- Beranda
- Stories from the Heart
Keyakinan
...
TS
sigitsantoz
Keyakinan
"Aku mengukur cinta layaknya ahli astronomi yang mengukur bumi dan hal yang tak terjamah lainnya, aku menakar cinta layaknya timbangan elektronik yang baru diisi baterai. saat itu aku yakin. Tak ada cinta yang membuatmu buta, yang ada kau melihat cinta terlalu dekat. Datanglah di mana orang lain pergi. Jamahlah cinta di mana orang lain enggan menjamahnya. Cinta membuatmu tenang. Cinta membuat mu berfikir tentang realistis. Cinta sendiri yang akan membuka matamu. Cinta yang akan menerangi jiwamu. Itulah cinta bila kau tidak terlalu dekat melihatnya"
-Sigitsan, Dia Adalah Keyakinan-
-Sigitsan, Dia Adalah Keyakinan-
Quote:
Quote:
Quote:
Biasanya Sabtu Minggu UPDATE
Sigitsan sangat mengharapkan para reader untuk selalu meninggalkan komen

Sigitsan sangat mengharapkan para reader untuk selalu meninggalkan komen

Diubah oleh sigitsantoz 13-02-2016 20:47
anasabila memberi reputasi
1
2.7K
27
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sigitsantoz
#4
paman mentari
Paman Mentari
Akan kah paman Mentari tahu yang Aku hendak sampaikan, tentang bunda rembulan yang telah tiada. Aku tahu suhu paman mentari akan naik jika ia tahu hal ini, mungkin aku pun akan terbakar meng-abu.
Saat-saat yang lalu pak komet dan aku menjadi saksi atas kejahatan paling kejam di bimasakti ini. kami melihat perampok bintang timur dan buntut beruang datang dari arah rute orbit selatan. dihunuslah pedang dihancurkanlah batu-batu lemah tak berdaya, dirampoknya cahaya dari saku-saku mereka hingga sampai pada hadapan bunda rembulan.
Aku hanya dapat bersembunyi dan melihat bunda rembulan dibalik mayat batu yang telah tumbang. Entah apa yang mereka bicarakan namun sepertinya bunda rembulan menolak sesuatu dari mereka, dan pada akhirnya... Mungkin aku tak harus ceritakan, karena terlalu sadis untuk di bacakan, bila darah bunda rembulan beterbangan mengabu bersama hampanya udara.
Aku beranikan untuk menyentuh pundak paman mentari, aku pandang dalam-dalam matanya. Aku melihat senja di dalam matanya dan rindu fajar di dalam lipatan raut wajahnya. Aku bertanya tentang kapan terakhir mereka -paman mentari dan bunda rembulan- bertemu.
"terakhir paman bertemu bunda rembulan adalah pada saat gerhana cincin yg lalu, tepatnya 214 hari yang lalu." Wajah paman mentari terlihat gembira beserta rindu yang tidak dapat disembunyikan. Hanya berselang 3 nafas paman mentari berbicara kembali, tanpaku minta.
"pada gerhana cincin yang lalu paman telah berjanji pada bunda rembulan bahwa paman akan mengajak bunda mentari untuk makan di langit jupiter dan kamu tau?" Tanya paman mentari kepada aku, lalu paman berkata
"paman telah membelikan gaun indah untuk bunda rembulan seharga 7000 cahaya yang paman telah jauh membelinya di dekat langit pluto."
Gerhana yang lalu aku melihat bunda rembulan melepas rindu memeluk, menatap, dan berdansa dengan paman mentari. Paman mentari selalu merindukan senyum dan bibir manis bunda rembulan, sedangkan bunda rambulan mencintai hangat dan keperkasaan paman mentari.
Aku pun tidak pernah mendengar kabar tentang hubungan mereka. Aku dengar mereka adalah suami istri yang saling merindu. Aku dengar mereka adalah duda dan janda yang saling mencintai . Aku dengar mereka adalah adik dan kaka yang saling mengasihi. Pada dasarnya aku tidak mengetahui siapa mereka. Mungkin mereka sebatas bintang dan batu yang saling mencintai gerhana. Entahlah aku tidak tahu.
Aku merasakan kehangatan paman mentari sehangat suhu tubuh manusia, aku tak ingin melihat senyum itu menghilang dari wajahnya. Aku memilih pura-pura bodoh untuk senyumnya. Aku memilih pura-pura tak melihat untuk kehangatannya. Biar lah gerhana yang akan datang yang memberikan kabar kepadannya.
****
Aku bersembunyi di balik batu melihat dan mengamati paman mentari. Jas hitam, dasi kupu-kupu, dan sepatu hitam yang telah di semir berkali-kali melekat ditubuhnya. sedari tadi aku melihat bahwa ia terus memerhatikan jam tangan dan kembali mengamati sekitar, berharap matanya menangkap sosok wanita yang ia nanti sejak mereka berpisah pada gerhana sebelumnya. menit demi menit berlalu dan bunda mentari belum kunjung datang. Aku melihat kehawatiran disetiap gerakan paman mentari, mungkin ia telah sadar atau sedikit menduga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan bunda rembulan. paman mentari masih menunggu walau lilin-lilin di meja makan telah hampir habis di lahap api.
haruskah aku yang berbicara untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi terhadap bunda rembulan, namun aku takut akan hilangnya cahaya dan hangatnya api yang membuat ku selama ini merasakan hangat dan hidup. haruskah aku melihat bahwa ia akan menangis dan tak akan tersenyum kembali. haruska aku berbicara kepadanya?
terkadang kenyataan begitu pahit dan tak memihak, terkadang kesedihan harus datang saat bahagia di impikan. ada saja alasan dan peran yang membuatnya datang dan menghampiri. kadang kita tak dapat menghindar dan berlari dari kesedihan. kadang kita tidak dapat selalu bersembunyi saat masalah datang kembali. keraskan ikat pinggang dan temui masalah, urai dengan perlahan dan katakan aku bisa aku mampu.
tekat ku telah bulat untuk berbicara kepada paman mentari tentang apa yang sebenarnya terjadi. Entah aku tak berfikir tentang apa yang akan terjadi saat paman mendengar kisah ini, karena melihatnya menunggu dalam kebodohan lebih menyakitkan di dadaku.
"Sudah berapa lama paman menuggu bunda rembulan di sini?" tanyaku.
"entahlah, namun bukan biasanya paman mentari menunggu selama ini" senyum paman mentari terlihat tenang.
"paman.. aku ingin kisahkan kepadamu tentang apa yang sebenarnya terjadi" ungkapku ragu.
"aku tahu apa yang akan kau katakan" sahutnya. aku bingung dan wajahnya begitu tenang tampak dari matanya sebelum ia melanjutkan kembali.
"aku tahu bahwa dirimu akan bercerita tentang bunda mentari yang telah tiada, aku tahu ia telah di bunuh" begitu tenang paman katakan itu, tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
"lalu kenapa kau masih menunggunya?" tanyaku keheranan.
"terkadang berpura-pura tak tahu adalah pilihan yang tepat untuk aku terus berjalan memutar kehidupan, aku sedih, namun aku tak bisa terus diam, aku harus hidup" air matanya mulai menggulir dan hilang mejadi uap. dia memeluku dan tetap duduk menunggu.
terakhir aku dengar, kemarin paman metari berkencan namun entah dengan siapa.
Diubah oleh sigitsantoz 11-02-2016 15:07
0
