- Beranda
- Stories from the Heart
ROCKER Juga Butuh CINTA
...
TS
micky10
ROCKER Juga Butuh CINTA

Quote:
"Mas.... dapat paketan lagi nih...."
"Paketan opo Fan?"
"Embuh iki mas.... dari Gagas Media.... paling yo returan naskah mas.... Ditolak lagi yo..."
"Wes taruhen kamar wae Fan...."
"Owalah.... wes jualan gado-gado ae lho mas.... jadi penulis itu ndak gampang e..."
"Sing penting lak udah usaha... nembak cewek juga gak langsung di terima toh?"
"Yowes lah... tak berangkat kuliah dulu yo mas... owh iyo mas, Bokep e sing kemarin ojo di hapus sek yo... mau tak copy e...."
"??? Ndasmu...!!!!"
"Paketan opo Fan?"
"Embuh iki mas.... dari Gagas Media.... paling yo returan naskah mas.... Ditolak lagi yo..."
"Wes taruhen kamar wae Fan...."
"Owalah.... wes jualan gado-gado ae lho mas.... jadi penulis itu ndak gampang e..."
"Sing penting lak udah usaha... nembak cewek juga gak langsung di terima toh?"
"Yowes lah... tak berangkat kuliah dulu yo mas... owh iyo mas, Bokep e sing kemarin ojo di hapus sek yo... mau tak copy e...."
"??? Ndasmu...!!!!"
Hari itu tepat untuk ke-empat kalinya naskah novel aku di tolak sama penerbit. Kenapa? yo ndak tau aku... mungkin naskah aku terlalu jelek, terlalu tebal, terlalu menguras air mata atau terlalu susah di mengerti karena di ketik dengan bahasa sansekerta.... tapi yo embuh lah rek. mungkin nanti teman-teman bisa lah menilai gitu.
owh iyo aku dari malang nama aku Micky....nama asli iki... beneran.... bukan nama panggung....sumpah. Aku ini e cuma penulis lepas musiman. Yang cuma nulis pas abis gajian doang. Pas uang gajian udah habis ya ndak nulis lagi. Yo gimana yo.... aku tuh percaya gitu kalau inspirasi terbesar akan datang kalau dompet kita lagi penuh.... Kalau uang wes habis ya gitu lemes lagi nggak punya inspirasi. Jadi Fakir Inspirasi... ahhh wes embuh lah rek...
Setelah melalui beberapa penolakan, akhirnya aku udah sampai di taraf putus asa. Mungkin memang ndak layak terbit. Ndak layar di komersilkan naskah ini. untuk itulah saya mencoba untuk berbagi, Sharing lah gitu maksudnya di SFTH. Semoga bisa menjadi obat susah buang air besar... Mungkin penolakan-penolakan itu membuat aku tuh sadar kalau bakat ku bukan di dunia menulis... mungkin yang lain... nambal ban, nggoreng endog atau ngosek njeding...
Koyok kata temenku...
"Mas... Tenang wae.... aku yakin banget di balik sebuah penolakan, pasti ada penolakan-penolakan berikutnya... Sing sabar..."
"??? Uassuu...!!"
"??? Uassuu...!!"
ROCKER Juga Butuh CINTA
Quote:
1. Rocker Edan
2. Mie Ayam Pak Dul
3. Tragedi Mr. Shock
4. Numpang ngeksis di Mading
5. The Gankster
6. Senyum Manis di Jazz Biru
7. I'll find you...
8. Naya...
9. Asep, Ilmuwan gila...
10. Rujak 24 Cabe
11. I Need You Sep
12. Lagu buat Naya
13. Finding Naya...
14. “No handphoneku, ingatkan aku ya…”
15. Persiapan Manggung...
16. Rockin Cafe, I’m broken heart
17. Don't You Cry, Naya...
18. Semua Sayang Ken
19. Pengintaian
20. Undangan Naya
21. Happy Birthday Nay...
22. Hah?? Jakarta??
23. Good Bye Naya.... (End)
Quote:
1. Rocker Edan
Malang, kota terbesar ke 2 di jawatimur. Lokasinya yang di kelilingi gunung dan perbukitan membuat kota ini menjadi lebih sejuk dan tenang. Jauh dari segala pencemaran, udara, air dan pencemaran manusia. Maksudnya tingkat kepadatan penduduk di malang masih relative rendah. Tidak sepadat Surabaya atau Jakarta yang dimana setiap kita melangkah selalu bertemu dengan makhluk yang namanya manusia.
