu terlihat lelah, Ervan meledakkan bola pasir tepat di depan muka vampire. Akibatnya, penglihatan vampire terganggu.
Tentu saja Ervan berniat memanfaatkan kesempatan ini. Namun, vampire pengendali api itu menyemburkan apinya ke segala arah karena dia tahu pastinya Ervan akan menyerangnya. Dari jarak jauh Ervan menciptakan puluhan tombak pasir. Setelah semuanya mengeras, semua tombak pasir menghunjam kaki si vampire untuk melumpuhkan pergerakannya. Makhluk itu akhirnya berlutut. Darah dari kakinya yang terkoyak oleh tombak pasir mengalami pendarahan hebat.
Vampire itu panik dan berusaha bangkit dengan kedua tangannya. Tangan kirinya berpegangan pada pohon agar bisa berdiri. Matanya tidak bisa melihat dan tubuh bagian kiri tidak mendapat perlindungan karena tangannya berpegangan pada pohon. Tangan kanannya mengepal erat bersiap untuk mengeluarkan pengendalian apinya.
Spoiler for Part 37.3: Sand Versus Fire:
Quote:
“Jangan bodoh!” Ervan mendengar teriakan seseorang.
Tiba-tiba Ervan melihat salah seorang anak buah James berlari meninggalkan teman-temannya yang bersembunyi di balik pohon. Di saat itulah Ervan menembak kaki anak buah James. Akibatnya, dia jatuh tersungkur di atas rerumputan hutan kota. Manusia itu mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya.
Quote:
“Tolong dia!” terdengar seseorang memerintah.
“Jangan!” kata korban Ervan, “Jangan! Tetap di situ! Jangan kemari!”
“Jangan!” kata korban Ervan, “Jangan! Tetap di situ! Jangan kemari!”
Seseorang tetap muncul dari balik pepohonan untuk menolong korban Ervan. Dia tetap nekat maju meskipun sudah dilarang oleh temannya. Baru beberapa langkah, kepala si penolong langsung dilubangi oleh peluru Ervan. Orang yang mencoba menolong itu langsung roboh dan tak bergerak lagi. Dalam selisih waktu yang cukup sedikit, kini giliran korban Ervan yang kepalanya disantap oleh peluru yang sangat cepat. Dua anak buah James roboh dalam waktu singkat. Sekarang tinggal dua: seorang manusia dan vampire.
Quote:
“Aku tidak tahan lagi!” kata si manusia yang langsung berlari meninggalkan hutan kota. Dia berlari terbirit-birit sambil membuang senjatanya.
Eyes of Markmanship milik Ervan juga berniat membunuh manusia yang kabur. Tembakan Ervan meleset. Peluru-pelurunya hanya menghantam batang pohon. Manusia itu berhasil kabur meninggalkan Hutan Kota Manggarai.
Setelah kejadian itu, semuanya menjadi hening. Mata sakti milik Ervan melakukan zoomingke pohon tempat vampire bersembunya. Ervan sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda pergerakan.
Quote:
“Kemanakah vampire …. AAAARRRGGGH!!!”
Ervan merasakan punggungnya dihantam dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi, dia merasakah panas yang menyengat punggungnya. Ervan cepat-cepat berguling dan mencoba untuk mengamati penyerangnya. Bukan wajah penyerang yang dia dapat, melainkan sebuah kaki yang menendang rahangnya dan membuatnya terhempas. Punggung Ervan mendarat di trotoar. Semenatara Black Hawksendiri terlempar ke bawah sofa.
Si vampire tak memberi Ervan kesempatan. Dengan kecepatan tinggi, vampire pengendali api itu mencoba memukul Ervan dengan tinjunya. Dengan segenap kesadaran yang masih ada, Ervan menggunakan pengendalian pasirnya untuk melindungi dirinya dari serangan vampire. Tinju si vampire ditepis oleh pasir Ervan. Di saat itu, Ervan menggunakan tinjunya yang dipenuhi oleh pasir untuk menyerang balik. Vampire ini sadar dan langsung melompat mundur. Sekarang mereka berdua terengah-rengah. Vampire berdiri di gazebo sedangkan Ervan berdiri di trotoar. Jarak mereka sekarang ada tujuh meter.
Quote:
“Sekilas kukira aku berhadapan dengan Shadow Ghostatau apa. Ternyata seorang pengendali warna, ya,” kata vampire.
“Begitulah,” jawab Ervan.
“Sekarang tinggal berdua, ya.”
“Ya,” jawab Ervan, “Tentunya kau tahu aku tidak mungkin membunuhmu langsung hanya dengan menempatkan sebutir peluruku langsung di kepalamu.”
“Tunjukkan wujudmu, sniper!” kata si vampire yang masih tidak mengetahui muka lawannya karena wujud lawannya masih berwarna hitam legam
“Kau menghampiriku ketika aku berkonsentrasi untuk menembak temanmu yang kabur tadi?”
“Begitulah,” kata vampire, “Aku tidak butuh seorang pengecut. Sekarang pun aku berhadapan dengan pengecut yang membunuhi orang-orang dari tempat tersembunyi.”
“Begitulah,” jawab Ervan.
“Sekarang tinggal berdua, ya.”
“Ya,” jawab Ervan, “Tentunya kau tahu aku tidak mungkin membunuhmu langsung hanya dengan menempatkan sebutir peluruku langsung di kepalamu.”
“Tunjukkan wujudmu, sniper!” kata si vampire yang masih tidak mengetahui muka lawannya karena wujud lawannya masih berwarna hitam legam
“Kau menghampiriku ketika aku berkonsentrasi untuk menembak temanmu yang kabur tadi?”
“Begitulah,” kata vampire, “Aku tidak butuh seorang pengecut. Sekarang pun aku berhadapan dengan pengecut yang membunuhi orang-orang dari tempat tersembunyi.”
Ervan paham bahwa vampire itu memprovokasinya. Dia lalu menonaktifkan pengendalian warnanya sehingga terlihatlah wujudnya. Dia tersenyum pada si vampire. Kedua tangannya menggenggam pisau.
Quote:
“Jangankan membunuh lawan secara langsung, memperlihatkan wujud aslinya saja perlu pikir-pikir dulu,” kata si vampire, “Sampah pengecut sepertimu hanya membuat Silver Sword semakin terlihat seperti organisasi banci.”
“Memprovokasiku agar bertarung jujur sesuai katamu?” Ervan tertawa sambil menatap Black Hawkyang berada tidak jauh dari kaki si vampire, “Maaf. Aku adalah sniper dan mau tidak mau bergantung pada senapanku.”
“Memprovokasiku agar bertarung jujur sesuai katamu?” Ervan tertawa sambil menatap Black Hawkyang berada tidak jauh dari kaki si vampire, “Maaf. Aku adalah sniper dan mau tidak mau bergantung pada senapanku.”
Setelah mendengar hal itu, si vampire segera mengambil senapan milik Ervan. Maksudnya adalah memaksa Ervan agar mau tidak mau harus berduel dengannya. Begitu si vampire mengembalikan pandangannya ke tempat Ervan berdiri, yang dilihat si vampire hanyalah jalan trotoar kosong.
Quote:
“AKU TAHU KAU BERADA DI DEKAT SINI!!!” teriak si vampire dengan penuh amarah sambil mengambil peluru yang terpasang pada senapan dan membuang semua senjata Ervan ke atas pohon, “KAU MELIRIK SENAPANMU, MEMPROVOKASIKU UNTUK MENGAMBIL SENAPANMU DAN KAU GUNAKAN KESEMPATAN INI UNTUK KABUR, HAH??!!”
Sekali lagi Ervan berkamuflase dengan pengendalian warnanya. Jarak Ervan memang tidak begitu jauh dari vampire dan tentu saja Ervan masih bisa mendengar teriakan lawannya yang penuh amarah. Ervan tidak merespon amarah lawannya itu. Dia berjalan mendekati seluncuran untuk mengambil pasir.
