- Beranda
- Stories from the Heart
Not All About Love
...
TS
propanol.12
Not All About Love
Assalamualaikum Wr Wb
Sebelumnya gw ucapkan permisi dan terima kasih kepada mimin, momod dan seluruh penghuni forum SFTH ini. Setelah lama jadi SR akhirnya ada keinginan juga dari gw untuk membagikan kisah gw yang absurd dan serba gag jelas ini. Sebuah kisah pahit manis gw dalam menemukan jati diri gw dan menemukan seseorang yang bakal selalu ada disisi gw. Sebelumnya gw tekankan disini gw bukan seorang penulis jadi mohon maaf kalau dalam penulisan gw nanti banyak sekali kekurangan. Dan demi kenyamanan dan keprivasian tokoh yang bersangkutan maka semua nama tokoh dalam cerita gw ini disamarkan.

Quote:
Quote:
Ada kalanya aku harus mengalah dan mengorbankan zona nyaman dan amanku untuk bisa meraih sesuatu yang lebih berarti dan bermakna dalam hidupku. Aku egois, inilah ceritaku.
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 18 suara
Siapakah nanti yang bakal jadi pasangan hidup gw?
Irina
17%
Mita
17%
Sandy
67%
Diubah oleh propanol.12 18-01-2016 20:17
anasabila memberi reputasi
1
11.4K
121
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
propanol.12
#91
Part 15 – Holiday
Perjalanan gue mulai dari Cepu menggunakan mobil rental dari daerah itu pula. Perjalanan cukup mengasyikkan dengan diiringi tembang-tembang love song favorit gue tentunya. Sekitar pukul 1 siang gue tiba di Jogja. Setelah lepas dari kawasan Bogem gue kemudian mengarahkan mobil ke arah bandara. Si Mita daritadi sudah bawel minta dijemput. Untung saja kondisi jalan Solo – Jogja siang ini lumayan lenggang. Jadi gue bisa cepat tiba dibandara sebelum itu nenek lampir makin ngamuk. Setelah gue parkirin mobil gue segera menuju ke terminal kedatangan. Untung saja bandara Adi Sucipto Jogja ini tidak terlalu besar sehingga memudahkan gue untuk menemukan sosok wanita berkulit putih ini. Setelah celingukan sana sini akhirnya gue liat juga sosoknya.
“Lama amat sih lo.” Kata dia sesaat setelah gue nyamperin dia.
“Iya maaf tadi jalanannya padet. Jadi gue gag bisa kenceng bawa mobilnya.” Kata gue ngeles.
“Ck, alasan aja lo. Ya udah nih bawa.” Kata dia sambil nyodorin kopernya ke gue.
“Lo kira gue tukang angkut koper apa? Bawa sendiri lah.” Kata gue.
“Yah gue kan capek. Lagian lo kan cowok Fin, bawain kek, ya ya ya...” Kata dia sambil merayu manja.
Oh God, kenapa tatapannya dia seperti itu. Badan gue serasa lemas dan hati gue langsung menclos ngelihat tatapan si Mita. Gue serasa gag punya daya untuk menolak permintaan dia. Pertahanan gue luluh. Kok gue bisa kek gini ya, ini cuma Mita woy, batin gue.
“Ya udah deh sini gue bawain. Manja amat sih.” Kata gue.
“Makasih ya, hehehehe. Lo emang cowok deh Fin, hehehehe.” Ujar dia.
Kita pun akhirnya berjalan menuju parkiran yang letaknya agak jauh dari terminal utama. Selama berjalan gue amati si Mita, ini anak makin cantik aja gue fikir. Rambutnya sekarang sudah panjang sepunggung dan berwarna sedikit kecoklatan, ditambah hari ini dia pake baju flanel merah lengan panjang yang lengannya digulung sesiku, dan kancingnya bagian atas beberapa dibuka sehingga terlihat kaos abu-abu yang digunakan sebagai rangkapannya. Ditambah celana jeans berwarna hitam dan sepatu kanvas. Terkesan tomboy, but it’s look so sexy for me. Nampaknya dia sadar kalau gue amatin terus sampai akhirnya dia menoleh gue.
“Kenapa lo kok ngeliatain gue kayak gitu?” Kata dia.
“Ah engga kegeeran aja kali lo.” Jawab gue ngeles. Gawat aja kalau dia tau gue terpesona ama dia. Bisa makin gede kepala dia nanti.
“Gue kira lo terpesona sama gue. Hahahaha.” Kata dia.
“Enak aja, geer luh.” Kata gue sambil menekan remot mobil. Setelah pintu terbuka gue masukan koper dia kedalam bagasi mobil dan kemudian menyusul Mita yang sudah masuk ke dalam mobil duluan.
“Buruan nyalain, panas nih.” Kata dia waktu gue masuk ke mobil.
“Iya bentar. Bawel amat nih anak.” Kata gue sambil nyalain mobil berikut AC nya.
“Habis ini kita kemana nih?”
“Kita jemput Sandy dulu di kampusnya. Dia sudah nunggu kita daritadi tau.” Kata dia.
“Siap bos.”
Akhirnya gue mengarahkan mobil meninggalkan bandara dan menuju ke kampusnya Sandy yang terletak di daerah Bulak Sumur. Selama perjalanan kita saling ngobrol sana sini. Tentang kondisi kantor di Jakarta yang semakin kurang kondusif, kost2an gue yang telah lama gue tinggal, kerjaan gue di Cepu, dan masih banyak lagi. Mita nampak cerewet banget siang ini sementara gue juga harus berkonsetrasi mengemudikan mobil. Salah-salah bisa nabrak nih kalau diajak ngobrol begini terus. Untungnya gue udah biasa nyetir sambil ngobrol jadi gag begitu masalah lah, nanggepin nenek-nenek cerewet ini.
Sampai akhirnya kita sampai di kampusnya Sandy. Salah satu kampus negeri yang cukup terkenal di Jogja bahkan Indonesia. Suasana kampus terasa khas sekali saat gue masuk ke kawasan kampus ini. Nampak wajah berseri-seri dari para mahasiswa ataupun mahasiswi yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Walaupun gue tau sangat berat tugas mereka sebagai mahasiswa tapi tampak muka yang berseri-seri dan penuh semangat dari mereka seolah emang tidak ada beban. Suasana semacam ini bikin gue kangen kampus gue dulu di Semarang.
“Doorrr....” Kata Sandy sambil memukul kedua bahu gue dari belakang.
Gue yang dalam kondisi tidak siap pun akhirnya kaget. “As....Eh kamu San, sial ngagetin aja.”
“Hehehehe, habisnya kalian aku panggil gag nyahut-nyahut. Ya sudah aku isengin aja.” Kata Sandy.
“Emang lo tadi dimana San?” Tanya si Mita.
“Tadi aku duduk disitu Mit.” Kata Sandy sambil menunjuk sebuah bangku dari semen. “By the way ini pada mau kemana?”
“Kemana ya? Kamu ada ide gag San?” Tanya gue.
“Kalau siang-siang gini sih enaknya ke Parangtritis. Mumpung cuacanya cerah begini.” Kata Sandy.
“Boleh deh. Tapi kita makan dulu yak. Laper nih belum makan dari kemarin.” Kata gue sambil nyengir.
“Hahahaha, pantesan aja badan lo kurus Fin. Gue kira setelah di Cepu lo bakal jadi gemuk, eh taunya malah tambah cungkring aja.” Kata Mita ngeledek gue.
“Enak aja lo Mit. Ya udah yuk berangkat. Enaknya makan dimana San?” Kata gue.
“Di xxxx (menyebutkan warung mie ayam terkenal di daerah taman siswa) aja yuk. Enak loh disitu.” Kata Sandy.
“Boleh deh, yuk.”
Akhirnya kita bertiga mulai berjalan meninggalkan kampus Sandy dan menuju ke warung mie ayam yang kita maksud.
****
****
Setelah makan siang kita melanjutkan perjalanan ke Parangtritis. Karena emang gue sudah sering main ke Jogja dulu jadi selama perjalanan gue tidak perlu dipandu Sandy yang notabennya tuan rumah saat ini. Ya walaupun dia juga anak rantau tapi setidaknya dialah yang saat ini tinggal disini. Setelah nampak pantai terlihat wajah Mita tampak berbinar-binar, layaknya anak kecil yang dibelikan es krim. Setelah turun mobil dia pun segera berlari ke arah lautan yang ombaknya tidak pernah kecil itu. Gue dan Sandy hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat ekspresinya Mita. Eksepresi kebahagiaan yang akan selalu gue ingat sampai sekarang.
“Hati-hati Mit, ombaknya gede. Lo jangan ketengah-tengah loh, ntar dimakan ombaknya.” Kata gue mempringatkan dia.
“Yee biarin, sapa tau gue dijadiin anak angkatnya Nyi Roro Kidul, hahahaha.” Kata dia.
“Hust Mita, jangan sembarangan kalau ngomong.” Kata Sandy.
“Hahahaha, iya deh maaf.” Kata Mita yang kemudian menghampiri kita.
Disini keisengan Mita muncul. Ternyata dibalik tangannya yang disembunyikan dibelakang punggungnya dia menggenggam pasir basah dan pas sampai dekat gue dia melempar pasir itu tepat ke rambut gue. Alhasil rambut gue jadi penuh pasir dah. Muka gila bener ini anak kalau bercanda. Tak hanya gue yang jadi korban si Sandy pun juga menjadi korban kejahilan si Mita. Kerudung si Sandy pun menjadi basah dan kotor akibat pasir. Akhirnya kita berdua pun membalas kejahilan Mita dengan menggendong paksa dia ke arah bibir pantai lalu menjatuhkannya tepat bersama ombak yang lagi datang. Alhasil dia menjadi basah kuyup karena jatuh diatas ombak, dan itu menjadikan pemandangan indah sendiri bagi gue, hahahaha. Akhirnya kita bertiga bercanda, bermain di pantai hingga senja pun mulai menampakan wujudnya. Ah really perfect holiday...
Setelah puas bermain kita pun berganti baju. Nampaknya sudah tau bakal ada kejadian basah-basahan si Sandy ternyata sudah bawa baju ganti juga dari rumah. Setelah itu kita putuskan untuk mencari makan malam diluar area pantai karena memang sekitaran pantai parangtritis gag ada makanan yang enak. Kita makan malam disebuah warung sambal yang cukup banyak cabangnya sekarang ini.
“Kalian nanti nginep di tempat Bulikku aja ya. Daripada buang-buang ongkos kan, sayang duitnya.” Kata Sandy.
“Loh emang boleh gitu San? Alfian ini cowok loh San bukan cewek.” Kata Mita.
“Iya gag papa kok. Aku juga sudah ngobrol sama bulikku. Dan disana banyak kamar kosong jadi bisa lah kalian tempati. Lagian bulikku pasti seneng kalau kalian mau mampir.” Kata Sandy.
“Oh gitu jadi gag enak akunya San, hehehe.” Kata gue.
“Udahlah kayak sama siapa saja. Aku juga seneng kok kalau kalian mau di tempat bulikku. Lagian kapan lagi coba kita bisa kumpul-kumpul kayak gini?” Kata Sandy.
“Ya udah deh kalau begitu, maaf ya Sandy jadi ngrepotin.” Kata Mita.
“Iya makasih ya Sandy.” Sahut gue.
“Iya sama-sama.” Kata Sandy.
Setelah makan malam kita langsung menuju rumah buliknya Sandy yang berada di jalan Kaliurang. Rumah bulik Sandy ini begitu luas meski hanya satu lantai. Banyak sekali tanaman yang tumbuh dihalamannya yang luas. Setelah memarkirkan mobil dan mengambil barang, gue dan Mita mengikuti Sandy masuk ke rumah buliknya Sandy. Rumahnya sudah sepi nampaknya pemilik rumah sudah mulai istirahat dikamarnya. Setelah masuk rumah nampak seorang wanita yang gue taksir umurnya gag begitu jauh dari Sandy keluar menyambut kami. Dia adalah buliknya Sandy namanya Ayu.
“Assalamualaikum bulik.” Kata Sandy
“Walaikumsalam, oh Sandy toh. Masuk-masuk, itu temennya juga diajak masuk.” Kata bulik Ayu dengan ramah.
“Bulik ini temen-temen aku yang mau ninep disini. Ini Mita, bulik masih inget kan? Dan kalau ini Afian bulik.” Kata Sandy sambil mengenalkan gue dan Mita. Tapi kayaknya Mita juga sudah kenal deh sama buliknya Sandy ini terlihat dari percakapan mereka tadi.
“Oalah Mita tambah cantik aja sekarang.” Kata Bulik Ayu sambil cipika cipiki sama Mita. Setelah itu bulik Ayu segera mengalihkan perhatian ke gue dan kemudian tersenyum menyalami gue. “Dan ini toh yang namanya mas Alfian.” Kata bulik Ayu yang membuat gue sedikit kaget.
“Kok beliau tau gue ya?”
Perjalanan gue mulai dari Cepu menggunakan mobil rental dari daerah itu pula. Perjalanan cukup mengasyikkan dengan diiringi tembang-tembang love song favorit gue tentunya. Sekitar pukul 1 siang gue tiba di Jogja. Setelah lepas dari kawasan Bogem gue kemudian mengarahkan mobil ke arah bandara. Si Mita daritadi sudah bawel minta dijemput. Untung saja kondisi jalan Solo – Jogja siang ini lumayan lenggang. Jadi gue bisa cepat tiba dibandara sebelum itu nenek lampir makin ngamuk. Setelah gue parkirin mobil gue segera menuju ke terminal kedatangan. Untung saja bandara Adi Sucipto Jogja ini tidak terlalu besar sehingga memudahkan gue untuk menemukan sosok wanita berkulit putih ini. Setelah celingukan sana sini akhirnya gue liat juga sosoknya.
“Lama amat sih lo.” Kata dia sesaat setelah gue nyamperin dia.
“Iya maaf tadi jalanannya padet. Jadi gue gag bisa kenceng bawa mobilnya.” Kata gue ngeles.
“Ck, alasan aja lo. Ya udah nih bawa.” Kata dia sambil nyodorin kopernya ke gue.
“Lo kira gue tukang angkut koper apa? Bawa sendiri lah.” Kata gue.
“Yah gue kan capek. Lagian lo kan cowok Fin, bawain kek, ya ya ya...” Kata dia sambil merayu manja.
Oh God, kenapa tatapannya dia seperti itu. Badan gue serasa lemas dan hati gue langsung menclos ngelihat tatapan si Mita. Gue serasa gag punya daya untuk menolak permintaan dia. Pertahanan gue luluh. Kok gue bisa kek gini ya, ini cuma Mita woy, batin gue.
“Ya udah deh sini gue bawain. Manja amat sih.” Kata gue.
“Makasih ya, hehehehe. Lo emang cowok deh Fin, hehehehe.” Ujar dia.
Kita pun akhirnya berjalan menuju parkiran yang letaknya agak jauh dari terminal utama. Selama berjalan gue amati si Mita, ini anak makin cantik aja gue fikir. Rambutnya sekarang sudah panjang sepunggung dan berwarna sedikit kecoklatan, ditambah hari ini dia pake baju flanel merah lengan panjang yang lengannya digulung sesiku, dan kancingnya bagian atas beberapa dibuka sehingga terlihat kaos abu-abu yang digunakan sebagai rangkapannya. Ditambah celana jeans berwarna hitam dan sepatu kanvas. Terkesan tomboy, but it’s look so sexy for me. Nampaknya dia sadar kalau gue amatin terus sampai akhirnya dia menoleh gue.
“Kenapa lo kok ngeliatain gue kayak gitu?” Kata dia.
“Ah engga kegeeran aja kali lo.” Jawab gue ngeles. Gawat aja kalau dia tau gue terpesona ama dia. Bisa makin gede kepala dia nanti.
“Gue kira lo terpesona sama gue. Hahahaha.” Kata dia.
“Enak aja, geer luh.” Kata gue sambil menekan remot mobil. Setelah pintu terbuka gue masukan koper dia kedalam bagasi mobil dan kemudian menyusul Mita yang sudah masuk ke dalam mobil duluan.
“Buruan nyalain, panas nih.” Kata dia waktu gue masuk ke mobil.
“Iya bentar. Bawel amat nih anak.” Kata gue sambil nyalain mobil berikut AC nya.
“Habis ini kita kemana nih?”
“Kita jemput Sandy dulu di kampusnya. Dia sudah nunggu kita daritadi tau.” Kata dia.
“Siap bos.”
Akhirnya gue mengarahkan mobil meninggalkan bandara dan menuju ke kampusnya Sandy yang terletak di daerah Bulak Sumur. Selama perjalanan kita saling ngobrol sana sini. Tentang kondisi kantor di Jakarta yang semakin kurang kondusif, kost2an gue yang telah lama gue tinggal, kerjaan gue di Cepu, dan masih banyak lagi. Mita nampak cerewet banget siang ini sementara gue juga harus berkonsetrasi mengemudikan mobil. Salah-salah bisa nabrak nih kalau diajak ngobrol begini terus. Untungnya gue udah biasa nyetir sambil ngobrol jadi gag begitu masalah lah, nanggepin nenek-nenek cerewet ini.
Sampai akhirnya kita sampai di kampusnya Sandy. Salah satu kampus negeri yang cukup terkenal di Jogja bahkan Indonesia. Suasana kampus terasa khas sekali saat gue masuk ke kawasan kampus ini. Nampak wajah berseri-seri dari para mahasiswa ataupun mahasiswi yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Walaupun gue tau sangat berat tugas mereka sebagai mahasiswa tapi tampak muka yang berseri-seri dan penuh semangat dari mereka seolah emang tidak ada beban. Suasana semacam ini bikin gue kangen kampus gue dulu di Semarang.
“Doorrr....” Kata Sandy sambil memukul kedua bahu gue dari belakang.
Gue yang dalam kondisi tidak siap pun akhirnya kaget. “As....Eh kamu San, sial ngagetin aja.”
“Hehehehe, habisnya kalian aku panggil gag nyahut-nyahut. Ya sudah aku isengin aja.” Kata Sandy.
“Emang lo tadi dimana San?” Tanya si Mita.
“Tadi aku duduk disitu Mit.” Kata Sandy sambil menunjuk sebuah bangku dari semen. “By the way ini pada mau kemana?”
“Kemana ya? Kamu ada ide gag San?” Tanya gue.
“Kalau siang-siang gini sih enaknya ke Parangtritis. Mumpung cuacanya cerah begini.” Kata Sandy.
“Boleh deh. Tapi kita makan dulu yak. Laper nih belum makan dari kemarin.” Kata gue sambil nyengir.
“Hahahaha, pantesan aja badan lo kurus Fin. Gue kira setelah di Cepu lo bakal jadi gemuk, eh taunya malah tambah cungkring aja.” Kata Mita ngeledek gue.
“Enak aja lo Mit. Ya udah yuk berangkat. Enaknya makan dimana San?” Kata gue.
“Di xxxx (menyebutkan warung mie ayam terkenal di daerah taman siswa) aja yuk. Enak loh disitu.” Kata Sandy.
“Boleh deh, yuk.”
Akhirnya kita bertiga mulai berjalan meninggalkan kampus Sandy dan menuju ke warung mie ayam yang kita maksud.
****
Quote:
****
Setelah makan siang kita melanjutkan perjalanan ke Parangtritis. Karena emang gue sudah sering main ke Jogja dulu jadi selama perjalanan gue tidak perlu dipandu Sandy yang notabennya tuan rumah saat ini. Ya walaupun dia juga anak rantau tapi setidaknya dialah yang saat ini tinggal disini. Setelah nampak pantai terlihat wajah Mita tampak berbinar-binar, layaknya anak kecil yang dibelikan es krim. Setelah turun mobil dia pun segera berlari ke arah lautan yang ombaknya tidak pernah kecil itu. Gue dan Sandy hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat ekspresinya Mita. Eksepresi kebahagiaan yang akan selalu gue ingat sampai sekarang.
“Hati-hati Mit, ombaknya gede. Lo jangan ketengah-tengah loh, ntar dimakan ombaknya.” Kata gue mempringatkan dia.
“Yee biarin, sapa tau gue dijadiin anak angkatnya Nyi Roro Kidul, hahahaha.” Kata dia.
“Hust Mita, jangan sembarangan kalau ngomong.” Kata Sandy.
“Hahahaha, iya deh maaf.” Kata Mita yang kemudian menghampiri kita.
Disini keisengan Mita muncul. Ternyata dibalik tangannya yang disembunyikan dibelakang punggungnya dia menggenggam pasir basah dan pas sampai dekat gue dia melempar pasir itu tepat ke rambut gue. Alhasil rambut gue jadi penuh pasir dah. Muka gila bener ini anak kalau bercanda. Tak hanya gue yang jadi korban si Sandy pun juga menjadi korban kejahilan si Mita. Kerudung si Sandy pun menjadi basah dan kotor akibat pasir. Akhirnya kita berdua pun membalas kejahilan Mita dengan menggendong paksa dia ke arah bibir pantai lalu menjatuhkannya tepat bersama ombak yang lagi datang. Alhasil dia menjadi basah kuyup karena jatuh diatas ombak, dan itu menjadikan pemandangan indah sendiri bagi gue, hahahaha. Akhirnya kita bertiga bercanda, bermain di pantai hingga senja pun mulai menampakan wujudnya. Ah really perfect holiday...
Setelah puas bermain kita pun berganti baju. Nampaknya sudah tau bakal ada kejadian basah-basahan si Sandy ternyata sudah bawa baju ganti juga dari rumah. Setelah itu kita putuskan untuk mencari makan malam diluar area pantai karena memang sekitaran pantai parangtritis gag ada makanan yang enak. Kita makan malam disebuah warung sambal yang cukup banyak cabangnya sekarang ini.
“Kalian nanti nginep di tempat Bulikku aja ya. Daripada buang-buang ongkos kan, sayang duitnya.” Kata Sandy.
“Loh emang boleh gitu San? Alfian ini cowok loh San bukan cewek.” Kata Mita.
“Iya gag papa kok. Aku juga sudah ngobrol sama bulikku. Dan disana banyak kamar kosong jadi bisa lah kalian tempati. Lagian bulikku pasti seneng kalau kalian mau mampir.” Kata Sandy.
“Oh gitu jadi gag enak akunya San, hehehe.” Kata gue.
“Udahlah kayak sama siapa saja. Aku juga seneng kok kalau kalian mau di tempat bulikku. Lagian kapan lagi coba kita bisa kumpul-kumpul kayak gini?” Kata Sandy.
“Ya udah deh kalau begitu, maaf ya Sandy jadi ngrepotin.” Kata Mita.
“Iya makasih ya Sandy.” Sahut gue.
“Iya sama-sama.” Kata Sandy.
Setelah makan malam kita langsung menuju rumah buliknya Sandy yang berada di jalan Kaliurang. Rumah bulik Sandy ini begitu luas meski hanya satu lantai. Banyak sekali tanaman yang tumbuh dihalamannya yang luas. Setelah memarkirkan mobil dan mengambil barang, gue dan Mita mengikuti Sandy masuk ke rumah buliknya Sandy. Rumahnya sudah sepi nampaknya pemilik rumah sudah mulai istirahat dikamarnya. Setelah masuk rumah nampak seorang wanita yang gue taksir umurnya gag begitu jauh dari Sandy keluar menyambut kami. Dia adalah buliknya Sandy namanya Ayu.
“Assalamualaikum bulik.” Kata Sandy
“Walaikumsalam, oh Sandy toh. Masuk-masuk, itu temennya juga diajak masuk.” Kata bulik Ayu dengan ramah.
“Bulik ini temen-temen aku yang mau ninep disini. Ini Mita, bulik masih inget kan? Dan kalau ini Afian bulik.” Kata Sandy sambil mengenalkan gue dan Mita. Tapi kayaknya Mita juga sudah kenal deh sama buliknya Sandy ini terlihat dari percakapan mereka tadi.
“Oalah Mita tambah cantik aja sekarang.” Kata Bulik Ayu sambil cipika cipiki sama Mita. Setelah itu bulik Ayu segera mengalihkan perhatian ke gue dan kemudian tersenyum menyalami gue. “Dan ini toh yang namanya mas Alfian.” Kata bulik Ayu yang membuat gue sedikit kaget.
“Kok beliau tau gue ya?”
0