- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187.2K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#728
Spoiler for Part 73:
Venesia atau Venice adalah sebuah kota yang berada di Italia, kota yang berada di atas kanal air ini memiliki nilai keindahan yang sangat sempurna bagiku dibandingkan dengan kota-kota yang lain. Aku kembali mengingat bagaimana aku sangat terobsesi dengan kota ini semenjak SMP dan inilah salah satu dari beberapa cita-cita yang aku tulis semasa SMA.
Aku terbangun dari tidurku pagi ini, aku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi waktu setempat. Aku melihat Anindita yang masih tertidur lelap di sampingku, ku seka rambut yang menghalangi wajahnya dan aku tersenyum kepadanya.
Setelah itu aku bangun dari tidurku dan membuka kain gorden yang menutupi kamarku, ku lihat jalanan masih cukup sepi hanya dilewati oleh beberapa kendaraan dan juga beberapa orang yang berjalan kaki. Aku masih tidak percaya bahwa akhirnya aku dapat pergi ke sini.
“Kamu udah bangun ternyata...” Kata Anindita
“Selamat pagi...” Sapaku
“Pagi juga Bram, kamu ngga ngapa-ngapain kan semalem?” Tanyanya
“Aku ngga sekotor yang kamu kira kok.” Jawabku kemudian menghampirinya
“Oh iya ini masih lengkap semua.” Katanya
Aku tersenyum dan kemudian kami hanya saling pandang satu sama lain. Setelah merasa cukup hanya dengan saling pandang akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan bergantian dengan Anindita. Setelah itu kami menuju lantai bawah untuk sekedar sarapan. Tidak banyak yang kami bicarakan selama sarapan berlangsung dan setelah itu kami berjalan-jalan mengitari kota ini. Berjalan kaki tidaklah melelahkan di sini karena udaranya yang cukup segar dan dingin tidak seperti di Indonesia.
“Minggu depan kita baru ketemu sama Kakak aku ya...” Katanya
“Kalo gitu kita masih bisa jalan-jalan lebih lama kan?” Tanyaku kepadanya
“Emang kamu mau kemana lagi Bram?” Tanyanya penasaran
“Aku mau ke pantai, cuma bukan di sini. Nanti bakalan aku kasih tau itu dimana.” Kataku
Tidak terasa hari sudah siang dan kami memilih sebuah restoran di pinggiran jalan. Kami memesan pizza dan diet coke untuk makan siang kami. Kami cukup terhibur dengan sajian musik jalanan yang kebetulan ada siang ini, dan selesai dengan makan siang kami akhirnya kami memilih untuk naik perahu mengelilingi sungai di kota Venesia ini. Terbilang cukup romantis dengan suasananya, dan tidak jarang Anindita mengabadikan momen ini dengan kameranya.
Tidak terasa matahari sudah mau terbenam lagi dan akhirnya kami kembali ke hotel untuk beristrahat. Aku sudah berbaring di atas kasur sedangkan Anindita sedang menonton acara lokal yang aku tidak mengerti apa yang dibicarakan di dalam acara itu. Aku membuka laptopku dan kemudian mencoba untuk menghubungi Nanda.
“Abang, gimana kabarnya?” Tanyanya
“Baik kok, kamu sendiri gimana? Ka Din mana?” Jawabku
“Ka Din lagi istirahat, aku di balkon sengaja biar dia ngga denger.” Katanya
Aku tersenyum dan kemudian Nanda menangis
“Abang yakin?” Katanya pelan
“Ini sebuah keharusan Nda, biar ngga ada yang ngerasa disakitin lagi. Kamu jangan nangis nanti Ka Din curiga. Yaudah kalo masih sempet Abang kabarin lagi ya.” Kataku
Ia hanya mengangguk pelan dan kemudian ku putuskan sambungan video call tersebut. Ku tutup laptop yang ada di atas kaki ku dan ku hela nafas cukup panjang. Anindita melihat ke arahku dan kemudian ia mendekat dan memelukku. Aku hanya bisa tersandar di dalam pelukannya dan aku rasa aku semakin yakin dengan apa yang telah ku pilih. Dan hari ini ku tutup dengan sebuah ciuman yang diberikan oleh Anindita
---------------------
Aku sudah berada di dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang menjadi alasan lain kenapa aku harus pergi, sebuah alasan yang menguatkan aku atas segalanya, dan sebuah alasan dengan harapan yang menggebu-gebu saat itu.
