- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah, gue mati aja
...
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Cover By: kakeksegalatahu
Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.
Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue


----------
----------
PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.
----------
Spoiler for QandA:
WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+
NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY
Spoiler for Ilustrasi:
Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#74
Side story - Hubungan - Jun 2014
Dengan kepala sedikit pusing, gue melangkah masuk ke kamar gue. Didalam, gue melihat Emil tertidur di kamar gue. Wajahnya terlihat sangat teduh, tentunya saat dia tertidur. Nggak, saat terbangun pun wajahnya juga teduh. Gue melewatinya dan segera mengganti pakaian lalu berjalan ke arah tempat tidur.
Emil terbangun, "Kamu udah pulang?"
"Iya ... kamu mau tidur disini?"
Emil mengangguk.
"Yaudah, aku tidur di kamarmu kalo gitu."
Emil menarik tangan gue. Gue tau apa maksud dia menarik tangan, biasanya dia minta ditemani hingga tertidur. Tapi kali ini gue merasa sedikit berbeda. Tidak seharusnya juga gue tidur bersama Emil. Tidak seperti yang sebelumnya, kali ini situasinya berbeda, gue tidak lagi dalam kondisi tertekan atau yang lainnya.
"Aku tidur di kamarmu aja Mil."
Emil melepaskan tangan gue dengan terpaksa.
"Yaudah ... sebentar aja ya ... abis kamu tidur aku pindah, aku besok ada ujian pagi."
Emil tersenyum sangat cantik.
Emil membuka selimut dan menarik gue masuk ke dalamnya. Dia memeluk gue erat.
"Kamu buruan tidur."
Dia mengusap dada gue.
"Miiiillll ... aku pindah nih ya kalo kamu nggak tidur."
"Kemarin waktu tidur berdua juga kamu nggak tidur."
"Ya ... waktu itu aku kan lagi nggak bisa tidur."
"Nangis?"
"Enggak nangis."
"Matanya keluar air?"
"Iya keluar ... tapi bukan nangis."
"Terus?"
"Iya, aku nangis."
"Hehe..."
"Kamu buruan tidur apa aku pindah?"
Dia memeluk lebih erat. Dadanya menekan perut gue, membuat gue sedikit sesak.
"Aku lagi pengin," dia meniup leher gue. "Kamu ... mau nggak?"
"Apaan?"
Dia ketawa nggak jelas.
"Tanganmu naikin ... jangan macem-macem Mil ... Mil naikin tanganmu!"
Emil enggak memperdulikan perkataan gue.
"Mil naikin tanganmu ... please Mil ... naikin ... Mil terusin!"
Malam itu terasa sangat panas dan berjalan sangat lambat. Sampai terdengar ayam berkokok gue baru bisa memejamkan mata.
Pagi harinya gue terbangun oleh suara tv gue. Saat gue lihat jam dinding, untungnya gue udah Masih belum terlambat buat berangkat ke kampus.
"Morning," sapa Emil.
"Eh, kamu udah bangun Mil."
"Morning buat aku mana?" dia manyun.
"Morning, Emil."
Dengan kepala sedikit pusing, gue melangkah masuk ke kamar gue. Didalam, gue melihat Emil tertidur di kamar gue. Wajahnya terlihat sangat teduh, tentunya saat dia tertidur. Nggak, saat terbangun pun wajahnya juga teduh. Gue melewatinya dan segera mengganti pakaian lalu berjalan ke arah tempat tidur.
Emil terbangun, "Kamu udah pulang?"
"Iya ... kamu mau tidur disini?"
Emil mengangguk.
"Yaudah, aku tidur di kamarmu kalo gitu."
Emil menarik tangan gue. Gue tau apa maksud dia menarik tangan, biasanya dia minta ditemani hingga tertidur. Tapi kali ini gue merasa sedikit berbeda. Tidak seharusnya juga gue tidur bersama Emil. Tidak seperti yang sebelumnya, kali ini situasinya berbeda, gue tidak lagi dalam kondisi tertekan atau yang lainnya.
"Aku tidur di kamarmu aja Mil."
Emil melepaskan tangan gue dengan terpaksa.
"Yaudah ... sebentar aja ya ... abis kamu tidur aku pindah, aku besok ada ujian pagi."
Emil tersenyum sangat cantik.
Emil membuka selimut dan menarik gue masuk ke dalamnya. Dia memeluk gue erat.
"Kamu buruan tidur."
Dia mengusap dada gue.
"Miiiillll ... aku pindah nih ya kalo kamu nggak tidur."
"Kemarin waktu tidur berdua juga kamu nggak tidur."
"Ya ... waktu itu aku kan lagi nggak bisa tidur."
"Nangis?"
"Enggak nangis."
"Matanya keluar air?"
"Iya keluar ... tapi bukan nangis."
"Terus?"
"Iya, aku nangis."
"Hehe..."
"Kamu buruan tidur apa aku pindah?"
Dia memeluk lebih erat. Dadanya menekan perut gue, membuat gue sedikit sesak.
"Aku lagi pengin," dia meniup leher gue. "Kamu ... mau nggak?"
"Apaan?"
Dia ketawa nggak jelas.
"Tanganmu naikin ... jangan macem-macem Mil ... Mil naikin tanganmu!"
Emil enggak memperdulikan perkataan gue.
"Mil naikin tanganmu ... please Mil ... naikin ... Mil terusin!"
Malam itu terasa sangat panas dan berjalan sangat lambat. Sampai terdengar ayam berkokok gue baru bisa memejamkan mata.
Pagi harinya gue terbangun oleh suara tv gue. Saat gue lihat jam dinding, untungnya gue udah Masih belum terlambat buat berangkat ke kampus.
"Morning," sapa Emil.
"Eh, kamu udah bangun Mil."
"Morning buat aku mana?" dia manyun.
"Morning, Emil."
Diubah oleh dasadharma10 19-12-2016 05:17
dirgantara666 memberi reputasi
1


