- Beranda
- Stories from the Heart
Until The Day
...
TS
yohanaekky
Until The Day

********************************
Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.
~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.
Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.
Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.
© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.
INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
96
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#31
04 Rejected to Accepted
Sebuah sentuhan kurasakan di bahu sebelah kananku. Entah bagaimana caranya, sentuhan itu membuat kepalaku menjadi tegak. Tidak sanggup aku menundukkannya kembali. Saat ini pun kedua mataku memandang sang Ratu yang sudah berdiri berhadapan denganku.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ratu.
"Iya," jawabku dengan suara yang jelas dan bening. Bagaimana bisa?
Ratu tersenyum. Kulihat sekilas Raja juga ikut tersenyum. Dari jarak sedekat ini, aku berani berkata bahwa orang-orang itu salah dengan mengatakan bahwa berada dekat dengan penguasa kerajaan ini hanya membawa intimidasi. Sekarang pikiranku pun terbuka. Mereka tidak seperti itu.
"Siapa namamu, nak?" tanya Raja.
Dengan ragu dan sedikit malu aku menjawab, "Aporrifthike."
Ekspresi wajah Raja dan juga Ratu berubah. Bukan jijik atau marah seperti yang dulu orang lakukan ketika mendengar namaku. Itu ekspresi yang berbeda, tetapi aku tidak sanggup menebak ekspresi apa itu.
"Mengapa orang tuamu menamakanmu dengan nama seperti itu?" giliran Ratu yang bertanya.
Aku berusaha mengingat-ingat. Dulu aku pernah mendengar secara tidak sengaja percakapan ayah dan ibu saat aku masih berumur tujuh tahun. Orang tua ayahku tidak menyetujui pernikahannya dengan ibu. Karena itulah saat aku dilahirkan, kakek dan nenekku itu pun tidak mengakuiku sebagai cucu mereka. Ayah kemudian menamaiku Aporriftikhe.
"Begitulah ceritanya," ucapku setelah kuberanikan diri membeberkan latar belakang namaku. Dalam hatiku aku merasa heran karena aku menceritakan rahasia yang dari dulu selalu kupendam kepada orang yang baru saja kutemui hari ini.
"Lalu dimana orang tuamu?" Ratu masih berusaha menggali lebih dalam mengenai diriku.
Rasa pahit itu membekas sehingga pertanyaan seperti ini sesungguhnya selalu kuhindari. Saat dulu masih di bangku sekolah, aku selalu mencari alasan ketika guru atau teman-temanku menanyakan hal ini. Namun, seperti terhipnotis, aku kembali menceritakan semuanya secara gamblang tanpa sedikit pun kututupi.
"Jangan takut, nak. Kau tidak lagi sendirian." Raja berkomentar setelah mendengar ceritaku. "Kau boleh menganggap kami sebagai keluargamu sekarang.”
Bagaimana bisa Raja mengatakan hal seperti itu padaku? Siapa aku ini? Bukankah aku hanya seorang gadis terbuang?
Air mata tiba-tiba menetes dari kedua mataku tetapi kemudian kuhapus cepat-cepat. "Maaf," ucapku.
Kurasa aku sedang bermimpi.
Ratu membelai kepalaku dengan lembut lalu memberikanku sebuah pelukan yang hangat.
Aku benar-benar bermimpi. Dan aku berharap aku tak pernah bangun dari mimpi ini.
Rasanya seperti pelukan ibu. Sudah lama sekali aku tidak berada dalam dekapan hangat seperti ini. Mungkinkah hal seperti ini nyata?
Ratu melepaskan pelukannya dariku lalu memandangku lekat-lekat. Tangannya yang lembut menghapus air mataku yang tak kusadari telah terjatuh kembali.
Raja bangkit dari kursinya lalu berdiri di sebelah Ratu sementara tangan kanannya menyentuh bahu kiriku.
"Aku memiliki kuasa atas seluruh rakyatku. Saat ini, aku menggunakannya padamu, nak. Mulai dari sekarang, namamu bukan lagi Aporrifthike, tetapi Apodektés. Kau tidak lagi ditolak, tetapi diterima.” Deklarasi singkat dari sang Raja itu membuat hatiku bergetar. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhku.
"Raja," ucapku memberanikan diri.
Ada apa, nak?
"Tidakkah ini terlalu cepat?” tanyaku.
"Terlalu cepat?"
Aku mengangguk. "Karena, Raja bahkan baru bertemu denganku tetapi begitu cepat dan mudahnya nama yang baru Raja berikan untukku. Aku bukanlah orang yang spesial untuk menerima anugerah semacam ini."
"Aporrif, uh, maksudku, Apodektés, itulah yang membuat Raja dikenal di seluruh dunia." Pangeran angkat bicara.
"Huh?" aku menoleh padanya.
Pangeran berdehem dan berlagak seperti hendak memberikan sebuah pidato penting. "Raja Dikaiosyni, terkenal karena kebijaksanaannya dan kemurahan hatinya. Ia juga dikenal dengan kemampuannya menilai orang yang baik dan jahat. Itulah mengapa Kerajaan dan seluruh negeri ini menjadi aman dan makmur. " Ia memberitahu dengan amat jelas.
Aku terkagum-kagum dalam hati sekaligus bertanya-tanya. Raja memberikanku sebuah nama baru yang secara tidak langsung membuat nasibku berubah. Mengapa sekarang aku merasa sangat istimewa? Di hadapan masyarakat di luar kerajaan aku begitu tidak berarti. Tetapi di hadapan Raja, Ratu dan Pangeran, aku serasa istimewa. Apa yang sedang terjadi dalam hidupku?
Sentuhan di lenganku membuatku tersadar dari lamunan. "Apodektés," Ratu menyebut namaku.
"Ya?"
"Kau tidak punya tempat tinggal kan?"
Aku menggeleng.
"Jadi mulai sekarang, ini rumahmu."
Kutelan ludahku tak percaya.
Ratu mengangkat tangannya dan dalam waktu singkat seorang pelayan perempuan datang mendekat. "Bawa Apodektés untuk bertemu kepala pengurus pakaian kerajaan agar ia dapat memilih pakaian dan sepatu yang disukainya,” perintahnya.
"Uh, Ratu." Pangeran menyela. "Biar aku saja yang mengantarkannya."
Ratu diam sejenak lalu mengiyakan permitaan anaknya itu. "Baiklah. Silakan."
Pelayan yang tadi diminta untuk mengantarku itu pun pergi. Sementara itu, Pangeran dan aku berpamitan pada Raja dan Ratu untuk pergi menuju ke tempat yang tadi disebutkan oleh Ratu.
Aku berjalan mengikuti Pangeran dari belakang seperti sebelumnya. Tetapi Pangeran memprotes aku karena itu.
"Kau bukan lagi Aporrifthike tetapi Apodektés. Jadi berjalanlah di sampingku seperti kau ini anggota kerajaan." Pangeran memerintahku.
Aku mengangguk lalu berjalan di sampingnya.
Sebuah tempat yang megah dengan lemari-lemari besar yang belum pernah kulihat sebelumnya adalah tempat selanjutnya dimana kakiku berjejak. Jika aku tidak cepat sadar, mungkin Pangeran sudah melihat mulutku yang ternganga begitu lebar. Bagaimana tidak? Aku sedang berdiri di ruangan yang semua gadis di dunia ingin miliki.
Dua orang pelayan wanita datang menyapa. Tak berapa lama, seorang wanita yang lebih tua, mungkin seumuran dengan Ratu juga datang dan menyapa. Dia memperkenalkan diri sebagai kepala pengurus pakaian. Pangeran menyampaikan apa yang tadi diucapkan Ratu dan ia mengajakku pergi bersamanya, sementara Pangeran pergi entah kemana.
Kepala pengurus pakaian yang ternyata bernama Eirini dan merupakan saudara Raja pun membuka salah satu lemari yang besar itu. Berbagai warna dan model pakaian terindah kulihat tergantung di depan mataku.
"Kau boleh mulai memilih, Apodektes," ucap Bibi Eirini begitu dia memintaku untuk memanggilnya.
Aku mengangguk.
Kemudian aku berjalan mendekat dan menyentuh pakaian-pakaian itu. Kain yang digunakan sangat lembut. Belum pernah seumur hidupku aku mengetahui kain sehalus ini. Tidak heran mengapa para anggota kerajaan benar-benar terlihat elegan dengan pakaian yang mereka pakai.
Setelah beberapa lamanya aku melihat-lihat pakaian-pakaian yang ada disitu, kupilih tiga buah pakaian yang menurutku cocok di tubuhku. Bibi Eirini pun menyuruh pelayan-pelayan yang ada untuk mengambilkan pakaian-pakaian itu dari gantungannya.
Bibi Eirini tersenyum padaku dengan penuh makna. "Kau ini," ucapnya sambil menggeleng-geleng.
Mataku membulat karena aku bingung atas ekspresi wajah Bibi Eirini. Aku menjadi takut jika aku membuat kesalahan. "Ya?" hanya itu yang kuputuskan untuk keluar dari bibirku.
"Bagaimana kau dapat memilih pakaian dengan bahan terbaik dan model yang menjadi andalan penjahit senior kerajaan?" begitulah ucapan Bibi Eirini.
Entah aku harus merasa bangga karena aku memiliki selera yang menakjubkan atau aku harus merasa bersalah karena aku memilih pakaian yang terlalu bagus, aku tidak dapat menentukan. "Kalau memang aku salah mengambil, tidak masalah jika aku memilih yang lain, Bibi," cepat-cepat kuberitahukan padanya agar menghindari kemungkinan adanya kesalahan padaku.
"Apo, bukan itu maksudku."
Aku menganga lagi. "Apa, Bibi?" Bingung aku jadinya.
"Jangan takut. Jika kau memilih pakaian-pakaian ini, kau boleh memilikinya. Aku barusan hanya memuji seleramu yang tinggi." Ucapan Bibi akhirnya membuatku lega. Itu artinya aku bebas dari hukuman. Aku tidak bersalah.
Aku hanya tersenyum sambil menunduk perlahan.
“Oh ya. Kau hanya mengambil tiga pakaian. Mungkin Ratu akan memarahiku karena hal ini. Jadi nanti aku akan memberikan lebih banyak pakaian lagi di kamarmu,” kata Bibi sembari mengambil salah satu pakaian yang kupilih tadi lalu memberikannya padaku. "Sekarang gantilah pakaian sederhanamu dengan yang ini."
Kulihat pakaian yang menempel di tubuhku. Ini bukan pakaianku, tetapi pakaian kerajaan yang berwarna putih polos. Perkataan Bibi membuatku sungguh heran karena ia menyebut pakaian ini sebagai pakaian sederhana. Padahal di luar kerajaan, mungkin harga pakaian ini bisa saja mahal.
Aku mengganti pakaian sederhana ku itu dengan pakaian yang kupilih tadi. Pakaian ini tampak benar-benar elegan. Model gaun sederhana yang sepanjang lutut yang berwarna hitam dengan pita di bagian pinggang belakang berwarna merah.
Kulihat refleksi diriku di cermin. Aku tersenyum ketika melihat seseorang dari masa lalu. Seorang gadis yang sama beberapa tahun lalu sebelum ibunya meninggal. Seorang gadis yang ceria dan memiliki banyak impian. Seorang gadis yang senang menunggu karena ibunya selalu berkata bahwa harapan ada.
"Wow, Putri Apodektes tampak begitu cantik dengan pakaian tersebut." Seorang pelayan wanita memujiku ketika aku keluar dari ruangan tempat aku berganti pakaian tadi.
"Putri?" komentarku. "Mengapa kau memanggilku Putri?"
Pelayan itu tersenyum sambil membungkukkan sedikit tubuhnya padaku.
"A-apa yang kau lakukan?" tanyaku bingung. Mengapa dia hormat padaku?
"Baru saja Raja mengumumkan adanya seorang anggota kerajaan yang baru disini." Pelayan tersebut menjelaskan. "Memang berita ini belum disebarluaskan, tetapi anggota kerajaan dan para pelayaan khusus sudah mengetahuinya.”
Aku tertegun mendengar semuanya ini.
"Hei, kau sudah selesai?" Pangeran muncul dari belakang pelayan itu. Lantas pelayan itu menunduk padanya dan segera menyingkir.
Aku mengangguk.
Pangeran mengamatiku dengan cermat. Kemudian ia mengangguk-angguk.
Kukerutkan dahiku dengan mata menyipit pada Pangeran agar dia paham jika aku sedang bertanya apa yang sedang ia lakukan.
"Kau," ucap Pangeran tetapi berhenti begitu saja.
Dahiku masih tetap berkerut. "Aku? Ada apa denganku?" tanyaku padanya.
Pangeran menggeleng. "Tidak ada apa-apa," ucapnya seolah menyembunyikan sesuatu.
Aku ingin bertanya lagi karena Pangeran telah membuatku penasaran, tetapi kuurungkan niatku ketika aku melihat kedua tangannya mengepal.
DUG! Jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang. Ada sesuatu yang sedang terjadi dengan Pangeran tapi aku tidak tahu apa itu.
"Ayo, ikut aku." Pangeran mengajak dan aku mengikutinya begitu saja tanpa membantah.
Beberapa lamanya kami berjalan, akhirnya kami sampai di suatu taman yang indah. Di depan taman itu terhampar sebuah labirin yang begitu indah dan besar. Pemandangan ini menyisakan sebuah pertanyaan dalam benakku, yang kemudian Pangeran jawab seolah mengerti bahwa aku menanyakannya.
"Sebagai anggota kerajaan, kau harus banyak mengerti segala sesuatu mengenai kerajaan. Salah satu yang paling penting adalah labirin ini." Pangeran memulai ucapannya.
Aku hanya terdiam mengamatinya dengan telingaku terbuka lebar mencermati setiap kata yang ia ucapkan.
"Setiap anggota kerajaan yang berumur di bawah dua puluh tahun harus mengikuti latihan setiap hari sebagai upaya mempersiapkan diri untuk sebuah ujian."
Aku mengerutkan dahulu tanda tak mengerti. "Jelaskan apa maksudmu. Aku sungguh tidak mengerti," ucapku terang-terangan.
Pangeran tersenyum. "Tidak sekarang. Ada saatnya kau akan tahu. Sekarang kembalilah ke kamarmu."
"Apakah itu sebuah perintah?" tanyaku berhati-hati mengingat statusku sebagai anggota kerajaan masih baru.
Hanya tawa yang kudengar dari mulutnya, dan tawa itu sama sekali tidak kumengerti.
"Mengapa kau tertawa?"
Pangeran berdehem seraya menghentikan tawanya. "Itu bukan perintah. Hanya anjuran. Karena ini sudah sore dan kurasa kau perlu membasuh diri." Ia menjelaskan dengan tenang.
Aku berkata 'oh' tanpa suara sembari mengangguk satu kali. Aku menundukkan kepalaku sedikit lalu berbalik ke arah kerajaan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ratu.
"Iya," jawabku dengan suara yang jelas dan bening. Bagaimana bisa?
Ratu tersenyum. Kulihat sekilas Raja juga ikut tersenyum. Dari jarak sedekat ini, aku berani berkata bahwa orang-orang itu salah dengan mengatakan bahwa berada dekat dengan penguasa kerajaan ini hanya membawa intimidasi. Sekarang pikiranku pun terbuka. Mereka tidak seperti itu.
"Siapa namamu, nak?" tanya Raja.
Dengan ragu dan sedikit malu aku menjawab, "Aporrifthike."
Ekspresi wajah Raja dan juga Ratu berubah. Bukan jijik atau marah seperti yang dulu orang lakukan ketika mendengar namaku. Itu ekspresi yang berbeda, tetapi aku tidak sanggup menebak ekspresi apa itu.
"Mengapa orang tuamu menamakanmu dengan nama seperti itu?" giliran Ratu yang bertanya.
Aku berusaha mengingat-ingat. Dulu aku pernah mendengar secara tidak sengaja percakapan ayah dan ibu saat aku masih berumur tujuh tahun. Orang tua ayahku tidak menyetujui pernikahannya dengan ibu. Karena itulah saat aku dilahirkan, kakek dan nenekku itu pun tidak mengakuiku sebagai cucu mereka. Ayah kemudian menamaiku Aporriftikhe.
"Begitulah ceritanya," ucapku setelah kuberanikan diri membeberkan latar belakang namaku. Dalam hatiku aku merasa heran karena aku menceritakan rahasia yang dari dulu selalu kupendam kepada orang yang baru saja kutemui hari ini.
"Lalu dimana orang tuamu?" Ratu masih berusaha menggali lebih dalam mengenai diriku.
Rasa pahit itu membekas sehingga pertanyaan seperti ini sesungguhnya selalu kuhindari. Saat dulu masih di bangku sekolah, aku selalu mencari alasan ketika guru atau teman-temanku menanyakan hal ini. Namun, seperti terhipnotis, aku kembali menceritakan semuanya secara gamblang tanpa sedikit pun kututupi.
"Jangan takut, nak. Kau tidak lagi sendirian." Raja berkomentar setelah mendengar ceritaku. "Kau boleh menganggap kami sebagai keluargamu sekarang.”
Bagaimana bisa Raja mengatakan hal seperti itu padaku? Siapa aku ini? Bukankah aku hanya seorang gadis terbuang?
Air mata tiba-tiba menetes dari kedua mataku tetapi kemudian kuhapus cepat-cepat. "Maaf," ucapku.
Kurasa aku sedang bermimpi.
Ratu membelai kepalaku dengan lembut lalu memberikanku sebuah pelukan yang hangat.
Aku benar-benar bermimpi. Dan aku berharap aku tak pernah bangun dari mimpi ini.
Rasanya seperti pelukan ibu. Sudah lama sekali aku tidak berada dalam dekapan hangat seperti ini. Mungkinkah hal seperti ini nyata?
Ratu melepaskan pelukannya dariku lalu memandangku lekat-lekat. Tangannya yang lembut menghapus air mataku yang tak kusadari telah terjatuh kembali.
Raja bangkit dari kursinya lalu berdiri di sebelah Ratu sementara tangan kanannya menyentuh bahu kiriku.
"Aku memiliki kuasa atas seluruh rakyatku. Saat ini, aku menggunakannya padamu, nak. Mulai dari sekarang, namamu bukan lagi Aporrifthike, tetapi Apodektés. Kau tidak lagi ditolak, tetapi diterima.” Deklarasi singkat dari sang Raja itu membuat hatiku bergetar. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhku.
"Raja," ucapku memberanikan diri.
Ada apa, nak?
"Tidakkah ini terlalu cepat?” tanyaku.
"Terlalu cepat?"
Aku mengangguk. "Karena, Raja bahkan baru bertemu denganku tetapi begitu cepat dan mudahnya nama yang baru Raja berikan untukku. Aku bukanlah orang yang spesial untuk menerima anugerah semacam ini."
"Aporrif, uh, maksudku, Apodektés, itulah yang membuat Raja dikenal di seluruh dunia." Pangeran angkat bicara.
"Huh?" aku menoleh padanya.
Pangeran berdehem dan berlagak seperti hendak memberikan sebuah pidato penting. "Raja Dikaiosyni, terkenal karena kebijaksanaannya dan kemurahan hatinya. Ia juga dikenal dengan kemampuannya menilai orang yang baik dan jahat. Itulah mengapa Kerajaan dan seluruh negeri ini menjadi aman dan makmur. " Ia memberitahu dengan amat jelas.
Aku terkagum-kagum dalam hati sekaligus bertanya-tanya. Raja memberikanku sebuah nama baru yang secara tidak langsung membuat nasibku berubah. Mengapa sekarang aku merasa sangat istimewa? Di hadapan masyarakat di luar kerajaan aku begitu tidak berarti. Tetapi di hadapan Raja, Ratu dan Pangeran, aku serasa istimewa. Apa yang sedang terjadi dalam hidupku?
Sentuhan di lenganku membuatku tersadar dari lamunan. "Apodektés," Ratu menyebut namaku.
"Ya?"
"Kau tidak punya tempat tinggal kan?"
Aku menggeleng.
"Jadi mulai sekarang, ini rumahmu."
Kutelan ludahku tak percaya.
Ratu mengangkat tangannya dan dalam waktu singkat seorang pelayan perempuan datang mendekat. "Bawa Apodektés untuk bertemu kepala pengurus pakaian kerajaan agar ia dapat memilih pakaian dan sepatu yang disukainya,” perintahnya.
"Uh, Ratu." Pangeran menyela. "Biar aku saja yang mengantarkannya."
Ratu diam sejenak lalu mengiyakan permitaan anaknya itu. "Baiklah. Silakan."
Pelayan yang tadi diminta untuk mengantarku itu pun pergi. Sementara itu, Pangeran dan aku berpamitan pada Raja dan Ratu untuk pergi menuju ke tempat yang tadi disebutkan oleh Ratu.
Aku berjalan mengikuti Pangeran dari belakang seperti sebelumnya. Tetapi Pangeran memprotes aku karena itu.
"Kau bukan lagi Aporrifthike tetapi Apodektés. Jadi berjalanlah di sampingku seperti kau ini anggota kerajaan." Pangeran memerintahku.
Aku mengangguk lalu berjalan di sampingnya.
Sebuah tempat yang megah dengan lemari-lemari besar yang belum pernah kulihat sebelumnya adalah tempat selanjutnya dimana kakiku berjejak. Jika aku tidak cepat sadar, mungkin Pangeran sudah melihat mulutku yang ternganga begitu lebar. Bagaimana tidak? Aku sedang berdiri di ruangan yang semua gadis di dunia ingin miliki.
Dua orang pelayan wanita datang menyapa. Tak berapa lama, seorang wanita yang lebih tua, mungkin seumuran dengan Ratu juga datang dan menyapa. Dia memperkenalkan diri sebagai kepala pengurus pakaian. Pangeran menyampaikan apa yang tadi diucapkan Ratu dan ia mengajakku pergi bersamanya, sementara Pangeran pergi entah kemana.
Kepala pengurus pakaian yang ternyata bernama Eirini dan merupakan saudara Raja pun membuka salah satu lemari yang besar itu. Berbagai warna dan model pakaian terindah kulihat tergantung di depan mataku.
"Kau boleh mulai memilih, Apodektes," ucap Bibi Eirini begitu dia memintaku untuk memanggilnya.
Aku mengangguk.
Kemudian aku berjalan mendekat dan menyentuh pakaian-pakaian itu. Kain yang digunakan sangat lembut. Belum pernah seumur hidupku aku mengetahui kain sehalus ini. Tidak heran mengapa para anggota kerajaan benar-benar terlihat elegan dengan pakaian yang mereka pakai.
Setelah beberapa lamanya aku melihat-lihat pakaian-pakaian yang ada disitu, kupilih tiga buah pakaian yang menurutku cocok di tubuhku. Bibi Eirini pun menyuruh pelayan-pelayan yang ada untuk mengambilkan pakaian-pakaian itu dari gantungannya.
Bibi Eirini tersenyum padaku dengan penuh makna. "Kau ini," ucapnya sambil menggeleng-geleng.
Mataku membulat karena aku bingung atas ekspresi wajah Bibi Eirini. Aku menjadi takut jika aku membuat kesalahan. "Ya?" hanya itu yang kuputuskan untuk keluar dari bibirku.
"Bagaimana kau dapat memilih pakaian dengan bahan terbaik dan model yang menjadi andalan penjahit senior kerajaan?" begitulah ucapan Bibi Eirini.
Entah aku harus merasa bangga karena aku memiliki selera yang menakjubkan atau aku harus merasa bersalah karena aku memilih pakaian yang terlalu bagus, aku tidak dapat menentukan. "Kalau memang aku salah mengambil, tidak masalah jika aku memilih yang lain, Bibi," cepat-cepat kuberitahukan padanya agar menghindari kemungkinan adanya kesalahan padaku.
"Apo, bukan itu maksudku."
Aku menganga lagi. "Apa, Bibi?" Bingung aku jadinya.
"Jangan takut. Jika kau memilih pakaian-pakaian ini, kau boleh memilikinya. Aku barusan hanya memuji seleramu yang tinggi." Ucapan Bibi akhirnya membuatku lega. Itu artinya aku bebas dari hukuman. Aku tidak bersalah.
Aku hanya tersenyum sambil menunduk perlahan.
“Oh ya. Kau hanya mengambil tiga pakaian. Mungkin Ratu akan memarahiku karena hal ini. Jadi nanti aku akan memberikan lebih banyak pakaian lagi di kamarmu,” kata Bibi sembari mengambil salah satu pakaian yang kupilih tadi lalu memberikannya padaku. "Sekarang gantilah pakaian sederhanamu dengan yang ini."
Kulihat pakaian yang menempel di tubuhku. Ini bukan pakaianku, tetapi pakaian kerajaan yang berwarna putih polos. Perkataan Bibi membuatku sungguh heran karena ia menyebut pakaian ini sebagai pakaian sederhana. Padahal di luar kerajaan, mungkin harga pakaian ini bisa saja mahal.
Aku mengganti pakaian sederhana ku itu dengan pakaian yang kupilih tadi. Pakaian ini tampak benar-benar elegan. Model gaun sederhana yang sepanjang lutut yang berwarna hitam dengan pita di bagian pinggang belakang berwarna merah.
Kulihat refleksi diriku di cermin. Aku tersenyum ketika melihat seseorang dari masa lalu. Seorang gadis yang sama beberapa tahun lalu sebelum ibunya meninggal. Seorang gadis yang ceria dan memiliki banyak impian. Seorang gadis yang senang menunggu karena ibunya selalu berkata bahwa harapan ada.
"Wow, Putri Apodektes tampak begitu cantik dengan pakaian tersebut." Seorang pelayan wanita memujiku ketika aku keluar dari ruangan tempat aku berganti pakaian tadi.
"Putri?" komentarku. "Mengapa kau memanggilku Putri?"
Pelayan itu tersenyum sambil membungkukkan sedikit tubuhnya padaku.
"A-apa yang kau lakukan?" tanyaku bingung. Mengapa dia hormat padaku?
"Baru saja Raja mengumumkan adanya seorang anggota kerajaan yang baru disini." Pelayan tersebut menjelaskan. "Memang berita ini belum disebarluaskan, tetapi anggota kerajaan dan para pelayaan khusus sudah mengetahuinya.”
Aku tertegun mendengar semuanya ini.
"Hei, kau sudah selesai?" Pangeran muncul dari belakang pelayan itu. Lantas pelayan itu menunduk padanya dan segera menyingkir.
Aku mengangguk.
Pangeran mengamatiku dengan cermat. Kemudian ia mengangguk-angguk.
Kukerutkan dahiku dengan mata menyipit pada Pangeran agar dia paham jika aku sedang bertanya apa yang sedang ia lakukan.
"Kau," ucap Pangeran tetapi berhenti begitu saja.
Dahiku masih tetap berkerut. "Aku? Ada apa denganku?" tanyaku padanya.
Pangeran menggeleng. "Tidak ada apa-apa," ucapnya seolah menyembunyikan sesuatu.
Aku ingin bertanya lagi karena Pangeran telah membuatku penasaran, tetapi kuurungkan niatku ketika aku melihat kedua tangannya mengepal.
DUG! Jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang. Ada sesuatu yang sedang terjadi dengan Pangeran tapi aku tidak tahu apa itu.
"Ayo, ikut aku." Pangeran mengajak dan aku mengikutinya begitu saja tanpa membantah.
Beberapa lamanya kami berjalan, akhirnya kami sampai di suatu taman yang indah. Di depan taman itu terhampar sebuah labirin yang begitu indah dan besar. Pemandangan ini menyisakan sebuah pertanyaan dalam benakku, yang kemudian Pangeran jawab seolah mengerti bahwa aku menanyakannya.
"Sebagai anggota kerajaan, kau harus banyak mengerti segala sesuatu mengenai kerajaan. Salah satu yang paling penting adalah labirin ini." Pangeran memulai ucapannya.
Aku hanya terdiam mengamatinya dengan telingaku terbuka lebar mencermati setiap kata yang ia ucapkan.
"Setiap anggota kerajaan yang berumur di bawah dua puluh tahun harus mengikuti latihan setiap hari sebagai upaya mempersiapkan diri untuk sebuah ujian."
Aku mengerutkan dahulu tanda tak mengerti. "Jelaskan apa maksudmu. Aku sungguh tidak mengerti," ucapku terang-terangan.
Pangeran tersenyum. "Tidak sekarang. Ada saatnya kau akan tahu. Sekarang kembalilah ke kamarmu."
"Apakah itu sebuah perintah?" tanyaku berhati-hati mengingat statusku sebagai anggota kerajaan masih baru.
Hanya tawa yang kudengar dari mulutnya, dan tawa itu sama sekali tidak kumengerti.
"Mengapa kau tertawa?"
Pangeran berdehem seraya menghentikan tawanya. "Itu bukan perintah. Hanya anjuran. Karena ini sudah sore dan kurasa kau perlu membasuh diri." Ia menjelaskan dengan tenang.
Aku berkata 'oh' tanpa suara sembari mengangguk satu kali. Aku menundukkan kepalaku sedikit lalu berbalik ke arah kerajaan.
Diubah oleh yohanaekky 20-01-2016 20:46
0