Tidak lama aku tiba di sebuah tempat yang terbilang cukup ramai, berdirilah aku di sini menatap bentangan pasir dan bibir laut yang cukup indah. Pantai Azur yang berada di kota Cannes, Perancis adalah tujuan terakhirku. Aku berjalan menelusuri pantai ini hingga sampai di bibir pantai. Aku duduk bersama dengan Anindita dan juga kerumunan orang yang terbilang ramai.
Aku mengambil sebuah benda yang ada di dalam saku celanaku, ku lihat dengan seksama dan kemudian aku tersenyum. Sebuah kertas yang tulisan dan gambarnya sudah mulai kusam, dan juga amplop hitam yang masih ku simpan dengan rapih.
“Itu apa Bram?” Tanyanya melihat benda yang ku pegang
“Dulu ini sebuah harapan, tapi sekarang ini cuma jadi kenangan aja. Dan aku pikir akan ku tinggalkan di sini.” Kataku
“Atau mungkin kamu bawa balik lagi sebagai kenangan juga. Simpen aja karena itu ngga bakalan dateng dua kali atau berkali-kali.” Kata Anindita
Aku melihat ke arahnya yang sedang tersenyum kepadaku. Dan benar saja akhirnya aku kembali menyimpan benda yang hampir ku buang ini, karena sebuah kenangan tidak akan datang berkali-kali. Hargailah apa yang sudah kalian kenang sekalipun itu menyakitkan, maka pembelajaran hidup lah yang akan menguatkan.
Anindita sempat mengambil gambarku yang sedang duduk di atas pasir-pasir dan sedang memandangi lautan yang luas, terpaan angin membuat rambutku berkibar layaknya bendera yang ada di kapal di seberang sana. Ia sempat menunjukan foto itu kepadaku dan aku hanya bisa tersenyum menanggapinya, ia berkata bahwa ini akan menjadi kenangan bersamaku selama di sini. Ia kembali menciumku dan aku semakin siap dengan apa yang akan kami lakukan beberapa hari lagi.
Apa yang membuat kalian jatuh cinta? Sebuah bentuk fisik yang sempurna? Sebuah lekukan wajah yang indah? Sebuah pandangan pertama? Atau tak beralasan? Dan aku pikir cinta juga butuh alasan karena tidak mungkin kita bisa mencintai tanpa adanya suatu alasan. Beberapa orang bilang jangan mencintai seseorang dengan alasan, ketulusan hati lah yang akan menuntun kalian pada cinta. Namun aku beranggapan ketulusan cinta datang ketika kita sudah memiliki rasa yang sama dengan orang yang kita cintai dan itu akan menjadi sebuah alasan untuk mencintai seseorang. Mungkin orang yang berkata dia mencintai tanpa alasan adalah orang yang tidak mengetahui bagaimana ia bisa mencintai dan bagaimana ia bisa mengungkapkan kebenaran dari isi hatinya. Aku pernah berkata bahwa semuanya memiliki alasan, mulai dari kita makan dengan alasan kita lapar, kita tidur dengan alasan kita mengantuk atau ingin beristirahat, aku kentut agar menyehatkan badanku. Begitu juga dengan cinta, sekecil apa pun cinta yang kita miliki pasti memiliki sebuah alasan. Aku pernah mendengar jika kita mencintai karena sebuah alasan dan suatu ketika sebuah alasan itu berubah maka kita tidak akan mencintai lagi. Lagi-lagi menurutku itu salah, cinta pasti memiliki sebuah alasan. Andai kata aku mencintainya karena parasnya, jika suatu saat ia sudah tidak secantik dulu maka aku tidak akan mencintainya lagi. Andai kata aku mencintainya karena bentuk badannya yang indah, jika suatu saat ia sudah tidak semenarik dulu maka aku tidak akan mencintainya lagi. Andai kata aku mencintainya karena sifat baiknya, jika suatu saat ia sudah tidak sebaik dulu maka aku tidak akan mencintainya. Itu salah, bukan karena perubahan alasanlah yang membuat kita berhenti mencintai. Tapi bagaimana kita menghadapi sebuah perubahan dalam cinta kita dan bagaimana kita menjalani sebuah cinta dengan alasan yang telah berubah, karena tidak selamanya kita akan tetap sama seperti dulu kala.