Quote:
“KELUARLAH, baik!!!” teriak si vampire, “AKAN KUCONGKEL MATAMU DAN KUPOTONG JARIMU!! KAU TAK AKAN BISA MENEMBAK LAGI!!”
Tidak ada jawaban dari Ervan.
Quote:
“Dimana bajingan … ARGH!!” vampire itu menjerit karena lima pasir berbentuk panah menghunjam tubuhnya.
Panah pasir yang menusuk tubuh vampire mulai berubah menjadi pasir kembali. Luka-lukanya mulai beregenerasi. Si vampire semakin marah. Di tengah amarahnya, dia membakar gazebo yang sudah hancur. Api yang berkobar menerangi tempat di sekitar si vampire, sehingga terlihatlah sesosok manusia berwarna hitam legam yang sedang berdiri di dekat seluncuran. Itulah Ervan. Melihat kesempatan itu, si vampire segera menggunakan kecepatan vampirenya untuk mendekati Ervan. Tinjunya yang diselimuti api mendarat di perut Ervan. Sekali lagi membuat Ervan terhempas dan membentur tangga besi seluncuran.
Serangan si vampire belum selesai hingga di situ. Vampire pengendali api ini menembaki Ervan dengan apinya. Ervan berhasil menepis semua api yang mengarah padanya sambil naik menuju puncak seluncuran. Tiba-tiba si vampire bergerak mendekati Ervan dan dengan tinju apinya, dia mencoba menyerang Ervan. Serangannya hanya mengenai tangga seluncuran karena Ervan sudah naik di puncak seluncuran. Vampire ini segera menaiki seluncuran sementara Ervan meluncur dengan kepala di bawah dan tubuh terlentang sambil melakukan pengendalian pasir. Dia menghantam si vampire yang baru mencapai puncak seluncuran dengan pasir yang sudah dipadatkan. Kali ini giliran si vampire yang terhempas dan mendarat di batang pohon sebelum tubuhnya membentur trotoar.
Begitu Ervan mencoba berdiri, dia sedikit memuntahkan darah. Dirinya paham bahwa muntah darahnya disebabkan karena tinju api yang mendarat di perutnya. Ervan mendengus sebal ketika melihat beberapa bagian depan bajunya hangus karena terbakar. Dia teringat punggungnya juga terkena serangan api. Secara reflek dia meraba punggungnya. Kulit punggungnya sedikit melepuh.
Menggunakan api itu mengetahui tempatku berada, pikir Ervan yang segera tersenyum,Ah, jangan bodoh, dia membakar gazebo bukan untuk mengetahui keberadaanku tapi karena amarahnya sendiri.
Quote:
“KUBUNUH KAU!!” teriak vampire yang bergerak mendekati Ervan dengan tinju yang sudah dilapisi oleh api.
Ervan tetap tenang dan melapisi tinjunya dengan pasir. Tinju mereka beradu dan akibatnya pasir Ervan berhamburan. Kaki kiri vampire mulai bergerak dan menendang ke kepala Ervan. Ervan menahan tendangan vampire, mengambil pisau dan mencoba menusuk jantung vampire. Vampire langsung mundur sehingga pasak milik Ervan hanya mengenai udara kosong. Langsung saja, Ervan melempar pasaknya dengan bantuan Eyes of Markmanship yang locktepat ke jantung lawannya dan di saat yang bersamaan pula si vampire melemparkan apinya ke Ervan. Vampire itu menjerit ketika pasaknya menusuk tangannya. Jantungnya terselamatkan oleh tangannya yang bergerak ketika melemparkan apinya. Ervan terluka oleh api si vampire. Celananya hangus dan membuat kulit kakinya melepuh.
