Kaskus

Story

sigitsantozAvatar border
TS
sigitsantoz
Keyakinan
"Aku mengukur cinta layaknya ahli astronomi yang mengukur bumi dan hal yang tak terjamah lainnya, aku menakar cinta layaknya timbangan elektronik yang baru diisi baterai. saat itu aku yakin. Tak ada cinta yang membuatmu buta, yang ada kau melihat cinta terlalu dekat. Datanglah di mana orang lain pergi. Jamahlah cinta di mana orang lain enggan menjamahnya. Cinta membuatmu tenang. Cinta membuat mu berfikir tentang realistis. Cinta sendiri yang akan membuka matamu. Cinta yang akan menerangi jiwamu. Itulah cinta bila kau tidak terlalu dekat melihatnya"
-Sigitsan, Dia Adalah Keyakinan-



Quote:


Quote:

Quote:



Biasanya Sabtu Minggu UPDATE
Sigitsan sangat mengharapkan para reader untuk selalu meninggalkan komen
emoticon-Rate 5 Star
Diubah oleh sigitsantoz 13-02-2016 20:47
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
2.7K
27
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
sigitsantozAvatar border
TS
sigitsantoz
#3
Kesatria Langit



Andai cahaya itu gelap dan mentari itu biru, pasti itu indah di mata dara. Ingin rasanya peri-peri itu terbang dari akalnya. Beri serbuk peri agar dapat menari-nari. Beri sihirmu agar senyumnya tidak mudah pudar. Beri sayapmu agar dapat menembus awan, menyentuh mentari, dan bergantung pada bulan sabit tanggal 6. Dara tidak tahan, Dara ingin pergi.

Ayah dara adalah ayah idaman. Hari-harinya adalah milik dara. Senyumnya adalah tipuan dari beban hidup yang kian menjadi. Dara tahu. Dara mengerti. Dara mencintainya. Tiap belaian ayah adalah kekhawatiran terhitung seperti hitungan rambut dara. Kecemasan yang terbiaskan. Kelelahan yang tersamarkan. Seakan tergambar di tiap piluh yang bercucuran melewati dahinya.

Bunda telah tiada saat ayah kehilangan tangan kiri karena suatu kecelakaan. Katanya bunda ingin mencari suatu pekerjaan di negri orang. Katanya bunda ingin mengobati luka ayah. Katanya di sana lebih makmur di timbang negeri ini. Katanya bunda akan cepat pulang. Ingatan dara begitu jelas saat bunda mengecup dahinya, Dara ingat tas biru itu, Dara ingat pertengkaran di balik kamar itu. Namun sepertinya bunda telah lupa, apa Dara yang salah ingat?

Dara menunggu bunda di atas ranjangnya berharap dia datang memeluk dirinya. Dara selalu berandai-anda, berharap satu andai terwujud. Nyatanya lima kalender baru telah berganti dan terlewati. Nyatanya bunda tak kunjung kembali. Mungkin ia tersesat, mungkin di sana makmur. Mungkin Dara salah ingat?

Mungkinkah Dara lupa dengan rahim ibunya? Mungkin berpura-pura lupa adalah cara terbaik untuk dapat tersenyum, agar mereka tidak tahu derita dalam hati Dara. Ingin aku kisahkan luka di hatinya, hatinya telah penuh nanah dan koreng. Menjijikan. Penuh kapas dan salap yang tidak bereaksi. Aku tidak mengerti mengapa Dara dapat bertahan.

Malam adalah malam, Dara tak berharap bintang, karena bulan telah cukup baginya. Tangan ayah yang tidak sempurna selalu menemani malam-malam Dara. Malam adalah dongeng bagi Dara dan siangnya adalah kepura-pura-an. Ayah selalu berkisah di setiap malam. Walau matanya tak mampu lagi bertahan. Letihnya tergambar jelas. Tapi ayah tetap bercerita, cerita yang tidak pernah sama dan berulang. Tangan pekerja keras itu selalu melebur di pipi Dara. Mencari celah kedalam jiwa Dara. Lorong-lorong gelap itu kini bercahaya, Dara melihatnya. Kini jelas Dara melihatnya.

Kisah dan dongeng ayah adalah mimpi Dara. Salah satu dongeng ayah adalah kesatria langit, kesatria yang gagah berani, Dara terkesima. Dara tertipu. Entah dari mana ayah dapatkan cerita itu. Mungkin ayah telah membaca banyak buku, namun rasanya tidak mungkin, karena ayah selalu bingung membayar uang kontrakkan di akhir bulan, belum lagi biaya sekolah dara yang kian menjadi-jadi.

Kesatria langit adalah seribu ketampanan lelaki, rahangnya tegas, hidungnya serasi, dadanya bidang, ototnya sempurna, dan bau keringatnya adalah godaan terbesar bagi wanita. Di tangan kanan dan kirinya terdapat pedang dan perisai. Dara hanya mendengar. Dara tidak melihat. Aku tak percaya. Oh... Mungkin Dara jatuh cinta... Dara gila.

Katanya kesatria langit punya musuh, namanya jorda. Dara tidak tahu dari mana ayah dapatkan nama itu. Rasanya jorda lebih tampan dari kesatria langit. Tapi ayah tidak pernah berbicara banyak tentangnya. Dara pun tidak ingin mengarangnya karena itu dapat mengubah kisah. Dara ingin melihat apa adanya, biarkanlah begitu. Cukup, Dara suka. Sempat Dara meminta kepada ayah nomor hp kesatria langit, agar kami dapat berbagi pesan singkat, mungkin saja ia tertarik kepada Dara. Ayah diam tidak menjawab.

Dara berharap buta, tapi tidak mungkin Dara terus terpejam. Dara melihat bunda. Bunda yang Dara tunggu. Hitungan Dara tentang bulan hanya untuknya. Penantian yang usang kini terjawab. Kini tas birunya telah tergantikan dengan tas merah yang di taksir hingga 7 juta. Sepertinya parasnya kian menarik, dengan lipstik dan makeup yang bukaN murahan. Permata terikat dilehernya dan emas menutupi lengannya. Dara bahagia, akhirnya Dara berjumpa. Hingga lelaki setengah baya memeluknya, erat, dan bahagia. Dara sedih. Dara menangis. Ternyata Dara yang salah ingat. Dara ingin menelpon kesatria langit tapi ayah tidak memberikan nomornya. Dara ingin lelaki itu mati di tebas kesatria langit. Dara ingin kedua tangannya. Dara ingin darahnya.

Biarkan Dara rampas serbuk peri. Dara ingin pergi.

Dara terguncang. Terpukul. Jiwa diremas-remas, muncrat sudah nanahnya, mengalir kearah usus dan prankreas. Kuning. Menjijikan.

Isak tangis yang Dara bendung kini tumpah menghujam pipi yang penuh jerawat. Aku ramalkan Dara akan menangis hingga lima jam, dugaanku salah kini sudah dua puluh delapan hari Dara menangis, aku pikir dia akan menggenapkannya hingga tiga puluh. Lolongan dan teriakan kesediha Dara sebarkan lewat jendela agar berbaur bersama udara. Beruntung jika kau dapatkan Dara lelah lalu tertidur. Tangisannya tersebar hingga Rt 07, dan kisahnya selalu di perbincangkan di warung-warung batak di pagi hari.

Sempat saja bu pri menampar pipi Dara hingga dirinya tersungkur, dan anak pak beni melempar batu dari luar halaman karena begitu terganggu. Aku dengar, tangisannya juga sudah terdengar hingga ke kantor kecamatan. Dan katanya berita Dara telah sampai hingga keistana negara.

Tepat tujuh bulan Dara bersedih, tangisannya tidak terdengar lagi. Kabar Dara-pun menghilang. Tidak ada lagi perbincangan diwarung-warung batak tentang dirinya. Kabar terakhir dirinya menguap bersama tangisan, mungkin saja kesatria langit mendengarnya. Membawanya. Kisah sedih Dara lenyap seketika, seperti halnya kisah kesatria langit buatan ayah yang tidak pernah naik daun.

Aku katakan, dara terlahir dengan kaki yang tak bisa digunakkan bersama kursi roda ia berjalan. Ibu nya adalah pramuria dan ayahnya adalah rampok yang telah bertobat. Dara bisa saja bahagia dengan kehidupan kecilnya, itupun jika manusia tidak selalu menggunjingan. Seandainya Dara dapat memilih Dara tidak akan memilih lahir dengan seperti itu.

Kini dara telah tertawa bersama kesatria langit.
Diubah oleh sigitsantoz 11-02-2016 15:06
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.