Dinda, dulu aku mencintainya karena sebuah sikap yang benar-benar membuatku yakin bahwa ia memiliki cinta yang tulus. Dinda, dulu aku mencintainya karena penampilannya yang menarik, dan sebagaimana aku lelaki normal melihatnya maka aku akan menaruh hati padanya. Dinda, yang hingga saat ini masih aku cintai bagaimana pun keadaannya saat ini. Bagaimana ia masih bisa bertahan dengan keadaan fisiknya yang tidak seindah dulu. Bagaimana ia masih bisa menerimaku yang telah membuatnya seperti ini, seorang wanita baik yang masih memberikan kesempatan pada laki-laki yang telah menghilangkan pandangannya selamanya. Mulia hatimu akan selalu diberi balasan oleh Tuhan, Dinda.
Dan aku akan membuktikan bahwa alasan ku mencintainya itu ada..
Spoiler for Flashback:
“Venice? Itu dimana Bram?” Tanya seorang wanita
“Itu di Italia, dan kota itu bakalan aku kunjungin nanti entah sama siapa. Yang jelas aku harus ke sana.” Kataku dengan sangat yakin
“Kalo sama aku gimana?” Tanyanya lagi
Aku tersenyum ke arahnya dan ia juga tersenyum kepadaku
“Itu di Italia, dan kota itu bakalan aku kunjungin nanti entah sama siapa. Yang jelas aku harus ke sana.” Kataku dengan sangat yakin
“Kalo sama aku gimana?” Tanyanya lagi
Aku tersenyum ke arahnya dan ia juga tersenyum kepadaku
Aku terbangun dari tidurku pagi ini, aku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi waktu setempat. Aku melihat Anindita yang masih tertidur lelap di sampingku, ku seka rambut yang menghalangi wajahnya dan aku tersenyum kepadanya.
Setelah itu aku bangun dari tidurku dan membuka kain gorden yang menutupi kamarku, ku lihat jalanan masih cukup sepi hanya dilewati oleh beberapa kendaraan dan juga beberapa orang yang berjalan kaki. Aku masih tidak percaya bahwa akhirnya aku dapat pergi ke sini.
“Kamu udah bangun ternyata...” Kata Anindita
“Selamat pagi...” Sapaku
“Pagi juga Bram, kamu ngga ngapa-ngapain kan semalem?” Tanyanya
“Aku ngga sekotor yang kamu kira kok.” Jawabku kemudian menghampirinya
“Oh iya ini masih lengkap semua.” Katanya
Aku tersenyum dan kemudian kami hanya saling pandang satu sama lain. Setelah merasa cukup hanya dengan saling pandang akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan bergantian dengan Anindita. Setelah itu kami menuju lantai bawah untuk sekedar sarapan. Tidak banyak yang kami bicarakan selama sarapan berlangsung dan setelah itu kami berjalan-jalan mengitari kota ini. Berjalan kaki tidaklah melelahkan di sini karena udaranya yang cukup segar dan dingin tidak seperti di Indonesia.
