- Beranda
- Stories from the Heart
A Choice Without Regrets
...
TS
angmaw
A Choice Without Regrets
TRY

Quote:
Sebuah potongan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi asal USA, Asher Monroe Book. Lirik yang mengingatkan kita akan kata 'move on' sangat gamblang dijelaskan dalam lagu ini. Inti dari lagu ini adalah cinta tidak harus memiliki, yang penting diperjuangkan, jangan takut untuk mencoba dan mengambil resikonya.
Spoiler for Asher Monroe Book - Try:
Pilihan adalah sesuatu yang akan kita temui dalam hidup ini. Mau tidak mau kita harus memilih jalan yang akan kita ambil. Baik atau burukkah hasil yang akan kita dapatkan nanti? Who knows? Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan oleh Tuhan. So, keep try! Tetap mencoba dan jangan ada penyesalan akan apa yang telah kita pilih nantinya.
Yap, ini adalah sepenggal kisah masa lalu gua. Tahun-tahun yang sangat berarti dalam hidup gua akan gua kenang kembali dan gua tuangkan disini. Cerita ini real adanya dan sesuai dengan pengalaman hidup gua. Mohon maaf untuk menjaga privasi gua tidak mencantumkan nama asli dalam tokoh-tokoh yang akan gua angkat selain nama gua.
Quote:
Happy Reading!
Diubah oleh angmaw 19-03-2016 23:27
0
4.7K
34
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angmaw
#13
PART 04
Finally, hari terakhir MOS. 5 hari yang tak terlalu penting tapi menjadi awal pertemuan gua dengan orang-orang yang akan mempengaruhi hidup gua kedepannya. Yang unik di SMK gua, di hari terakhir MOS ini nantinya kami akan pergi mendaki bersama ke Gunung Catur dan Tirta Yatra ke Pura Pucak Mangu. Yap Bali yang mayoritasnya agama Hindu menjadi hal wajib bagi kami untuk ‘tangkil’ ke tempat persembahyangan, baik di hari raya maupun acara sekolah. Gunung Catur, gunung tertinggi ke 4 di Bali yang terletak di Desa Petang, Badung, Bali. Gunung yang sudah gak aktif lagi ini berada di satu kawasan kaldera Bedugul, dengan view Danau Beratan dan gugusan gunung-gunung yang bisa dinikmati jika cuaca cerah. Jalur pendakian bisa ditempuh dari Desa Petang dengan track batu padas bertangga atau jalur dari Bedugul dengan track jalan tanah dan hutan rapat.
Gua yang sudah siap dari pagi, memakai baju kaos wajib MOS dengan celana denim panjang dengan lutut sobek, hmm gaya yang memang lagi trend saat itu. Gua berangkat dari rumah jam 6 pagi dengan mengendarai motor bebek kesayangan di dampingi teman gua Hendra yang boncengan mesra meluk gua dari belakang. “Bracuk tangan lo! Jangan meluk gua najis!” teriak gua padanya, Hendra hanya menjawab dengan tawanya. Gua emang paling ga suka dipeluk pas lagi boncengan, apalagi dipeluk cowok. Bukannya kenapa-kenapa, gua cuma risih dan kerasa gak nyaman gitu dipeluk dari belakang.
Setiba di SMK, gua dan Hendra menuju ke halaman sekolah. Hari terakhir MOS ini menjadi hari mewek bagi para OSIS dengan adik kelas, saling berbagi maaf, saling bertukar hadiah, saling berpelukan, nah ini yang asyik apalagi bareng OSIS cewek, beuhh. Acara mewek pun dimulai, Hendra yang memang sedari tadi udah ‘gatel’ lantas meninggalkan gua mencari sosok OSIS cewek yang bisa dipeluk. Dasar Bracuk acara ginian doyan, kemarin digojlok sampe nangis-nangis. Gua yang masih menggandeng tas mencoba menyusul Hendra sambil berharap mendapatkan pelukan gratis haha. Langkah gua terhenti setelah gua melihat sesosok cewek yang tengah duduk santai diatas tepian kolam yang dihiasi patung Dewi Saraswati ditengahnya. Cewek itu sedang asyik membungkuk menatap layar handpone yang ada di tangannya, dengan rambutnya yang digerai tak lagi dikuncir terlihat lekukan bibir tipis membentuk senyuman manis dan dihiasi tahi lalat kecil diatasnya. Ya, Arika. Cewek yang mengusik pikiran gua beberapa hari ini, meski gua belum mengenalnya tapi dari senyumnya gua tahu masa-masa sulitnya telah terlewati. Ingin rasanya gua menghampiri Arika sekedar bersapa dan berkenalan dengannya, tapi apa daya gua yang memang dasarnya introvert. Kalo urusan berantem atau sebagainya gua jabanin, tapi untuk yang satu ini gua ga punya nyali.
