Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Yaudah, gue mati aja

Cover By: kakeksegalatahu


Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.





Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue



emoticon-Bettyemoticon-Betty emoticon-Betty



----------




SECOND STORY VOTE:
A. #teambefore
B. #teamafter
C. #teamfuture

PREDIKSI KASKUSER = EMIL



----------



PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.



----------


Spoiler for QandA:


WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+



NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY


Spoiler for Ilustrasi:


Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.


Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
JabLai cOYAvatar border
mazyudyudAvatar border
xue.shanAvatar border
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#90
PART 17


Sepeninggalan bapak supir taksi, gue mencoba menenangkan diri. Gue masih memiliki harapan bahwa kesialan gue bisa terhenti ketika gue berada di kota Jogja. Sayangnya gue mengharapkan sesuatu yang nampaknya nyaris mustahil. Kesialan sudah mendarah daging pada diri gue. Kesialan masih enggan untuk meninggalkan diri gue ketika gue menekan bell rumah kos.

PLAAAAK!

Sebuah tamparan mendarat dengat mulus di pipi sebelah kiri. Bisa ditebak pipi siapa yang kena tampar. Dan bisa ditebak juga tangan siapa yang di pake buat nampar pipi ini. Jawabannya pipi gue dan tangan Emil. Emil melotot ke arah gue dengan kesal. Pipi gue nggak bakalan kena tampar tanpa alasan, jadi gue mencoba mengingat kesalahan apa yang sudah gue lakukan sampe dia menampar gue. Stuck, gue nggak menemukan kesalahan apa-apa. Sepertinya kali ini tangan dia memang sedang gatal.

“Lo ngapain nampar gue lagi?” gue tarik pipinya.
“Kamu tadi ngebentak,” ucapnya.
“Kapan gue bentak lo? Perasaan gue udah nggak ngebentak lot.”
“Bukan aku, tapi bapak supir tadi,” ucapnya sambil masih melotot.
"...."

Satu hal yang harus gue ingat baik-baik demi menghindari tamparan Emil untuk kesekian kalinya, dia bener-bener nggak suka dengar orang yang bicara dengan nada tinggi atau ngebentak. Entah itu bentakan pada dirinya atau pun orang lain. Mungkin dia ada kejadian buruk masalah bentakan pada masa lalunya, atau memang telinga dia terlalu peka dengan suara jadi telinga dia sakit dengar suara keras, atau itu cuma sekedar alasan untuk melampiaskan hasrat menampar.

Gue masih menunggu penunggu kos buat bukain pagar, dengan Emil berdiri disebelah gue. Gimana ceritanya si Emil bisa disebelah gue menunggu pagar rumah kos dibuka? Kita berdua menempati kos yang sama. Dunia memang tak selebar daun kelor, dunia lebih sempit dari itu. Nggak, gue bercanda. Ini kos gue doang, Emil nggak kos disini. Masalah dia ikutan nungguin pagar itu karena dia mau numpang nungguin pagi, karena dia belum nyari kos. Gila? Memang. Sinting? Banget.

Nggak ada tanda-tanda dari orang yang masih bangun dari dalam kosan. Berkali-kali gue pencet itu bell, tapi tetap nggak ada respon. Mungkin penunggu kos udah tidur gara-gara gue terlambat dari jadwal kedatangan. Dan pagi ini gue harus tidur di jalan sambil menunggu penunggu kos buat bangun yang entah sampai kapan tidurnya.

“Ngapain mas?” tanya seorang yang berperawakan sangar yang entah datang darimana.
“Hais!” jantung gue serasa mau copot. “Anu, ini mas lagi nungguin penunggu kos bukain pintu, daritadi di bell nggak ada respon.”
“Penunggu? Emang ada penunggu di kosan ini?” tanya dia. “Lagian ini juga kosan kosong.”
“Masa sih mas?” bulan kemarin saya kesini ada bapak kosnya kok,” kata gue.
“Bapak kos? Bapak kos yang mana?” mas-mas itu memasukan satu tangannya kedalam saku celanannya. “Kosan ini kosong mas, kalo nggak percaya ikut saya masuk aja.”

JENG JEENNGG!!

Kalo gitu gue mau tidur dimana ini. Duit gue delapan juta ilang gitu aja dibawa bapak kos gadungan. Udah gitu gue bawa anak orang bareng sama gue. Ah, elaaa, tega bener itu bapak-bapak.

“Seriusan mas?! Saya udah bayar buat setahun lhoh mas! Masa iya kosong kosannya?!” gue mulai panik.
Mas-mas itu membuka gembok pagar rumah kos, "Iyalah kosong ... orang penghuninya lagi pada keluar, haha, Ayok masuk!”

Gue kena dikerjain mas-mas sengklek ini. Saat ini doa gue cuma satu, kalo dia seorang mahasiswa, semoga dia lulusnya lama. Kalopun dia bukan mahasiswa, semoga dia segera menjadi mahasiswa, terus lulusnya lama.

Gimana dengan Emil, dia ngikutin gue. Tapi entah kenapa setelah kehadiran mas-mas itu dia berubah jadi diem lagi. Pertama dia cueknya minta ampun, kedua dia jadi manja, ketiga dia jadi pemarah, keempat tiba-tiba dia kembali jadi cuek. Mungkin ini memang siklus seorang cewek. Semacam fase dimana seorang cewek mencoba membiasakan kepribadian dengan lingkungan, dan itulah yang membuat cewek susah buat dipahamin. Mungkin. Mungkin juga enggak.


End of chapter 2
JabLai cOY
JabLai cOY memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.