Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Until The Day
Until The Day


********************************


Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.

~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.

Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.

Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.

© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.

INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
96
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#39
05 It's Called Life (Part 1)
Selama tiga hari berturut-turut banyak pelayan kerajaan mendatangiku dan memperkenalkan seluk beluk kerajaan. Setiap hal yang mereka ceritakan benar-benar membuatku takjub. Salah satu hal yang membuatku takjub adalah bagaimana para anggota kerajaan yang muda dididik.

Setiap orang anak muda dididik menurut potensi mereka. Pada awalnya masing-masing mendapatkan serangkaian ujian yang menunjukkan hasil dari potensi mereka. Setelah itu mereka dimasukkan ke dalam sekolah yang sesuai dengan potensi mereka itu.

Hari ini, seperti janji dari Gracia, pelayan wanita yang paling dekat denganku itu, aku akan menjalani ujian potensi itu. Sebuah gedung yang terbuat dari batu berwarna putih alami adalah tempat dimana ujian dilaksanakan.

Disana ada sekitar lima puluhan anak muda dengan usia yang bervariasi. Aku termasuk salah satu yang paling tua. Yang lainnya adalah anak-anak usia sekitar lima sampai sepuluh tahun. Kalau begini caranya, aku terlihat sangat tua. Huh.

Tanpa menunggu lama, seorang pria bertubuh tinggi dan kurus datang, berdiri di depan kami semua dan menyapa.

"Selamat datang para pelajar lanjutan sekaligus pelajar baru. Dalam beberapa jam ke depan kalian akan menjalani serangkaian ujian. Satu hal yang ingin saya sampaikan sebelum kalian memulainya adalah bagi yang sudah tahu potensi kalian, segera masuk ke dalam ruang ujian Alpha untuk memulai ujian. Bagi yang belum tolong masuk ke ruang Beta. Silakan segera menuju ke ruangan. Semoga beruntung."

Dengan berakhirnya ucapan pria itu, anak-anak muda atau yang pria tadi sebutkan sebagai pelajar segera berjalan menuju ke ruangan. Aku yang merasa tidak tahu potensiku pun masuk ke ruang Beta seperti yang sudah diinstruksikan.

Ujian pertama memiliki cukup banyak kategori. Terdapat kategori olahraga, teknologi, seni, ekonomi, kesehatan dan beberapa lainnya. Yang menarik perhatianku adalah olahraga dan seni. Kuputuskan untuk mengambil ujian di kedua kategori itu saja.

Pada ujian kedua, kedua kategori yang kupilih itu masih dibagi menjadi banyak sekali pilihan. Dari kategori olahraga, aku memilih permainan pedang, karena aku terinspirasi dengan pahlawan yang sering ibu ceritakan dulu. Sementara dari kategori seni, sastra menjadi pilihanku karena sastra selalu mengingatkanku tentang ibu.

Setelah menyelesaikan ujian kedua, seluruh 'pelajar' diberikan waktu untuk beristirahat. Aku mengambil sebuah tempat di luar ruangan yang berada tepat di bawah naungan rimbunnya pohon untuk duduk disana.

Sembari mengistirahatkan tubuhku yang pegal akibat ujian permainan pedang tadi, aku mengingat-ingat sebuah cerita yang pernah ini ceritakan padaku untuk diujikan pada tahap ujian sastra selanjutnya.

Aku menutup mata sejenak sembari memijat pelan tengkuk dan lengan atasku bergantian kanan dan kiri. Rasanya nyaman sekali.

"Apakah itu pertama kalinya kau bermain pedang?" Suara dari seorang yang tak kukenal datang dari sampingku.

Nyatalah benar dugaanku. Ketika aku membuka mata, tampak seorang gadis seumuranku duduk di sebelahku dan tersenyum padaku.

"Aku bertanya, apakah itu pertama kalinya kau bermain pedang?" Ia mengulangi pertanyaannya kembali.

"Mengapa kau menanyakan hal itu?" tanyaku tanpa berniat untuk betul-betul menjawabnya. Tentu saja. Aku kan tidak mengenalnya. Aku tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali.

Aku ingat betul, dua tahun lalu seorang gadis yang waktu itu juga seumuranku mendatangiku dan menjadi teman dekatku selama beberapa waktu. Namun pada akhirnya aku mengetahui bahwa ia bekerja sama dengan seseorang untuk mencari gadis tak berbapa atau beribu di jalanan untuk dijadikan sebagai wanita bayaran. Aku segera meninggalkannya dan tidak pernah menemuinya lagi. Mulai sejak saat itu aku tidak mau berkenalan dengan sembarang orang.

Gadis itu tertawa kecil, dan sikapnya itu membuatku heran sekaligus bingung. "Aku Elpida." Ia memperkenalkan diri tanpa diminta. "Aku juga mengambil ujian permainan pedang tadi."

"Oh," ucapku singkat.

"Kau?" Elpida bertanya karena aku tidak balik memperkenalkan namaku padanya.

"Panggil saja Apo."

Elpida tampak berpikir. "Apo... Apakah ada kepanjangannya?"

Aku menggeleng.

"Benarkah? Tidak ada? Kalau begitu biar aku yang memberikan kepanjangannya."

Aku terbelalak. Apa maunya? Memberikan kepanjangan untuk namaku? Beraninya dia.

"Kepanjangannya adalah Apoooooooo.....," Elpida pada akhirnya hanya memanjangkan suku kata terakhir dari namaku dan bukan seperti yang sudah kupikirkan. Ia kemudian tertawa terpingkal-pingkal karena dirinya sendiri.

Aku heran mengapa dia tertawa. Apa yang barusan ia lakukan bukanlah sesuatu yang lucu sehingga dapat ditertawakan.

Elpida mendesis. "Kau benar-benar tidak memiliki selera humor ya." Ia menggeleng-geleng.

"Dulu sewaktu masih kecil aku pernah belajar bermain pedang. Tapi sebentar saja." Daripada mengomentari ucapannya tadi, lebih baik aku menjawab pertanyaannya tadi. Mungkin dengan begitu dia bisa diam.

"Hmmm, kalau begitu kau harus lebih sering melatihnya. Kulihat tadi tanganku masih kaku. Lakukanlah yang terbaik agar kau dapat menguasai permainan pedang. Kau akan benar-benar membutuhkannya." Elpida menceramahiku.

Dia pikir dia siapa? Aku mendesis pelan lalu memalingkan wajah.

"Mungkin kau butuh waktu sendiri. Aku akan meninggalkanmu sendiri. Tapi jangan lupa ujian terakhir dimulai sepuluh menit lagi. Tapi itupun kalau kau masih memiliki ujian selanjutnya." Elpida berdiri lalu meninggalkanku.

Ujian tahap akhir pun akhirnya dimulai. Aku masuk ke ruangan yang telah disebutkan. Sejauh yang kulihat, aku adalah satu-satunya 'pelajar' yang tertua di ruangan ini. Sejujurnya aku merasa sedikit malu karena aku terkesan seperti murid yang tinggal kelas.

Dengan tenang aku mengerjakan beberapa pertanyaan yang ada di kertas ujianku. Hanya setengah jam lamanya aku menyelesaikan semuanya. Sesuai yang sudah diinstruksikan, aku menyerahkan kertas ujianku pada pengawas.

Bukannya diijinkan untuk meninggalkan ruangan, aku justru diminta untuk memasuki sebuah ruangan yang berbatasan dengan ruang ujian. Letaknya ada di balik dinding di belakang pengawas. Aku kemudian masuk melalui sebuah pintu tebal di dekat situ.

Suasana ruangan itu begitu tenang. Udaranya juga menyejukkan layaknya sedang berada di luar ruangan. Aku bertanya-tanya dalam hati hal ini mungkin terjadi. Sementara itu aku berjalan menuju satu-satunya orang yang ada disana dan sedang berdiri menghadap jendela.

"Permisi," ucapku pada orang itu. Aku menunggu untuk beberapa detik sampai orang itu berbalik padaku.

Seorang yang tampak muda dan bertubuh tetap tersenyum padaku. Ia mengulurkan tangan kanannya mempersilakanku duduk.

Aku mengangguk dan mengikuti instruksinya.

"Aku Etaireía. Aku yang akan menjadi penguji terakhir dalam tahap terakhir kategori Sastra." Ia memperkenalkan diri.

Kupandang kedua matanya yang berwarna abu-abu terang layaknya manik-manik perak yang kulihat di ruang pakaian beberapa waktu yang lalu. Ia memperlihatkan ketegasan melalui tatapannya.

"Dalam waktu lima sampai sepuluh menit, aku memintaku untuk menceritakan sebuah karya sastra," ia mulai memberitahukan apa yang harus kulakukan, tepat seperti pengumuman yang kudengar di ujian sebelumnya.

Aku merasa cukup siap mengingat aku sudah berlatih dengan cerita yang ini pernah ceritakan padaku dulu. Aku mengangguk pada Eteireía menandakan aku paham akan instruksinya.

"Namun, ada satu hal yang harus kau perhatikan dalam ujian ini."

Aku mengangguk lagi.

"Kau harus menceritakan sebuah karya sastra yang belum pernah didengar dimanapun."

DUG! Seluruh kepercayaan diri yang tadinya ada sekarang lenyap seketika hanya karena sebuah ucapan singkat.

"Dengan kata lain, kau harus menciptakan sebuah karya sastra secara spontan."

Astaga. Apa ini? Pengumuman itu tidak mengatakan bahwa aku harus menceritakan karya sastra baru. Lalu apa yang harus aku ceritakan sekarang?

"Apodektes --benar itu namamu?"

"Uh, ya?"

"Kau memilih untuk melanjutkan, atau berhenti sampai disini saja?" tanya Eteireía.

Aku tidak berpikir panjang saat berkata, "Aku akan melanjutkan," yang kemudian aku sesali. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku ceritakan. Aku bukanlah seorang sastrawan yang mampu menciptakan sebuah karya yang mengagumkan dalam hitungan detik.

"Kalau begitu, kau boleh mulai sekarang," ucapnya sambil memutar jam pasir yang ada di atas mejanya itu.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Suatu kali, ada seorang gadis yang tinggal bersama dengan ayah, ibu tiri dan saudara tirinya."

"Berhenti sampai disitu." Eteireía menghentikanku seketika. "Kau sedang berusaha untuk membodohiku atau bagaimana? Kau pikir aku tidak tahu bahwa itu adalah cerita Cinderella?"

Kutelan ludah dengan hati berdebar. "Maaf, tuan," ucapku hati-hati.

"Kalau begitu kau harus berhenti sampai disini dan tidak dapat melanjutkan." Eitereía dengan tegas mengatakannya sehingga hampir-hampir membuat lututku gemetar.

"Bukan begitu, maksudku, maaf apakah Anda dapat mendengarkan saya lebih dulu? Ini bukan cerita mengenai Cinderella seperti yang Anda duga."

Eitereía terdiam untuk beberapa saat lamanya kali mengijinkanku untuk bercerita kembali.

"Suatu kali, ada seorang gadis yang tinggal bersama dengan ayah, ibu tiri dan saudara tirinya," aku mengulang kembali cerita dari awal. "Pada awalnya keluarga ini cukup bahagia. Gadis itu dan saudara tirinya bergaul sangat erat layaknya adik kandung. Jarak umur yang cukup jauh membuat gadis itu menyayangi adiknya. Ia menjaganya dengan segenap hati karena adiknya itulah yang mampu membuatnya melanjutkan kehidupannya.

Bertahun-tahun lamanya kehidupan gadis itu penuh kebahagian. Namun sayang, kebahagiaan bertahun-tahun itu harus terhapuskan karena satu hari yang malang.

Suatu kali di padang rumput, gadis itu bermain bersama dengan adiknya yang telah merengek-rengek memintanya menemani demi mencari bunga kesukaannya. Hanya saja, ia tidak pernah menyangka bahwa itulah hari dimana ia kehilangan adiknya.

Tuduhan jahat bahwa gadis itu membunuh adiknya sendiri pun dilontarkan padanya. Bukan dari orang lain, tetapi dari ibu tirinya. Akibatnya gadis itu diusir dari rumah disertai fitnahan bahwa ia adalah gadis terkutuk. Ayah yang diharapkan dapat menolong justru diam saja.

Gadis itu hidup di jalanan dengan penderitaan. Karena fitnahan itu ia tidak mendapat suatu tempat untuk beristirahat atau makanan. Hal itulah yang membuatnya menjadi pencuri makanan demi menyambung hidup.

Di satu hari yang sama seperti hari-hari biasanya, keberuntungan tidak berpihak padanya. Tindakan mencurinya itu diketahui sehingga rakyat berbondong-bondong untuk menangkap bahkan membunuhnya.

Ia menutup matanya, menyerah jika ia memang harus mati hari itu. Namun ketika ia membuka kedua matanya kembali, yang ia lihat hanyalah seorang yang tidak ia kenal sedang berlutut di hadapannya dan mengulurkan tangan kanannya. Ia tahu bahwa ia baru saja terselamatkan dari kematian oleh orang asing itu."

Tepat saat aku berhenti berbicara, saat itu pula butiran pasir terakhir jatuh.

Eteireía tidak mengucapkan sepatah katapun setelah itu. Ia mengalihkan pandangannya dariku ke arah langit-langit sambil bersandar pada kursi.

Jantungku berdetak dengan kencang karena merasa cemas ketika akan mendengar keputusan yang akan diberitahukan padaku. Aku cemas kisah hidupku yang kupertaruhkan dalam ujian ini akan berakhir dengan sia-sia.

"Seandainya aku memberikanmu lebih banyak lagi waktu," ucap Eteireía.

"Uh, apa maksud tuan?" tanyaku kebingungan. Apakah ia bermaksud untuk mengujiku lebih jauh lagi? Kuharap tidak.

Eitereía tertawa kecil. "Kau lolos. Kau boleh keluar dari ruangan ini." Ia beranjak dari kursi dan berdiri.

Dengan tahu aku turut berdiri. "Sungguh? Aku lolos?"

Eitereìa mengangguk lalu mengulurkan tangan kanannya padaku dan kujabat tangannya. Dalam genggaman tangannya ia berkata, "Kau akan kudidik secara pribadi. Tunggu kabar dariku selanjutnya."

"Baik, tuan. Terima kasih," adalah kata-kata yang dapat kuucapkan sebagai tanggapan atas pernyataan Eitereía.

Dengan perasaan lega kutinggalkan ruangan itu melalui sebuah pintu yang langsung membawaku keluar dari gedung.
Diubah oleh yohanaekky 22-01-2016 11:22
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.