Kaskus

Story

  • Beranda
  • ...
  • Poetry
  • After THE CRIMSON FALL, Here Lies THE RED MOON...

BeelzebulbAvatar border
TS
Beelzebulb
After THE CRIMSON FALL, Here Lies THE RED MOON...
After THE CRIMSON FALL, Here Lies THE RED MOON...

Greetings, mortals...

Its a pleasure to meet you all again...

Now, the stories continue... I'll show you from the very beginning of my poetries...emoticon-Malu (S)

THE CRIMSON FALL


KARTE 1


DILEMA JIWA

Darah... Darah... Darah...
Melapisi segala sudut akal sehatku...
Merah... Merah... Merah...
Menghantui segala peluh kesalku...
Jangan pernah menggangguku!
Hilanglah dari keberadaanku!
...
Tragedi... Tragedi... Tragedi...
Tanpa kehendak, merasuki hati....
Dilema... Dilema... Dilema...
Dengan sangkur, menghancurkan sukma...
Terkutuk, pergi dari sisiku!!
Musnahlah dari pikiranku!!
...
Darah... Darah... Darah...
Dengan kata-kata laknat menghasut egoku...
Merah... Merah... Merah...
Warnanya kelam mengaburkan pandanganku...
Tak kan bisa berdiri lagi...
Aku mati...
...
Mati... Mati... Mati...

(Tamappi, 09-Oktober-2006)



HANYA

Sejuknya angin di kerinduan hati ini
Menangkap segala bentuk penderitaan hidup ini
Walau raga terus menuntut untuk mati
Akalku takkan pernah mengakui
Walau hasrat ini menuntut untuk mati
Jiwaku menolak ratapan ini...
...
Mengisi hari dengan bahagia
Kucoba lepas dari semua dosa
Kuingin memusnahkan semua mantra
Akan kuhancurkan kutukan fana
Walau aku tak kuasa menahan semua
Tapi ini jalan hidupku sebagai manusia.
...
Semakin lama ku berusaha
Semakin sering ku bertanya
Apakah ini semua inginku?
Apakah ini jalan hidupku?
Tak seorang pun tahu apa jawabnya
Hanya raga dan sukma...
Hanya...

(Tamappi, 18 November 2006)



NONSENSE DI KALA SENJA

Disini ku duduk menatap langit
Teh dan cerutu menemaniku...
Hati dan pikiran menampakkan kenangan pahit
Tak ada yang bisa ku lakukan kecuali duduk membisu...
...
Merah warna senja menampakkan kelamnya
Inikah wajah asli Civil Society...
Meringkuk, membusuk, dan akhirnya mati
Tak ada yang bisa kulakukan lagi...
Kecuali memandang awan tanpa makna...
...
Semakin memikirkan hidup ini,
Semakin ku terhenyak oleh mimpi...
Hati ini panas akan dendam
Jiwa ini mengutuk semua yang kejam
Lalu apa yang akan kulakukan?
Tak ada lagi, tuan...

Tak ada lagi...
Tinggalkan aku sendiri...

(Tamappi, 19 November 2006)



SEMUA TENTANG AKU DAN DIRIKU


Disaat ku sendiri...
Kau hadir di hati ini...
Entah apa dan siapa,
Kutahu engkau ada...
...
Kau dan aku adalah satu,
Jiwa kita saling menyatu,
Walau kau dan aku adalah sama, sayangku...
Ku tak ingin singgah di dalam sanubarimu...
...
Aku ini tak punya tekad,
Aku ini manusia laknat!
Semua orang menyebutku bejat,
Anjingpun mengataiku bangsad!
...
Tapi, ku tahu kau pun tahu...
Kau tidak lebih baik dariku...
Tidak juga aku,
Kasihku...
...
Kita ini teman, musuhku...
Kita ini saudara, budakku...
Bukan aku, juga bukan kau,
Yang harus kita takuti, belahan jiwaku...
Tapi diri kita, diantara kita berdua,
Yang memiliki sifat berbeda...
...
Kini kau mengerti,
Akan semua yang terjadi...
Jangan lagi kau menggangguku,
Aku ingin tidur........................
.................... diriku...............

(Tamappi, 22 November 2006)



AKHIR DUNIA

Langit merah memecah angkara
Apakah Tuhan telah murka?
Ataukah ini hanya prediksi sementara?
Yang hilang datang diantara keabadian yang fana...

Aku gemetar dalam diam
Aphrodite menginjak hatiku yang kelam
Hati ini penuh dendam
Tak ada satupun janji yang ku genggam...

Satu makhluk datang menghampiriku
Menggantikanku dalam tawanan sang kalbu
Ku berlari bersama angin menuju istanaku
Banjir, gempa, gunung berapi... seakan bersekutu untuk membunuhku

Perjalanan ini berakhir di istanaku
Berkat angin, ku masih dapat meramu hidupku
Tapi kutahu, ini bukan akhir dari bencana
Ini permulaan dari akhir dunia...

(Tamappi, 09 Februari 2007)



M.E.M.O.R.I.E.S

Serulingku berbunyi
...
Mereka semua gembira
Bersamaku mereka tertawa
Diantara dua pusara membahana
Mereka tersenyum ceria

Serulingku berbunyi
...
Dia menghampiriku...
Orang itu hancurkan kutukan hatiku
Dia mengerti aku...
Membawa cinta tuk dicintai olehku
Dialah arti cinta
Dari semua makna cinta
Aku terpasung dalam hatinya
Begitu juga dia...

Serulingku berbunyi
...
Dia hilang, pergi...
Karena aku yang bodoh ini
Saat ini ku sendiri
Tanpa terasa, hatiku beku oleh mimpi
Kegelapan menyelimutiku
Ku hanya bisa diam oleh sendu
Orang bodoh ini...

Serulingku tak berbunyi lagi
...
Sudah cukup ingatan ini
Biar aku terus meratapi
Hingga mati menghampiri
Orang bodoh ini...

(Tamappi, 12 Februari 2007)


... to be continued to the next karte...

Diubah oleh Beelzebulb 18-02-2018 23:51
0
20K
159
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Poetry
Poetry
KASKUS Official
6.2KThread6.8KAnggota
Tampilkan semua post
BeelzebulbAvatar border
TS
Beelzebulb
#87
KARTE 16
SO, HERO?

Terkapar, terlantar...
Mati di genangan darah, berbalut bara api yang membakar
Di bawah tumpukan tulang belulang,
Atau hanya tinggal ceceran otak yang tak lagi pada kepala ia terpasang...

Di medan perang maupun tidak,
Merekalah yang telah mengusahakan revolusi
Sebuah kemerdekaan bagi Indonesia yang hakiki
Lepas dari segala kezaliman penjajah yang tidak pantas untuk ditangisi

Lalu kini?
Apakah telah terlupakan begitu saja?
Apa sudah kau abaikan para pahlawan yang rela mati agar kamu bisa dengan bebas mengejar mimpi-mimpi?
Mau mimpi segila apapun, se-bodoh apapun, itu urusan nanti...

Biarkanlah mereka hidup dalam ingatan kita
Jangan dilawan!
Berikan nalurimu untuk menerima mereka
Walaupun mungkin kau masih saja bertanya-tanya,
Jika Garuda masih saja merdeka dalam sangkar
Aku, para pahlawan, atau Indonesia yang masih saja berkelakar?

(Tamappi, 10 November 2015)


LOVE

Cinta itu bagiku, bukan karena.
Tak ada alasan khusus seseorang mulai mencinta.
Bahkan jika kau bersusah payah mencari penyebabnya...
--
Cinta itu tak ada kata tetapi.
Yang hanya mengalihkan kesungguhan ketempat dimana ia tak seharusnya menetap, meratap.
Kembali kasih tak menepati janji, ragu menutup hati...
--
Cinta itu selalu ada, meskipun terhalang tembok sekeras apapun, setebal apapun, setinggi apapun.
Meskipun aku berakhir tidak menikahimu...
Akan tetap cinta yang setulus-tulusnya cinta...
--
Cinta itu... bagiku...
... cuman kamu...

(Tamappi, 5 Desember 2015)


HI!!

Aku mengalah...
Pada rindu yang kau lemparkan bertubi-tubi padaku
Dengan hangat serupa nyawa api unggun di dasar kalbu
Dengan manis yang takkan pernah dapat dilupakan semut dalam pencarian remah-remah waktu...
ii
Aku pasrah...
Untuk segala tatap cantikmu
Yang mengalun lembut dan anggun bagaikan sonata musim dingin disaat gugur daun merah berhenti mengadu
Yang hanyut dalam jutaan kata pada setiap lembaran puisi yang sukses ditorehkan oleh penaku...
ii
Aku lelah...
Pelarian ini dari rasa inginku kepadamu yang menghujam jantungku sedemikian rupa selesai sudah...



"Hai, Rosamaria...!"


(Tamappi, 19 desember 2015)


THE DAWN WILL COME


The darkness has come...
Pretending a good lullaby it'll become

Without noticing, it'll consumes every of your souls at the disposal of the heart
Do or do not, standing by for the darkness, is the best En Garde...


Believe it,
The dawn will come...
And your world, once again, reborn...

Still young,
Still sojourn...

(Tamappi, 19 Desember 2015)


NOEL

Silent night...

Sunyi, sepi...
Di bawah bulan Purnama yang berpendar melancholy
Dalam gereja perempuan itu duduk sendiri
Isak yang tertahan, air mata yang mengalir perlahan
Jatuh satu persatu, lalu kemudian hilang dalam kegelapan...

Holy night...

Mata yang dengan lembut terpejam
Rosario di kedua tangan tergenggam
Apapun yang telah terjadi dengan dirinya
Persetan dengan dunia!
Dia tahu dimana tempatnya berada
Pada Tuhannya dia berserah dan pasrah
Lagu-lagu dan pujian-pujian di seluruh malam suci ini senantiasa tergumam
Ditemani cahaya lilin yang temaram...

Silent night, Holy night...

(Tamappi, 24 Desember 2015)


TANYAKAN PADA ANGIN

Kau seakan ragu: Mau dibawa kemana hidup ini, tanyamu...

Angin tetaplah angin. Walaupun langit menjadi gelap gulita. Daun gugur menjadi merah saat tua. Awan yang putih kadang menjadi hitam, kadang hujan turun darinya, kadang hanya berupa garis-garis lurus yang terbentang di Khatulistiwa.

Walaupun hilang karena tidak ada lagi yang membuatnya berhembus. Biarpun marah, kesal, murka dan lalu menjadi puting beliung yang menggulung. Sekalipun dia lelah seiring umur bertambah, lalu semakin bijaksana dan dewasa. Angin akan selamanya menjadi angin. Dia takkan mempertanyakan kenapa dia hangat, kenapa dia dingin. Kenapa ia tercipta seperti ini.

Lalu kemudian kaupun bertanya berkali-kali, tentang dirimu dan juga perasaanmu. Yang mungkin jawabnya telah ada di pelosok rimba hatimu. Terpencil, tersudut, menunggu kamu.

Angin berhembus tetap sebagai angin. Dia takkan pernah lupa. Dengan beberapa jawaban atas pertanyaanmu yang hanya dimengerti oleh waktu yang menjadi kamu...

(Tamappi, 26 Desember 2015)


SAJAK-SAJAK YANG MENJELMA KAMU

(I)
Cahaya bulan mulai remang
Sembunyi ia dibalik mendung, jauh dari segala mata memandang
Menjelma bayang-bayang

Menunggu pagi yang hilang
Mendamba terang yang tak kunjung datang

(II)
Burung kutilang tergesa-gesa datang
Dari gelap ia kemudian hinggap di ranting beringin yang rindang
Lelah berkumandang
Inginnya mati saja dari malam yang panjang

(III)
Sayang, masih terpencilkah kau sekarang?
Di sunyi tepi jurang
Menghadap lautan cinta yang membentang

(IV)
Terjun saja sekarang!
Menunggu pagi itu terlalu jalang
Siapa yang menjamin fajar akan menjemput riang?
Hanya dirimu, sayang...

(V)
Kenakan poni itu dengan lantang
Tebaslah malam dengan tatapanmu yang garang
Sentuhanmu, senyumanmu, tak lagi sedih berkuasa untuk menantang

Biarkan sajak-sajak ini menemanimu pada perang dalam dirimu yang lapang
Tentang kamu, untuk dirimu yang sekarang...

(to CY)
(Tamappi, 14 Januari 2016)


DENIABILITY

Biarkan saja burung kecil itu
Mencari cara untuk dia dapat menggapai langit
Tak usah diungkit-ungkit
Aku tak peduli dengan semua itu

Cemas dan gelisah,
Menanti kabar sang burung berakhir terbang dengan indah

Sikapku itu, sama seperti rindu
Seperti apapun rindu dibelenggu, selalu ada yang memberontak ingin terbebaskan
Seperti apapun aku berusaha menepis keberadaanmu, membenci dirimu, semua akan berubah jadi cinta, begitu saja...

... terserah...

(Tamappi, 28 Januari 2016)


HANYA PUISI

Bagi seorang penyair,
Hanya puisi tempat ia berakhir
Meninggalkan bumi
Menjenguk sepi

Bagi seorang pujangga,
Hanya sajak tempat ia berani menggugat cinta
Menaruh luka
Meletakkan duka

Bagi seorang aku,
Hanya tulisan yang mampu mendengarkan protesku
Menggoreskan tubir
Mencetak sindir

Lalu apa guna?
Apa gunanya jika masih tak terbaca?
Apa gunanya jika dalam cinta masih ada derita?
Apa gunanya jika rakyat masih saja dibungkam penguasa?

Tapi aku hanya punya ini
Hanya puisi...

(Tamappi, 31 Januari 2016)


FEBRUARY

Turun hujan berletupan
Bagai pelor yang ditembakkan dari senapan
Mencuri umur yang sengaja disimpan
Lalu menertawakan kesendirian yang setia berkelanjutan

(Tamappi, 1 Februari 2016)


NEXT KARTE...
Diubah oleh Beelzebulb 01-02-2016 14:40
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.