- Beranda
- Stories from the Heart
Until The Day
...
TS
yohanaekky
Until The Day

********************************
Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.
~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.
Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.
Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.
© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.
INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
96
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#42
06 It's Called Life (Part 2)
Saat masuk ke dalam istana, Gracia menyambutku. Ia berkata bahwa aku harus segera bersiap-siap untuk perayaan anggota baru kerajaan yang diadakan dua hari lagi.
Aku dibawa menuju ke ruangan sebelah timur istana. Sejauh yang dapat kulihat, tata ruangan itu sangat unik. Sebelah kanan dan sebelah kiri memiliki ornamen yang serupa tapi tak sama. Yang membedakan adalah warnanya sementara bentuk dan susunannya sama persis.
"Putri mohon tunggu disini dulu." Gracia meminta, kemudian ia membungkuk sedikit dan pergi meninggalkanku.
Daripada berdiri tanpa melakukan apapun, aku berkeliling memperhatikan beberapa lukisan yang terpajang disana. Tampak dua orang wanita dengan pakaian sangat indah berpose dalam salah satu lukisan itu. Wajah mereka seakan dapat memancarkan sukacita saat aku melihatnya.
"Hai,"
Langsung kubalikkan tubuhku saat mendengar seseorang menyapa.
Dua orang wanita yang sama yang baru saja kulihat di dalam lukisan sekarang tampak nyata di depan mataku seolah baru keluar dari dalam lukisan. Pasalnya pakaian yang mereka pakai sama persis seperti yang ada di lukisan.
"Apodektés?" Salah satu dari wanita yang berbaju merah muda itu menyebut namaku.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kami sudah mendengar tentangmu." Wanita lainnya yang berpakaian biru itu menyambung.
Aku memperhatikan keduanya. Mereka betul-betul tidak dapat dibedakan.
"Oh ya. Aku Chára," ucap wanita berpakaian merah muda itu, "dan ini saudara kembarku, Chari."
Aku menundukkan kepalaku sedikit. "Oh, ya. Hai. Senang bertemu denganmu," ucapku.
"Ayo kemari. Kita lebih baik mengobrol sambil duduk di teras saja." Chára mengusulkan yang kemudian kusetujui.
Dari teras, tampak hamparan padang rumput yang luas dan hijau. Pemandangan seperti ini sangat indah, hanya sayangnya justru membuatku sedih. Namun kutepis perasaan itu dan duduk bersama kedua saudara kembar itu.
Aku kembali memperhatikan kedua wanita tersebut. Mereka begitu anggun. Sangat berbeda denganku. Sampai sekarang saja aku masih berjuang dengan setiap gaun yang kupakai. Rasanya kepribadianku sama sekali tidak cocok dengan apa yang kupakai.
"Apakah kau sudah tahu bahwa kau akan diperkenalkan di perayaan resmi kerajaan sebagai anggota baru?" Chari bertanya.
Aku mengangguk. Aku ingat Gracia sudah menyebutkannya tadi.
"Begini. Sebenarnya kau ada di tempat ini adalah untuk mempelajari prosesi perayaan tersebut." Chari menjelaskan.
"Karena sejujurnya sebagai anggota kerajaan dari lahir pun aku merasa prosesi kerajaan itu cukup sulit dan menegangkan. Akan malu rasanya jika kau melakukan kesalahan. Terlebih di depan seluruh rakyat." Chára menyambung.
Apa yang dia katakan barusan? "Di depan seluruh rakyat?" Perkataannya membuatku sungguh terkejut.
Kedua wanita itu mengangguk bersamaan sambil tertawa kecil.
"Kau tahu, Apo -- uh, bolehkah aku memanggilmu begitu?" tanya Chára.
Aku mengangguk.
"Nah, kau tahu, kau itu sangat beruntung. Karena Raja tidak pernah mengangkat seorang pun dari antara rakyat untuk menjadi anggota kerajaan." Chára bercerita. "Biar kuberitahu. Dulu Raja pernah mengangkat seorang gadis sepertimu -- tetapi beberapa tahun lebih muda darimu saat itu, mungkin sekarang dia seumuranmu -- menjadi seorang anggota kerajaan. Raja begitu menyukainya seperti anaknya sendiri. Tapi--"
Ucapan Chára terputus ketika terdengar namanya dan juga Chari dipanggil.
Dari pintu kaca yang membatasi teras dan ruang bagian dalam, tampak Pangeran sedang berkeliling mencari kedua wanita yang sedang bersamaku itu.
