Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1302
9. Te Desidero
Quote:


"Kamu...kerja di sini?" aku tergaga melihat Arzel masuk ke dalam ruangan dan bertukar pandang. "Ini di foto, papi kamu kan?"

Arzel mengambil posisi duduk di salah satu kursi.

"Elo kenal bokap gue?"

Aku langsung salah tingkah.
Harusnya kan AKU tidak kenal ayahnya Arzel.

"Ehm,...mirip aja." aku mengarang alasan dengan cepat.

Segera aku duduk berjarak 3 kursi dari Arzel.
Dia masih terdiam, kemudian membuka folder yang dibawanya tadi dengan hening.
Hanya suara kertas bergesekan memenuhi seisi ruangan.

"Semua orang bilang gue mirip nyokap. Elo orang pertama yang bilang gue mirip bokap."

"Eh?" aku tidak fokus tapi berusaha memahami ucapan Arzel.

Dia menyodorkan secarik kertas kepadaku.

"Gue masuk jadi junior trainee, jadi nggak banyak yang tau kalo gue anak boss. Makanya gue minta bantuan agar berita ini nggak tersebar." Arzel berpesan dengan datar.

Aku hanya mengangguk patuh sambil membaca kalimat yang tertera di kertas itu.

"Untuk masalah mobil,... perusahaan gue butuh 5 unit dalam minggu ini. Untuk kasih fasilitas ke direksi yang lokasi rumahnya agak jauh dulu. Pembayaran semuanya pakai leasing, nanti diatur dari perusahaan ini."

"Kamu mau tipe apa ya?" aku menyela.

"Untuk jenis unit, gue kabarin lagi nanti. Sebenernya gue belom konsultasi lanjutan sama kepala bagian. Dia cuma spesifik mau brand yang elo jual. Kita atur waktu aja, nanti gue dateng ke showroom untuk pilih lebih rinci lagi setelah gue runding." Arzel berdeham. "Dan,...gue risih elo panggil gue aku-kamu an. Kita seumur, jadi biasa aja."

Aku kikuk luar biasa.
Sejak kami berpacaran hingga menikah dalam rentang waktu 9 tahun, kami selalu mengobrol dengan panggilan aku-kamu.
Sekarang aku harus berusaha ekstra agar lebih 'slang' dengan pria yang memiliki sosok dari ujung rambut hingga kaki seperti suamiku sendiri.
Ini gila.

Tapi, tertukarnya aku ke dimensi ini sejak awal memang tidak masuk akal.
Kalau memang ingin menjiwai peran, aku tidak boleh setengah-setengah.

"Untuk sekarang, elo baca dulu proposal yang ada di situ. Ada penjelasan tentang kriteria karyawan yang bakal difasilitasi mobil. Bisa sambil elo pelajari, dan mungkin nanti kasih beberapa rekomendasi ke gue." Arzel menjelaskan garis besar.

Aku tidak bisa berhenti memperhatikan potongan rambut, gaya berpakaian, dan ekspresi wajah Arzel yang kontras.
Tidak ada garis senyum di ujung matanya seperti biasa dia menatapku.
Rambutnya dipotong pendek dan rapi di atas kerah baju.
Arzel-ku poninya dibiarkan panjang agar terlihat lebih ramah katanya.
Di sini, Arzel lebih tirus dan sepertinya menggunakan parfum layaknya eksekutif.
Sosoknya yang biasa wangi sabun yang sama denganku, kini kami memiliki wangi yang berbeda.
Dia nyata dan tidak nyata di saat yang sama.

"Gue harus balik ke kerjaan." Arzel bangkit berdiri. "Gue minta kartu nama elo, buat nanti contact."

Kami bertukar nomor hp dan sosok Arzel keluar dari ruangan tanpa berbalik.
Aku juga pulang ke rumahku setelah absen sore di kantor.
Ketika sampai rumah, mama meninggalkan pesan di kulkas bahwa dia pergi bersama papa dan menyuruhku memasak sendiri untuk makan malam.
Aku pribadi tidak keberatan dengan itu.
Toh selama ini memang aku tidak punya ibu yang memasak untukku.

Di dalam kamar, aku hanya duduk sendiri di ranjang menatap langit-langit kamar yang mulai berubah orange kebiruan tertimpa sinar matahari berganti malam.
Aku membuka aplikasi messenger di handphone ku.
Karena nomer hp Arzel baru kusimpan, profilnya muncul sebagai 'recommended friend' untuk pertemanan.
Penasaran, aku memperhatikan profile picture dia.

Ekspresinya lurus, menatap ke depan tanpa senyum.
Tidak ubahnya seperti pas photo.
Mendadak, air mataku mengalir.
Kerinduan membuncah keluar dari dadaku.

Sudah sekian lama, aku tidak menangis sejadi-jadinya.
Aku merindukan suamiku.
Arzel yang di seberang sana entah sedang melakukan apa.

Aku rindu senyumannya,
Aku rindu bagaimana dia membangunkanku tidur dengan senyuman,
Aku rindu dia membuat setiap hariku, sebagaimanapun buruknya di tempat kerja, Arzel hanya memelukku dan berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja
Berbagi cerita bagaimana dia serunya menemukan cerita baru di internet,
Atau betapa menariknya dia mendekor ulang seisi rumah kami.
Terkadang, dia menemukan foto lama kami berdua, dan membuatku tertawa bagaimana waktu berlalu begitu cepat dan tidak terduga.

Tapi,...Semua itu hanya ada di dalam kepalaku.
Dan tertumpah menjadi air mata yang banjir tanpa henti.
Diubah oleh jumpingworm 31-03-2020 12:19
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.