- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1305
10. Oblitus
Hari ini Arzel datang dengan baju kasual.
Hari Sabtu, orang kantoran memang libur, tapi tidak bagi sales counter yang harus bekerja setengah hari.
Kami hanya mendapat jatah libur di hari Minggu.
Namun, jam kerja kami lebih pendek daripada pegawai kantoran, jadi sepertinya cukup adil.
"Kalo tipe yang ini gimana? Cukup untuk 8 orang, masuk budget juga." aku mengusulkan salah satu tipe mobil untuk Family.
"Jangan, soalnya hampir semua kursinya lebar. Untuk direksi yang punya keluarga besar, sepertinya lebih perlu bawa banyak perlengkapan seperti kereta bayi, dan lainnya."
Aku mengangguk-angguk membenarkan.
Mobil yang aku rujuk memiliki ukuran bagasi yang kecil, karena lebih untuk dipakai di perkotaan tapi memiliki fisik kekar menyerupai mobil yang biasa digunakan untuk keluar kota.
"Tipe yang ini aja deh." Arzel masuk ke salah satu unit demo. "Harganya sedikit lebih tinggi, tapi gue lebih sreg sama ini."
Arzel memposisikan duduk dengan nyaman di balik setir.
Dia menginjak-injak pedal dan mencoba memindahkan gigi untuk meyakinkan kenyamanan pada pilihannya.
Kami kemudian menuju ke meja untuk membuat form pemesanan.
Aku mengisi detail data perusahaan pada kolom-kolom yang tersedia.
"Oh ya, gue mau semuanya warna putih ya."
"Putih? Arzel... kan aku udah bilang. Kalo mobil putih itu cepet banget kotornya. Di rumah kita juga hampir tiap minggu harus aku bawa cuci gara-gara kita salah pilih warna waktu itu... Kali ini silver aja..." aku mengusulkan sambil mengisi form.
Mendadak aku tersadar dan menggigit bibirku sendiri.
Satu kata untukku sendiri, Tolol.
Ini kan' bukan membeli mobil untuk kami!
Terlebih, yang di hadapanku ini bukan 'Arzel'ku!
Ahh,..pagi-pagi aku sudah membuat diriku sendiri malu!
Aku tidak berkonsentrasi karena sedang mengisi form.
Memang kuakui, aku payah dalam multitasking.
Pasti habis ini Arzel akan menganggapku gila,
Aku baru mulai salah tingkah, ketika mendapati Arzel sedang mengutak-atik hpnya.
Nafas lega yang panjang keluar dari hidungku.
Biasanya aku akan sebal jika diacuhkan ketika bicara dengan orang yang sedang main hp.
Tapi kali ini, aku bersyukur bahwa dia tidak mendengar statemen bodohku karena dia sedang asik dengan hpnya.
Tanpa mempertanyakan lebih lanjut, aku isi semua kolom dengan warna putih sesuai keinginan Arzel.
Cepat-cepat kuserahkan form tersebut ke atasanku untuk diproses lebih lanjut.
Setelah itu bersiap pulang, karena giliran shift ku setengah hari sudah selesai.
Aku berjalan ke parkiran ketika mendapati Arzel sedang berdiri di depan lift.
"Udah mau pulang?" Arzel menyadari aku membawa tas.
"Eh,...iya." aku mengangguk pelan. "Kamu...? Eh,...maksudnya, elo?"
Kami masuk ke dalam lift bersamaan.
"Gue anter elo pulang aja."
Aku shock.
Ini aku tidak salah dengar, kan?
Mengapa Arzel mendadak mau mengantarku pulang?
"Eh,...gue bawa mobil sendiri." aku menolak halus.
"Mobil elo titip aja dulu di sini. Besok Senin masuk lagi kan tinggal diambil." Arzel mengusulkan setengah menyuruh.
Bibirku terkunci dan akhirnya hanya menurut saja.
Begitu kami masuk ke dalam mobil, aku memasang sabuk pengaman dengan canggung.
Kepalaku masih dipenuhi seribu pertanyaan mengapa Arzel mau mengantarku pulang.
Tapi Arzel hanya terdiam, menyetir keluar dari pelataran parkir.
Kami berkendara sekitar 10 menit dalam hening.
Bahkan tidak ada background suara radio di dalam mobil.