"Disini!" Chari melambai dan membuat Pangeran menoleh dan berjalan mendekati.
Pangeran berdiri di dekat kedua saudara kembar itu. "Oh, hai, Apo." Ia menyapaku. Kemudian ia berpaling kepada Chára dan Chari. "Raja ingin bertemu dengan kalian. Ia ingin menyampaikan sesuatu. Tapi kalian masih ada tamu. Jadi salah satu dari kalian, segeralah temui Raja. Sepertinya benar-benar penting."
"Um," Chari menampakkan keraguan. "Kalau ini sangat penting, sebaiknya aku dan Chára harus menemui bersama."
"Kau tidak dapat meninggalkan Apo begitu saja kan?" Pangeran mengingatkan.
Chari berdecak. "Sotiras. Kau ini. Kau sedang tidak memiliki sesuatu pun untuk dilakukan bukan? Temani Apo sebentar."
"Uh, aku," Pangeran tampak ragu akan permintaan Chari.
"Aku tidak apa-apa. Aku dapat menunggu sendirian disini. Lagipula pemandangannya bagus disini." Aku menyela.
"Jangan," Pangeran mencegah. "Kau adalah tamu mereka jadi kau tidak bisa begitu saja menunggu sendirian disini."
Chari dan Chára tersenyum satu sama lain seolah puas karena berhasil membuat Pangeran melakukan apa yang mereka minta.
"Bagus sekali. Baiklah. Jaga tamu kami baik-baik. Kami akan segera kembali." ucap Chari. "Ayo Chára."
Dengan cepat keduanya bergegas meninggalkan tempat menuju ke ruangan Raja, meninggalkan Pangeran dan aku disini berdua saja.
Beberapa waktu lamanya kami tidak mengucapkan sepatah kata pun. Entah mengapa rasanya aneh sekali kami tidak saling berkomunikasi walaupun sedang berdekatan seperti ini. Situasinya betul-betul terasa canggung. Sialnya, aku tidak pintar dalam hal berhubungan dengan orang lain sehingga tak ada hal yang dapat kuucapkan untuk mencairkan suasana ini.
Tiba-tiba terdengar suara yang berisik dari samping teras. Suara itu terdengar sperti semak-dalam kering ketika diinjak.
"Chára! Chari! Kalian dimana?" Suara seorang wanita terdengar.
Aku dan Pangeran saling berpandangan. Kurasa Pangeran juga tidak tahu siapa yang barusan memanggil saudara kembar itu.
"Kalian diman--" dari balik pagar teras, seorang gadis dengan panah di balik punggungnya muncul dan berhenti berbicara ketika melihat kami. "Oh, Pangeran dan...Kau? Apo?"
Aku mengingatnya. Dia adalah gadis asing yang berisik dan sok tahu dan sok dekat yang tak sengaja kutemui di gedung ujian tadi. Hanya saja aku tidak mengingat siapa namanya.
"Maafkan aku, Pangeran, mengganggu waktu Anda bersama dengan kekasih Anda disini." Gadis itu meminta maaf sambil membungkuk dalam.
Aku menelan ludah mendengar ucapannya. Dia betul-betul asal bicara. Seperti sebelumnya. Dasar kau. Membuat keadaan semakin canggung saja.
Pangeran berdehem. "Oh, bukan. Dia bukan kekasihku." Ia meluruskan.
Gadis itu bukannya percaya justru menggoda. "Ah, Pangeran jangan malu-malu seperti itu. Bukankah memang sudah saatnya Pangeran memiliki calon istri? Kudengar bahwa Pangeran akan menjadi raja menggantikan Raja Dikaiosyni dalam beberapa tahun ke depan, bukan?"
Isshh, gadis ini bicaranya sungguh tidak dijaga. Bagaimana bisa dia tidak sopan terhadap Pangeran? Dia tidak takut mati apa?
Pangeran berdehem lagi. Ia tidak mengomentari perkataan gadis itu dan berkata, "Kau siapa? Dan ada apa mencari sepupuku?"
"Aku Elpida, Pangeran,"
Oh jadi namanya Elpida?
"Aku sudah lama berteman dengan sepupu Pangeran. Biasanya pada waktu seperti ini aku akan mampir hanya sekedar untuk minum teh. Tapi karena mereka saat ini tidak ada, lebih baik aku pergi saja. Aku akan membiarkan Pangeran memiliki waktu pribadi bersama dengan Apo disini."
Pangeran mengangguk sehingga Elpida pun pergi meninggalkan kami. Berdua kembali.
Situasi justru bertambah canggung. Ini semua kesalahan Elpida yang asal bicara.
"Uh," kurasa aku tidak dapat berlama-lama diam tanpa mengatakan sesuatu pun disini. Aku lebih baik memulai percakapan saja. Semoga saja keadaan lebih baik. "Waktu itu, apa yang membuatmu menolongku, Pangeran?"
Pangeran tidak langsung menjawabku. Ia mengarahkan pandangannya kepada hamparan padang rumput yang luas itu.
Aku memiringkan kepalaku sedikit untuk melihat wajah Pangeran. Namun kemudian aku menyesali apa yang kulakukan karena keadaan bertambah canggung lebih lagi. Cepat-cepat kupalingkan pandanganku ke arah lain yang tak menentu.
Pangeran berdehem. "Yang pertama, jangan panggil aku Pangeran lagi. Aku lebih suka jika kau memanggil namaku saja."
Sial. Aku lupa siapa namanya. Padahal tadi aku sudah berusaha untuk mengingat-ingat namanya. Semoga saja dia tidak memintaku untuk menyebutkan namanya sekarang. Semoga saj--
"Coba panggil namaku," Pangeran meminta.
GLEK. Mengapa harus benar-benar seperti yang barusan kupikirkan? "Uh, um,"
"Jangan bilang kau lupa namaku," tebaknya.
Aku hanya menyeringai menunjukkan ekspresi tak berdosa.
"Apa susahnya mengingat namaku?" ucapnya gusar. "Kalau kau mengingat aku menyelamatkanmu, ingat juga namaku. Sotiras. Artinya Penyelamat."
Aku mengangguk-angguk. "Baiklah. Sotiras. Sotiras." Kuingat-ingat saat itu juga. Aku berharap aku cepat mengingatnya karena kebiasaanku yang suka melupakan nama orang betul-betul mengganggu dalam situasi seperti ini. Aku juga masih ingin hidup.
Pangeran, atau yang katanya lebih suka dipanggil dengan Sotiras itu pun mengangguk-angguk memperlihatkan senyuman puas.
"Kau, apakah sekarang kau akan menjawab pertanyaanku?" aku mengingatkan Sotiras kembali.
"Oh," katanya. "Aku hampir lupa." Ia tertawa kecil.
Betapa dia manis sekali ketika dia tertawa. Lesung pipitnya membuatnya--ah. Apa yang sedang kupikirkan?
"Jadi sebenarnya itu adalah hari dimana aku biasanya berjalan-jalan di luar kerajaan." Sotiras bercerita. Ia masih tidak memandangku. "Aku sudah mengunjungi seluruh tempat di negeri ini. Hanya ada satu tempat yang belum aku kunjungi. Namun ketika aku ingin bersenang-senang di tempat itu, aku justru mendapati keributan yang luar biasa. Aku langsung berpikir bahwa suatu kejahatan telah terjadi. Sebagai seorang Pangeran, aku harus menegakkan keadilan."
Aku merasa tergelitik mendengarnya. Caranya berkata bahwa dia adalah seorang Pangeran dan harus menegakkan keadilan terdengar sangat lucu.
"Apanya yang lucu?" Sotiras bertanya heran.
Aku menggeleng. "Tidak ada. Lanjutkan saja lagi," ucapku.
Sotiras berdecak, tapi dia tidak bertanya lagi. Ia hanya melanjutkan, "Kusangka warga hendak membunuh seorang kriminal seperti yang biasanya terjadi. Tetapi prasangkaku salah. Yang kulihat adalah seorang gadis berbaju lusuh dan tidak berdaya yang sudah dikepung hendak dibunuh."
Jadi itu caranya menilaiku pertama kalinya? Setidaknya dia tidak tahu bahwa aku hampir dibunuh karena mencuri makanan.
"Seketika itu juga aku berteriak agar mereka berhenti. Tanpa menunggu, warga berhenti dan meninggalkan tempat itu dengan kau yang terbaring lemas." Sotiras kali ini memandangku. "Saat itu aku takut bahwa gadis yang ada di hadapanku itu mati. Namun untung saja kau masih hidup."
"Takut katamu?" tanyaku heran. "Mengapa kau harus takut? Kau takut melihat orang mati ya?" Aku menggodanya. Aku beranjak dari kursiku dan mendekatinya lalu kedua tanganku bergerak-gerak seperti menghantuinya.
