- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
422K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1014
PART 41
ketika gue memandangi wajah Fira yang berdiri di belakang gue, rasanya otak gue jadi mati. Entah apa yang harus gue lakukan sekarang, karena tanpa sadar gue udah mengungkapkan perasaan gue ke Fira, yang bahkan gue sendiri belum yakin apakah itu bener-bener atau enggak. Kami berdua sama-sama terpaku saling memandang, sementara Novan menunggu kelanjutan kami berdua dari kejauhan.
“eng… itu kok batere laptopnya hampir abis ya. Chargernya dimana?” tanya Fira membuka percakapan.
Gue melihat Fira bertanya dengan kikuk, seakan dia berusaha berpura-pura gak mendengar apapun dari gue sebelumnya. Kalo Fira aja kikuk, bisa dibayangin gimana gue. Gesture-nya mengatakan segalanya.
“oh itu dibawah meja, nancep kok. Tinggal colokin aja ke laptop.” sahut gue sambil beringsut ke kamar.
Fira mengikuti gue, sementara gue mengambil ujung kabel charger untuk dicolokin ke laptop. Kemudian dia duduk kembali seperti posisi semula, dan menonton film seperti tadi, seakan gak terjadi apa-apa. Gue, yang masih gak karuan perasaannya, cuma bisa berdiri di luar kamar sambil menghisap rokok dan melamun. Fira menonton film, tapi sesekali dia menggigiti kukunya, dan sering merubah-rubah letak duduknya. Kentara sekali dia sedang gelisah, atau banyak yang dipikirkan. Gue memperhatikan itu semua sambil menimbang-nimbang, apa yang harus gue lakukan setelah ini.
Gue kemudian duduk bersandar di kusen pintu seperti yang gue lakukan tadi, dan sesekali melirik Fira yang masih menonton film. Sampe akhirnya gue mendengar sesuatu dari Fira.
“apa tadi yang lo omongin itu bener?” tanyanya tiba-tiba.
gue menoleh.
“omong apa emangnya?”
“ya tadi itu, yang lo omongin di kamar sebelah.”
“yang mana?”
Fira memandangi gue sejenak.
“lo pasti tau lah omongan yang mana yang gue maksud.”
mendadak lidah gue menjadi kelu. Gue tahu cepat atau lambat dia bakal nanyain ini.
“maksud lo, yang ditanyain Novan tadi?”
“….dan jawaban lo, pastinya.” sahutnya.
“lo denger tadi jawaban gue?”
Fira tersenyum sambil memainkan kukunya.
“kamar sebelah masih cukup deket buat gue kok….”
“ooh berarti lo denger kan ya?”
Fira terdiam beberapa saat sebelum mengayun-ayunkan kepalanya.
“yaa, gitulah…”
“berarti gak perlu gue ulangin?”
“gue kan gak minta lo ngulangin, gue tadi cuma nanya omongan lo itu bener apa enggak.”
gue terdiam. Sebenernya gue sangat ingin bisa mengungkapkan semuanya dengan lancar ke Fira, tapi gue tahu gue emang pengecut, dan itu jadi hambatan buat gue. Sepertinya Fira menyadari apa yang gue rasakan, dan dia kemudian tersenyum lembut. Kemudian dia memutuskan untuk menyelamatkan gue dari situasi itu.
“lo kapan mudik?” tanyanya sambil menghadapkan badan ke gue.
gue melirik ke kalender kecil yang terpasang diatas meja gue.
“yah 2-3 minggu lagi kayaknya gue udah bisa balik.” gue menghisap rokok, “lo balik kapan?”
“ya mungkin sama kayak lo. barengan aja gimana?” sahutnya. “eh tapi gue belom beli tiket…”
“sama, gue juga belom…” ujar gue sambil menyilangkan kaki. “tanggal-tanggal segini mah kayaknya tinggal sisa-sisa doang.”
“yang penting bisa balik…” ujarnya sambil tertawa.
gue tertawa, dan kemudian berdiri mengambil 2 gelas kosong milik gue diatas lemari kecil. Gue lap dengan seksama, kemudian menoleh ke arah Fira.
