- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187.2K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#592
Episode Merah...
Bertepatan dengan hari dimana jatuhnya korban terorisme di Jakarta...
#JakartaBerani
Bertepatan dengan hari dimana jatuhnya korban terorisme di Jakarta...
#JakartaBerani
Spoiler for Part 68:
Toronto, Ontario, Kanada. Itulah tempat kemana ia akan pergi. Negara yang jauh di sana, yang aku tahu hanya dari beberapa buku dan internet. Apakah ia akan kembali lagi ke Indonesia? Itulah pertanyaan yang menghampiri kepalaku, namun aku tidak ingin bertanya lagi. Aku rasa semuanya sudah cukup jelas
“Semoga kamu bahagia Bram, jangan sia-siain kebahagiaanmu..”
Aku sedang duduk di balkon kamarku, dan tidak lama mobil Reza sudah masuk di parkiran rumahku, namun kali ini ia sendiri tanpa Nanda dan juga Dinda. Setibanya di balkon ia memberikanku minuman kalengan bersoda, dan aku mengambilnya. Kami minum secara bersamaan
“Lu darimana?” Tanyaku
“Dari rumah abis beres-beres..” Katanya
“Beres-beres? Kan ada Bi Inah.” Kataku
“Bukan beres-beres rumah atau kamar, tapi beres-beres barang-barang yang mau gue bawa.” Jelasnya
“Ha? Lu mau kemana? Kok ngga ngomong-ngomong?” Tanyaku kaget mendengarnya
“Pergi jauh, udah ngga ada yang bisa gue harapin lagi di sini....”
Kata-katanya persis seperti apa yang Zahra bilang tadi saat di Kafe
“Maksudnya?” Tanyaku gemetar
“Dulu, ada orang yang selalu bilang ke gue buat hidup jujur dalam keadaan apapun. Gue percaya sama orang itu, karena dia baik sama gue, dia yang selalu nolongin gue kalau ada masalah. Dia yang bisa bikin gue ngerti apa arti hidup ini. Tapi sayangnya, sebuah kebohongan darinya keluar begitu saja. Sebuah kebohongan itu menghapus semua kebaikannya. Di mata gue, sekali pembohong tetap saja pembohong. Dia udah mengkhianati kata-katanya sendiri. Dan ternyata, dia temen gue dari kecil...” Jelasnya
Aku hanya terdiam mendengar perkataanya. Aku seperti mendapat hujan batu yang menerpa seluruh badanku hari ini.
“Lu kenapa ngga bilang kalau Zahra suka sama lu? Kenapa lu malah biarin gue ngejar apa yang ngga bakalan gue dapet?” Katanya
“Gue juga ngga tahu, gue baru tahu pas malem waktu gue di sana sama dia.” Jelasku
“Terus kenapa lu cium dia?” Katanya dengan nada tinggi
Aku kali ini terdiam, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi
“Gue udah ngga ngerti lagi sama jalan pikiran sahabat gue, entah ini namanya gila atau apaan gue juga ngga tau.” Katanya
Aku masih terdiam, seperti baru tersadar apa yang telah aku perbuat. Sebuah kesalahan yang berdampak besar untukku dan teman-temanku.
“Kenapa semuanya harus kayak gini?” Tanyanya sambil menyalakan sebatang rokok
“Dengerin gue dulu.......”
“Udah cukup, ngga ada yang perlu dijelasin lagi. Gue kira sama Dinda udah cukup, ternyata lu masih mau ngambil Zahra juga....” Katanya
“Eh gue ngga pernah ada niatan buat ngambil Zahra.....”
“TAPI KENAPA LU CIUM DIA??!!?” Kata Reza sambil mengangkat kerah kemejaku
Lidah ini kelu untuk beradu argumen tentang hal itu, aku sudah jelas salah dan tidak bisa membela apa-apa lagi. Setelah itu ia melepas genggamannya
“Emang keberanian gue nol, tapi seenggaknya sampai saat ini gue bukan penjilat ulung seperti lu..” Katanya
Setelah itu ia akan pergi meninggalkanku, namun sesuatu pun terjadi
“Nanda.....”
“Dinda.....”
Ternyata Nanda dan Dinda sudah datang tanpa kami ketahui, sudah kupastikan Nanda dan Dinda mendengar semuanya dengan sangat jelas
“Sejak kapan Bram? Sejak kapan kamu seperti ini? Kenapa Bram?” Tanya Dinda yang hampir menangis
Nafasku seperti tertahan dan hampir tidak berfungsi, aku kaku tidak berdaya
“Aku pikir kamu beda, ternyata kamu sama aja. Aku kecewa Bram!!” Katanya sambil meninggalkanku
“Ka Din......” Nanda tertahan oleh Reza yang tidak membiarkannya mengejar Dinda
“Lu selesaiin masalah lu sekarang, cepet kejar dia.” Kata Reza
Aku mencoba mengejar Dinda, tiba di teras depan aku melihat pintu gerbangku sudah terbuka. Pikirku mungkin ia belum jauh dari sini. Aku cari dengan menggunakan motor milik Reza. Aku telusuri jalanan di perumahan ini menuju jalan raya.....
Kerumunan orang-orang di pinggir jalan raya sudah hampir menutupi pandanganku, aku berusaha mendekat dan kutemukan Dinda terkapar tak berdaya. Darah yang mengalir cukup banyak, sontak aku langsung mencoba mencari pertolongan secepatnya. Setelah mengabari Nanda dan juga Reza, mereka akhirnya datang dengan cepat dan langsung membawa Dinda ke rumah sakit terdekat
Tiba di rumah sakit, Dinda langsung mendapatkan pertolongan pertama di UGD. Aku dan Reza menunggu di dekat ruangan tersebut sedangkan Nanda sedang mengurus administrasi. Kami menunggu dengan cukup lama, hingga akhirnya dokter itu keluar dari ruangan tersebut
“Anda keluarga dari korban?” Tanya Dokter tersebut
“Bukan Dok, kami hanya temannya.” Kata Reza
“Saya pacar korban Dok....” Kataku lemas
Nanda yang sudah selesai mengurus administrasi langsung menuju kami
“Gimana kabarnya Ka Din?” Tanya Nanda
Dokter itu menjelaskan kepada kami. Aku yang mendengarnya langsung terduduk lemas tidak bisa menerima keadaan. Di saat itu juga aku benci terhadap diriku sendiri, akulah penyebab kejadian itu. Akulah yang membuat Dinda mengalami kecelakaan. Aku yang bersalah, AKU YANG BERSALAH!!
Air mata ini sudah tidak dapat tertahankan lagi, turun mengalir melalui pipi ini. Lemas tak berdaya dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Nanda akhirnya duduk di sampingku
“Aku udah ngabarin Ayah sama Ibu.....”
“Nanti biar Abang yang ngabarin Mamanya Dinda...”
Apa yang akan terjadi jika aku memberi tahu Mamanya Dinda tentang hal ini? Aku pasti akan dibenci bahkan mendapatkan hukuman yang setimpal. Mau tidak mau aku harus siap menerimanya, apapun yang akan terjadi aku harus siap.
Tepat jam sepuluh malam, Orang Tua ku dan juga Mamanya Dinda sudah tiba di Rumah Sakit ini bersama kami. Aku seperti akan diadili hari ini juga, aku akan siap menerima ganjarannya
“Coba dijelasin gimana kejadiannya...” Kata Ayah
Ibuku sedang menenangkan Mamanya Dinda yang masih menangis mengetahui keadaan anaknya
“Jadi gini, abis dari rumah Ka Din mau nyebrang jalan terus ditabrak sama mobil pas di jalan raya....” Jelas Nanda
“Kurang lengkap..” Kataku sambil tertunduk di lantai
“Maksud kamu apa Bram?” Kata Ibuku
“Bang, udah jangan nyalahin diri Abang sendiri.” Kata Nanda
“EMANG ABANG YANG SALAH! ABANG YANG BIKIN DIA KECELAKAAN!” Kataku dengan emosi yang cukup meluap
Air mata ini kembali menetes, aku sudah tidak dapat menyembunyikan apa-apa lagi
“Bentar, maksudnya apa? Ayah masih belum ngerti sama kalian.” Kata Ayah kebingungan
“Aku yang buat Dinda mengalami kecelakaan tadi sore, semuanya aku yang buat. Aku ngelukain hatinya dia, dia lari ninggalin rumah terus aku kejar. Sebelum jalan raya aku udah liat dia, tapi pas dia nyebrang jalan ada mobil nabrak dia....” Kataku sambil menunduk
Kami semua terdiam, hanya terdengar isakan tangis dari Mamanya Dinda
“Maaf aku udah ngga berguna lagi di saat kondisi seperti ini, tapi aku tetep mau minta maaf sama Tante. Aku yang bikin semua ini terjadi, aku yang udah ngebuat Dinda......”
“Udah Bram, cukup nyalahin diri lu sendiri. Semuanya udah terjadi.” Kata Reza
“Gue emang salah, gue harus dihukum.”
“GUE BILANG CUKUP!” Kata Reza sambil mengangkat kerah kemejaku
“GUE YANG SALAH!!” Kataku
Aku dan Reza akhirnya hanya saling tatap, kemudian air mataku kembali menetes. Reza melepas genggamannya dari kerah bajuku dan kemudian dia memelukku.
Malam ini seperti akhir dari segalanya. Sudah tidak ada lagi yang dapat aku lakukan. Semuanya sudah sangat jelas, benar-benar sangat jelas. Kami hanya bisa menunggu di sini. Apa yang kami tunggu? Entahlah, sesuatu keajaiban mungkin yang kami tunggu.
Tidak ada lagi yang dapat aku lakukan
Tidak ada lagi..............
Lakukan..............
“Semoga kamu bahagia Bram, jangan sia-siain kebahagiaanmu..”
Aku sedang duduk di balkon kamarku, dan tidak lama mobil Reza sudah masuk di parkiran rumahku, namun kali ini ia sendiri tanpa Nanda dan juga Dinda. Setibanya di balkon ia memberikanku minuman kalengan bersoda, dan aku mengambilnya. Kami minum secara bersamaan
“Lu darimana?” Tanyaku
“Dari rumah abis beres-beres..” Katanya
“Beres-beres? Kan ada Bi Inah.” Kataku
“Bukan beres-beres rumah atau kamar, tapi beres-beres barang-barang yang mau gue bawa.” Jelasnya
“Ha? Lu mau kemana? Kok ngga ngomong-ngomong?” Tanyaku kaget mendengarnya
“Pergi jauh, udah ngga ada yang bisa gue harapin lagi di sini....”
Kata-katanya persis seperti apa yang Zahra bilang tadi saat di Kafe
“Maksudnya?” Tanyaku gemetar
“Dulu, ada orang yang selalu bilang ke gue buat hidup jujur dalam keadaan apapun. Gue percaya sama orang itu, karena dia baik sama gue, dia yang selalu nolongin gue kalau ada masalah. Dia yang bisa bikin gue ngerti apa arti hidup ini. Tapi sayangnya, sebuah kebohongan darinya keluar begitu saja. Sebuah kebohongan itu menghapus semua kebaikannya. Di mata gue, sekali pembohong tetap saja pembohong. Dia udah mengkhianati kata-katanya sendiri. Dan ternyata, dia temen gue dari kecil...” Jelasnya
Aku hanya terdiam mendengar perkataanya. Aku seperti mendapat hujan batu yang menerpa seluruh badanku hari ini.
“Lu kenapa ngga bilang kalau Zahra suka sama lu? Kenapa lu malah biarin gue ngejar apa yang ngga bakalan gue dapet?” Katanya
“Gue juga ngga tahu, gue baru tahu pas malem waktu gue di sana sama dia.” Jelasku
“Terus kenapa lu cium dia?” Katanya dengan nada tinggi
Aku kali ini terdiam, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi
“Gue udah ngga ngerti lagi sama jalan pikiran sahabat gue, entah ini namanya gila atau apaan gue juga ngga tau.” Katanya
Aku masih terdiam, seperti baru tersadar apa yang telah aku perbuat. Sebuah kesalahan yang berdampak besar untukku dan teman-temanku.
“Kenapa semuanya harus kayak gini?” Tanyanya sambil menyalakan sebatang rokok
“Dengerin gue dulu.......”
“Udah cukup, ngga ada yang perlu dijelasin lagi. Gue kira sama Dinda udah cukup, ternyata lu masih mau ngambil Zahra juga....” Katanya
“Eh gue ngga pernah ada niatan buat ngambil Zahra.....”
“TAPI KENAPA LU CIUM DIA??!!?” Kata Reza sambil mengangkat kerah kemejaku
Lidah ini kelu untuk beradu argumen tentang hal itu, aku sudah jelas salah dan tidak bisa membela apa-apa lagi. Setelah itu ia melepas genggamannya
“Emang keberanian gue nol, tapi seenggaknya sampai saat ini gue bukan penjilat ulung seperti lu..” Katanya
Setelah itu ia akan pergi meninggalkanku, namun sesuatu pun terjadi
“Nanda.....”
“Dinda.....”
Ternyata Nanda dan Dinda sudah datang tanpa kami ketahui, sudah kupastikan Nanda dan Dinda mendengar semuanya dengan sangat jelas
“Sejak kapan Bram? Sejak kapan kamu seperti ini? Kenapa Bram?” Tanya Dinda yang hampir menangis
Nafasku seperti tertahan dan hampir tidak berfungsi, aku kaku tidak berdaya
“Aku pikir kamu beda, ternyata kamu sama aja. Aku kecewa Bram!!” Katanya sambil meninggalkanku
“Ka Din......” Nanda tertahan oleh Reza yang tidak membiarkannya mengejar Dinda
“Lu selesaiin masalah lu sekarang, cepet kejar dia.” Kata Reza
Aku mencoba mengejar Dinda, tiba di teras depan aku melihat pintu gerbangku sudah terbuka. Pikirku mungkin ia belum jauh dari sini. Aku cari dengan menggunakan motor milik Reza. Aku telusuri jalanan di perumahan ini menuju jalan raya.....
Kerumunan orang-orang di pinggir jalan raya sudah hampir menutupi pandanganku, aku berusaha mendekat dan kutemukan Dinda terkapar tak berdaya. Darah yang mengalir cukup banyak, sontak aku langsung mencoba mencari pertolongan secepatnya. Setelah mengabari Nanda dan juga Reza, mereka akhirnya datang dengan cepat dan langsung membawa Dinda ke rumah sakit terdekat
Tiba di rumah sakit, Dinda langsung mendapatkan pertolongan pertama di UGD. Aku dan Reza menunggu di dekat ruangan tersebut sedangkan Nanda sedang mengurus administrasi. Kami menunggu dengan cukup lama, hingga akhirnya dokter itu keluar dari ruangan tersebut
“Anda keluarga dari korban?” Tanya Dokter tersebut
“Bukan Dok, kami hanya temannya.” Kata Reza
“Saya pacar korban Dok....” Kataku lemas
Nanda yang sudah selesai mengurus administrasi langsung menuju kami
“Gimana kabarnya Ka Din?” Tanya Nanda
Dokter itu menjelaskan kepada kami. Aku yang mendengarnya langsung terduduk lemas tidak bisa menerima keadaan. Di saat itu juga aku benci terhadap diriku sendiri, akulah penyebab kejadian itu. Akulah yang membuat Dinda mengalami kecelakaan. Aku yang bersalah, AKU YANG BERSALAH!!
Air mata ini sudah tidak dapat tertahankan lagi, turun mengalir melalui pipi ini. Lemas tak berdaya dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Nanda akhirnya duduk di sampingku
“Aku udah ngabarin Ayah sama Ibu.....”
“Nanti biar Abang yang ngabarin Mamanya Dinda...”
Apa yang akan terjadi jika aku memberi tahu Mamanya Dinda tentang hal ini? Aku pasti akan dibenci bahkan mendapatkan hukuman yang setimpal. Mau tidak mau aku harus siap menerimanya, apapun yang akan terjadi aku harus siap.
Tepat jam sepuluh malam, Orang Tua ku dan juga Mamanya Dinda sudah tiba di Rumah Sakit ini bersama kami. Aku seperti akan diadili hari ini juga, aku akan siap menerima ganjarannya
“Coba dijelasin gimana kejadiannya...” Kata Ayah
Ibuku sedang menenangkan Mamanya Dinda yang masih menangis mengetahui keadaan anaknya
“Jadi gini, abis dari rumah Ka Din mau nyebrang jalan terus ditabrak sama mobil pas di jalan raya....” Jelas Nanda
“Kurang lengkap..” Kataku sambil tertunduk di lantai
“Maksud kamu apa Bram?” Kata Ibuku
“Bang, udah jangan nyalahin diri Abang sendiri.” Kata Nanda
“EMANG ABANG YANG SALAH! ABANG YANG BIKIN DIA KECELAKAAN!” Kataku dengan emosi yang cukup meluap
Air mata ini kembali menetes, aku sudah tidak dapat menyembunyikan apa-apa lagi
“Bentar, maksudnya apa? Ayah masih belum ngerti sama kalian.” Kata Ayah kebingungan
“Aku yang buat Dinda mengalami kecelakaan tadi sore, semuanya aku yang buat. Aku ngelukain hatinya dia, dia lari ninggalin rumah terus aku kejar. Sebelum jalan raya aku udah liat dia, tapi pas dia nyebrang jalan ada mobil nabrak dia....” Kataku sambil menunduk
Kami semua terdiam, hanya terdengar isakan tangis dari Mamanya Dinda
“Maaf aku udah ngga berguna lagi di saat kondisi seperti ini, tapi aku tetep mau minta maaf sama Tante. Aku yang bikin semua ini terjadi, aku yang udah ngebuat Dinda......”
“Udah Bram, cukup nyalahin diri lu sendiri. Semuanya udah terjadi.” Kata Reza
“Gue emang salah, gue harus dihukum.”
“GUE BILANG CUKUP!” Kata Reza sambil mengangkat kerah kemejaku
“GUE YANG SALAH!!” Kataku
Aku dan Reza akhirnya hanya saling tatap, kemudian air mataku kembali menetes. Reza melepas genggamannya dari kerah bajuku dan kemudian dia memelukku.
Malam ini seperti akhir dari segalanya. Sudah tidak ada lagi yang dapat aku lakukan. Semuanya sudah sangat jelas, benar-benar sangat jelas. Kami hanya bisa menunggu di sini. Apa yang kami tunggu? Entahlah, sesuatu keajaiban mungkin yang kami tunggu.
Tidak ada lagi yang dapat aku lakukan
Tidak ada lagi..............
Lakukan..............
Diubah oleh beavermoon 14-01-2016 14:23
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas