- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah, gue mati aja
...
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Cover By: kakeksegalatahu
Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.
Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue


----------
----------
PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.
----------
Spoiler for QandA:
WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+
NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY
Spoiler for Ilustrasi:
Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#10
PART 5
Kelakuan Inah nggak berhenti sampe disitu. Kelakuan dia makin gila setiap gue deket sama cewek. Dia udah mirip kayak dugong yang di kasih ikan segar sama pelatihnya. Tanpa dikasih tanda, dia udah beraksi sendiri. Bahkan sebelum pelatihnya mengeluarkan ikan.
Demi menghindari gangguan dari Inah, gue pernah coba cari gebetan dari SMA lain. Sewaktu gue lagi dekat sama Sabrina, gue sering ajak dia ketemuan di kafe dekat SMA dia. Sengaja gue pilih tempat yang agak jauh supaya terhindar dari Inah. Untuk beberapa minggu, hubungan gue aman.
Tapi sepandai-pandainya tupai melompat ada kalanya dia terjatuh, kepala duluan, leher patah, lalu mati. Sewaktu gue lagi ketemuan sama Sabrina, pada saat lagi asik-asiknya ngobrol dengan Sabrina, tiba-tiba Inah datang. Bisa ditebak apa tujuan dia datang ke kafe itu. Apapun kekacauan yang bakalan di buat sama Inah, gue udah siap untuk melawan dengan kepala dingin. Gue udah terlalu lama ditindas. Ini waktu yang tepat buat gue untuk melawan.
Dia masuk ke dalam kafe lalu menghampiri gue dan Sabrina. Inah mendorong kursi di sebelah gue sampai jatuh, gue langsung berdiri.
“Apa lagi sekarang?” gue tetap tenang.
“Apa lagi?! Jadi ini cewek yang selama ini bikin kamu ngejauh dari aku?!” kata Inah sambil nangis.
“Ngejauh? Bentar, emang lo siapanya Dawi?” tanya Sabrina.
“Dia adek gue! dia adek gue!” gue mencoba menjelaskan.
“Adek?! Jadi selama ini kamu anggap kita ini cuma adek-kakak?!” teriak Inah. “Gue calon istrinya!”
“Nah! yang bener aja, ini kelewatan!” bentak gue.
“Oh! Jadi kamu nggak mau nikahin aku? Nggak mau tanggung jawab atas janin ini?!” Inah memukul-mukul perutnya.
DZING! Gue shock berat, begitu juga Sabrina dan para pengunjung kafe yang lain.
“….” Gue kembali duduk.
“Jawab aku Daaawwiiii!!” kata Inah lagi.
“Wi, kayaknya aku pulang aja deh, maaf ya mbak.” Sabrina meninggalkan kafe.
Setelah Sabrina pergi, Inah ketawa ngakak. Dia mengangkat tangan memanggil waiter dan memesan minum. Gue masih shock, gue nggak percaya apa yang telah dilakukan adek gue.
“Keren nggak akting Mut?” tanya Inah.
Sambil masih melongo gue menengok ke arah Inah, “Keren.”
Kelakuan Inah nggak berhenti sampe disitu. Kelakuan dia makin gila setiap gue deket sama cewek. Dia udah mirip kayak dugong yang di kasih ikan segar sama pelatihnya. Tanpa dikasih tanda, dia udah beraksi sendiri. Bahkan sebelum pelatihnya mengeluarkan ikan.
Demi menghindari gangguan dari Inah, gue pernah coba cari gebetan dari SMA lain. Sewaktu gue lagi dekat sama Sabrina, gue sering ajak dia ketemuan di kafe dekat SMA dia. Sengaja gue pilih tempat yang agak jauh supaya terhindar dari Inah. Untuk beberapa minggu, hubungan gue aman.
Tapi sepandai-pandainya tupai melompat ada kalanya dia terjatuh, kepala duluan, leher patah, lalu mati. Sewaktu gue lagi ketemuan sama Sabrina, pada saat lagi asik-asiknya ngobrol dengan Sabrina, tiba-tiba Inah datang. Bisa ditebak apa tujuan dia datang ke kafe itu. Apapun kekacauan yang bakalan di buat sama Inah, gue udah siap untuk melawan dengan kepala dingin. Gue udah terlalu lama ditindas. Ini waktu yang tepat buat gue untuk melawan.
Dia masuk ke dalam kafe lalu menghampiri gue dan Sabrina. Inah mendorong kursi di sebelah gue sampai jatuh, gue langsung berdiri.
“Apa lagi sekarang?” gue tetap tenang.
“Apa lagi?! Jadi ini cewek yang selama ini bikin kamu ngejauh dari aku?!” kata Inah sambil nangis.
“Ngejauh? Bentar, emang lo siapanya Dawi?” tanya Sabrina.
“Dia adek gue! dia adek gue!” gue mencoba menjelaskan.
“Adek?! Jadi selama ini kamu anggap kita ini cuma adek-kakak?!” teriak Inah. “Gue calon istrinya!”
“Nah! yang bener aja, ini kelewatan!” bentak gue.
“Oh! Jadi kamu nggak mau nikahin aku? Nggak mau tanggung jawab atas janin ini?!” Inah memukul-mukul perutnya.
DZING! Gue shock berat, begitu juga Sabrina dan para pengunjung kafe yang lain.
“….” Gue kembali duduk.
“Jawab aku Daaawwiiii!!” kata Inah lagi.
“Wi, kayaknya aku pulang aja deh, maaf ya mbak.” Sabrina meninggalkan kafe.
Setelah Sabrina pergi, Inah ketawa ngakak. Dia mengangkat tangan memanggil waiter dan memesan minum. Gue masih shock, gue nggak percaya apa yang telah dilakukan adek gue.
“Keren nggak akting Mut?” tanya Inah.
Sambil masih melongo gue menengok ke arah Inah, “Keren.”
Diubah oleh dasadharma10 03-02-2016 09:53
aripinastiko612 dan qthing12 memberi reputasi
2