“lo mau teh?” tanya gue.
Fira tersenyum dan mengangguk. “Boleh.”
Gue ke dapur kosan, dan membuatkan 2 gelas teh panas untuk gue dan Fira. Dia menerima itu dengan tersenyum, meskipun pada awalnya dia mengaduh kepanasan.
“eh, sorry…” ujar gue ketika melihatnya kepanasan memegang gelas.
Fira cuma tersenyum dan meniup-niup tehnya. Gue mengikuti apa yang dia lakukan.
“lo udah bisa ambil skripsi semester depan?” tanyanya.
gue mengangguk.
“bisa sih, tapi kayaknya konsentrasi gue masih terpecah buat ngejar matakuliah yang belum gue ambil…” gue menghirup teh sedikit. “kalo lo, gimana?”
“udah bisa juga sih. tapi gue masih ragu-ragu.”
“ragu-ragu kenapa?”
Fira menghela napas sejenak. “Gue gak tau kemana gue kedepannya setelah lulus kuliah.” dia tertawa, “kadang-kadang gue pingin jadi mahasiswa aja terus….”
gue terdiam sambil menghirup teh gue.
“yang jelas, lo bakal jadi orang sukses, kemanapun lo melangkah. Asal lo harus happy atas apa yang lo lakuin.” jawab gue akhirnya.
“hmmm….” dia tersenyum. “lo percaya ya kalo kita semua bakal jadi orang sukses?”
gue menjawabnya dengan memiringkan kepala. Sebuah gesture sederhana.
“gue percaya kita semua bakal jadi orang sukses, seenggaknya sukses dengan cara dan standarnya masing-masing.” sahut gue.
Fira tersenyum memandangi gue, cukup lama. Sepertinya dia sedang berusaha menyelidiki semesta pikiran gue, memasuki sel demi sel otak gue. Dan itu membuat gue grogi karena dia tersenyum ke gue tanpa berkata apapun.
“lo orang baik.” katanya pada akhirnya, “gue seneng bisa mengenal lo.”
ketika gue memandangi wajah Fira yang berdiri di belakang gue, rasanya otak gue jadi mati. Entah apa yang harus gue lakukan sekarang, karena tanpa sadar gue udah mengungkapkan perasaan gue ke Fira, yang bahkan gue sendiri belum yakin apakah itu bener-bener atau enggak. Kami berdua sama-sama terpaku saling memandang, sementara Novan menunggu kelanjutan kami berdua dari kejauhan.
“eng… itu kok batere laptopnya hampir abis ya. Chargernya dimana?” tanya Fira membuka percakapan.
Gue melihat Fira bertanya dengan kikuk, seakan dia berusaha berpura-pura gak mendengar apapun dari gue sebelumnya. Kalo Fira aja kikuk, bisa dibayangin gimana gue. Gesture-nya mengatakan segalanya.
“oh itu dibawah meja, nancep kok. Tinggal colokin aja ke laptop.” sahut gue sambil beringsut ke kamar.
Fira mengikuti gue, sementara gue mengambil ujung kabel charger untuk dicolokin ke laptop. Kemudian dia duduk kembali seperti posisi semula, dan menonton film seperti tadi, seakan gak terjadi apa-apa. Gue, yang masih gak karuan perasaannya, cuma bisa berdiri di luar kamar sambil menghisap rokok dan melamun. Fira menonton film, tapi sesekali dia menggigiti kukunya, dan sering merubah-rubah letak duduknya. Kentara sekali dia sedang gelisah, atau banyak yang dipikirkan. Gue memperhatikan itu semua sambil menimbang-nimbang, apa yang harus gue lakukan setelah ini.
Gue kemudian duduk bersandar di kusen pintu seperti yang gue lakukan tadi, dan sesekali melirik Fira yang masih menonton film. Sampe akhirnya gue mendengar sesuatu dari Fira.
“apa tadi yang lo omongin itu bener?” tanyanya tiba-tiba.
gue menoleh.
“omong apa emangnya?”
“ya tadi itu, yang lo omongin di kamar sebelah.”
“yang mana?”
