Kaskus

Story

hyender1529Avatar border
TS
hyender1529
Dia? Jalan Utama
Dia? Jalan Utama


Spoiler for judul:


Gue berpikir ada baiknya kalau gue nulis cerita ini untuk mengisi kekosongan waktu gue, dan terlebih lagi cerita ini gue buat hanya untuk bernostalgia dengan beberapa kenangan yang sebagiannya akan gue tulis disini.
Nama panggilan gue A, sebut saja A. Gue lebih seneng dipanggil A kebanding dipanggil nama asli gue dan kebetulan gue juga ga terlalu suka dipanggil Hyender hahaha emoticon-Ngakak (S).

ini adalah cerita perjalanan kehidupan seseorang mulai dari zaman-zamannya culun sampai sekarang dan pastinya ada beberapa pengalaman gue yang masuk sedikit demi sedikit disini. Enjoy!

Quote:


R U L E S
Spoiler for rules:


F. A. Q
Spoiler for F.A.Q:



Quote:


Quote:


Spoiler for indeks:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Dia? Jalan utama
1
100%
1
0%
Diubah oleh hyender1529 07-02-2016 18:28
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
2.1K
14
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
hyender1529Avatar border
TS
hyender1529
#13
Dia? Apa benar dia?
Pagi ini tepat jam 04.30 , seperti rutinitas gue yang biasa. Gue selalu bangun jam segini untuk mandi, solat, lalu ganti baju dan makan. Setelah gue mandi, gue pun pergi ke kamar untuk solat setelah itu gue ganti baju. Baru beberapa menit ganti baju, gue pun menuju ruang makan dan makan makanan favorit gue. Yap, makanan favorit gue adalah nasi goreng ala emak gue. Sebelum gue berangkat ke sekolah, emak berpesan bahwa gue harus pulang lebih awal karena adanya acara keluarga. Gue pun cuma mengiyakan pesan emak gue dan langsung pamit untuk berangkat sekolah. Seperti biasa, ga lupa gue ambil sepeda yang ada di garasi terus gue kayuh deh sampai sekolah. Saat tengah-tengah perjalanan menuju ke sekolah dan gue masih sempet kepikiran sama berbagai teror yang gue alami akhir-akhir ini. Rencananya saat gue udah sampai sekolah gue pengen banget nyari surat itu ke berbagai tong sampah sekolah. Lamunan gue tentang teror pun buyar ketika secara tiba-tiba gue liat zhafira lagi duduk termenung di deket warung. Mau gamau pun gue nyamperin dia dan gue letakkan sepeda gue di deket warung.

Quote:



gue sedikit terdiam sejenak pas lihat sikap dia, dan tiba-tiba gue lihat dia mulai meneteskan air matanya setetes demi tetes. Saat gue pegang tangannya, gue langsung dipeluk sama dia. Cukup lama dia memeluk gue erat sambil menangis tersedu-sedu hingga akhirnya gue menatap jam tangan gue yang sudah menunjukkan pukul 06.15. Gue pun langsung mencoba melepaskan pelukan zhafira dari gue, tapi gue gagal. Akhirnya dengan sabar gue menunggu zhafira melepaskan pelukannya. Bukan hal yang gue harapkan yang dateng, malah hal sial yang dateng. Gue liat dia tertidur pulas. Akhirnya gue memutuskan untuk membawa dia ke sekolah dengan membonceng dia. Kebetulan gue punya jaket, jadi gue gendong dia dan gue dudukin di jok belakang sepeda gue, terus gue duduk dan narik tangan dia buat melingkar di badan gue. Kemudian, badan dia gue iket di badan gue biar ga jatuh karena dia lagi tertidur pulas. Setelah itu, gue akhirnya bisa mengayuh sepeda gue dengan tenang dan tentu aja ga telat. Sesampainya di sekolah, gue langsung membangunkan zhafira. Sekali dua kali gue bangunin zhafira, dan ga ada sautan atau tanda-tanda dia bangun tidur. Ketiga dan empat kalinya gue bangunin dia, responnya juga masih sama. Kemudian, gue coba ke lima kalinya

Quote:


Akhirnya kita pun memutuskan untuk pergi ke taman yang gue maksud. Yap, taman yang dulu sempet gue datengin bersama temen kecil gue, dan entah sekarang gue gatau dimana temen kecil gue ini berada.
Hanya beberapa menit gue tempuh perjalanan menuju ke taman yang gue maksud. Setelah sampai disana gue pun langsung turun dan begitu juga zhafira. Gue dan zhafira langsung mencari tempat yang menurut kita cocok untuk berdua. Yep, kita nemu tempat yang cocok yaitu ayunan yang berada di bawah pohon beringin. Setelah kita duduk di tempat ayunan kita masing-masing. Gue pun mencoba untuk membuka obrolan .

Quote:


Banyak hal yang kita lalui untuk seharian ini. Mulai dari bercanda bareng, lari-lari bareng, jatuh bareng, gelitikan bareng sampai kita cerita-cerita bareng. Setelah puas berlama-lama di taman ini, kita pun memutuskan untuk pulang bareng. Tentunya dengan zhafira yang gue bonceng dan selalu gue yang jadi bahan toyoran dia. Di Sepanjang perjalanan kita melanjutkan canda-candaan. Entah dari kapan, yang gue tau tiba-tiba tangan zhafira melingkar di pinggang gue dengan erat. Gue yang saat ini gapernah deket sama cewek, begitu gue dipeluk sama cewek pun ya otomatis gue gemeteran, keringet dingin ngucur dan tentunya gue ga fokus buat mengendarai sepeda gue. Gue menikmati momen-momen gue bareng zhafira

Quote:


Gue dan zhafira pun masuk ke dalam rumahnya. Kemudian gue bersalaman dengan bokapnya yang menurut gue sangat familiar bareng sama wajah seseorang tapi gue lupa siapa orang tersebut. Gue lihat mata bokapnya yang begitu sembab, matanya menunjukkan dia sedih, kehilangan, dan kosong. Yap, itu yang gue lihat dan seolah-olah gue bisa merasakan itu semua. Gue duduk didepan jenazah almarhumah ibunda dari zhafira. Gue lihat wajahnya begitu terang dan damai. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah bahagia disana. Dengan tangan sedikit menengadah untuk berdoa, gue berdoa dalam hati. Gue mendoakan yang terbaik untuk almarhumah ibunda zhafira. Setelah gue berdiam lama mendoakan almarhumah, gue pun langsung pamit kepada bokapnya zhafira.

Quote:


Setelah gue keluar dari rumah zhafira, gue berniat untuk menuju ke sekolah dan mencari kertas yang gue cari-cari. Selama perjalanan gue cuma mikirin masa lalu gue bareng zhafira. Secara tiba-tiba kepala gue sakit banget dan karena gue takut kalau gue nekat meneruskan perjalanan nanti malah ada apa-apa, akhirnya gue memberhentikan sepeda gue di tepi jalan. Gue mencoba untuk menyenderkan kepala gue ke tembok pagar rumah orang. Lama gue nunggu hingga akhirnya rasa sakit kepala gue mulai mereda. Ga pake lama, dan ga ngulur waktu akhirnya gue mulai kembali mengayuh sepeda menuju ke sekolah. Sampai disana gue ditanya sama anak-anak sekelas gue. Gue cuma bisa ngeles " Gue sakit, nih liat kepala gue " , alasan yang tepat menurut gue. Tanpa basa-basi dengan anak-anak lain pun gue pergi menuju ke wali kelas dan menyatakan hari ini gue gamasuk karena sakit. Kemudian gue ngasih tau juga kalau emak gue ga sempet nulis surat keterangan sakit, ngeles gue. Pada akhirnya gue keluar dan menuju ke beberapa tong sampah yang gue temui. Hingga akhirnya gue berhenti di pinggir lapangan dan gue menangkap sosok kertas yang gue cari tadi. Alhasil gue nemuin kertas itu , gue masukin ke tas dan gue langsung pulang.

Selama diperjalanan gue cuma mikirin gimana caranya biar gue bisa ngeles ke emak kalau seandainya emak nanya soal gue yang ga langsung menuju sekolah melainkan pergi ke taman bareng zhafira. Sampai rumah pun dengan hati-hati gue memasukkan sepeda gue dan menguncinya. Lalu gue, mengendap-endap ke dalam rumah dengan perlahan-lahan . Tara! apes, gue ketahuan emak!. Lalu emak tadi jewer gue dan memaki-maki gue. Berbagai pertanyaan di lontarkan melalui mulut emak gue seperti layaknya sebuah bom atom. Tapi karena berkat otak gue yang cerdas, gue bisa menjawab berbagai pertanyaan yang di lontarkan emak dan ga juga lupa dengan ditambahkan bubuk kebohongan sedikit. Alhasil, emak pun berhenti melontarkan berbagai pertanyaan yang menurut gue males untuk gue jawab atau gue bahas lagi.

Setelah gue dan emak gue urusannya kelar, akhirnya gue memutuskan untuk langsung menuju ke kamar tanpa berbincang-bincang dengan keluarga yang lain yang sedari tadi menunggu gue pulang. Setelah masuk kamar dan mengunci pintu kamar rapat-rapat, gue pun mengambil surat yang udah gue dapetin. Gue perhatiin tulisannya dengan secara seksama. Pada akhirnya setelah beberapa menit kemudian, gue baru tersadar ada satu kertas lagi nempel di surat gue ini dengan tulisan yang sangat amat kecil. Karena gue penasaran, gue pun mengambil kaca pembesar yang ada di laci meja belajar gue. Lalu gue amatin tuh tulisan yang kecil. Gue terjemahin satu-satu huruf yang terangkai menjadi kalimat itu, hingga pada akhirnya gue menyadari dan ada kemungkinan gue tau siapa dalangnya dibalik kejadian semua ini. Gue perhatiin huruf-hurufnya, gue perhatiin cara penulisannya, dan gue perhatiin cara dia nulis namanya dikertas kecil itu. Udah cukup lama gue merenung apakah benar orang yang gue pikirin saat ini adalah orang yang neror gue selama ini?, apa tujuannya nih orang neror gue? Berbagai pertanyaan dari sebelah kiri maupun kanan, dari atas maupun bawah seolah olah menghampiri gue dan meminta gue menjawabnya.
Cukup lama gue merenung , hingga akhirnya gue menyadari siapa dalang dibalik semua ini.



Diubah oleh hyender1529 07-02-2016 18:26
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.