Kaskus

Story

angmawAvatar border
TS
angmaw
A Choice Without Regrets
TRY

A Choice Without Regrets


Quote:


Sebuah potongan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi asal USA, Asher Monroe Book. Lirik yang mengingatkan kita akan kata 'move on' sangat gamblang dijelaskan dalam lagu ini. Inti dari lagu ini adalah cinta tidak harus memiliki, yang penting diperjuangkan, jangan takut untuk mencoba dan mengambil resikonya.


Spoiler for Asher Monroe Book - Try:


Pilihan adalah sesuatu yang akan kita temui dalam hidup ini. Mau tidak mau kita harus memilih jalan yang akan kita ambil. Baik atau burukkah hasil yang akan kita dapatkan nanti? Who knows? Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan oleh Tuhan. So, keep try! Tetap mencoba dan jangan ada penyesalan akan apa yang telah kita pilih nantinya.


Yap, ini adalah sepenggal kisah masa lalu gua. Tahun-tahun yang sangat berarti dalam hidup gua akan gua kenang kembali dan gua tuangkan disini. Cerita ini real adanya dan sesuai dengan pengalaman hidup gua. Mohon maaf untuk menjaga privasi gua tidak mencantumkan nama asli dalam tokoh-tokoh yang akan gua angkat selain nama gua.


Quote:


Happy Reading!
Diubah oleh angmaw 19-03-2016 23:27
0
4.7K
34
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
angmawAvatar border
TS
angmaw
#14
PART 05


Next, masih di hari yang sama. Kami sudah selesai istirahat dan sudah dalam perjalan balik turun gunung. Di tengah perjalanan, gua dan Hendra melihat dua orang cewek sedang duduk di pinggir jalur track. Salah satu cewek sedang meringis kesakitan sambil memegang pergelangan kaki kirinya. Hendra mengajak gua menghampiri mereka, Hendra berjongkok dan menanyai keadaan mereka sedangkan gua masih berdiri dibelakangnya.

“Kenapa gek?”tanya Hendra pada mereka.

“Kaki temenku terkilir,” jawab salah satu cewek. Sedangkan cewek disampinya hanya mengangguk sambil menahan sakit.

“Aku Hendra, ini temenku Adi,” kata Hendra sambil memperkenalkan diri kami.

“Aku Tari, dan temenku ini Windy.” Kami pun saling berjabat tangan.

“Eh Windy mau dipapah apa digendong?” tawar Hendra kepada Windy, “Bukan maksudnya gimana tapi lihat tuh cuaca mulai mendung bentar lagi hujan.” Sambungnya.

Teman gua yang satu ini memang baik orangnya. Dia gak segan-segan membantu meski gua tahu dia juga bermaksud kenalan lebih jauh dengan Windy haha. Dasar Bracuk.

“Dipapah aja gak apa-apa, makasih ya.” Jawab Windy.

Kami membantu Windy untuk bangun kemudian tangan kanan Windy di tempatkan di belakang leher Hendra, Ia mulai memapah Windy sambil memberi kode mata menunjuk Tari ke arah gua.

“Apaan?” Tanya gua ke Hendra. Hendra tak menjawab, ia mengulang kembali kode mata tadi.

“Maksudnya? Ga ngerti gua.”

“Yaelah cong bantuin tuh Tari bawain tasnya Windy,” jawab Hendra kesal.

“Haha kirain gua disuruh mapah Tari juga,” kata gua bercanda, “Sini aku gendong kamu, eh tasnya,” sambung gua masih bercanda sambil menoleh kearah Tari. Ia memalingkan wajahnya sambil mencubit lengan gua, sepintas gua melihat mukanya memerah. Yaelah nih cewek malu-malu pengen ternyata.

“Ciiieeee,” teriak Hendra dan Windy membuat gua dan Tari jadi salah tingkah.

“Udah ah yok jalan,” sahut Tari masih malu-malu.

Oh ya sedikit tentang Tari dan Windy, Tari memiliki wajah bulat nan manis, tingginya sekitar 160 cm, memiliki rambut lurus sebahu, berkulit putih, bermata bulat, dan memiliki tahi lalat di sebelah kiri bibirnya yang tipis. Orangnya pemalu tapi enak diajak ngobrol. Sedangkan Windy, lebih tinggi sedikit dari Tari, berkulit sawo matang, rambut lurus sebahu, bermata sipit. Windy orangnya sedikit tomboy, ngomongnya blak-blakan tapi suaranya serak-serak erotis gitu haha.