Si vampire benar-benar tidak memberikan kesempatan pada Ervan. Dia mencabut pisau yang menembus kulitnya dan membakarnya. Tahu apa yang akan dilakukan si vampire, Ervan mencabut pisau yang ada di sabuknya. Dia mulai menyerang Ervan dengan membabi-buta. Berkali-kali si vampire mencoba menusuk leher Ervan dengan pisau yang digenggamnya. Tangan kanan mereka saling berduel pisau dan tangan kiri mereka berduel pengendalian alam. Karena tak kunjung kena, vampire itu mencoba melukai segala bagian tubuh Ervan. Dentingan dari dua buah logam terus beradu menimbulkan suara dentingan. Sesekali si vampire menyemburkan api dan sesekali pula Ervan menusuk si vampire dengan tombak pasirnya. Ervan berhasil menangkis dan menepis hampir semua serangan lawannya tapi kulitnya yang tak dilapisi oleh pasir terbakar oleh api. Untuk membalik keadaan, Ervan langsung melompat dan mendaratkan kakinya yang sudah dilapisi pisau pasir ke leher si vampire. Tendangannya meleset karena si vampire menghindarinya sehingga hanya melukai dadanya. Meskipun begitu, vampire itu mundur dan memegangi lukanya.
Kali ini giliran Ervan yang menyerang vampire. Ervan tidak menyerang dengan tinjunya lagi dan tentunya kali ini dengan pasir. Pasir-pasir Ervan terus mendesak vampire. Ervan membuat tombak-tombak pasir yang terus menusuk tubuh si vampire sedikit demi sedikit. Vampire itu dengan susah payah menepis serangan Ervan. Di saat seperti itu, vampire itu masih saja sempat menyembur Ervan dengan apinya. Sehingga Ervan terpaksa mundur dengan beberapa bagian baju yang terbakar. Sambil memadamkan api di celananya, Ervan menciptakan sebuah bola pasir yang ukurannya sebesar bola voli. Ervan menggunakan bola itu dan menabrakkannya berkali-kali ke tubuh vampire seperti permain pinball. Berkali-kali, si vampire berusaha menepis bola pasir yang menyerangnya. Hingga vampire itu terlihat lelah, Ervan meledakkan bola pasir tepat di depan muka vampire. Akibatnya, penglihatan vampire terganggu.
Tentu saja Ervan berniat memanfaatkan kesempatan ini. Namun, vampire pengendali api itu menyemburkan apinya ke segala arah karena dia tahu pastinya Ervan akan menyerangnya. Dari jarak jauh Ervan menciptakan puluhan tombak pasir. Setelah semuanya mengeras, semua tombak pasir menghunjam kaki si vampire untuk melumpuhkan pergerakannya. Makhluk itu akhirnya berlutut. Darah dari kakinya yang terkoyak oleh tombak pasir mengalami pendarahan hebat.
Vampire itu panik dan berusaha bangkit dengan kedua tangannya. Tangan kirinya berpegangan pada pohon agar bisa berdiri. Matanya tidak bisa melihat dan tubuh bagian kiri tidak mendapat perlindungan karena tangannya berpegangan pada pohon. Tangan kanannya mengepal erat bersiap untuk mengeluarkan pengendalian apinya.
Quote:
“Majulah, sniper banci! Mendekatlah jika kau ingin membunuhku!” kata si vampire yang menunggu kakinya selesai beregenerasi. Tentunya dia sudah siap untuk membakar lawannya. Meskipun matanya kemasukan pasir, dia masih mampu mendengar langkah lawannya.
Ervan mengaktifkan Eyes of Markmanshipnya. Dia mengambil pasak runcing dari sabuknya dan berkata, “Aku tak perlu mendekatimu untuk membunuhmu!”
“Menembak lagi??!! Mana mungkin??!! Senapan dan semua pelurumu …,” kata-kata vampire itu terhenti ketika dia merasakan sebuah benda silindris dan tajam menghunjam dada kirinya.
Ervan mengaktifkan Eyes of Markmanshipnya. Dia mengambil pasak runcing dari sabuknya dan berkata, “Aku tak perlu mendekatimu untuk membunuhmu!”
“Menembak lagi??!! Mana mungkin??!! Senapan dan semua pelurumu …,” kata-kata vampire itu terhenti ketika dia merasakan sebuah benda silindris dan tajam menghunjam dada kirinya.
0
Kutip
Balas