Sotiras mendesis kesal sembari menyingkirkan tanganku dengan tangannya. Aku tertawa saat melihat ekspresi kesalnya. Namun tanpa sadar, justru kedua mataku terkunci memandang kedua matanya.
"Maaf," Sotiras segera melepaskan kedua tanganku yang tadi dipengangnya.
Aku mengangguk-angguk cepat lalu memalingkan wajah. Kemudian aku kembali duduk di tempatku. Dengan begitu, terciptalah keheningan di antara kami kembali.
Suara orang berdehem datang dari belakang. Chára dan Chari muncul di pintu lalu berjalan mendekat kepada kami.
"Sepertinya kalian sudah sangat akrab. Kami melihatnya dari dalam tadi." Chari berkomentar.
Kedua saudara kembar itu bergabung dengan kami dan duduk di kursi.
"Apa yang Raja katakan?" Sotiras bertanya.
Chára tidak menjawab tetapi hanya menghela nafas dan menghembuskannya.
"Mengapa tidak menjawab? Ada apa?" Sotiras memperlihatkan rasa penasarannya.
"Ada beberapa kendala untuk mengadakan perayaan untuk Apo. Jadi semuanya harus ditunda untuk beberapa lama." Chari kemudian menjelaskan.
Aku tersenyum kepada mereka. "Hei, bukan masalah. Justru dengan begitu aku dapat berbaur dengan banyak orang di kerajaan ini dengan leluasa, bukan?" Aku berusaha membuat mereka tidak khawatir.
"Maaf ya situasinya menjadi seperti ini." Chára dengan penuh perhatian berusaha membuatku tenang.
"Kalau begitu, karena tidak ada yang harus kulakukan disini, aku akan kembali ke kamarku." Aku beranjak dari kursi dan minta diri. Mereka mengijinkanku lalu aku keluar dari ruangan itu.
Tubuhku terasa cukup lelah akibat ujian dan juga menghabiskan waktu di ruangan si kembar. Kurasa beristirahat jauh lebih baik.
Eitereía menepati perkataannya. Ia menjadi guru pribadiku. Banyak sekali yang ia ajarkan padaku. Berbagai macam karya sastra ia perkenalkan padaku. Selama satu minggu, dalam empat kali pertemuan aku menjalani pendidikan dengannya, kira-kira sudah sepuluh karya sastra dengan berbagai penulis berbeda sudah kupelajari. Rasanya hebat sekali.
Namun berbeda dengan sastra, selama seminggu ini, aku telah dua kali belajar permainan pedang. Namun aku justru tidak mendapatkan kemajuan. Semua ini karena guru pedangku adalah orang yang sangat pemarah. Alhasil, aku menjadi takut dan semakin banyak membuat kesalahan. Aku menjadi kesal jadinya. Seperti hari ini.
Demi menghilangkan rasa kesal dan penatku, aku menuju ke bukit untuk menghirup udara segar. Dengan gaun yang didesain untuk permainan pedang ini, aku cukup merasa diuntungkan sehingga perjalananku untuk sampai di atas bukit jadi tidak terlalu sulit.
Ada sebuah batu yang sangat besar kulihat saat aku sampai di atas bukit. Betul-betul tempat yang tepat untuk aku berbaring demi melepas penat.
Kupandang langit yang terbuka luas saat aku berbaring. Birunya langit membuatku tersenyum sendiri. Ketika melihat kesana, aku selalu bertanya-tanya apakah adikku ada disana. Adikku sayang, yang hidupnya harus berakhir tiba-tiba.
"Bagaimana bisa langit sebiru ini ya? Indah sekali,"
Aku menoleh ke sebelah kiriku dan menemukan Elpida berbaring tepat di sampingku. Terhenyak, aku terbangun dan duduk.
"Kau ini mengagetkanku saja." Kuluapkan rasa kesalku.
"Maaf ya. Aku tidak bermaksud begitu." Perkataan Elpida tiba-tiba membuatku merasa bersalah setelah berekpresi kesal padanya.
Aku mengangguk sekali. "Iya." Aku kemudian kembali berbaring.
"Aku ingin menjadi temanmu. Entah mengapa." Elpida mengungkapkannya begitu saja tanpa berbasa-basi.
Aku terhenyak. Sepanjang hidupku, terutama satu tahun terakhir ini, semua orang menolakku. Tetapi semenjak aku ada di kerajaan ini, aku merasakan apa arti hidup ini. Seseorang bahkan ingin menjadi temanku.
"Elpida, terima kasih."
Aku dibawa menuju ke ruangan sebelah timur istana. Sejauh yang dapat kulihat, tata ruangan itu sangat unik. Sebelah kanan dan sebelah kiri memiliki ornamen yang serupa tapi tak sama. Yang membedakan adalah warnanya sementara bentuk dan susunannya sama persis.
"Putri mohon tunggu disini dulu." Gracia meminta, kemudian ia membungkuk sedikit dan pergi meninggalkanku.
Daripada berdiri tanpa melakukan apapun, aku berkeliling memperhatikan beberapa lukisan yang terpajang disana. Tampak dua orang wanita dengan pakaian sangat indah berpose dalam salah satu lukisan itu. Wajah mereka seakan dapat memancarkan sukacita saat aku melihatnya.
"Hai,"
Langsung kubalikkan tubuhku saat mendengar seseorang menyapa.
Dua orang wanita yang sama yang baru saja kulihat di dalam lukisan sekarang tampak nyata di depan mataku seolah baru keluar dari dalam lukisan. Pasalnya pakaian yang mereka pakai sama persis seperti yang ada di lukisan.
"Apodektés?" Salah satu dari wanita yang berbaju merah muda itu menyebut namaku.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kami sudah mendengar tentangmu." Wanita lainnya yang berpakaian biru itu menyambung.
Aku memperhatikan keduanya. Mereka betul-betul tidak dapat dibedakan.
"Oh ya. Aku Chára," ucap wanita berpakaian merah muda itu, "dan ini saudara kembarku, Chari."
Aku menundukkan kepalaku sedikit. "Oh, ya. Hai. Senang bertemu denganmu," ucapku.
"Ayo kemari. Kita lebih baik mengobrol sambil duduk di teras saja." Chára mengusulkan yang kemudian kusetujui.
Dari teras, tampak hamparan padang rumput yang luas dan hijau. Pemandangan seperti ini sangat indah, hanya sayangnya justru membuatku sedih. Namun kutepis perasaan itu dan duduk bersama kedua saudara kembar itu.
Aku kembali memperhatikan kedua wanita tersebut. Mereka begitu anggun. Sangat berbeda denganku. Sampai sekarang saja aku masih berjuang dengan setiap gaun yang kupakai. Rasanya kepribadianku sama sekali tidak cocok dengan apa yang kupakai.
"Apakah kau sudah tahu bahwa kau akan diperkenalkan di perayaan resmi kerajaan sebagai anggota baru?" Chari bertanya.
Aku mengangguk. Aku ingat Gracia sudah menyebutkannya tadi.
"Begini. Sebenarnya kau ada di tempat ini adalah untuk mempelajari prosesi perayaan tersebut." Chari menjelaskan.
"Karena sejujurnya sebagai anggota kerajaan dari lahir pun aku merasa prosesi kerajaan itu cukup sulit dan menegangkan. Akan malu rasanya jika kau melakukan kesalahan. Terlebih di depan seluruh rakyat." Chára menyambung.
Apa yang dia katakan barusan? "Di depan seluruh rakyat?" Perkataannya membuatku sungguh terkejut.
Kedua wanita itu mengangguk bersamaan sambil tertawa kecil.
"Kau tahu, Apo -- uh, bolehkah aku memanggilmu begitu?" tanya Chára.
Aku mengangguk.
"Nah, kau tahu, kau itu sangat beruntung. Karena Raja tidak pernah mengangkat seorang pun dari antara rakyat untuk menjadi anggota kerajaan." Chára bercerita. "Biar kuberitahu. Dulu Raja pernah mengangkat seorang gadis sepertimu -- tetapi beberapa tahun lebih muda darimu saat itu, mungkin sekarang dia seumuranmu -- menjadi seorang anggota kerajaan. Raja begitu menyukainya seperti anaknya sendiri. Tapi--"
Ucapan Chára terputus ketika terdengar namanya dan juga Chari dipanggil.
Dari pintu kaca yang membatasi teras dan ruang bagian dalam, tampak Pangeran sedang berkeliling mencari kedua wanita yang sedang bersamaku itu.
"Disini!" Chari melambai dan membuat Pangeran menoleh dan berjalan mendekati.
Pangeran berdiri di dekat kedua saudara kembar itu. "Oh, hai, Apo." Ia menyapaku. Kemudian ia berpaling kepada Chára dan Chari. "Raja ingin bertemu dengan kalian. Ia ingin menyampaikan sesuatu. Tapi kalian masih ada tamu. Jadi salah satu dari kalian, segeralah temui Raja. Sepertinya benar-benar penting."
"Um," Chari menampakkan keraguan. "Kalau ini sangat penting, sebaiknya aku dan Chára harus menemui bersama."
"Kau tidak dapat meninggalkan Apo begitu saja kan?" Pangeran mengingatkan.
Chari berdecak. "Sotiras. Kau ini. Kau sedang tidak memiliki sesuatu pun untuk dilakukan bukan? Temani Apo sebentar."
"Uh, aku," Pangeran tampak ragu akan permintaan Chari.
"Aku tidak apa-apa. Aku dapat menunggu sendirian disini. Lagipula pemandangannya bagus disini." Aku menyela.
"Jangan," Pangeran mencegah. "Kau adalah tamu mereka jadi kau tidak bisa begitu saja menunggu sendirian disini."
Chari dan Chára tersenyum satu sama lain seolah puas karena berhasil membuat Pangeran melakukan apa yang mereka minta.
"Bagus sekali. Baiklah. Jaga tamu kami baik-baik. Kami akan segera kembali." ucap Chari. "Ayo Chára."
Dengan cepat keduanya bergegas meninggalkan tempat menuju ke ruangan Raja, meninggalkan Pangeran dan aku disini berdua saja.
Beberapa waktu lamanya kami tidak mengucapkan sepatah kata pun. Entah mengapa rasanya aneh sekali kami tidak saling berkomunikasi walaupun sedang berdekatan seperti ini. Situasinya betul-betul terasa canggung. Sialnya, aku tidak pintar dalam hal berhubungan dengan orang lain sehingga tak ada hal yang dapat kuucapkan untuk mencairkan suasana ini.
Tiba-tiba terdengar suara yang berisik dari samping teras. Suara itu terdengar sperti semak-dalam kering ketika diinjak.
"Chára! Chari! Kalian dimana?" Suara seorang wanita terdengar.
Aku dan Pangeran saling berpandangan. Kurasa Pangeran juga tidak tahu siapa yang barusan memanggil saudara kembar itu.
"Kalian diman--" dari balik pagar teras, seorang gadis dengan panah di balik punggungnya muncul dan berhenti berbicara ketika melihat kami. "Oh, Pangeran dan...Kau? Apo?"
Aku mengingatnya. Dia adalah gadis asing yang berisik dan sok tahu dan sok dekat yang tak sengaja kutemui di gedung ujian tadi. Hanya saja aku tidak mengingat siapa namanya.
"Maafkan aku, Pangeran, mengganggu waktu Anda bersama dengan kekasih Anda disini." Gadis itu meminta maaf sambil membungkuk dalam.
Aku menelan ludah mendengar ucapannya. Dia betul-betul asal bicara. Seperti sebelumnya. Dasar kau. Membuat keadaan semakin canggung saja.
Pangeran berdehem. "Oh, bukan. Dia bukan kekasihku." Ia meluruskan.
Gadis itu bukannya percaya justru menggoda. "Ah, Pangeran jangan malu-malu seperti itu. Bukankah memang sudah saatnya Pangeran memiliki calon istri? Kudengar bahwa Pangeran akan menjadi raja menggantikan Raja Dikaiosyni dalam beberapa tahun ke depan, bukan?"
Isshh, gadis ini bicaranya sungguh tidak dijaga. Bagaimana bisa dia tidak sopan terhadap Pangeran? Dia tidak takut mati apa?
Pangeran berdehem lagi. Ia tidak mengomentari perkataan gadis itu dan berkata, "Kau siapa? Dan ada apa mencari sepupuku?"
"Aku Elpida, Pangeran,"
Oh jadi namanya Elpida?
"Aku sudah lama berteman dengan sepupu Pangeran. Biasanya pada waktu seperti ini aku akan mampir hanya sekedar untuk minum teh. Tapi karena mereka saat ini tidak ada, lebih baik aku pergi saja. Aku akan membiarkan Pangeran memiliki waktu pribadi bersama dengan Apo disini."
Pangeran mengangguk sehingga Elpida pun pergi meninggalkan kami. Berdua kembali.
Situasi justru bertambah canggung. Ini semua kesalahan Elpida yang asal bicara.