Aku memandang keluar jendela dan melihat pohon berlari ke arah berlawanan dari mobil kami.
"Karen..." mendadak Arzel memanggilku.
"Eh? Ya?" antenaku langsung sigap lagi begitu mendengar namaku dipanggil.
"Gue,...Ehm..." Arzel terlihat ragu harus memulai ucapan nya dari mana. "Elo kok beda dari biasanya?"
Aku mengangkat alis karena terkejut.
"Gue, yang biasa?"
"Maksud gue, bukan sebelom ini. Elo beda... dari Karen yang terakhir kali gue inget." Arzel menjabarkan dengan hati-hati. "Ada sesuatu yang terjadi?"
Aku menggeleng pelan.
"Gue nggak tau gimana harus jelasinnya. Yang jelas, gue selalu begini adanya."
Arzel mendengus dari hidungnya.
Dari ekspresinya, aku bisa membaca itu bukan suatu gesture yang menyenangkan.
"Elo nggak pendiem begini waktu ngebully gue jaman sekolah."
Alisku mengkerut makin tajam nyaris saling bersentuhan.
"Gue...? Ngebully elo?"
"Jangan bilang, elo lupa 2 tahun penuh kejadian menyebalkan itu." Arzel berkata sinis.
Aku hanya bisa menggigit bibir.
"...Jujur aja, gue pingin tanya dari kemaren ke elo. Tapi nggak ada kesempatan. Mungkin ini takdir bahwa kita kerja sama untuk urusan proyek mobil ini." Arzel berkata sepelan mungkin. "Apa maksud elo dengan 'mencari segala sesuatu untuk kembali ke gue? kembali ke 'kita'?"
Kata-kata Arzel awalnya tidak masuk akal, namun aku baru teringat aksi bodohku beberapa minggu lalu ketika baru keluar dari rumah sakit.
Dalam kondisi mental labil, aku menyergap masuk ke rumah Arzel dan pergi setelah mengucapkan kalimat aneh itu.
Saat itu aku tidak membayangkan akan bertemu Arzel lagi dalam waktu dekat, dan kondisi dimana aku harus menjelaskan seperti sekarang ini.
Lebih mengejutkan lagi, aku tidak menyangka Arzel mengingatnya!
"Kalau gue jelasin juga, nggak akan masuk akal..." aku tidak mampu melanjutkan kalimat.
"Kita memang PERNAH akrab, tapi elo inget kan bahwa itu awal kita masuk SMA? Jangan bilang bahwa elo mendadak nyesal atas perbuatan terhadap gue 8 tahun lalu?"
Aku hanya bisa menunduk dan mencoba menyusun kepingan puzzle di kepalaku.
Kata Arzel, kami pernah akrab dulu?
Tapi dulu katanya aku sering membully dia?
Apa yang sebenarnya terjadi 8 tahun lalu?
Tidak satupun alasan masuk akal terpikir olehku.
"...oke, gini aja biar gampangnya. Kalo memang elo nggak bisa jawab pertanyaan gue, yang jelas gue mau minta maaf sebelomnya. Sejak ketemu elo lagi beberapa minggu lalu, gue udah bersikap kasar dan nggak ramah. Gue kebawa perasaan pribadi. Dan gue rasa, elo harusnya ngerti kalo ada di posisi gue."
Arzel mengambil jeda nafas diantara kalimatnya.
"Mengenai sekarang,...kita udah sama-sama dewasa. Jadi, gue maafin perbuatan tidak menyenangkan elo di masa lalu. Kita masih sama-sama remaja waktu itu. Sekarang ini, kita kerja secara profesional. Setuju?"
Aku mengangguk pelan.
Bagaikan ditaruh di tengah-tengah hutan, aku sama sekali tidak punya gambaran kejadian apa yang pernah terjadi antara Arzel dan 'Karen' yang ini.
Untuk sekarang, aku hanya bisa meng-iyakan saja.
"Elo berubah deh." Arzel agak banyak bicara hari ini. "...maksudnya, Karen yang gue tau, nggak pernah bisa diem semenit pun."
Ya, itu kan Karen yang KAMU tau, Arzel...
Dan aku BUKAN dia.
Ingin rasanya aku memberi tahu semuanya sekarang juga.
"Kan seperti yang elo bilang,...kita udah bukan ABG lagi." aku memalingkan wajah ke jendela untuk menghindari kecurigaan dengan berusaha bersikap senatural mungkin.
Beberapa saat kemudian, aku sampai di depan rumah.
Aku baru akan turun dari mobil ketika menyadari sesuatu.
"Elo, tau rumah orangtua gue?"
Arzel mengangguk pelan.
"Gue setaun bolak-balik main ke sini. Nggak mungkin gue lupa, kan?"
Aku hanya mengangguk pelan seperti yang kulakukan sepanjang hari ini layaknya burung beo.
Aku melambaikan tangan dan berpamitan untuk masuk ke dalam rumah.
Rumah yang sesungguhnya asing bagiku ini.
Diisi oleh orangtua yang tidak kukenal, tanpa ada kenangan di dalam memoriku.
Dalam benakku, masa kecil adalah di panti asuhan yang membuatku jadi wataknya seperti sekarang.
Begitu pulang, aku segera masuk ke dalam kamar dan membuka-buka laci.
Aku mencari satu-satunya petunjuk yang kupunya sekarang untuk menjawab pertanyaan tentang masa SMA ku.
Buku tahunan SMA.
Memang mungkin kami orang yang sama, sehingga mudah ditebak dimana aku meletakkan barang yang penting bagiku.
Di dalam kardus khusus di atas lemari.
Di dalamnya, terdapat beberapa piala pertandingan voli putri dan pemain terbaik dengan namaku di piala tersebut.
Ada juga beberapa barang seperti seragamku yang sudah dicoret-coret spidol kemungkinan besar saat kelulusan.
Kutarik keluar buku tahunan persis seperti punya Arzel, tapi versi bersih tanpa noda kopi.
Kuteliti satu persatu wajah anak di kelasku.
Sepertinya takdirku hanya bersinggungan dengan beberapa anak yang kukenali sama, yaitu Denise, Tiara, dan Albert.
Ekspresi Arzel masih lurus seperti sekarang.
Mendadak mataku tertuju kepada sosok anak perempuan yang berdiri di barisan tengah depan.
"Ini...Rei...?" aku bergumam kepada diriku sendiri.
Hari Sabtu, orang kantoran memang libur, tapi tidak bagi sales counter yang harus bekerja setengah hari.
Kami hanya mendapat jatah libur di hari Minggu.
Namun, jam kerja kami lebih pendek daripada pegawai kantoran, jadi sepertinya cukup adil.
"Kalo tipe yang ini gimana? Cukup untuk 8 orang, masuk budget juga." aku mengusulkan salah satu tipe mobil untuk Family.
"Jangan, soalnya hampir semua kursinya lebar. Untuk direksi yang punya keluarga besar, sepertinya lebih perlu bawa banyak perlengkapan seperti kereta bayi, dan lainnya."
Aku mengangguk-angguk membenarkan.
Mobil yang aku rujuk memiliki ukuran bagasi yang kecil, karena lebih untuk dipakai di perkotaan tapi memiliki fisik kekar menyerupai mobil yang biasa digunakan untuk keluar kota.
"Tipe yang ini aja deh." Arzel masuk ke salah satu unit demo. "Harganya sedikit lebih tinggi, tapi gue lebih sreg sama ini."
Arzel memposisikan duduk dengan nyaman di balik setir.
Dia menginjak-injak pedal dan mencoba memindahkan gigi untuk meyakinkan kenyamanan pada pilihannya.
Kami kemudian menuju ke meja untuk membuat form pemesanan.
Aku mengisi detail data perusahaan pada kolom-kolom yang tersedia.
"Oh ya, gue mau semuanya warna putih ya."
"Putih? Arzel... kan aku udah bilang. Kalo mobil putih itu cepet banget kotornya. Di rumah kita juga hampir tiap minggu harus aku bawa cuci gara-gara kita salah pilih warna waktu itu... Kali ini silver aja..." aku mengusulkan sambil mengisi form.
Mendadak aku tersadar dan menggigit bibirku sendiri.
Satu kata untukku sendiri, Tolol.
Ini kan' bukan membeli mobil untuk kami!
Terlebih, yang di hadapanku ini bukan 'Arzel'ku!
Ahh,..pagi-pagi aku sudah membuat diriku sendiri malu!
