Kaskus

Story

sigitsantozAvatar border
TS
sigitsantoz
Keyakinan
"Aku mengukur cinta layaknya ahli astronomi yang mengukur bumi dan hal yang tak terjamah lainnya, aku menakar cinta layaknya timbangan elektronik yang baru diisi baterai. saat itu aku yakin. Tak ada cinta yang membuatmu buta, yang ada kau melihat cinta terlalu dekat. Datanglah di mana orang lain pergi. Jamahlah cinta di mana orang lain enggan menjamahnya. Cinta membuatmu tenang. Cinta membuat mu berfikir tentang realistis. Cinta sendiri yang akan membuka matamu. Cinta yang akan menerangi jiwamu. Itulah cinta bila kau tidak terlalu dekat melihatnya"
-Sigitsan, Dia Adalah Keyakinan-



Quote:


Quote:

Quote:



Biasanya Sabtu Minggu UPDATE
Sigitsan sangat mengharapkan para reader untuk selalu meninggalkan komen
emoticon-Rate 5 Star
Diubah oleh sigitsantoz 13-02-2016 20:47
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
2.7K
27
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
sigitsantozAvatar border
TS
sigitsantoz
#10
Semangkuk Baso



sepertinya malam ini adalah malam yang indah, karena seperti janjinya dia akan datang kemari memenuhi janji itu. Dua tahun yang lalu ia datang kepadaku bahwa ia akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan S2 selama dua tahun. Kabar itu mungkin membuat dirinya tersenyum, tapi tidak dengan diriku. Setidaknya saat itu aku berkata bahwa aku senang bahwa salah satu mimpimu akan terwujud. Dengan kata-kata itu setidaknya aku berhasil menipu dirimu dan menutup tangisan serta kekhawatiran tentang dirimu.

Kau berjanji padaku bahwa kita akan makan kembali di warung baso ini. tiada yang spesial dengan warung baso yang berdindingkan rajutan bambu usang dilahap waktu dan masa. Cahaya petromak tua yang rasanya tak pantas lagi di hidupkan di zaman ini, hidupnya hanya membawa kenangan di masa lulu saat dirinya masih menemaniku. bila kau melihat Warung ini dari kejauhan, maka kau akan melihat seratan cahaya petromak yang berusaha melewati sisi-sisi bilik untuk temui cahaya rembulan, mungkin rindu yang membuatnya superti itu, terpisah dengan jarak namun saling menatap.

Warung baso ini tidak pernah sepi. Selalu saja ada orang yang berkunjung, entah seorang ibu membawa anaknya, atau seorang anak membawa ayahnya, atau seorang ayah membawa keluarganya, atau seorang lelaki membawa kekasihnya. Bila warung ini sepi berarti warung ini sedang libur, biasnya hari senin warung ini tutup. Entah mengapa alasan pak sayuti-pemilik warung baso-memilih hari senin untuk menjadi hari sepi. Tidak ada yang tahu. Terlihat kehangatan dalam perbincangan pelanggan baso pak Sayuti di setiap pentol baso yang dilahap satu persatu. Terkadang aku melihat salah satu diantara mereka ada yang memakan baso sambil menangis, mencurahkan isi hati mereka kepada lawan bicara di hadapan mereka. Ada yang tertawa, hingga terpingkal-pingkal. Ada yang tetap diam namun tangan mereka berbicara yang hanya dipahami oleh orang-orang yang di mabuk cinta. Ada apa yang terjadi di warung baso ini? aku tak mengerti, Seakan mereka menumpahkan kejujuran di warung baso pak Sayuti.

Pengunjung Warung baso pak Sayuti beragam jenis. Tidak seperti baso pak sayuti yang hanya menjual satu jenis baso, yaitu baso ukuran kecil tanpa isi. Pengunjungnya bermacam-macam dari yang berdasi hingga berpeci. yang bermobil hingga yang jalan kaki, semuanya menikmati baso yang hanya satu jenis. pernah rasanya pak presiden datang kemari, katanya sambil sembunyi-sembunyi, tanpa pengawal pak Presiden datang kemari, katanya demi semangkok Baso pentol tanpa isi, katanya rasanya begitu serasi dengan beban politik saat ini. Seakan para pengunjung berbaur dengan kesederhanaan Warung baso ini. Seakan hati-hati mereka dirajut kembali seperti dinding-dinding Warung ini, diterangi kembali dengan secercah cahaya petromak tua yang rindu akan rembulan.

Pada dasarnya kesederhanaanlah yang di butuhkan manusia untuk bahagia dan jujur akan isi hatinya. sesederhana seorang ibu menyusui anaknya. sesederhana balita berlari dan jatuh didekapan ayahnya. sesederhana itulah yang manusia butuhkan. masih saja ada anak muda yang mendatangi warung baso pak Sayuti padahal ada warung joget yang kemarin baru di buat didekat balai kota. masih saja ada pemudi yang masih berkunjung kemari padahal ada warung mewah yang kini bertebaran di kota-kota. Bahkan para om-om dan bapak direktur berkunjung kemari untuk membebaskan penat mereka, padahal banyak warung spa yang menjajikan kesenengan dari pada semangkuk baso tanpa isi milik pak Sayuti. Kemewahan dan kesederhanaan tak menjanjikan kesenangan, namun kesederhanaan menjanjikan rasa cukup dan kehangatan.

Bajuku sedikit basah disiram hujan malam ini. aku duduk dimeja nomor satu dekat gerobak baso pak sayuti, rasanya hangat dan uap nya menggoda. hujan malam ini begitu romantis karena tak begitu deras namun cukup membuatmu basah, dinginnya malam merambat melewati celah rajutan dinding bambu tua yang telah di perbaharui catnya. lampu petromak yang terkadang redup ditiup angin menambah suasan roman dimalam sakral ini. aku masih menunggunya dengan teh pahit yang selalu tersaji gratis di warung ini.

Aku tak menyesal memilih duduk di meja nomor satu, karena aku dapat melihat pak Sayuti beratraksi. mulai dari memasukan toge, menuankan kecap, dan meracik bumbu-bumbu, bahkan aku begitu terhibur saat pak Sayuti memutarkan tangannya untuk membukus pesanan baso yang akan dibawa pulang. Sepertinya pak sayuti merasa bahwa aku sedang memperhatikannya sedari tadi, lantas ia duduk di mejaku dan membersihkan tangannya.

Quote:


kring…kring…kring…

Quote:


Aku ragu untuk mengakatnya. Mungkin saja ia membatalakan janjinya. mungkin saja ia belum pulang. namun entah mengapa tanganku serasa bergerak sendiri untuk mengangkatnya.

Quote:

Aku matikan. aku hampir menangis namun aku malu menangis di tengah ramainya orang yang menikmati baso, lalu tiba-tiba saja pak sayuti menghadirkan semangkuk baso pentol tanpa isi di hadapanku. sembari berkata: “alah mba.. itu mah biasa, nih nikmatin aja basonya mba.. ini spesial buat mba..” senyumnya begitu jujur diterpa lampu petromak yang merindu rembulan.

Sebenarnya aku belum pernah menyicipi baso ini, karena dua tahun yang lalu aku terlajur pergi karena tak tahan mendengar berita bahwa jimi akan melanjutkan sekolahnya di luar negeri. bila dilihat tidak ada yang istimewa dari semangkuk baso ini. mungkin ini akan serasi menemani malam dingin yang penuh dengan kesedihan. aku mulai melahap pentol yang pertama yang sebelumnya aku hirup dulu uapnya agar semakin selera aku melahapnya. tiba-tiba mulutku tak berhenti mengunyah, rasa daging yang jelas bercampur bumbu-bumbu yang entah aku tak paham apa itu, membuat air mataku bergulir satu persatu, nafasku mulai tersengal-sengal rasanya sedih bercampur rindu ini akan pecah lalu menjelma bersama air mataku. Setiap aku menahan tangisan, semakin aku ingin menangis. Rasa mericanya begitu jujur seakan dipetik dari petani terbaik, tekstur baso yang keyal dan pasrah disetiap gigitan membuatku mengerti dan memasrahkan kejujuran perasaanku saat ini. aku merindukan jimi, seakan baso ini lebih mengerti arti rindu di setiap lapisannya, kadang ada tulang yang masih jelas bentuknya namun aku pasrah dan terus melahap satu pentol demi pentol. se-isi warung melihatku dengan senyuman yang paling jujur yang mereka miliki, seakan mereka berkata: “aku mengerti apa yang kau rasakan”. teriakan tangisan penuh rindu ini sama sekali tak membuat mereka terganggu karena merekapun lelap dalam semangkuk baso yang pak Sayuti sajikan dihadapan mereka.

Tiba-tiba tanpa kusadari jimi telah duduk disampinku. ada kebencian dimataku saat aku melihatnya. Ingin rasanya aku menamparnya. akan tetapi tanganku malah pasrah dan memeluknya. mulutku seperti di dikte untuk katakan: “aku rindu kamu jimi, aku kangen, tapi kenapa kamu telat, kenapa?”. pecah lah semua rasa rinduku, berlabuh bersama eratnya pelukan itu. jimi tetap diam dan memegang erat tanganku matanya menampung air yang harusnya sedari tadi tumpah namun jimi terus menahanya, ia dekatkan dirinya kepadaku dan berbisik:”Aku telah tepati janjiku yang sederhana, sesederhana semangkuk baso ini”

Ingin ku bertanya apa rahasia semangkuk baso ini pada pak sayuti. Pasti dia akan menjawab bahwa rahasinya adalah kesederhanaan, seperti sederhananya janji jimi kepadaku.
Diubah oleh sigitsantoz 11-02-2016 15:40
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.