Di sepanjang perjalan kami asyik mengobrol, bercanda dan menjadi semakin akrab. Gua kemudian tahu ternyata Windy dan Tari beda sekolah dengan Hendra dan gua. Mereka sekolah di SMK swasta bersebelahan dengan SMK gua. SMK gua dan SMK mereka memang merupakan 1 yayasan dimana Kepala Sekolah SMk gua adalah Wakil Kepala Sekolah di SMK mereka, dan sebaliknya Kepala Sekolah SMK mereka adalah Wakil Kepala Sekolah di SMK gua. Yang membedakan Cuma SMK gua negeri dan SMK mereka swasta.

“Eh Tari hati-hati!” Tari yang sedari tadi berlari mengejar gua karena gua isengin tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke samping jalur yang merupakan jurang tak terlalu dalam. Track yang kami lewati memang licin karena hujan yang sedari tadi sudah turun. Gua panik, gua menghampirinya sementara Hendra dan Windy masih terus berjalan meninggalkan kami dan tak menyadari apa yang sedang terjadi. Gua melihat Tari belum terperosok jauh, ia memegang erat akar pohon dan kakinya bertumpu pada batang pohon yang menjuntai di bawah jurang.
“Tari! Ga apa-apa kan?” kata gua panik.

“…………” Tari gak menjawab, wajahnya terlihat tegang dan takut. Sesekali ia memejamkan sebelah matanya sambil meringis kesakitan.
Gua bersimpuh dan membungkuk mencoba menggapai tangannya, awalnya tak sampai tapi setelah membungkuk lebih rendah dan tengkurap akhirnya ‘Tap!’ gua berhasil menggapai tangannya. Gua pegang erat tangannya dengan kedua tangan gua dan mulai menariknya keatas. Dengan berhati-hati Tari sudah berhasil gua tarik keatas. Ia tengah duduk meluruskan kakinya, bersandar pada sebuah pohon sambil wajahnya tertunduk. Gua tahu dia menangis, terlihat dari bahunya yang naik turun.

“Tari, maafin aku ya.” Kata gua sambil bersila dihadapannya.

“…………” Ia tak menjawab.

“Tari, Tar…”

“Makasih ya di,” Tari berkata pelan, “Ini bukan salah kamu kok,” lanjutnya.

“Tetap aja, gara-gara aku kamu jatuh tadi….”

Belum sempat gua menyelesaikan kata Tari lantas memeluk gua, pelukan yang sangat erat. Terasa ada yang empuk-empuk menekan dada gua. “Sial disaat seperti ini masih aja gua…” gumam gua dalam hati.

“Aku takut di,” kata Tari setelah melepas pelukannya.

“Yaudah Tari, yang penting kamu sudah selamat. Ada yang luka gak?” Tanya gua.

Tari memperlihatkan siku tangan kananya yang lecet dengan sedikit darah yang keluar. Gua balut luka disikunya dengan sapu tangan yang gua bawa. Gua melihat ke arah kakinya, Tari memakai celana denim panjang sehingga kakinya tidak ada yang luka. Hanya celananya yang sedikit sobek dan kotor khas lumpur. Gua membantu Tari berdiri dan mengajaknya berjalan.

“Yok jalan, apa perlu ku gendong?” tanya gua sambil jongkok memperagakan gerakan siap untuk menggendong.

“Ga usah di, masih bisa jalan kok.” Jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya ia tersenyum juga.

Gua balas senyumnya dan kami pun melanjutkan perjalanan sampai tiba di bawah. Hendra dan Windy yang tengah duduk di warung pinggir jalan memanggil gua dan Tari. Kami pun menghampiri mereka.

“Lama amat ngapain aja lu cong?” Tanya Hendra ke gua. Belum sempat gua menjawabnya punggung gua dicubit Tari, gua menoleh kebelakang terlihat Tari tersenyum sambil menggelengkan kepala. Gua mengerti maksud Tari.

“Ga apa-apa cuk, tadi istirahat sebentar.” Kata gua.

“Istirahat apa ‘ehem’, kok lama bener?” tanya Windy iseng.

“Apaan sih, kakimu urus tuh,” jawab Tari sambil menjulurkan lidahnya ke Windy.

Kami pun istirahat dan mengobrol sebentar sebelum akhirnya kami berpisah dan kembali ke SMK masing-masing. Kami sempat bertukar nomor hape atas usul Hendra. Bilang aja si Bracuk pengen nomornya Windy dasar. Yap gua mendapat teman-teman baru lagi, tapi gua merasa ada yang aneh dengan Tari. Bukan karena empuknya saat gue dipeluk (neh kan mulai lagi), melainkan sikap dia ke gua padalah baru kenal sebentar. Hmm biarlah.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.