- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187.4K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#675
Spoiler for Part 71:
Aku sedang duduk di dalam mobil menuju sebuah tempat, dan aku sedang bersama Anindita. Sudah beberapa hari terakhir aku selalu bersamanya di proyek itu dan sekarang aku mengerti apa maksud perkataannya waktu itu
Aku sudah tiba di sebuah tempat yang baru pertama kali aku datangi, dan ini adalah rekomendasi dari Anindita yang katanya ini adalah yang terbaik yang pernah ia datangi. Kami turun dari mobil dan kemudian masuk ke dalamnya.
“Bagus juga interiornya...” Kataku
Ia tersenyum dan kemudian kami memesan beberapa hidangan malam ini. Dan jujur saja ia terlihat lebih cantik malam ini, dress berwarna merah dengan balutan cardigan hitam dan juga rambutnya yang digerai. Bukan tampilan yang sering aku lihat seperti biasanya, namun selayaknya seorang wanita ia akan tetap cantik bagaimana pun juga. Tidak lama hidangan yang kami pesan dan aku sengaja tidak memesan makanan berat karena aku tidak terlalu lapar. Aku hanya memesan kopi hitam dan cemilan ringan sedangkan ia memilih pasta.
“Kamu ngga mau makan?” Tanyanya
“Ngga, aku ngga terlalu laper. Kamu aja yang makan.” Jawabku
“Aku kira kamu ngga bisa hari ini.” Katanya lagi
Aku hanya tersenyum menjawabnya dan kemudian kami mulai berbincang dari satu hal ke hal yang lain dan tidak jarang juga kami tertawa ketika mendengar cerita kami. Kemudian aku nyalakan sebatang rokok dan ia pun ikut melakukan apa yang aku lakukan.
“Jadi kamu masih nyari sampe sekarang? Udah dapet?” Tanyanya
“Iya aku masih cari sampe sekarang cuma ya hasilnya sama aja.” Jawabku
“Kayaknya aku bisa bantu deh, aku punya kenalan soalnya. Nanti biar aku kabarin kalo emang ada ya.” Katanya
Aku mengangguk pelan dan kemudian ia tersenyum kepadaku. Aku sedang berhadapan dengan Anindita, namun bayang-bayang Zahra kembali muncul di hadapanku. Gaya hidupnya sangat mirip dengan Zahra dan aku kembali merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Mungkin inilah yang memang seharusnya terjadi, dimana aku tidak bisa melepaskan bayang-bayang kesalahan yang telah aku perbuat dan menjadikan orang lain korbannya
“Kamu kenapa diem gitu Bram?” Tanyanya
“Eh... Nggapapa kok iseng aja tadi.” Sanggahku
“Kita pulang yuk.” Ajaknya
Setelah aku membayar pesanan kami, aku dan juga Anindita segera masuk ke dalam mobil dan kemudian mengantarkannya ke rumahnya yang terbilang cukup jauh dari sini. Selama di perjalanan kami banyak terdiam dan hanya mendengarkan siaran radio yang memutarkan lagu hits tahun ini. Gerimis pun turun secara perlahan membuatku menurunkan sedikit kecepatan mobilku. Aku melihatnya yang sedari tadi mengusap-usap telapak tangannya, sepertinya ia kedinginan. Aku ambil jaket yang ada di kursi belakang dan memberikan kepada Anindita
“Makasih ya Bram...” Katanya
Aku tersenyum menjawabnya dan kulanjutkan perjalanan ini menuju rumahnya. Ia mulai bercerita bagaimana asal-usul keluarganya dan bagaimana ia menjadi populer selama di sekolah. Orang Tuanya adalah ketua yayasan dari sekolah yang ia tempati dan itulah mengapa ia bisa setenar ini.
“Kalo aku terkenal gara-gara aku ikut grup yang isinya suka gonta-ganti cewe mulu padahal selama SMA aku ngga pernah pacaran, nama grupnya Trio ABG diambil dari inisial kami bertiga.” Jelasku
“Kamu selama SMA ngga pernah pacaran? Masa sih?” Tanyanya heran
“Serius ngga pernah, padahal katanya sih ada aja yang suka sama aku tapi aku terlalu fokus sama satu cewe.” Kataku
“Fokus ke satu cewe tapi selama itu ngga pernah pacaran?” Tanyanya lagi
Ia cukup terkejut dengan ceritaku semasa SMA dan memang benar selama SMA aku tidak pernah pacaran sekali pun, namun semasa SMA lah aku mengerti apa arti dari mencintai dan dicintai. Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya aku tiba di rumahnya Anindita, rumah yang sangat besar dengan hiasan air mancur di tengah halamannya. Beberapa mobil terparkir dengan rapih di depan garasi dan salah satunya adalah milik Pak Suherman yang sering aku lihat dan bahkan ia punya penjaga keamanan untuk rumahnya sendiri. Ku masukan mobil tua ku ke dalam halamannya.