Aku tidak berkonsentrasi karena sedang mengisi form.
Memang kuakui, aku payah dalam multitasking.
Pasti habis ini Arzel akan menganggapku gila,
Aku baru mulai salah tingkah, ketika mendapati Arzel sedang mengutak-atik hpnya.
Nafas lega yang panjang keluar dari hidungku.
Biasanya aku akan sebal jika diacuhkan ketika bicara dengan orang yang sedang main hp.
Tapi kali ini, aku bersyukur bahwa dia tidak mendengar statemen bodohku karena dia sedang asik dengan hpnya.
Tanpa mempertanyakan lebih lanjut, aku isi semua kolom dengan warna putih sesuai keinginan Arzel.
Cepat-cepat kuserahkan form tersebut ke atasanku untuk diproses lebih lanjut.
Setelah itu bersiap pulang, karena giliran shift ku setengah hari sudah selesai.
Aku berjalan ke parkiran ketika mendapati Arzel sedang berdiri di depan lift.
"Udah mau pulang?" Arzel menyadari aku membawa tas.
"Eh,...iya." aku mengangguk pelan. "Kamu...? Eh,...maksudnya, elo?"
Kami masuk ke dalam lift bersamaan.
"Gue anter elo pulang aja."
Aku shock.
Ini aku tidak salah dengar, kan?
Mengapa Arzel mendadak mau mengantarku pulang?
"Eh,...gue bawa mobil sendiri." aku menolak halus.
"Mobil elo titip aja dulu di sini. Besok Senin masuk lagi kan tinggal diambil." Arzel mengusulkan setengah menyuruh.
Bibirku terkunci dan akhirnya hanya menurut saja.
Begitu kami masuk ke dalam mobil, aku memasang sabuk pengaman dengan canggung.
Kepalaku masih dipenuhi seribu pertanyaan mengapa Arzel mau mengantarku pulang.
Tapi Arzel hanya terdiam, menyetir keluar dari pelataran parkir.
Kami berkendara sekitar 10 menit dalam hening.
Bahkan tidak ada background suara radio di dalam mobil.
Aku memandang keluar jendela dan melihat pohon berlari ke arah berlawanan dari mobil kami.
"Karen..." mendadak Arzel memanggilku.
"Eh? Ya?" antenaku langsung sigap lagi begitu mendengar namaku dipanggil.
"Gue,...Ehm..." Arzel terlihat ragu harus memulai ucapan nya dari mana. "Elo kok beda dari biasanya?"
Aku mengangkat alis karena terkejut.
"Gue, yang biasa?"
"Maksud gue, bukan sebelom ini. Elo beda... dari Karen yang terakhir kali gue inget." Arzel menjabarkan dengan hati-hati. "Ada sesuatu yang terjadi?"
Aku menggeleng pelan.
"Gue nggak tau gimana harus jelasinnya. Yang jelas, gue selalu begini adanya."
Arzel mendengus dari hidungnya.
Dari ekspresinya, aku bisa membaca itu bukan suatu gesture yang menyenangkan.
"Elo nggak pendiem begini waktu ngebully gue jaman sekolah."
Alisku mengkerut makin tajam nyaris saling bersentuhan.
"Gue...? Ngebully elo?"
"Jangan bilang, elo lupa 2 tahun penuh kejadian menyebalkan itu." Arzel berkata sinis.
Aku hanya bisa menggigit bibir.
"...Jujur aja, gue pingin tanya dari kemaren ke elo. Tapi nggak ada kesempatan. Mungkin ini takdir bahwa kita kerja sama untuk urusan proyek mobil ini." Arzel berkata sepelan mungkin. "Apa maksud elo dengan 'mencari segala sesuatu untuk kembali ke gue? kembali ke 'kita'?"
Kata-kata Arzel awalnya tidak masuk akal, namun aku baru teringat aksi bodohku beberapa minggu lalu ketika baru keluar dari rumah sakit.
Dalam kondisi mental labil, aku menyergap masuk ke rumah Arzel dan pergi setelah mengucapkan kalimat aneh itu.
Saat itu aku tidak membayangkan akan bertemu Arzel lagi dalam waktu dekat, dan kondisi dimana aku harus menjelaskan seperti sekarang ini.
Lebih mengejutkan lagi, aku tidak menyangka Arzel mengingatnya!
