- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah, gue mati aja
...
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Cover By: kakeksegalatahu
Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.
Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue


----------
----------
PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.
----------
Spoiler for QandA:
WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+
NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY
Spoiler for Ilustrasi:
Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#23
PART 6
Semua itu hanyalah sebagian kecil dari parahnya kelakuan adek gue ketika kita masih satu SMA. Berhubung gue sebentar lagi resmi jadi mahasiswa, jadi sebentar lagi gue bakal terbebas dari adek gue. Dia nggak bakalan bisa ganggu kehidupan asmara gue lagi.
Meski gue bisa seneng karena bisa lepas dari Inah, dalam hati gue saat ini masih saja terbesit rasa sedih. Pasalnya gue bakalan jauh dari bokap dan nyokap gue yang selama ini selalu ada buat gue. Bokap dan nyokap yang udah membesarkan gue setelah gue terlahir dari batu. Gue bohong, gue bukan kera sakti.
Bokap dan nyokap gue selama ini terlampau baik, terutama bokap gue. Demi anak-anaknya dia mau menekan hasrat berkarirnya agar tetap dekat dengan keluarga. Untungnya nyokap mau mengerti dan menerima penghasilan bokap dengan lapang dada, karena penghasilan bokap tergolong diatas rata-rata.
Contoh lainnya adalah hari ini. Hari ini bokap sengaja mengambil cuti untuk menemani gue dan nyokap jalan bareng, berbelanja di hari terakhir gue sebelum berangkat ke kota pelajar. Sebenarnya ini semua lebih tepat disebut menemani nyokap belanja daripada jalan bareng dan belanja.
Setelah nyokap selesai membeli barang-barang untuk dirinya sendiri, akhirnya tibalah giliran gue untuk membeli peralatan untuk hidup baru gue di Jogja. Barang yang gue beli nggak terlalu banyak, seperti barang-barang yang ada di kamar kos cowok kebanyakan. Beberapa yang gue beli antara lain sabun batang, handbody, sabun cair, pelumas motor cair, sabun batang dengan lubang ditengahnya dan sebuah vibrator.
Gue bohong, barang yang gue beli adalah dispenser, gantungan baju, rak buku, meja kecil, buku, bolpen, dan beberapa kaleng cat semprot. Sebenarnya barang-barang ini semuanya bisa gue beli nanti di Jogja, tapi nyokap memaksa buat beli dari sekarang. Kata nyokap nanti kalo beli di Jogja takut kerepotan, jadi mumpung ada yang bantuin jadi sekalian aja beli di rumah.
Tapi menurut gue itu semua hanyalah pembelaan nyokap belaka. Gue paham, nyokap nggak percaya kepada anaknya yang biasa disuruh beli telor di warung duitnya selalu habis ini. Maka dari itu nyokap lebih memilih cari aman membeli barang-barang itu sendiri. Gue rasa semua anak yang memiliki ibu seorang sarjana manajemen merasakan hal yang sama seperti gue. Meskipun nyokap gue bukan sarjana manajemen.
Setelah selesai belanja, bokap menjalankan mobil menuju salah satu SMA terkenal di kota Bekasi. SMA yang dulunya menjadi tempat gue menghabiskan waktu dari pagi sampe siang selama dua tahun terakhir. SMA yang mengenalkan gue dengan seorang teman yang memiliki pemikiran yang sama dengan gue. SMA yang akhirnya memisahkan gue dengan teman itu juga.
Bokap menghentikan mobil di seberang SMA kemudian menelpon salah seorang murid di sekolah itu.
“Nggak kerasa ya Ma, dua tahun yang lalu Dawi baru masuk di SMA ini, jadi kangen,” ucap gue.
“Pengin balik lagi kesitu?” tanya Nyokap.
“Mana bisa Ma … lagian Dawi udah bosen disitu, Dawi pengin pindah ketempat yang lebih tinggi,” jelas gue.
“Ini yakin nggak mau makan sekalian?” sela Bokap.
“Nggak deh Pa, pengin makan bareng keluarga di rumah aja,” ucap gue.
“Kalo gitu abis ini isi bensin dulu terus langsung pulang ya?” kata Bokap.
Nggak terlalu lama kemudian ada seorang murid berjalan ke arah mobil. Dia membuka pintu mobil dan kemudian masuk ke dalam mobil.
“Assalamualaikum,” ucapnya saat menutup pintu mobil.
“Waalaikumsalam,” jawab Bokap dan Nyokap berbarengan.
“Heh, main masuk mobil orang aja, siapa lo?” kata gue.
“Hmmhh ….” Dia mendengus pelan lalu main hape.
“Ma, ini siapa sih?” kata gue ke Nyokap.
“Ma, kepalanya kak Dawi kebentur berapa kali tadi pagi? Kok sampai parah begini,” ucapnya tiba-tiba.
Bokap dan Nyokap gue tertawa mendengar perkataannya.
“Ye, siaal.” Gue toyor kepala dia.
Murid yang masuk ke dalam mobil ini adalah adek gue. Adek yang udah menghancurkan kisah asmara gue. Nama lengkapnya Mut Mainah tapi sering dipanggil Imut sama orang-orang rumah, begitu juga teman-teman sekolahnya. Tapi bagi gue nama itu terlalu bagus buat dia, jadi gue panggil dia dengan dua suku kata terakhir nama dia, Inah.
“Ini ayam gue kan?” gue membuka plastik yang dibawa Inah.
“Hmmh … kakak kok bisa sih minta ibu kantin sisain ayam buat kakak? Padahal tiap istarahat pertama aja pasti udah abis dulu buat rebutan,” tanya Inah.
“Makanya bergaul tuh nggak cuma sama temen yang punya kesamaan apa guru yang kasih nilai bagus doang.” Gue memakan ayam goreng itu. “Tapi juga ibu kantin yang pinter masakin ayam goreng.”
“Hmmhh, kakak juga deket sama ibu kantin baru kemarin abis kak Dhe—”
“MUT!” potong Nyokap. “Pesenan kamu, tirai yang difoto kemarin nggak ada.”
“Tirai apaan?” tanya gue penasaran.
“Ssstt! urusan perempuan. Barang titipan Mut yang tadi di sms dibeliin kan Ma tapi?” tanya Inah.
“Emang lo nitip apaan Nah?” tanya gue.
“Nama gue udah bagusan Imut ya! jangan panggil Inah!” dia jewer gue.
“Ada di tas mama kalau itu,” kata Nyokap.
Inah langsung mengambil tas Nyokap dan memeluknya.
“Emang apaan kok ada di tas Mama?” gue penasaran.
“KEPO!” seru Inah di kuping gue.
“Oh, gue paham … lagi bocor kan lo?” gue menaik turunkan alis.
“Bawel,” ucapnya ketus.
“BOCHOOR … BOOCHOORR!” kata gue di dekat telinganya.
DUK! Dengan kesal dia membenturkan kepalanya ke gue.
“ARGH! … KEPALA GUE BOCHOOORR! … KEPALA GUE BOCHOORR!” gue mendramatisir.
“Bodo!” ucap Inah kesal.
Bokap dan Nyokap lagi-lagi tertawa melihat tingkah kami.
Semua itu hanyalah sebagian kecil dari parahnya kelakuan adek gue ketika kita masih satu SMA. Berhubung gue sebentar lagi resmi jadi mahasiswa, jadi sebentar lagi gue bakal terbebas dari adek gue. Dia nggak bakalan bisa ganggu kehidupan asmara gue lagi.
Meski gue bisa seneng karena bisa lepas dari Inah, dalam hati gue saat ini masih saja terbesit rasa sedih. Pasalnya gue bakalan jauh dari bokap dan nyokap gue yang selama ini selalu ada buat gue. Bokap dan nyokap yang udah membesarkan gue setelah gue terlahir dari batu. Gue bohong, gue bukan kera sakti.
Bokap dan nyokap gue selama ini terlampau baik, terutama bokap gue. Demi anak-anaknya dia mau menekan hasrat berkarirnya agar tetap dekat dengan keluarga. Untungnya nyokap mau mengerti dan menerima penghasilan bokap dengan lapang dada, karena penghasilan bokap tergolong diatas rata-rata.
Contoh lainnya adalah hari ini. Hari ini bokap sengaja mengambil cuti untuk menemani gue dan nyokap jalan bareng, berbelanja di hari terakhir gue sebelum berangkat ke kota pelajar. Sebenarnya ini semua lebih tepat disebut menemani nyokap belanja daripada jalan bareng dan belanja.
Setelah nyokap selesai membeli barang-barang untuk dirinya sendiri, akhirnya tibalah giliran gue untuk membeli peralatan untuk hidup baru gue di Jogja. Barang yang gue beli nggak terlalu banyak, seperti barang-barang yang ada di kamar kos cowok kebanyakan. Beberapa yang gue beli antara lain sabun batang, handbody, sabun cair, pelumas motor cair, sabun batang dengan lubang ditengahnya dan sebuah vibrator.
Gue bohong, barang yang gue beli adalah dispenser, gantungan baju, rak buku, meja kecil, buku, bolpen, dan beberapa kaleng cat semprot. Sebenarnya barang-barang ini semuanya bisa gue beli nanti di Jogja, tapi nyokap memaksa buat beli dari sekarang. Kata nyokap nanti kalo beli di Jogja takut kerepotan, jadi mumpung ada yang bantuin jadi sekalian aja beli di rumah.
Tapi menurut gue itu semua hanyalah pembelaan nyokap belaka. Gue paham, nyokap nggak percaya kepada anaknya yang biasa disuruh beli telor di warung duitnya selalu habis ini. Maka dari itu nyokap lebih memilih cari aman membeli barang-barang itu sendiri. Gue rasa semua anak yang memiliki ibu seorang sarjana manajemen merasakan hal yang sama seperti gue. Meskipun nyokap gue bukan sarjana manajemen.
Setelah selesai belanja, bokap menjalankan mobil menuju salah satu SMA terkenal di kota Bekasi. SMA yang dulunya menjadi tempat gue menghabiskan waktu dari pagi sampe siang selama dua tahun terakhir. SMA yang mengenalkan gue dengan seorang teman yang memiliki pemikiran yang sama dengan gue. SMA yang akhirnya memisahkan gue dengan teman itu juga.
Bokap menghentikan mobil di seberang SMA kemudian menelpon salah seorang murid di sekolah itu.
“Nggak kerasa ya Ma, dua tahun yang lalu Dawi baru masuk di SMA ini, jadi kangen,” ucap gue.
“Pengin balik lagi kesitu?” tanya Nyokap.
“Mana bisa Ma … lagian Dawi udah bosen disitu, Dawi pengin pindah ketempat yang lebih tinggi,” jelas gue.
“Ini yakin nggak mau makan sekalian?” sela Bokap.
“Nggak deh Pa, pengin makan bareng keluarga di rumah aja,” ucap gue.
“Kalo gitu abis ini isi bensin dulu terus langsung pulang ya?” kata Bokap.
Nggak terlalu lama kemudian ada seorang murid berjalan ke arah mobil. Dia membuka pintu mobil dan kemudian masuk ke dalam mobil.
“Assalamualaikum,” ucapnya saat menutup pintu mobil.
“Waalaikumsalam,” jawab Bokap dan Nyokap berbarengan.
“Heh, main masuk mobil orang aja, siapa lo?” kata gue.
“Hmmhh ….” Dia mendengus pelan lalu main hape.
“Ma, ini siapa sih?” kata gue ke Nyokap.
“Ma, kepalanya kak Dawi kebentur berapa kali tadi pagi? Kok sampai parah begini,” ucapnya tiba-tiba.
Bokap dan Nyokap gue tertawa mendengar perkataannya.
“Ye, siaal.” Gue toyor kepala dia.
Murid yang masuk ke dalam mobil ini adalah adek gue. Adek yang udah menghancurkan kisah asmara gue. Nama lengkapnya Mut Mainah tapi sering dipanggil Imut sama orang-orang rumah, begitu juga teman-teman sekolahnya. Tapi bagi gue nama itu terlalu bagus buat dia, jadi gue panggil dia dengan dua suku kata terakhir nama dia, Inah.
“Ini ayam gue kan?” gue membuka plastik yang dibawa Inah.
“Hmmh … kakak kok bisa sih minta ibu kantin sisain ayam buat kakak? Padahal tiap istarahat pertama aja pasti udah abis dulu buat rebutan,” tanya Inah.
“Makanya bergaul tuh nggak cuma sama temen yang punya kesamaan apa guru yang kasih nilai bagus doang.” Gue memakan ayam goreng itu. “Tapi juga ibu kantin yang pinter masakin ayam goreng.”
“Hmmhh, kakak juga deket sama ibu kantin baru kemarin abis kak Dhe—”
“MUT!” potong Nyokap. “Pesenan kamu, tirai yang difoto kemarin nggak ada.”
“Tirai apaan?” tanya gue penasaran.
“Ssstt! urusan perempuan. Barang titipan Mut yang tadi di sms dibeliin kan Ma tapi?” tanya Inah.
“Emang lo nitip apaan Nah?” tanya gue.
“Nama gue udah bagusan Imut ya! jangan panggil Inah!” dia jewer gue.
“Ada di tas mama kalau itu,” kata Nyokap.
Inah langsung mengambil tas Nyokap dan memeluknya.
“Emang apaan kok ada di tas Mama?” gue penasaran.
“KEPO!” seru Inah di kuping gue.
“Oh, gue paham … lagi bocor kan lo?” gue menaik turunkan alis.
“Bawel,” ucapnya ketus.
“BOCHOOR … BOOCHOORR!” kata gue di dekat telinganya.
DUK! Dengan kesal dia membenturkan kepalanya ke gue.
“ARGH! … KEPALA GUE BOCHOOORR! … KEPALA GUE BOCHOORR!” gue mendramatisir.
“Bodo!” ucap Inah kesal.
Bokap dan Nyokap lagi-lagi tertawa melihat tingkah kami.
Diubah oleh dasadharma10 03-02-2016 10:08
aripinastiko612 dan 2 lainnya memberi reputasi
1