Fira memandangi gue sejenak.
“lo pasti tau lah omongan yang mana yang gue maksud.”
mendadak lidah gue menjadi kelu. Gue tahu cepat atau lambat dia bakal nanyain ini.
“maksud lo, yang ditanyain Novan tadi?”
“….dan jawaban lo, pastinya.” sahutnya.
“lo denger tadi jawaban gue?”
Fira tersenyum sambil memainkan kukunya.
“kamar sebelah masih cukup deket buat gue kok….”
“ooh berarti lo denger kan ya?”
Fira terdiam beberapa saat sebelum mengayun-ayunkan kepalanya.
“yaa, gitulah…”
“berarti gak perlu gue ulangin?”
“gue kan gak minta lo ngulangin, gue tadi cuma nanya omongan lo itu bener apa enggak.”
gue terdiam. Sebenernya gue sangat ingin bisa mengungkapkan semuanya dengan lancar ke Fira, tapi gue tahu gue emang pengecut, dan itu jadi hambatan buat gue. Sepertinya Fira menyadari apa yang gue rasakan, dan dia kemudian tersenyum lembut. Kemudian dia memutuskan untuk menyelamatkan gue dari situasi itu.
“lo kapan mudik?” tanyanya sambil menghadapkan badan ke gue.
gue melirik ke kalender kecil yang terpasang diatas meja gue.
“yah 2-3 minggu lagi kayaknya gue udah bisa balik.” gue menghisap rokok, “lo balik kapan?”
“ya mungkin sama kayak lo. barengan aja gimana?” sahutnya. “eh tapi gue belom beli tiket…”
“sama, gue juga belom…” ujar gue sambil menyilangkan kaki. “tanggal-tanggal segini mah kayaknya tinggal sisa-sisa doang.”
“yang penting bisa balik…” ujarnya sambil tertawa.
gue tertawa, dan kemudian berdiri mengambil 2 gelas kosong milik gue diatas lemari kecil. Gue lap dengan seksama, kemudian menoleh ke arah Fira.
“lo mau teh?” tanya gue.
Fira tersenyum dan mengangguk. “Boleh.”
Gue ke dapur kosan, dan membuatkan 2 gelas teh panas untuk gue dan Fira. Dia menerima itu dengan tersenyum, meskipun pada awalnya dia mengaduh kepanasan.
“eh, sorry…” ujar gue ketika melihatnya kepanasan memegang gelas.
Fira cuma tersenyum dan meniup-niup tehnya. Gue mengikuti apa yang dia lakukan.
“lo udah bisa ambil skripsi semester depan?” tanyanya.
gue mengangguk.
“bisa sih, tapi kayaknya konsentrasi gue masih terpecah buat ngejar matakuliah yang belum gue ambil…” gue menghirup teh sedikit. “kalo lo, gimana?”
“udah bisa juga sih. tapi gue masih ragu-ragu.”
“ragu-ragu kenapa?”
Fira menghela napas sejenak. “Gue gak tau kemana gue kedepannya setelah lulus kuliah.” dia tertawa, “kadang-kadang gue pingin jadi mahasiswa aja terus….”
gue terdiam sambil menghirup teh gue.
“yang jelas, lo bakal jadi orang sukses, kemanapun lo melangkah. Asal lo harus happy atas apa yang lo lakuin.” jawab gue akhirnya.
“hmmm….” dia tersenyum. “lo percaya ya kalo kita semua bakal jadi orang sukses?”
gue menjawabnya dengan memiringkan kepala. Sebuah gesture sederhana.
“gue percaya kita semua bakal jadi orang sukses, seenggaknya sukses dengan cara dan standarnya masing-masing.” sahut gue.
Fira tersenyum memandangi gue, cukup lama. Sepertinya dia sedang berusaha menyelidiki semesta pikiran gue, memasuki sel demi sel otak gue. Dan itu membuat gue grogi karena dia tersenyum ke gue tanpa berkata apapun.
“lo orang baik.” katanya pada akhirnya, “gue seneng bisa mengenal lo.”
Diubah oleh jayanagari 31-01-2016 00:50
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4