“Minggu depan kita baru ketemu sama Kakak aku ya...” Katanya
“Kalo gitu kita masih bisa jalan-jalan lebih lama kan?” Tanyaku kepadanya
“Emang kamu mau kemana lagi Bram?” Tanyanya penasaran
“Aku mau ke pantai, cuma bukan di sini. Nanti bakalan aku kasih tau itu dimana.” Kataku
Tidak terasa hari sudah siang dan kami memilih sebuah restoran di pinggiran jalan. Kami memesan pizza dan diet coke untuk makan siang kami. Kami cukup terhibur dengan sajian musik jalanan yang kebetulan ada siang ini, dan selesai dengan makan siang kami akhirnya kami memilih untuk naik perahu mengelilingi sungai di kota Venesia ini. Terbilang cukup romantis dengan suasananya, dan tidak jarang Anindita mengabadikan momen ini dengan kameranya.
Tidak terasa matahari sudah mau terbenam lagi dan akhirnya kami kembali ke hotel untuk beristrahat. Aku sudah berbaring di atas kasur sedangkan Anindita sedang menonton acara lokal yang aku tidak mengerti apa yang dibicarakan di dalam acara itu. Aku membuka laptopku dan kemudian mencoba untuk menghubungi Nanda.
“Abang, gimana kabarnya?” Tanyanya
“Baik kok, kamu sendiri gimana? Ka Din mana?” Jawabku
“Ka Din lagi istirahat, aku di balkon sengaja biar dia ngga denger.” Katanya
Aku tersenyum dan kemudian Nanda menangis
“Abang yakin?” Katanya pelan
“Ini sebuah keharusan Nda, biar ngga ada yang ngerasa disakitin lagi. Kamu jangan nangis nanti Ka Din curiga. Yaudah kalo masih sempet Abang kabarin lagi ya.” Kataku
Ia hanya mengangguk pelan dan kemudian ku putuskan sambungan video call tersebut. Ku tutup laptop yang ada di atas kaki ku dan ku hela nafas cukup panjang. Anindita melihat ke arahku dan kemudian ia mendekat dan memelukku. Aku hanya bisa tersandar di dalam pelukannya dan aku rasa aku semakin yakin dengan apa yang telah ku pilih. Dan hari ini ku tutup dengan sebuah ciuman yang diberikan oleh Anindita
---------------------
Aku sudah berada di dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang menjadi alasan lain kenapa aku harus pergi, sebuah alasan yang menguatkan aku atas segalanya, dan sebuah alasan dengan harapan yang menggebu-gebu saat itu.
Tidak lama aku tiba di sebuah tempat yang terbilang cukup ramai, berdirilah aku di sini menatap bentangan pasir dan bibir laut yang cukup indah. Pantai Azur yang berada di kota Cannes, Perancis adalah tujuan terakhirku. Aku berjalan menelusuri pantai ini hingga sampai di bibir pantai. Aku duduk bersama dengan Anindita dan juga kerumunan orang yang terbilang ramai.
Aku mengambil sebuah benda yang ada di dalam saku celanaku, ku lihat dengan seksama dan kemudian aku tersenyum. Sebuah kertas yang tulisan dan gambarnya sudah mulai kusam, dan juga amplop hitam yang masih ku simpan dengan rapih.
“Itu apa Bram?” Tanyanya melihat benda yang ku pegang
“Dulu ini sebuah harapan, tapi sekarang ini cuma jadi kenangan aja. Dan aku pikir akan ku tinggalkan di sini.” Kataku
“Atau mungkin kamu bawa balik lagi sebagai kenangan juga. Simpen aja karena itu ngga bakalan dateng dua kali atau berkali-kali.” Kata Anindita
Aku melihat ke arahnya yang sedang tersenyum kepadaku. Dan benar saja akhirnya aku kembali menyimpan benda yang hampir ku buang ini, karena sebuah kenangan tidak akan datang berkali-kali. Hargailah apa yang sudah kalian kenang sekalipun itu menyakitkan, maka pembelajaran hidup lah yang akan menguatkan.