Singkat cerita gua dan para siswa lain sedang dalam perjalanan menuju Gunung Catur. Tak seperti ekspetasi gua yang dengan tenangnya duduk santai dalam bis disertai hembusan dingin AC, kami ke Gunung Catur dengan menaiki truck. Ya truck! Gila panas-panasan dijalan dengan terik matahari sudah berasa kayak bule. Setelah 1 jam perjalanan dengan 2 kalinya Hendra muntah disamping gua, kami pun sampai di desa Pelaga, titik awal pendakian menuju Gunung Catur. Karena track sudah kelihatan jadi kami gak perlu susah-susah mencari track baru. Gua, Hendra, dan gerombolan siswa lain pun mulai mendaki dengan teratur. Track yang terbuat dari batu padas ini cukup membantu pendakian.
Setelah berjalan beberapa lama, kami sampai di suatu tempat yang track-nya melewati 2 pohon besar yang berdampingan. Kami menghaturkan canang dan sembahyang disana, istilahnya mohon permisi untuk masuk wilayah sana. Karena kalau diperhatikan 2 pohon ini seperti gapura pintu masuk, jadi wajib ijin. Well, setelah istirahat sejenak kami lanjut lagi naik. Track masih sama jalur batu padas ditengah hutan belantara yang sejuk, padahal matahari terik banget. Dan akhirnya perjalanan 2 jam membuahkan hasil, kami sampai di puncak. Puncak Gunung Catur bentuknya memanjang dari barat ke timur. Di ujung timur dengan Pura Pucak Mangu yang indah, di sebelah barat terdapat jalur pendakian dari Bedugul dan di sebelah utara view dari Bedugul. Tapi sayang saat itu kami sampai di atas dengan cuaca yang berkabut, so nothing to see.
Setelah berganti pakaian, kami lanjutkan dengan sembahyang bersama di Pura Pucak Mangu, mohon anugerah agar selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam hidup. Pura Pucak Mangu adalah pura dengan stana Dewa Sangkara sebagai Dewa Kemakmuran, bisa di bilang Pura ini indah banget walaupun berada di puncak gunung. Setelah selesai sembahyang, kami di beri waktu untuk beristirahat sejenak. Ada yang foto-foto, ada yang bersih-bersih atau ‘ngayah’ istilahnya dalam bahasa Bali, dan ada pula yang lagi asyik mojok pacaran. Gua dan Hendra lebih milih istirahat sambil memakan bekal dari rumah. Sedang asyiknya kami makan, tiba-tiba cuaca mulai membaik. Sinar matahari mulai menembus tipisnya kabut yang perlahan mulai menghilang. Dari arah utara samar-samar gua melihat seorang cewek yang sedang duduk di atas batu besar, kabut yang menghilang membuat cewek itu terlihat jelas. Ya cewek itu Arika, ia sedang menghadap kesamping sambil menatap ke arah utara. Gua terpana, hembusan angin yang melambaikan rambutnya yang tergerai dan cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Ia terlihat sangat cantik, sangat menawan. Mungkinkah gua?
“Hajar cong!”Kata hendra membuyarkan pandangan gua.
“Apaan cuk?”
“Yaelah lu bodoh atau gimana? Ada cewek lagi sendiri masak gak lu temenin?”
Gua terdiam sejenak mencoba berpikir, haruskah gua meghampirinya?
“Sekarang?”
“Nanti aja pas udah turun, ya sekarang lah!”
“Okelah!” Jawab gua mantap.
Dengan cepat gua berdiri, mencoba melangkahkan kaki. Setapak demi setapak gua lalui, keringat dingin membasahi kening gua, dan kemudian……. gua berbalik, menuju tempat semula. Hendra menatap gua heran, mencoba menerka apa yang ada dalam pikiran gua.
“Ngapain lu balik cong?!” Teriaknya kesal.
“Gua ga berani cuk.”
“Yaelah cong lu cowok bukan?!” tanyanya sambil menggelengkan kepala.
Gua gak menjawabnya, gua hanya mampu duduk dan menatap Arika dari jauh. Entah sampai kapan gua akan terus begini, sangat lemah dihadapannya.
0