“Makasih ya Bram buat hari ini...” Katanya
“Kan cuma makan doang, abis itu kita pulang.” Kataku
“Nggapapa, itu udah cukup kok. Oh iya nanti aku kabarin kalo emang ada bantuan ya.” Katanya
“Iya, makasih ya udah mau bantuin.” Kataku lagi
Ia menciumku dan tentu saja aku cukup terkejut dengan apa yang ia lakukan.
“Aku kagum sama kamu...” Katanya dan kemudian ia tersenyum kepadaku
Kemudian ia turun dari mobilku, ia sempat melambaikan tangan kepadaku dan kemudian masuk ke dalam rumahnya yang sangat besar itu. Aku masih memandang ke arahnya dan kemudian sesegera mungkin aku keluar dari rumah itu.
Di pinggir jalan yang entah ini dimana, aku segera menepikan mobilku. Aku menyandarkan
kepalaku dan terdiam untuk beberapa saat, aku usap muka ku beberapa kali dan kemudian ku nyalakan sebatang rokok. Aku melanjutkan perjalanan ini menuju rumahku dan selama di perjalanan aku tidak terlalu konsentrasi pada jalanan, otakku sudah melambung jauh entah kemana arahnya.
Tidak terasa aku sudah tiba di rumah dan sesegera mungkin aku menuju kamarku. Aku melihat Nanda dan juga Dinda yang sudah tertidur pulas di atas kasur dengan iringan lagu dari dvd playerku. Ku matikan lampu kamarku dan bergantian menyalakan lampu tidur, kemudian aku membuka laci mejaku dan kuambil buku yang ada di dalam sana. Aku membawanya menuju balkon dan kulihat sampulnya yang sudah berdebu dan semakin rusak. Halaman demi halaman ku lihat dengan seksama, kemudian ku tutup buku itu dan kuletakkan kembali ke dalam laci mejaku.
Ku bawa hpku kembali menuju balkon dengan rokok yang sudah menyala di tanganku. Secara kebetulan hpku berdering dan itu adalah sebuah panggilan dari Anindita. Aku tersenyum dan kemudian ku jawab panggilan tersebut
“Halo...”
“Hai Bram...”
“Kenapa?”
Kami mulai berbincang dari hal yang sebenarnya tidak penting untuk di bahas hingga yang benar-benar serius seperti lamaran pekerjaan Anindita yang belum jelas kabarnya. Aku coba untuk memberinya semangat dan terus berusaha. Ia sepertinya terhibur dengan semuanya hingga tidak terasa sudah satu jam kami berada di dalam perbincangan ini
“Yaudah kamu tidur aja besok kan ada wawancara, biar ngga stress...”
“Iya, aku tidur duluan ya Bram...”
“Iya, selamat tidur Nin...”
Kemudian ia mematikan panggilan ini. Aku taruh hpku di dekat tanganku, sedari tadi aku memandangi ke arah langit yang sudah gelap dan hanya sedikit bintang-bintang yang bersinar. Mungkin mendung dan segera hujan lagi.
“Abang....”
Aku terkejut dan dengan cepat kubalikkan badanku dan melihat ke arah belakang, dan kulihat Nanda yang sedang berdiri di depan pintu
“Dari kapan kamu di situ Nda?” Tanyaku heran
“Sejak Abang mulai jawab telpon dari cewe itu...” Katanya pelan
Ia berjalan pelan keluar menuju dimana aku berdiri dan air matanya menetes ke pipinya.
“Kok Abang tega sih?” Tanyanya
Ia memukulku dengan pelan dan air matanya masih saja menetes dengan pelan, aku memeluknya dan mencoba untuk menenangkannya. Aku jelaskan apa yang harus ia tau mengenai semuanya yang telah aku lalui dan kemudian Nanda kembali menangis. Aku mendekapnya makin erat dan mencoba untuk menenangkannya kembali. Bukan alasan melainkan inilah kenyataan yang harus kami hadapi. Bukan meninggalkan tapi mencari apa yang terbaik untuk kami semua. Aku harap Dinda bisa mengerti ini semua
Spoiler for Flashback:
“Makasih ya Mas Bram.” Katanya
“Iya sama-sama.” Jawabku singkat
“Kapan-kapan bisa ketemu lagi kan?” Tanyanya
“Kalo di proyek pasti kita ketemu kok.” Jawabku lagi
“Selain di proyek?” Tanyanya lagi
“Iya sama-sama.” Jawabku singkat
“Kapan-kapan bisa ketemu lagi kan?” Tanyanya
“Kalo di proyek pasti kita ketemu kok.” Jawabku lagi
“Selain di proyek?” Tanyanya lagi
Aku sudah tiba di sebuah tempat yang baru pertama kali aku datangi, dan ini adalah rekomendasi dari Anindita yang katanya ini adalah yang terbaik yang pernah ia datangi. Kami turun dari mobil dan kemudian masuk ke dalamnya.
“Bagus juga interiornya...” Kataku
Ia tersenyum dan kemudian kami memesan beberapa hidangan malam ini. Dan jujur saja ia terlihat lebih cantik malam ini, dress berwarna merah dengan balutan cardigan hitam dan juga rambutnya yang digerai. Bukan tampilan yang sering aku lihat seperti biasanya, namun selayaknya seorang wanita ia akan tetap cantik bagaimana pun juga. Tidak lama hidangan yang kami pesan dan aku sengaja tidak memesan makanan berat karena aku tidak terlalu lapar. Aku hanya memesan kopi hitam dan cemilan ringan sedangkan ia memilih pasta.
“Kamu ngga mau makan?” Tanyanya
“Ngga, aku ngga terlalu laper. Kamu aja yang makan.” Jawabku
“Aku kira kamu ngga bisa hari ini.” Katanya lagi
Aku hanya tersenyum menjawabnya dan kemudian kami mulai berbincang dari satu hal ke hal yang lain dan tidak jarang juga kami tertawa ketika mendengar cerita kami. Kemudian aku nyalakan sebatang rokok dan ia pun ikut melakukan apa yang aku lakukan.
“Jadi kamu masih nyari sampe sekarang? Udah dapet?” Tanyanya
“Iya aku masih cari sampe sekarang cuma ya hasilnya sama aja.” Jawabku
“Kayaknya aku bisa bantu deh, aku punya kenalan soalnya. Nanti biar aku kabarin kalo emang ada ya.” Katanya
Aku mengangguk pelan dan kemudian ia tersenyum kepadaku. Aku sedang berhadapan dengan Anindita, namun bayang-bayang Zahra kembali muncul di hadapanku. Gaya hidupnya sangat mirip dengan Zahra dan aku kembali merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Mungkin inilah yang memang seharusnya terjadi, dimana aku tidak bisa melepaskan bayang-bayang kesalahan yang telah aku perbuat dan menjadikan orang lain korbannya
“Kamu kenapa diem gitu Bram?” Tanyanya
“Eh... Nggapapa kok iseng aja tadi.” Sanggahku
“Kita pulang yuk.” Ajaknya
Setelah aku membayar pesanan kami, aku dan juga Anindita segera masuk ke dalam mobil dan kemudian mengantarkannya ke rumahnya yang terbilang cukup jauh dari sini. Selama di perjalanan kami banyak terdiam dan hanya mendengarkan siaran radio yang memutarkan lagu hits tahun ini. Gerimis pun turun secara perlahan membuatku menurunkan sedikit kecepatan mobilku. Aku melihatnya yang sedari tadi mengusap-usap telapak tangannya, sepertinya ia kedinginan. Aku ambil jaket yang ada di kursi belakang dan memberikan kepada Anindita
“Makasih ya Bram...” Katanya
Aku tersenyum menjawabnya dan kulanjutkan perjalanan ini menuju rumahnya. Ia mulai bercerita bagaimana asal-usul keluarganya dan bagaimana ia menjadi populer selama di sekolah. Orang Tuanya adalah ketua yayasan dari sekolah yang ia tempati dan itulah mengapa ia bisa setenar ini.
“Kalo aku terkenal gara-gara aku ikut grup yang isinya suka gonta-ganti cewe mulu padahal selama SMA aku ngga pernah pacaran, nama grupnya Trio ABG diambil dari inisial kami bertiga.” Jelasku
“Kamu selama SMA ngga pernah pacaran? Masa sih?” Tanyanya heran
“Serius ngga pernah, padahal katanya sih ada aja yang suka sama aku tapi aku terlalu fokus sama satu cewe.” Kataku
“Fokus ke satu cewe tapi selama itu ngga pernah pacaran?” Tanyanya lagi
Ia cukup terkejut dengan ceritaku semasa SMA dan memang benar selama SMA aku tidak pernah pacaran sekali pun, namun semasa SMA lah aku mengerti apa arti dari mencintai dan dicintai. Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya aku tiba di rumahnya Anindita, rumah yang sangat besar dengan hiasan air mancur di tengah halamannya. Beberapa mobil terparkir dengan rapih di depan garasi dan salah satunya adalah milik Pak Suherman yang sering aku lihat dan bahkan ia punya penjaga keamanan untuk rumahnya sendiri. Ku masukan mobil tua ku ke dalam halamannya.
“Makasih ya Bram buat hari ini...” Katanya
“Kan cuma makan doang, abis itu kita pulang.” Kataku
“Nggapapa, itu udah cukup kok. Oh iya nanti aku kabarin kalo emang ada bantuan ya.” Katanya
“Iya, makasih ya udah mau bantuin.” Kataku lagi
Ia menciumku dan tentu saja aku cukup terkejut dengan apa yang ia lakukan.
“Aku kagum sama kamu...” Katanya dan kemudian ia tersenyum kepadaku
Kemudian ia turun dari mobilku, ia sempat melambaikan tangan kepadaku dan kemudian masuk ke dalam rumahnya yang sangat besar itu. Aku masih memandang ke arahnya dan kemudian sesegera mungkin aku keluar dari rumah itu.
Di pinggir jalan yang entah ini dimana, aku segera menepikan mobilku. Aku menyandarkan
kepalaku dan terdiam untuk beberapa saat, aku usap muka ku beberapa kali dan kemudian ku nyalakan sebatang rokok. Aku melanjutkan perjalanan ini menuju rumahku dan selama di perjalanan aku tidak terlalu konsentrasi pada jalanan, otakku sudah melambung jauh entah kemana arahnya.
Tidak terasa aku sudah tiba di rumah dan sesegera mungkin aku menuju kamarku. Aku melihat Nanda dan juga Dinda yang sudah tertidur pulas di atas kasur dengan iringan lagu dari dvd playerku. Ku matikan lampu kamarku dan bergantian menyalakan lampu tidur, kemudian aku membuka laci mejaku dan kuambil buku yang ada di dalam sana. Aku membawanya menuju balkon dan kulihat sampulnya yang sudah berdebu dan semakin rusak. Halaman demi halaman ku lihat dengan seksama, kemudian ku tutup buku itu dan kuletakkan kembali ke dalam laci mejaku.
Ku bawa hpku kembali menuju balkon dengan rokok yang sudah menyala di tanganku. Secara kebetulan hpku berdering dan itu adalah sebuah panggilan dari Anindita. Aku tersenyum dan kemudian ku jawab panggilan tersebut
“Halo...”
“Hai Bram...”
“Kenapa?”
Kami mulai berbincang dari hal yang sebenarnya tidak penting untuk di bahas hingga yang benar-benar serius seperti lamaran pekerjaan Anindita yang belum jelas kabarnya. Aku coba untuk memberinya semangat dan terus berusaha. Ia sepertinya terhibur dengan semuanya hingga tidak terasa sudah satu jam kami berada di dalam perbincangan ini
“Yaudah kamu tidur aja besok kan ada wawancara, biar ngga stress...”
“Iya, aku tidur duluan ya Bram...”
“Iya, selamat tidur Nin...”
Kemudian ia mematikan panggilan ini. Aku taruh hpku di dekat tanganku, sedari tadi aku memandangi ke arah langit yang sudah gelap dan hanya sedikit bintang-bintang yang bersinar. Mungkin mendung dan segera hujan lagi.
“Abang....”
Aku terkejut dan dengan cepat kubalikkan badanku dan melihat ke arah belakang, dan kulihat Nanda yang sedang berdiri di depan pintu
“Dari kapan kamu di situ Nda?” Tanyaku heran
“Sejak Abang mulai jawab telpon dari cewe itu...” Katanya pelan
Ia berjalan pelan keluar menuju dimana aku berdiri dan air matanya menetes ke pipinya.
“Kok Abang tega sih?” Tanyanya
Ia memukulku dengan pelan dan air matanya masih saja menetes dengan pelan, aku memeluknya dan mencoba untuk menenangkannya. Aku jelaskan apa yang harus ia tau mengenai semuanya yang telah aku lalui dan kemudian Nanda kembali menangis. Aku mendekapnya makin erat dan mencoba untuk menenangkannya kembali. Bukan alasan melainkan inilah kenyataan yang harus kami hadapi. Bukan meninggalkan tapi mencari apa yang terbaik untuk kami semua. Aku harap Dinda bisa mengerti ini semua
khuman dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas