Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Yaudah, gue mati aja

Cover By: kakeksegalatahu


Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.





Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue



emoticon-Bettyemoticon-Betty emoticon-Betty



----------




SECOND STORY VOTE:
A. #teambefore
B. #teamafter
C. #teamfuture

PREDIKSI KASKUSER = EMIL



----------



PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.



----------


Spoiler for QandA:


WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+



NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY


Spoiler for Ilustrasi:


Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.


Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
JabLai cOYAvatar border
mazyudyudAvatar border
xue.shanAvatar border
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#76
PART 16

Setelah kejadian pinsannya cewek itu terbongkar, salah satu petugas kesehatan merawat dia. Menurut dia, cewek itu mungkin terpeleset di toilet lalu jatuh hingga kepala belakangnya terbentur wastafel. Kepala bagian belakang cewek itu sedikit memar dan terdapat sobekan kecil yang menyebabkan darahnya keluar.

Karena tidak berapa lama setelah kejadian itu kereta sampai ke kota Jogja, jadi cewek itu dibawa turun dan dirawat di salah satu ruangan di stasiun Lempuyangan Jogja. Bagaimana dengan nasib gue sendiri? Orang yang udah ngasih napas buatan tapi gagal itu ada di sebelah cewek yang pinsan. Gue dipaksa oleh para petugas kereta buat ngejagain dia. Bagaimana nasib kencing gue yang udah di ujung tanduk? Gue udah terlanjur lupa.

“Oi, bangun … kita udah sampe di Jogja.” Gue goyang-goyangkan tubuh dia.
Dia mencengkram tangan gue. “Ntar ah, masih ngantuk!”
“Dih, lo pikir lagi ada dimana ini?” Gue berdiri dari kursi. “Yaudah, gue tinggal ya? Kan lo udah sadar lagi.”
“….” Tidak ada jawaban dari dia.

Gue tarik tangan gue dari cengkraman dia, susah, nggak bisa lepas.

“Gue musti buru-buru nih, udah ditungguin tukang ojek pesenan gue.” Gue mencoba melepaskan diri.
Dia melepaskan tangan gue lalu mengambil tas gue, “Cariin tukang ojek dulu.”
“Ha?! Yakali gue juga yang harus cari,” tolak gue.
Matanya menajam, “Kamu mau ninggalin aku disini?”

Seisi ruangan itu, para petugas, memandang ke arah gue.

“Jadi laki tuh yang tanggung jawab mas!” kata salah seorang petugas.
“Tega bener mas mau ninggalin pacarnya di stasiun!” tambah petugas yang lain.
“Sok kegantengan banget! Mau jadi rangga AADC?” timpal yang lain lagi.

Gue yang yakin seratus persen bakalan di hujat habis-habisan kalo tetap di ruangan ini, segera meninggalkan ruangan. Tentunya diikuti cewek nggak jelas itu.

“Bawain tasnya mas! jangan mau enaknya aja!” teriak salah seorang petugas dari dalam ruangan.

Akhirnya gue bawa tas berisi pakaian yang beratnya minta ampun itu.

Sudah selazimnya di depan stasiun terdapat banyak tukang ojek dan supir taksi yang berada di stasiun saat kereta datang menurunkan penumpang. Berhubung ini semua tidak lazim, maka tidak terdapat satupun tukang ojek dan supir taksi. Kereta gue adalah kereta yang datang terakhir di pagi hari sebelum ayam berkokok. Dan gue sudah terlalu lama di ruang petugas tadi, tukang ojek dan supir taksi udah pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga tukang ojek pesanan gue.

Gue duduk di depan stasiun nungguin ada tukang ojek lewat. Disebelah gue ada tas segede gaban yang ditinggal telepon sama pemiliknya. Kalo dipikir-pikir sepertinya ini adalah hari yang paling sial buat gue. Emang sih hari-hari gue selalu sial, tapi sejak bertemu cewek itu hari gue makin sial. Sekarang aja ada sekitar sepuluh taksi lewat tapi nggak ada satu tukang ojek pun yang lewat.

“Hei! Aku abis di telepon mama dong!” kata cewek itu.
“Engh … gue nggak peduli,” jawab gue.
“Oh iya, kita belum kenalan, aku Emil,” dia menyodorkan tangannya. “Bisa dipanggil Lia atau Rosa juga sih, terserah deh mau manggil apa.”
“Nama gue Dawi,” gue menjabat tangan dia sekenanya.
Dia duduk disebelah gue. “Dawi kayak nama sayuran.”
“ITU SAWI,” balas gue.
“Kayak yang ada ditoilet aja,” dia masih mencoba melucu.
Gue tarik pipi dia sampai kupingnya deket muka gue. “ITU TAHI.”
Dia mengelus-elus pipinya. “Masih nungguin ojek? Kenapa nggak pake taksi aja sih?”
“Mahal, gue pengin pake yang murah aja,” terang gue.
“Aku yang bayar,” kata Emil.
“Deal! Gue cari sekarang!” gue bersemangat.

Gue segera berlari keluar area stasiun dan mencari taksi. Bener aja, baru gue jalan ke depan dikit udah kelihatan satu taksi menuju arah gue. Karena gue udah terlambat dengan waktu gue janjian sama penunggu kos, jadi gue langsung ambil itu taksi. Gue minta itu taksi buat masuk ke dalam stasiun buat jemput Emil.

Begonya, gue lupa kalo berkenalan nggak merubah status pesuruh. Gue panggil kenceng-kenceng Emil, gue teriakin dia sampe tenggorokan gue kering dan sempat terlihat ludah gue berubah merah. Iya, memang Emil akhirnya denger panggilan gue dan berjalan ke arah gue. Tapi tidak dengan tasnya. Tas itu tetap ditempatnya menunggu gue untuk datang mengangkatnya, teriakan gue sia-sia.

Di dalam taksi gue lebih sering diam. Gue nggak mau kesialan menimpa gue di hari pertama berada di Jogja. Kata orang, selama gue nggak berbuat keributan, Jogja itu kota yang nyaman. Dan gue ke Jogja mengharapkan kenyamanan bukan kesengsaraan.

Kata bokap, Jogja itu kota yang ramah selama kita sopan. Bahkan kesialan akan datang dengan ramah, perlahan, permisi tapi ujung-ujungnya sial juga. Gue bercanda, bokap nggak ngomong apa-apa soal Jogja.

Setau gue, sudah seharusnya taksi malam itu sunyi dan sepi. Tapi ternyata kenyataan dilapangan berbeda. Ribuan kalimat ajakan buat ngobrol dari Emil mengalahkan suara deru AC di malam hari, bahkan suara AC nyaris tak terdengar. Orang yang selama di kereta cueknya minta ampun, tiba-tiba berubah jadi lampor. Emil nggak bisa diem. Sepertinya kejadian di toilet kereta membuat kepribadiannya berubah.

“Mahasiswa baru ya dek?” bapak supir taksi mengakrabkan diri.

Gue seneng banget sewaktu denger bapak itu manggil gue 'dek'. Akhirnya ada yang mengakui bahwa gue ini masih terlihat muda, bukan seperti oom-oom.

“Ah, iya pak, saya mahasiswa baru.”
Bapak itu melihat ke arah gue melalui kaca tengah, “Masnya mahasiswa baru juga?”
“Lhah … iyalah pak, barusan tebakan bapak bener,” terang gue.
“Saya tanya sama mbak yang disebelah kok mas.”
“….”
“Iya pak, saya mahasiswi baru,” kata Emil.
“Oh, kuliah dimana?” tanya bapak supir taksi.
“*** pak,” jawab Emil.
“Kalo masnya, ambil S2 dimana?” ucapnya enteng.
“SAYA BARU LULUS SMA KEMARIN PAK!”

Jawaban gue membuat bapak supir taksi bungkam. Mungkin gue sedikit berlebihan, dan sedikit terlalu sensitif dengan candaan dia. Bokap gue selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk menjadi orang yang tahan dengan segala hinaan, karena hinaan akan membuat kita makin kuat. Selain itu dengan kita selalu sabar kita akan terlihat lebih dewasa dan kita akan lebih mudah untuk berpikir dengan kepala dingin. Jadi gue segera mengumpulkan niat untuk meminta maaf.

“Ma … maaf mas, sa … saya kira S2,” bapak itu terbata.
"Iya pak, saya juga minta maaf."
“Ja … jadi kemarin S1 nya ambil apa mas?”
“Bapak mending diem! Buruan anterin saya ke kos sebelum ada tulang yang patah di dalam taksi ini!”
Diubah oleh dasadharma10 04-02-2016 16:30
JabLai cOY
JabLai cOY memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.