"Uh," kurasa aku tidak dapat berlama-lama diam tanpa mengatakan sesuatu pun disini. Aku lebih baik memulai percakapan saja. Semoga saja keadaan lebih baik. "Waktu itu, apa yang membuatmu menolongku, Pangeran?"
Pangeran tidak langsung menjawabku. Ia mengarahkan pandangannya kepada hamparan padang rumput yang luas itu.
Aku memiringkan kepalaku sedikit untuk melihat wajah Pangeran. Namun kemudian aku menyesali apa yang kulakukan karena keadaan bertambah canggung lebih lagi. Cepat-cepat kupalingkan pandanganku ke arah lain yang tak menentu.
Pangeran berdehem. "Yang pertama, jangan panggil aku Pangeran lagi. Aku lebih suka jika kau memanggil namaku saja."
Sial. Aku lupa siapa namanya. Padahal tadi aku sudah berusaha untuk mengingat-ingat namanya. Semoga saja dia tidak memintaku untuk menyebutkan namanya sekarang. Semoga saj--
"Coba panggil namaku," Pangeran meminta.
GLEK. Mengapa harus benar-benar seperti yang barusan kupikirkan? "Uh, um,"
"Jangan bilang kau lupa namaku," tebaknya.
Aku hanya menyeringai menunjukkan ekspresi tak berdosa.
"Apa susahnya mengingat namaku?" ucapnya gusar. "Kalau kau mengingat aku menyelamatkanmu, ingat juga namaku. Sotiras. Artinya Penyelamat."
Aku mengangguk-angguk. "Baiklah. Sotiras. Sotiras." Kuingat-ingat saat itu juga. Aku berharap aku cepat mengingatnya karena kebiasaanku yang suka melupakan nama orang betul-betul mengganggu dalam situasi seperti ini. Aku juga masih ingin hidup.
Pangeran, atau yang katanya lebih suka dipanggil dengan Sotiras itu pun mengangguk-angguk memperlihatkan senyuman puas.
"Kau, apakah sekarang kau akan menjawab pertanyaanku?" aku mengingatkan Sotiras kembali.
"Oh," katanya. "Aku hampir lupa." Ia tertawa kecil.
Betapa dia manis sekali ketika dia tertawa. Lesung pipitnya membuatnya--ah. Apa yang sedang kupikirkan?
"Jadi sebenarnya itu adalah hari dimana aku biasanya berjalan-jalan di luar kerajaan." Sotiras bercerita. Ia masih tidak memandangku. "Aku sudah mengunjungi seluruh tempat di negeri ini. Hanya ada satu tempat yang belum aku kunjungi. Namun ketika aku ingin bersenang-senang di tempat itu, aku justru mendapati keributan yang luar biasa. Aku langsung berpikir bahwa suatu kejahatan telah terjadi. Sebagai seorang Pangeran, aku harus menegakkan keadilan."
Aku merasa tergelitik mendengarnya. Caranya berkata bahwa dia adalah seorang Pangeran dan harus menegakkan keadilan terdengar sangat lucu.
"Apanya yang lucu?" Sotiras bertanya heran.
Aku menggeleng. "Tidak ada. Lanjutkan saja lagi," ucapku.
Sotiras berdecak, tapi dia tidak bertanya lagi. Ia hanya melanjutkan, "Kusangka warga hendak membunuh seorang kriminal seperti yang biasanya terjadi. Tetapi prasangkaku salah. Yang kulihat adalah seorang gadis berbaju lusuh dan tidak berdaya yang sudah dikepung hendak dibunuh."
Jadi itu caranya menilaiku pertama kalinya? Setidaknya dia tidak tahu bahwa aku hampir dibunuh karena mencuri makanan.
"Seketika itu juga aku berteriak agar mereka berhenti. Tanpa menunggu, warga berhenti dan meninggalkan tempat itu dengan kau yang terbaring lemas." Sotiras kali ini memandangku. "Saat itu aku takut bahwa gadis yang ada di hadapanku itu mati. Namun untung saja kau masih hidup."
"Takut katamu?" tanyaku heran. "Mengapa kau harus takut? Kau takut melihat orang mati ya?" Aku menggodanya. Aku beranjak dari kursiku dan mendekatinya lalu kedua tanganku bergerak-gerak seperti menghantuinya.
Sotiras mendesis kesal sembari menyingkirkan tanganku dengan tangannya. Aku tertawa saat melihat ekspresi kesalnya. Namun tanpa sadar, justru kedua mataku terkunci memandang kedua matanya.
"Maaf," Sotiras segera melepaskan kedua tanganku yang tadi dipengangnya.
Aku mengangguk-angguk cepat lalu memalingkan wajah. Kemudian aku kembali duduk di tempatku. Dengan begitu, terciptalah keheningan di antara kami kembali.
Suara orang berdehem datang dari belakang. Chára dan Chari muncul di pintu lalu berjalan mendekat kepada kami.
"Sepertinya kalian sudah sangat akrab. Kami melihatnya dari dalam tadi." Chari berkomentar.
Kedua saudara kembar itu bergabung dengan kami dan duduk di kursi.
"Apa yang Raja katakan?" Sotiras bertanya.
Chára tidak menjawab tetapi hanya menghela nafas dan menghembuskannya.
"Mengapa tidak menjawab? Ada apa?" Sotiras memperlihatkan rasa penasarannya.
"Ada beberapa kendala untuk mengadakan perayaan untuk Apo. Jadi semuanya harus ditunda untuk beberapa lama." Chari kemudian menjelaskan.
Aku tersenyum kepada mereka. "Hei, bukan masalah. Justru dengan begitu aku dapat berbaur dengan banyak orang di kerajaan ini dengan leluasa, bukan?" Aku berusaha membuat mereka tidak khawatir.
"Maaf ya situasinya menjadi seperti ini." Chára dengan penuh perhatian berusaha membuatku tenang.
"Kalau begitu, karena tidak ada yang harus kulakukan disini, aku akan kembali ke kamarku." Aku beranjak dari kursi dan minta diri. Mereka mengijinkanku lalu aku keluar dari ruangan itu.
Tubuhku terasa cukup lelah akibat ujian dan juga menghabiskan waktu di ruangan si kembar. Kurasa beristirahat jauh lebih baik.
Eitereía menepati perkataannya. Ia menjadi guru pribadiku. Banyak sekali yang ia ajarkan padaku. Berbagai macam karya sastra ia perkenalkan padaku. Selama satu minggu, dalam empat kali pertemuan aku menjalani pendidikan dengannya, kira-kira sudah sepuluh karya sastra dengan berbagai penulis berbeda sudah kupelajari. Rasanya hebat sekali.
Namun berbeda dengan sastra, selama seminggu ini, aku telah dua kali belajar permainan pedang. Namun aku justru tidak mendapatkan kemajuan. Semua ini karena guru pedangku adalah orang yang sangat pemarah. Alhasil, aku menjadi takut dan semakin banyak membuat kesalahan. Aku menjadi kesal jadinya. Seperti hari ini.
Demi menghilangkan rasa kesal dan penatku, aku menuju ke bukit untuk menghirup udara segar. Dengan gaun yang didesain untuk permainan pedang ini, aku cukup merasa diuntungkan sehingga perjalananku untuk sampai di atas bukit jadi tidak terlalu sulit.
Ada sebuah batu yang sangat besar kulihat saat aku sampai di atas bukit. Betul-betul tempat yang tepat untuk aku berbaring demi melepas penat.
Kupandang langit yang terbuka luas saat aku berbaring. Birunya langit membuatku tersenyum sendiri. Ketika melihat kesana, aku selalu bertanya-tanya apakah adikku ada disana. Adikku sayang, yang hidupnya harus berakhir tiba-tiba.
"Bagaimana bisa langit sebiru ini ya? Indah sekali,"
Aku menoleh ke sebelah kiriku dan menemukan Elpida berbaring tepat di sampingku. Terhenyak, aku terbangun dan duduk.
"Kau ini mengagetkanku saja." Kuluapkan rasa kesalku.
"Maaf ya. Aku tidak bermaksud begitu." Perkataan Elpida tiba-tiba membuatku merasa bersalah setelah berekpresi kesal padanya.
Aku mengangguk sekali. "Iya." Aku kemudian kembali berbaring.
"Aku ingin menjadi temanmu. Entah mengapa." Elpida mengungkapkannya begitu saja tanpa berbasa-basi.
Aku terhenyak. Sepanjang hidupku, terutama satu tahun terakhir ini, semua orang menolakku. Tetapi semenjak aku ada di kerajaan ini, aku merasakan apa arti hidup ini. Seseorang bahkan ingin menjadi temanku.
"Elpida, terima kasih."
0