Malang diKenal sebagai kota pendidikan, lebih dari 20 universitas tersebar disini. Mau yang kecil sampai besar, D1 sampai S3, ato sekedar universitas penyemarak alias universitas yang tak lebih dari sekedar tempat kursus pun ada disini. Namun dari itu semua, ada 2 universitas negeri yang menjadi tujuan mahasiswa dari seluruh pelosok negeri. Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, letak keduanya pun berhadapan. Soal kualitas, jangan pernah memandang sebelah mata. Keduanya memiliki kredibilitas tinggi dalam segi pendidikan, dan prospek karier kedepannya.
Satu lagi instansi negeri yang juga bisa dianggap menjadi pilarnya pendidikan kota malang, Politeknik Negeri Malang. Menawarkan jenjang D1-D4, dalam hal teknik dan perniagaan Politeknik Negeri Malang boleh di banggakan. Tapi ada yang aneh, seharusnya kita tak perlu membahas sejauh ini tentang pendidikan kota Malang. Namun hal ini lah yang akan mewarnai awal cerita kita.
Ken atau Kenthus Prawiryasudhirja, 20 tahun,mahasiswa semester 4 fakultas Teknik Elektro Brawijaya. Penampilan lebih mirip preman kampung yang baru masuk kampus. Gelang metal terbuat dari perpaduan besi daur ulang dan karet sisa produksi sandal jepit gak pernah lepas dari pergelangan tangannya. Jaket lusuh nan kumal yang sudah sejak 2 tahun lalu produksinya dihentikan karena dinilai sudah tak layak publish masih saja menghiasi tubuhnya yang kurus nan proposional. Rambut setengah gondrongnya membuatnya paten sebagai pemuda anti kemapanan, terutama kemapanan soal penampilan. Mandi aja udah untung tuh. Merek deodorant sih hafal, tapi tak satu pun pernah dia gunakan manfaatnya.
Langkahnya begitu ceria, seakan tak ada beban hari itu. Baginya tugas laporan penelitian ala Mr.Shock bukan sesuatu hal patut dipusing kan. Sebagai informasi, Mr Shock adalah julukan familiar untuk dosen bernama lengkap Drs.Pomo Supomo ST , MT. Tuh kan, dari namanya aja mungkin lu bisa ngebayangin bagaimana tampang tuh orang. Perawakan tinggi semampai dengan postur agak kurus dan berkaca mata. Rambutnya yang cepak di sisir mengikuti arah angin, karna tidak bisa di prediksikan hari ini apakah belah pinggir kiri ato kanan.
Julukan Mr. Shock di berikan bukan tanpa alasan, pengumuman kuis yang di berikan 5 menit menjelang kuis itu dilaksanakan. Mungkin satu alasan jelas mengapa beliau layak mendapatkan julukan tersebut. Mr. shock adalah satu dari beberapa dosen yang selalu menjadi point penting dari hari-hari Ken dikampus. Bukan karena Ken anak rajin yang selalu membantu dosen menyampaikan materi ke adik2 angkatan ato yang biasa kita sebut asisten dosen, melainkan defisit nilai Ken dalam mata kuliah yang mereka ajar cukup memusingkan.
Apapun itu tak menjadikan langkah kecil dari telapak kaki berbalut sepatu punk converse tahun 2009 itu berhenti melangkah. Senyumnya terus merekah sepanjang lorong gedung Fakultas Ekonomi. Meskipun bukan gedung dimana dia kuliah namun cuek aja. Hanya sapaan kecil yang kerap di tebarnya kala berpapasan dengan mahasiswi siapa saja, entah Ana, Susi, Deri, Prita, Jovanca, Meri, Alina pokoknya di sapa abis, layak nya playboy cap “senapan angin” yang tidak pernah kehabisan pelor. Selalu aja ada ribuan “serbet dapur” untuk merayu mahasiswi-mahasiswi itu.
Asik berjalan di lorong gedung membuat Ken teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang mungkin akan menjadi peristiwa memalukan dalan hidupnya. Dimana seorang mahasiswa teknik elektro bertampang sangar harus mengepel lantai lorong selama seminggu hanya karena hal bodoh yang jarang di lakukan mahasiswa pada umumnya. Membuat kegaduhan dengan jimbe dekil untuk misi menakluk hati Diana, anak FE 2009. Iya kalo pada saat itu adalah hari-hari normal, sialnya saat itu tengah di lakukan rapat yudisium dosen-dosen Fakultas Ekonomi. Bukan hati Diana yang berhasil di taklukkan, tapi kain pel dan ember karbol lah yang menemani Ken selama seminggu di lorong itu.
Cerita lama, setidaknya saat itu Ken bisa tahu berapa perbandingan komposisi antara karbol dan air agar kerak-kerak di ubin bisa hilang tanpa menjadikan lantai itu licin. Ken adalah anak sulung dari 3 bersaudara, adiknya yang pertama masih bergelut di kelas X di sebuah SMA negeri di Blitar. Dan yang kedua masih mereguk manisnya masa-masa SMP. Ayahnya hanya seorang Seniman pembuat Gerabah yang mengadu peruntungan dari sebuah bengkel kecil di ujung pasar Gede Blitar. Dunia gerabah memang tak begitu mengena di diri Ken, tapi Ken lebih suka pada dunia Teknik. Gen yang lebih dominan adalah gen Musisi. Dalam sejarah nenek moyang Ken, tidak ada kakek buyut nya yang menekuni seni musik. Petani, Masinis kereta, dan seorang juragan tanah. Tidak ada darah seniman, entah dia dapat dari mana darah seni itu. Mungkin dulu dia pernah kecelakaan dan mengalami pendarahan hebat butuh transfusi darah dari PMI. dan bisa disimpulkan darah yang di transfusikan berasal dari donor seorang seniman terKenal, sekelas Piyu, Dewa Bujana, Andra Ramadhan, Ahmad Dhani atau mungkin juga Freddie Mercury. Entah lah, yang jelas darah seni itu membuat Ken kadang bertindak di luar akal sehat.
Ibu Ken adalah seorang ibu rumah tangga yang anggun, banyak petuah-petuah hidup yang Ken dapatkan dari sang ibu, mulai dari nasihat untuk terus menyambung tali silahturahmi hingga wejangan tentang memilih calon istri yang lebih membumi. Membumi? Sampai novel ini di tulis saya belum tahu arti sebenarnya dari kata-kata itu. Maybe anda bisa googling ato sekedar mencari primbon jawa warisan eyang kakung. Sebagai saran, kalo nyari primbon cari yang cetakan pertama karena lebih original dari segi isi dan bahan kertas. ya itu pun kalo belum menjadi fosil.
“Wooii!!…pak de kalo nulis cerita yang bener dunk…ini gimana ceritanya ? nyeritain keluarga malah ngomongin primbon…!!!”
“Iyee…ini saya terusin…wong cuma ngasih tips doang dikit…ini saya terusin…”
“Iyee…ini saya terusin…wong cuma ngasih tips doang dikit…ini saya terusin…”
Maaf gangguan dikit pembaca, biasa Ken. Bawaannya sensitif tuh orang. Kita kembali ke cerita.
Kakinya terus melangkah sepanjang lorong gedung, hingga dia temukan tulisan “Kantin”. Tempat favorit semua mahasiswa berduit yang kelaparan. Tapi buat Ken kriteria kelaparan saja sudah bisa menjadikan kantin sebagai tempat favorit. Soal duit…kan bisa ngutang. Itulah fungsinya sahabat, versi dia tentunya.
Diubah oleh micky10 12-04-2016 15:48
Gimi96 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
23.7K
Kutip
99
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
micky10
#62
Quote:
21. Happy Birthday, Nay…
Rumah Naya berada di Bilangan Perumahan ARAYA. Perumahan Elit di Malang, yang sejak Rumah-rumah disana selesai di bangun hanya pembantu dan anjing penjaga saja yang menempati. Rumahnya berada di sudut perempatan membuat tampak semakin megah dari 2 sisi. Di bagian depannya di topang dengan 2 buah pilar besar yang tepat menghadap ke sudut perempatan yang di tengahnya terdapat taman melingkar. Pagar besi berwarna hitam dengan anyelir berbahan kaca bermotif Kristal membatasi rumah itu dengan jalan kompleks. Di depan rumah berjajar puluhan pot bunga-bunga yang cukup langka. Anggrek bulan, Mawar biru, Adenium dan lain sebagainya. Pelataran halaman juga subur akan rumput taman yang halus layaknya lapangan golf. Suasana malam dengan cahaya Up light yang menyorot sudut rumah membuat tampak jelas seperti istana para peri. Garasinya pun berjajar beberapa mobil, temasuk jazz biru yang sempat jadi buronan Ken.
Yah mungkin pembaca harap maklum saja ya. Ni anak-anak emang jarang banget liat rumah segede ini. Mohon maaf ya…mungkin bagian ini di skip saja. Mohon maaf…
Kita langsung saja ke bagian dimana Ken sudah mulai gak karuan dengan penampilannya. Kemeja hitam dengan setelan jeans coklat dan masih di hiasi sepatu belel Converse kesayangannya. Perasaannya gusar menerima Kenyataan bahwa penampilannya tidak seperti pangeran di cerita-cerita dongeng. Yang datang ke pesta dengan jubah kebesaran dan menunggang Kereta Kencana.
Yang emang udah gerah dengan perilaku konyol keduanya. Sementara Ano dan Jeje tetap konsen memandangi rumput taman. Sesekali memegangnya dan saling berhadapan lalu tertawa. Gila…!!
Kekacauan yang mereka buat di luar juga sama dengan apa yang mereka buat di dalam. Mungkin bisa kita bayangkan bagaimana reaksi segerombolan Buaya yang kelaparan mendapatkan jatah makan seekor ayam. Bringas, buas, dan ganas. Begitulah juga mereka, berbagai jenis makanan di comot, berbagai jenis camilan di comot, berbagai jenis cewe juga di comot. Eh…ya nggak gitu juga sih. Tapi norak deh. Dei sampai harus menjauh beberapa meter melihat gelagat Dodo , Ano dan Jeje yang semakin kesurupan dengan makanan gratis di depan mereka.
Ricuh…!!! Belum lagi bentuk mulut mereka yang masih di penuhi makanan menyonyo kaya maling di tabokin hansip. Gitu juga tangan kiri, tangan kanan ampe kantong juga penuh makanan. Bener-bener memprihatinkan. Seharusnya Naya berfikir 1001 kali sebelum ngundang ni bocah-bocah.
Sementara itu di sudut lain Ken tampak celingak-celinguk. Bukan makanan, minuman ato kantong plastic yang dia cari. Melainkan Naya, yang sejak dia masuk ke rumah itu tak di lihatnya. Sudah seperti pesta tak bertuan, tak ada sambutan dari yang punya hajat. Para tamu yang tak lain adalah teman-teman kampus pun tambak enjoy dengan yang tersedia disitu. Ada yang makan, minum, ngobrol dan bercanda tawa. Seperti tak menghiraukan dimana yang sedang berultah. Tapi untungnya Ken care tentang hal itu.
Mata nya terus menatap setiap sudut rumah. Menelanjangi setiap area yang cukup luas. Dia berfikir apakah Naya masih sibuk dandan? Ato masih nyari baju yang pas untuk acara specialnya ini? Ahh…Naya tanpa make up dan baju bagus pun sudah terlihat sangat cantik. Jadi buat apa itu semua. Dilihatnya sebuah bingkisan kado berwarna merah hati bertulis “For my lovely” . “ini pasti Kado dari Riyo” katanya dalam hati. Langkahnya terus berjalan hingga halaman belakang yang cukup sunyi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi sebuah suara membuatnya berfikir lain.
Ohh…ternyata Riyo nggak bisa hadir. Yang ada cuma kado pemberiannya. Kasihan Naya, seharusnya kan di hari special justru orang special lah sangat dinanti kehadirannya. Bukan seperti ini.
Raut wajah sedih dan kecewa tercermin jelas. Air matapun menetes membasahi pipinya halus. Tubuhnya mulai terasa lemas dengan kesedihan. Terduduk lesu di kursi taman yang panjang. Menyakitkan memang, seharusnya hari itu penuh gelak tawa. Bukan Air mata. Bukan juga kesedihan, tapi senyum gembira.
Ken pun tertunduk melihat itu. Dia nggak menyangka untuk kesekian kalinya melihat Naya bersedih hingga harus menangis. Senyum seperti saat melihat Naya itulah yang ingin selalu dia liat.
Kali ini tak ada usaha untuk berhenti menangis ato sekedah mengusap air mata seperti di kampus saat itu. Kali ini dia pasrah dengan apa yang terjadi. Berkali-kali disakiti oleh Riyo, sudah membuatnya akrab akan air mata.
Pandangannya hanya lurus kedepan. tak banyak yang bias dia katakan. Hatinya sudah sangat dalam tersakiti.
Belum selesai kata-kata Ken, Naya sudah merebahkan kepalanya ke bahu Ken sambil terdengar lirih suara sesenggukan tangis Naya. Sumpah, ini pertama kalinya ada cewe se cantik Naya mau menggunakan jasa bahu Ken untuk menangis. krena sebelumnya lalat aja ogah nemplok, apa lagi cewe.
Ken tak menjawab. Ini adalah pertanyaan yang paling sulit yang pernah dia dengar, melebihi ujian dari Mr. Shock sekalipun. Tak ada pilihan ganda untuk pertanyaan ini. Jadi diam adalah jawaban yang tepat saat itu. Dimana malam mulai meninggi dengan angin lembut kota Malang. Tak ada kata-kata sedikit pun.
Pertanyaan Naya masih terngiang di otak Ken seiring mobil yang membawa dia pulang. Seraya tak menghiraukan ketiga temennya, Dodo, Ano dan Jeje tertidur pulas kekenyangan. Atau pun Deia yang serius menyetir layaknya gaya membalap Suki di Fast 2 Furious. Semua tak di hiraukannya, bagi Ken itulah pertanyaan yang membuat akal sehatnya bergeser 78.9 derajat bujur timur, dan 34.5 derajat lintang utara yang merupakan koordinat rumah Naya.
Seandainya Ken mau menjawab pertanyaan itu, apa yang akan keluar dari bibir nya.“Karena aku sayang kamu Naya” ato “Karena aku mencintaimu Nay”. Susah pren ngucapin itu, jika orang yang kita cintai ada di samping kita. Ini yang di namakan cinta sejati pren. Saat kita sadar tak mungkin memilikinya, kita masih tetap menghibur dan menemaninya disaat sedih. Masih mendukungnya dan berdiri di membelanya saat dia terbang tinggi ataupun tersungkur. Seperti apa yang di katakan Mantan Presiden Amerika John F Kennedy, jangan pernah bertanya apa yang sudah dia berikan padamu, tapi tanyakan pada hatimu apa yang sudah kau berikan kepadanya. Ele…ele…edun kata-katanya ueey.
Rumah Naya berada di Bilangan Perumahan ARAYA. Perumahan Elit di Malang, yang sejak Rumah-rumah disana selesai di bangun hanya pembantu dan anjing penjaga saja yang menempati. Rumahnya berada di sudut perempatan membuat tampak semakin megah dari 2 sisi. Di bagian depannya di topang dengan 2 buah pilar besar yang tepat menghadap ke sudut perempatan yang di tengahnya terdapat taman melingkar. Pagar besi berwarna hitam dengan anyelir berbahan kaca bermotif Kristal membatasi rumah itu dengan jalan kompleks. Di depan rumah berjajar puluhan pot bunga-bunga yang cukup langka. Anggrek bulan, Mawar biru, Adenium dan lain sebagainya. Pelataran halaman juga subur akan rumput taman yang halus layaknya lapangan golf. Suasana malam dengan cahaya Up light yang menyorot sudut rumah membuat tampak jelas seperti istana para peri. Garasinya pun berjajar beberapa mobil, temasuk jazz biru yang sempat jadi buronan Ken.
“Waaah…jan ediaaan….uapik yo omahe…” pekik Dodo
“Iyo Do…iku liaten tamannya…bisa buat main fustal kita Do…hahaiiii “ kata Ano.
“Iyo No…lek aku pengen piknik aja..nanti tak beberi tikar…karo makan telo gorengnya Mbok ku…pasti ciamik yo…” Jeje tak mau kalah.
“Iyo Do…iku liaten tamannya…bisa buat main fustal kita Do…hahaiiii “ kata Ano.
“Iyo No…lek aku pengen piknik aja..nanti tak beberi tikar…karo makan telo gorengnya Mbok ku…pasti ciamik yo…” Jeje tak mau kalah.
Yah mungkin pembaca harap maklum saja ya. Ni anak-anak emang jarang banget liat rumah segede ini. Mohon maaf ya…mungkin bagian ini di skip saja. Mohon maaf…
Kita langsung saja ke bagian dimana Ken sudah mulai gak karuan dengan penampilannya. Kemeja hitam dengan setelan jeans coklat dan masih di hiasi sepatu belel Converse kesayangannya. Perasaannya gusar menerima Kenyataan bahwa penampilannya tidak seperti pangeran di cerita-cerita dongeng. Yang datang ke pesta dengan jubah kebesaran dan menunggang Kereta Kencana.
“Ken…Kenapa toh…? Ayo…” ajak Deia yang melihat Ken masih saja ngaca di deretan mobil-mobil yang terparkir di halaman rumah Naya. Itu adalah mobil-mobil undangan yang juga berasal dari kaum-kaum Getset.
Ken hanya mencibir dan melanjutkan ngaca sembari membenarkan belahan rambutnya yang klimis. Cukup klimis hingga menghabiskan setengah botol minyak urang-aring. Kalo di peres tuh rambut paling bisa buat nggoreng krupuk.
“Healaah…wes toh Ken…mau diapain juga tuh rambut ndak bakal berubah wajahmu…tetap mengenaskan…tetap meprihatinkan…hahaha” canda Dodo
“Gundulmu…gini-gini masih nyerempet-nyerempet Nicholas Saputra” Ken masih membenarkan belahan rambutnya, kali ni dia memilih belah kiri dengan 5 derajat sedikit ke kanan. Nggak tau tuh gimana ngukurnya.
“Yang ada itu keserempet…itu sampe benjut semua muka mu…makanya kalo mau face off pake silicon. Jangan pake tepung beras…jadi ndak karu-karuan kan hasilnya…emang nya ongol-ongol…hahaha” Dodo masih ndak mau menyerah
“Lho…awas yo…Kene tak banting-banting aja…sini kowe” Ken mengejar Dodo layaknya Tom and Jerry. Dan tanpa sadar ulah mereka menarik perhatian orang lain.
“Heh…Heh… Malu itu lho di liatin orang…koyo anak kecil ae…” Damprat Deia.
“Sek Dei..sebentar…aku wes ganteng belum…” Ken berdiri tegap dan membiarkan Deia memberikan penilaian atas penampilannya malam itu.
“Wes toh…kamu tuh mau pake apa aja tetep…”
“Ganteng?...” Ken memotong kata-kata Dei
“…Ancur!!” Dei melanjutkan penilaiannya
“Wes toh…kamu tuh mau pake apa aja tetep…”
“Ganteng?...” Ken memotong kata-kata Dei
“…Ancur!!” Dei melanjutkan penilaiannya
Ken hanya mencibir dan melanjutkan ngaca sembari membenarkan belahan rambutnya yang klimis. Cukup klimis hingga menghabiskan setengah botol minyak urang-aring. Kalo di peres tuh rambut paling bisa buat nggoreng krupuk.
“Healaah…wes toh Ken…mau diapain juga tuh rambut ndak bakal berubah wajahmu…tetap mengenaskan…tetap meprihatinkan…hahaha” canda Dodo
“Gundulmu…gini-gini masih nyerempet-nyerempet Nicholas Saputra” Ken masih membenarkan belahan rambutnya, kali ni dia memilih belah kiri dengan 5 derajat sedikit ke kanan. Nggak tau tuh gimana ngukurnya.
“Yang ada itu keserempet…itu sampe benjut semua muka mu…makanya kalo mau face off pake silicon. Jangan pake tepung beras…jadi ndak karu-karuan kan hasilnya…emang nya ongol-ongol…hahaha” Dodo masih ndak mau menyerah
“Lho…awas yo…Kene tak banting-banting aja…sini kowe” Ken mengejar Dodo layaknya Tom and Jerry. Dan tanpa sadar ulah mereka menarik perhatian orang lain.
“Heh…Heh… Malu itu lho di liatin orang…koyo anak kecil ae…” Damprat Deia.
Yang emang udah gerah dengan perilaku konyol keduanya. Sementara Ano dan Jeje tetap konsen memandangi rumput taman. Sesekali memegangnya dan saling berhadapan lalu tertawa. Gila…!!
Kekacauan yang mereka buat di luar juga sama dengan apa yang mereka buat di dalam. Mungkin bisa kita bayangkan bagaimana reaksi segerombolan Buaya yang kelaparan mendapatkan jatah makan seekor ayam. Bringas, buas, dan ganas. Begitulah juga mereka, berbagai jenis makanan di comot, berbagai jenis camilan di comot, berbagai jenis cewe juga di comot. Eh…ya nggak gitu juga sih. Tapi norak deh. Dei sampai harus menjauh beberapa meter melihat gelagat Dodo , Ano dan Jeje yang semakin kesurupan dengan makanan gratis di depan mereka.
“Eh…itu Bika Ambon…punyaku…”
“Enak aja…itu pizza…ayam goreng…cumi bakar…punya ku…”
“Do…kamu bawa plastic nggak? Kita bungkus ini Blueberrynya…buat Emakku…”
“Enak aja…itu pizza…ayam goreng…cumi bakar…punya ku…”
“Do…kamu bawa plastic nggak? Kita bungkus ini Blueberrynya…buat Emakku…”
Ricuh…!!! Belum lagi bentuk mulut mereka yang masih di penuhi makanan menyonyo kaya maling di tabokin hansip. Gitu juga tangan kiri, tangan kanan ampe kantong juga penuh makanan. Bener-bener memprihatinkan. Seharusnya Naya berfikir 1001 kali sebelum ngundang ni bocah-bocah.
Sementara itu di sudut lain Ken tampak celingak-celinguk. Bukan makanan, minuman ato kantong plastic yang dia cari. Melainkan Naya, yang sejak dia masuk ke rumah itu tak di lihatnya. Sudah seperti pesta tak bertuan, tak ada sambutan dari yang punya hajat. Para tamu yang tak lain adalah teman-teman kampus pun tambak enjoy dengan yang tersedia disitu. Ada yang makan, minum, ngobrol dan bercanda tawa. Seperti tak menghiraukan dimana yang sedang berultah. Tapi untungnya Ken care tentang hal itu.
Mata nya terus menatap setiap sudut rumah. Menelanjangi setiap area yang cukup luas. Dia berfikir apakah Naya masih sibuk dandan? Ato masih nyari baju yang pas untuk acara specialnya ini? Ahh…Naya tanpa make up dan baju bagus pun sudah terlihat sangat cantik. Jadi buat apa itu semua. Dilihatnya sebuah bingkisan kado berwarna merah hati bertulis “For my lovely” . “ini pasti Kado dari Riyo” katanya dalam hati. Langkahnya terus berjalan hingga halaman belakang yang cukup sunyi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi sebuah suara membuatnya berfikir lain.
“Apa?? Nggak bisa datang? Riyo…ini pesta aku. Ulang tahun ku….please aku minta waktu kamu sebentar saja. Aku nggak butuh hadiah kamu…aku cuma ingin kamu hadir yo…” Suara Naya.
Ohh…ternyata Riyo nggak bisa hadir. Yang ada cuma kado pemberiannya. Kasihan Naya, seharusnya kan di hari special justru orang special lah sangat dinanti kehadirannya. Bukan seperti ini.
“Okey…kamu lanjutin aja acara bersama teman-temanmu…karena emang Hari ini nggak penting buatmu…” Naya mematikan telp nya.
Raut wajah sedih dan kecewa tercermin jelas. Air matapun menetes membasahi pipinya halus. Tubuhnya mulai terasa lemas dengan kesedihan. Terduduk lesu di kursi taman yang panjang. Menyakitkan memang, seharusnya hari itu penuh gelak tawa. Bukan Air mata. Bukan juga kesedihan, tapi senyum gembira.
Ken pun tertunduk melihat itu. Dia nggak menyangka untuk kesekian kalinya melihat Naya bersedih hingga harus menangis. Senyum seperti saat melihat Naya itulah yang ingin selalu dia liat.
“Nay…seharusnya kamu ndak ada disini dengan air mata. Seharusnya Naya berada disana, didalam…tertawa bersama teman-teman. Gembira…” Kata Ken mendekati Naya yang tak bias menahan Air matanya.
“Eh…kamu…”jawab Naya singkat.
“Eh…kamu…”jawab Naya singkat.
Kali ini tak ada usaha untuk berhenti menangis ato sekedah mengusap air mata seperti di kampus saat itu. Kali ini dia pasrah dengan apa yang terjadi. Berkali-kali disakiti oleh Riyo, sudah membuatnya akrab akan air mata.
“Kenapa ya dia nggak pernah sedikitpun peduli tentang aku?…Kenapa buat dia hanya sebagai pelengkap? Buat seseorang yang haruus di jaga, di hargai, di mengerti…Kenapa?” Naya melanjutkan kata-katanya.
“Nay…berhenti menangis ya. Cewe itu kalo nangis jelek lho…baiklah ada seorang yang gak peduli dengan Naya malam ini, tapi liat Nay di dalam sana. Puluhan teman-teman menunggumu. Puluhan teman-teman menyayangimu Nay. Peduli denganmu. Jangan biarkan Air mata mu membuat mereka kecewa…” Ken sedikit menghibur Naya yang mulai reda tangis nya.
“…dan sebagian dari mereka mungkin sudah sangat menunggu hari ini. Ada yang sudah menabung untuk membeli gaun agar bias di pakai malam ini. Ada yang rela ngantri ke salon agar bisa tampil sempurna. Ada juga yang mengorbankan waktu les biola mereka hanya untuk merayakan hari ulang tahun sahabatnya, yaitu Naya. Naya nggak mau kan ngecewain mereka?” kata-kata Ken yang di akhir sebuah pertanyaan membuat Naya menatapnya hangat.
“Kenapa sih kamu selalu ada saat aku sedih? Kenapa kamu ada saat aku menangis? Bukan dia…”
“Nay, setiap orang yang pernah bersedih dapat memilih apa dia akan menangis ato tidak. Tapi saat dia menangis kadang dia nggak bisa memilih siapa orang yang datang untuk menghibur ato setidaknya menemani dia menangis” jawab Ken singkat. Dan naya pun tersenyum dengan air mata nya.
“Kenapa ya dia nggak bisa seperti kamu Ken? Aku juga nggak tau Kenapa dulu aku bisa jatuh cinta sama orang seperti dia. Sebelum akhirnya dia juga yang membunuh cinta itu…” Naya terdiam.
“Nay…berhenti menangis ya. Cewe itu kalo nangis jelek lho…baiklah ada seorang yang gak peduli dengan Naya malam ini, tapi liat Nay di dalam sana. Puluhan teman-teman menunggumu. Puluhan teman-teman menyayangimu Nay. Peduli denganmu. Jangan biarkan Air mata mu membuat mereka kecewa…” Ken sedikit menghibur Naya yang mulai reda tangis nya.
“…dan sebagian dari mereka mungkin sudah sangat menunggu hari ini. Ada yang sudah menabung untuk membeli gaun agar bias di pakai malam ini. Ada yang rela ngantri ke salon agar bisa tampil sempurna. Ada juga yang mengorbankan waktu les biola mereka hanya untuk merayakan hari ulang tahun sahabatnya, yaitu Naya. Naya nggak mau kan ngecewain mereka?” kata-kata Ken yang di akhir sebuah pertanyaan membuat Naya menatapnya hangat.
“Kenapa sih kamu selalu ada saat aku sedih? Kenapa kamu ada saat aku menangis? Bukan dia…”
“Nay, setiap orang yang pernah bersedih dapat memilih apa dia akan menangis ato tidak. Tapi saat dia menangis kadang dia nggak bisa memilih siapa orang yang datang untuk menghibur ato setidaknya menemani dia menangis” jawab Ken singkat. Dan naya pun tersenyum dengan air mata nya.
“Kenapa ya dia nggak bisa seperti kamu Ken? Aku juga nggak tau Kenapa dulu aku bisa jatuh cinta sama orang seperti dia. Sebelum akhirnya dia juga yang membunuh cinta itu…” Naya terdiam.
Pandangannya hanya lurus kedepan. tak banyak yang bias dia katakan. Hatinya sudah sangat dalam tersakiti.
“Hum…mungkin dia masih cinta kamu Naya, hanya saja dia memang gak bisa datang mala mini. Jadi Nay jangan sedih ya. Buktinya dia bawa kado. Special buat kamu” Hibur Ken lagi.
“Dia hanya bisa mengukur semuanya dengan materi. Aku nggak butuh kado itu. Dan aku bukan anak kecil lagi yang akan tertawa histeris dengan tumpukan kado. Aku sudah kehilangan dia Ken. Kehilangan dia seperti saat aku mengenalnya…”
“Iyah…tapi kan kamu bi…”
“Dia hanya bisa mengukur semuanya dengan materi. Aku nggak butuh kado itu. Dan aku bukan anak kecil lagi yang akan tertawa histeris dengan tumpukan kado. Aku sudah kehilangan dia Ken. Kehilangan dia seperti saat aku mengenalnya…”
“Iyah…tapi kan kamu bi…”
Belum selesai kata-kata Ken, Naya sudah merebahkan kepalanya ke bahu Ken sambil terdengar lirih suara sesenggukan tangis Naya. Sumpah, ini pertama kalinya ada cewe se cantik Naya mau menggunakan jasa bahu Ken untuk menangis. krena sebelumnya lalat aja ogah nemplok, apa lagi cewe.
"Kenapa ya aku justru merasa nyaman saat di dekat kamu?” ucap Naya Perlahan
Ken tak menjawab. Ini adalah pertanyaan yang paling sulit yang pernah dia dengar, melebihi ujian dari Mr. Shock sekalipun. Tak ada pilihan ganda untuk pertanyaan ini. Jadi diam adalah jawaban yang tepat saat itu. Dimana malam mulai meninggi dengan angin lembut kota Malang. Tak ada kata-kata sedikit pun.
Pertanyaan Naya masih terngiang di otak Ken seiring mobil yang membawa dia pulang. Seraya tak menghiraukan ketiga temennya, Dodo, Ano dan Jeje tertidur pulas kekenyangan. Atau pun Deia yang serius menyetir layaknya gaya membalap Suki di Fast 2 Furious. Semua tak di hiraukannya, bagi Ken itulah pertanyaan yang membuat akal sehatnya bergeser 78.9 derajat bujur timur, dan 34.5 derajat lintang utara yang merupakan koordinat rumah Naya.
Seandainya Ken mau menjawab pertanyaan itu, apa yang akan keluar dari bibir nya.“Karena aku sayang kamu Naya” ato “Karena aku mencintaimu Nay”. Susah pren ngucapin itu, jika orang yang kita cintai ada di samping kita. Ini yang di namakan cinta sejati pren. Saat kita sadar tak mungkin memilikinya, kita masih tetap menghibur dan menemaninya disaat sedih. Masih mendukungnya dan berdiri di membelanya saat dia terbang tinggi ataupun tersungkur. Seperti apa yang di katakan Mantan Presiden Amerika John F Kennedy, jangan pernah bertanya apa yang sudah dia berikan padamu, tapi tanyakan pada hatimu apa yang sudah kau berikan kepadanya. Ele…ele…edun kata-katanya ueey.
0
Kutip
Balas