"Kalau gue jelasin juga, nggak akan masuk akal..." aku tidak mampu melanjutkan kalimat.
"Kita memang PERNAH akrab, tapi elo inget kan bahwa itu awal kita masuk SMA? Jangan bilang bahwa elo mendadak nyesal atas perbuatan terhadap gue 8 tahun lalu?"
Aku hanya bisa menunduk dan mencoba menyusun kepingan puzzle di kepalaku.
Kata Arzel, kami pernah akrab dulu?
Tapi dulu katanya aku sering membully dia?
Apa yang sebenarnya terjadi 8 tahun lalu?
Tidak satupun alasan masuk akal terpikir olehku.
"...oke, gini aja biar gampangnya. Kalo memang elo nggak bisa jawab pertanyaan gue, yang jelas gue mau minta maaf sebelomnya. Sejak ketemu elo lagi beberapa minggu lalu, gue udah bersikap kasar dan nggak ramah. Gue kebawa perasaan pribadi. Dan gue rasa, elo harusnya ngerti kalo ada di posisi gue."
Arzel mengambil jeda nafas diantara kalimatnya.
"Mengenai sekarang,...kita udah sama-sama dewasa. Jadi, gue maafin perbuatan tidak menyenangkan elo di masa lalu. Kita masih sama-sama remaja waktu itu. Sekarang ini, kita kerja secara profesional. Setuju?"
Aku mengangguk pelan.
Bagaikan ditaruh di tengah-tengah hutan, aku sama sekali tidak punya gambaran kejadian apa yang pernah terjadi antara Arzel dan 'Karen' yang ini.
Untuk sekarang, aku hanya bisa meng-iyakan saja.
"Elo berubah deh." Arzel agak banyak bicara hari ini. "...maksudnya, Karen yang gue tau, nggak pernah bisa diem semenit pun."
Ya, itu kan Karen yang KAMU tau, Arzel...
Dan aku BUKAN dia.
Ingin rasanya aku memberi tahu semuanya sekarang juga.
"Kan seperti yang elo bilang,...kita udah bukan ABG lagi." aku memalingkan wajah ke jendela untuk menghindari kecurigaan dengan berusaha bersikap senatural mungkin.
Beberapa saat kemudian, aku sampai di depan rumah.
Aku baru akan turun dari mobil ketika menyadari sesuatu.
"Elo, tau rumah orangtua gue?"
Arzel mengangguk pelan.
"Gue setaun bolak-balik main ke sini. Nggak mungkin gue lupa, kan?"
Aku hanya mengangguk pelan seperti yang kulakukan sepanjang hari ini layaknya burung beo.
Aku melambaikan tangan dan berpamitan untuk masuk ke dalam rumah.
Rumah yang sesungguhnya asing bagiku ini.
Diisi oleh orangtua yang tidak kukenal, tanpa ada kenangan di dalam memoriku.
Dalam benakku, masa kecil adalah di panti asuhan yang membuatku jadi wataknya seperti sekarang.
Begitu pulang, aku segera masuk ke dalam kamar dan membuka-buka laci.
Aku mencari satu-satunya petunjuk yang kupunya sekarang untuk menjawab pertanyaan tentang masa SMA ku.
Buku tahunan SMA.
Memang mungkin kami orang yang sama, sehingga mudah ditebak dimana aku meletakkan barang yang penting bagiku.
Di dalam kardus khusus di atas lemari.
Di dalamnya, terdapat beberapa piala pertandingan voli putri dan pemain terbaik dengan namaku di piala tersebut.
Ada juga beberapa barang seperti seragamku yang sudah dicoret-coret spidol kemungkinan besar saat kelulusan.
Kutarik keluar buku tahunan persis seperti punya Arzel, tapi versi bersih tanpa noda kopi.
Kuteliti satu persatu wajah anak di kelasku.
Sepertinya takdirku hanya bersinggungan dengan beberapa anak yang kukenali sama, yaitu Denise, Tiara, dan Albert.
Ekspresi Arzel masih lurus seperti sekarang.
Mendadak mataku tertuju kepada sosok anak perempuan yang berdiri di barisan tengah depan.
"Ini...Rei...?" aku bergumam kepada diriku sendiri.
Diubah oleh jumpingworm 31-03-2020 12:24
0