Anindita sempat mengambil gambarku yang sedang duduk di atas pasir-pasir dan sedang memandangi lautan yang luas, terpaan angin membuat rambutku berkibar layaknya bendera yang ada di kapal di seberang sana. Ia sempat menunjukan foto itu kepadaku dan aku hanya bisa tersenyum menanggapinya, ia berkata bahwa ini akan menjadi kenangan bersamaku selama di sini. Ia kembali menciumku dan aku semakin siap dengan apa yang akan kami lakukan beberapa hari lagi.
Apa yang membuat kalian jatuh cinta? Sebuah bentuk fisik yang sempurna? Sebuah lekukan wajah yang indah? Sebuah pandangan pertama? Atau tak beralasan? Dan aku pikir cinta juga butuh alasan karena tidak mungkin kita bisa mencintai tanpa adanya suatu alasan. Beberapa orang bilang jangan mencintai seseorang dengan alasan, ketulusan hati lah yang akan menuntun kalian pada cinta. Namun aku beranggapan ketulusan cinta datang ketika kita sudah memiliki rasa yang sama dengan orang yang kita cintai dan itu akan menjadi sebuah alasan untuk mencintai seseorang. Mungkin orang yang berkata dia mencintai tanpa alasan adalah orang yang tidak mengetahui bagaimana ia bisa mencintai dan bagaimana ia bisa mengungkapkan kebenaran dari isi hatinya. Aku pernah berkata bahwa semuanya memiliki alasan, mulai dari kita makan dengan alasan kita lapar, kita tidur dengan alasan kita mengantuk atau ingin beristirahat, aku kentut agar menyehatkan badanku. Begitu juga dengan cinta, sekecil apa pun cinta yang kita miliki pasti memiliki sebuah alasan. Aku pernah mendengar jika kita mencintai karena sebuah alasan dan suatu ketika sebuah alasan itu berubah maka kita tidak akan mencintai lagi. Lagi-lagi menurutku itu salah, cinta pasti memiliki sebuah alasan. Andai kata aku mencintainya karena parasnya, jika suatu saat ia sudah tidak secantik dulu maka aku tidak akan mencintainya lagi. Andai kata aku mencintainya karena bentuk badannya yang indah, jika suatu saat ia sudah tidak semenarik dulu maka aku tidak akan mencintainya lagi. Andai kata aku mencintainya karena sifat baiknya, jika suatu saat ia sudah tidak sebaik dulu maka aku tidak akan mencintainya. Itu salah, bukan karena perubahan alasanlah yang membuat kita berhenti mencintai. Tapi bagaimana kita menghadapi sebuah perubahan dalam cinta kita dan bagaimana kita menjalani sebuah cinta dengan alasan yang telah berubah, karena tidak selamanya kita akan tetap sama seperti dulu kala.
Dinda, dulu aku mencintainya karena sebuah sikap yang benar-benar membuatku yakin bahwa ia memiliki cinta yang tulus. Dinda, dulu aku mencintainya karena penampilannya yang menarik, dan sebagaimana aku lelaki normal melihatnya maka aku akan menaruh hati padanya. Dinda, yang hingga saat ini masih aku cintai bagaimana pun keadaannya saat ini. Bagaimana ia masih bisa bertahan dengan keadaan fisiknya yang tidak seindah dulu. Bagaimana ia masih bisa menerimaku yang telah membuatnya seperti ini, seorang wanita baik yang masih memberikan kesempatan pada laki-laki yang telah menghilangkan pandangannya selamanya. Mulia hatimu akan selalu diberi balasan oleh Tuhan, Dinda.
Dan aku akan membuktikan bahwa alasan ku mencintainya itu ada..
Opiknh dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas