- Beranda
- Stories from the Heart
ENKELI
...
TS
rayana1988
ENKELI
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
ya.. terkadang kita tidak bisa tahu dengan siapa jodoh kita,
dan kita tak bisa memilih cerita yang akan kita tempuh.
entah akan bermuara di laut ataukah kita harus melewati petak-petak sawah itu hingga nantinya akan kembali ke laut.
ikuti saja alurnya.
Disclaimer:
Anggap saja semua hal yang terjadi disini fiksi. karena penulis sangat menjaga privacy para tokoh didalamnya
Update
Prolog
So, honey, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars.
malaikat itu bernyanyi kecil dan dua insan itu mengecup bibir mereka.dunia terasa berhenti 10 detik bagi kami. wajahnya tampak menyemu merah. mungkin beberapa orang memperhatikan kami tapi kami harap tidak. malam itu langit begitu jernih sehingga bintang bintang tak malu lagi menunjukkan diri mereka. kami segera bergegas meninggalkan situs purbakala yang termasuk daerah piyungan dimana terlihat juga beberapa pasangan yang menikmati candle light dinner mereka.
setelah arus kehidupan yang kutempuh beserta ombak yang menghadang lajuku akhirnya kutetapkan pilihanku kepada wanita ini. Wanita yang sudah kusakiti berkali-kali namun tetap tabah. setelah beberapa kali bersandar akhirnya kutetapkan dialah pelabuhan terakhirku.
Segera Kugenggam tangannya dan menatapnya
saatnya untuk Pulang!
Konde.... eh salah..... Indeks......
Musim Pertama - Aku, Kita, Dia dan Kamu
(iyaaa... kamu...)
First Time Meet Her-1
First Time Meet Her-2
Penawar Letih
Kemeja Ungu
Lampion
Hasrat yang terpendam
Gadis itu bernama Indah
Andai aku bisa
Sleeping Angel
Indirect Kiss
Musim Kedua - Memories
Multiple Universes
Gadis Berdarah Campuran
Promise
Firasat
Harapan itu
The Results
Another Story
Calon Ayah
Musim ketiga - Jogja berhati Mantan
My Heart Will Go On
Senja di Taman
Out of Expectations
Untuk Pertama Kali
Candy
Selimut Tetangga
Another Story: Kita Tidak Akan Kalah
Restu Ibu
Jeaolusy
Mahkota Bidadari
Let Love Be Your Energy
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
ya.. terkadang kita tidak bisa tahu dengan siapa jodoh kita,
dan kita tak bisa memilih cerita yang akan kita tempuh.
entah akan bermuara di laut ataukah kita harus melewati petak-petak sawah itu hingga nantinya akan kembali ke laut.
ikuti saja alurnya.
Disclaimer:
Anggap saja semua hal yang terjadi disini fiksi. karena penulis sangat menjaga privacy para tokoh didalamnya
Update
Quote:
Prolog
So, honey, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars.
malaikat itu bernyanyi kecil dan dua insan itu mengecup bibir mereka.dunia terasa berhenti 10 detik bagi kami. wajahnya tampak menyemu merah. mungkin beberapa orang memperhatikan kami tapi kami harap tidak. malam itu langit begitu jernih sehingga bintang bintang tak malu lagi menunjukkan diri mereka. kami segera bergegas meninggalkan situs purbakala yang termasuk daerah piyungan dimana terlihat juga beberapa pasangan yang menikmati candle light dinner mereka.
setelah arus kehidupan yang kutempuh beserta ombak yang menghadang lajuku akhirnya kutetapkan pilihanku kepada wanita ini. Wanita yang sudah kusakiti berkali-kali namun tetap tabah. setelah beberapa kali bersandar akhirnya kutetapkan dialah pelabuhan terakhirku.
Segera Kugenggam tangannya dan menatapnya
saatnya untuk Pulang!
Konde.... eh salah..... Indeks......
Musim Pertama - Aku, Kita, Dia dan Kamu
(iyaaa... kamu...)
First Time Meet Her-1
First Time Meet Her-2
Penawar Letih
Kemeja Ungu
Lampion
Hasrat yang terpendam
Gadis itu bernama Indah
Andai aku bisa
Sleeping Angel
Indirect Kiss
Musim Kedua - Memories
Multiple Universes
Gadis Berdarah Campuran
Promise
Firasat
Harapan itu
The Results
Another Story
Calon Ayah
Musim ketiga - Jogja berhati Mantan
My Heart Will Go On
Senja di Taman
Out of Expectations
Untuk Pertama Kali
Candy
Selimut Tetangga
Another Story: Kita Tidak Akan Kalah
Restu Ibu
Jeaolusy
Mahkota Bidadari
Let Love Be Your Energy
Diubah oleh rayana1988 08-02-2016 15:14
anasabila memberi reputasi
1
12.3K
Kutip
128
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rayana1988
#89
Candy
Abis nemenin Bini belanja di weekend ini
ane update dulu gan...
ane update dulu gan...
Quote:
“
Candy
Di, wake up... what time is it” suara lembut itu membangunkan.
Kulihat bidadari yang hanya mengenakan handuk itu. Terlihat leher jenjang dan kulit yang temarang akibat pantulan dari kulit yang masih lembap sehabis mandi dengan Rambutnya disanggul.
“you said that we will see sunrise this early morning, right”
“Sorry Laura, i will take a bath first”
Kemudian kaki yang jenjang dengan tubuh yang hanya berbalut handuk itu masuk ke kamar yang tertinggal hanya wangi tubuhnya. Sungguh bidadari yang tertinggal di bumi.
Langit masih tampak gelap ketika aku dan Laura meluncur sepanjang jalan magelang. Tampak beberapa bus bumel beberapa beberapa kali merapat ke tepi kiri jalan. Menurunkan beberapa orang dengan barang belanjaannya. Pasar Muntilanpun sudah ramai dengan hilir mudik kendaraan truk ataupun pick up yang menurunkan sayur. Bidadariku ini tampak asyik melihat pemandangan di pagi itu. Pemandangan yang dipenuhi muka penuh harapan mereka akan rejeki yang akan mereka dapatkan pagi ini.
Pagi itu kami tiba di borobudur. Langit masih gelap kala itu. Kami tak pernah melepaskan gengamanku hingga kami menemukan tempat yang pas di sisi timur candi.
“Ra, if you could touch this statue, your wishes will be come true”
“really,?”
Kemudian ia mencoba menggapai patung Budha sembari memejamkan mata. Sesudahnya senyum itu mengembang.sesudahnya senyuman itu menyertainya ketika membuka mata menghangatkanku di pagi hari ini.
“Ra, looks that points” sembari kutunjuk titik merah di ufuk timur itu.
“how beautiful Di,.. warm as your heart” ucapnya lirih sembari dia beringsut kedekapanku. Sesudah mengecup pipiku.
![kaskus-image]()
Kami benar-benar menikmati detik demi detik hingga langit bersinar terang. Aroma tubuhnya masih jelas dalam ingatanku peluh yang bercucuran dari lehernya yang jenjang itu. Kunikmati dekapan ini jengkal demi jengkal matahari beranjak ke peraduanny yang tertinggi
“Is it okay to leave this place Ra?”
“Yup, where we will go?”
“Do you have any idea?”
“Shopping places. But its up to you Di, which is better” wajah bidadari dibalik kacamata hitam itu tidak memberikanku pilihan
Para pria pasti tahu kalimat diatas. Kalimat yang tak mungkin kau tolak.
Segera kugenggam tangannya dan kami bergegas menuju parkiran. Lalu kupacu escudo ini bergegas menuju ke selatan Tugu.
Akhirnya kami sampai di malioboro setelah kuparkirkan mobil in di hotel Garuda kamipun turun.
“Ra, we will breakfast first ya?”
“yup”
Segera kugandeng tangannya dan kami pun bergegas sarapan.
“wait few seconds Di”, segera dia mengelap sisa saos yang belepotan di pipiku. Kemudian dia tersenyum. Sejenak memandangku.
“what happen ra?”
“oh nothing.” Sembari memalingkan wajahnya yang bersemu merah ke arah jalan setelah menatapku dengan lembut.
“okay lets go ra”
Kugenggam tangan itu dan kami mulai menjelajahi toko toko di malioboro.
Memang sudah kodrat pria menjadi malaikat pelindung wanitanya ketika berbelanja walaupun belum ada komitmen antara aku dan Laura. Tapi sebagai pria sudah menjadi kewajibanku untuk melindunginya. Dan saat itu aku bak Robbie Williams yang melindungi setiap langkah Kaya Scodelario.
“watch out Ra” segera kutangkis dengan kepalan tanganku ketika orang yang membawa karung berukuran besar hampir mengenai kepalanya.
Aku memang sedikit lengah dengan Laura berusaha mendahuluiku. Sebelumnya kutempatkan diriku di depan Laura sehingga orang dari arah berlawanan tidak sempat mengenai Laura. Hanya tas kecil yang berisi aksesoris dan tas plastik yang berisi tas sebelum kami melewati Beringharjo dan menyebrang ke mirota Batik.
“watch out”
Braaakkk....
Motor itu menabrakku. Untung hanya setangnya saja mengenaiku. Dan motor itu oleng lalu berhenti.
“are you okay Ra”
“huumm...” mengangguk kecil dalam dekapanku namun masih keadaan syok.
“woi mas jangan ngebut, gak lihat apa ada yang lagi nyebrang” bentakku ke pemuda yang mungkin sudah mahasiswa itu.
“makanya klo nyebrang liat2” sahut pemuda itu
“Buuuukkkkkkkkk” segera kulayangkan bogemku ke helmnya hingga helm itu hampir terlepas dari kepalanya. dengan kaca yang pecah akibat
Dan motor itu oleng namun tak sampai jatuh. Kemudian dua bocah itu hanya menatapku. Mereka tahu monster apa yang akan mereka hadapi.
“stop Di..relax.... i’m fine ” pelukan Laura menghentikan tinjuku selanjutnya.
Untung saja bidadari itu menghentikanku sebelum diriku benar-benar menjadi monster.
“wes ojo dilandeni.... iso modyar koe” bisik temannya yang dibonceng. Lalu dua anak muda itu segera kabur meninggalkan kami tanpa permintaan maaf.
“its alright Di.. look at me,,, its alright..... relax..” sembari mengelus dadaku.
Segera saja kami memasuki mirota batik sebelum menjadi ramai. Entah apa yang terjadi didalam diriku tetapi Laura benar-benar bisa memusnahkan monster yang akan bangkit dalam tubuhku ini. lenyap dan hilang tergantikan oleh senyumannya.
“Di, which is better this one or this?” sembari mencocokkan kedua dress batik yang satu bewarna ungu dan satunya bewarna orange.
“i think this one. Do you like purple right?”
“yup. But, how about this one.” Sembari menunjukkan dress bewarna hijau.
Kemudian dia letakkan dress bewarna ungu dan orange itu.
“perfect Ra.!”
“i think this one suits for me Di” sembari mencocokkan dengan dress bewarna biru.
“yup, youre looking beautiful Ra”
“how about this one Di” sembari meletakkan kembali dress yang sudah ia coba dan mengambil dress bewarna merah.
“it suits to you Ra. Perfect!”
“so which is the best Di. You make me confuse ”
“okay Ra, i think the last one is suit to you. I like the pattern” kutunjuk dress bewarna merah.
“good recommendation Di. I like that”
“but,,, i think this one suits to me” sembari mengambil dress ungu yang sudah kupilihkan untuknya tadi.
I wanna Die.........
“Di, look that unique stuff” sembari meyeretku.
Laura tampak gembira hari itu. Ia menyeretku dari sisi ke sisi lain. Tak apalah demi senyuman itu. Senyuman yang bisa melupakan dahagaku.
“Ra,, look that......”sembari kutunjuk gantungan yang berbentuk kelamin pria dan ada juga yang berbentuk wanita ketika kami berada di lantai dua
“dont being pervert” sembari menjewer kupingku mengikuti langkahnya.
Akhirnya hasrat Laura berbelanja telah mencapai klimaksnya.
“Di,, dont you buy anything else?” sembari memperhatikan bill di kasir.
Segera saja kuteringat piyama batik yang tertulis di kotak itu. Kotak yang sampai saat ini belum kubuka.
“wait for few minutes Ra..” kusegera mengambil piyama batik bewarna coklat dan lingerie batik itu. Lingerie yang juga dibeli Laura.
“what are you buying Di, its for your girlfriend in the office?” sembari memegang lingerie batik itu.
Whisky – Tango – Foxtrot moments.
“Just for my colleague Ra and she is not my girlfriend Ra, just close friends” jawabku dengan muka gelagapan
“dont be serious Di, i’m just kidding”
Fyuuuuh Lega.
“but, i think she has special relationship with you Di, how do you know details of her size?” sembari mengeluarkan kartu kreditnya.
Eng.........ing...................eng....................................
Kuberhentikan becak itu untuk mengantar kami ke Inna Garuda. Kupegang erat-erat tas belanjaanny yang membuat pandanganku ke jalan tidak terlihat. sementara Laura sepertinya sibuk memotret dan kemudian mengupload gambar tersebut di grup medsosnya
“Di... From Lala” sembari laura memberikan iphone4S nya ketika aku telah selesai merapikan tas belanjaanya di bagasi.
“Kak, telepon kok gak diangkat sih?” suara bocah itu Cumiakkan telingaku.
“Kak, ada barang yang gak ketemu di sini nih. Klo ke kota kejauhan. Minta tolong beliin di carefour. Ntar detailnya ku SMS”
“oia kak sekalian ajakin Laura ke Centro ya?” sambungnya.
Dan telepon itu diputus.
“Are you tired?” sembari menyeka keringatku dengan tissue ketika aku sudah berada di kemudi.
“Nope... so where we would like to go Ra?”
“I think Lala has benn told you...” sembari memakai kacamata hitamnya dan mendengus.
Dan segera kupacu mobil ini ke daerah timur. Sepnjang perjalanan itu Laura memandang pemandangan namun sesekali menatapku dibalik kacamata hitamnya sembari tersenyum kecil.
“whats up Ra” kulihat Laura sedang memandangku.
“nope” kemudian ia berpaling ke tape mobil dan memilih playlist mungkin karena musiknya terlalu seria
“we need more beat song for today” setelah ia memilih suatu lagu.
I was there to witness
Candice's inner business
She wants the boys to notice
Her rainbows, and her ponies
She was educated but could not count to ten
Now she got lots of different horses
By lots of different men
And I say
Liberate your sons and daughters
The bush is high but in the hole is water
You can get some, when they give it
Nothing sacred, but it's a living
Hey, ho, here she goes
Either a little too high or a little too low
Low self-esteem and vertigo
'Cause she thinks she's made of candy
Hey, ho, here she goes
Either a little too loud or a little too close
Got a hurricane at the back of her throat
She thinks she's made of candy
Laura bernyanyi lypsinc sembari menggoyangkan tangannya mengikuti irama lagu itu. Suaranya yang merdu itu cukup fasih melafalkan lagu itu. Dan kamipun bernyanyi bersama dan diakhiri dengan gelak tawa kami berdua.
Lagu yang mengingatkanku ketika kami berbelanja sepanjang Malioboro
Setelah sekitar ssetengah jam perjalanan akhirnya kami sampai ke Amplas. Mungkin tidak perlu dideskripsikan dengan kata mengenai hasrat belanja Laura yang kembali memuncak setelah dia mengetahui bahwa harganya lebih murah ketimbang di negara asalnya. Bahkan mungkin bisa sampai sepersepuluh kalinya dibanding di Finlandia. Mungkin hanya gambar-gambar ini yang menggambarkan betapa energiknya Laura dan kondisiku ketika menemani Laura berbelanja di Amplas terutama di Centro.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Ibarat di EPL distance coverage Laura sudah setara dengan Jame Millner
![kaskus-image]()
Candy
Di, wake up... what time is it” suara lembut itu membangunkan.
Kulihat bidadari yang hanya mengenakan handuk itu. Terlihat leher jenjang dan kulit yang temarang akibat pantulan dari kulit yang masih lembap sehabis mandi dengan Rambutnya disanggul.
“you said that we will see sunrise this early morning, right”
“Sorry Laura, i will take a bath first”
Kemudian kaki yang jenjang dengan tubuh yang hanya berbalut handuk itu masuk ke kamar yang tertinggal hanya wangi tubuhnya. Sungguh bidadari yang tertinggal di bumi.
Langit masih tampak gelap ketika aku dan Laura meluncur sepanjang jalan magelang. Tampak beberapa bus bumel beberapa beberapa kali merapat ke tepi kiri jalan. Menurunkan beberapa orang dengan barang belanjaannya. Pasar Muntilanpun sudah ramai dengan hilir mudik kendaraan truk ataupun pick up yang menurunkan sayur. Bidadariku ini tampak asyik melihat pemandangan di pagi itu. Pemandangan yang dipenuhi muka penuh harapan mereka akan rejeki yang akan mereka dapatkan pagi ini.
Pagi itu kami tiba di borobudur. Langit masih gelap kala itu. Kami tak pernah melepaskan gengamanku hingga kami menemukan tempat yang pas di sisi timur candi.
“Ra, if you could touch this statue, your wishes will be come true”
“really,?”
Kemudian ia mencoba menggapai patung Budha sembari memejamkan mata. Sesudahnya senyum itu mengembang.sesudahnya senyuman itu menyertainya ketika membuka mata menghangatkanku di pagi hari ini.
“Ra, looks that points” sembari kutunjuk titik merah di ufuk timur itu.
“how beautiful Di,.. warm as your heart” ucapnya lirih sembari dia beringsut kedekapanku. Sesudah mengecup pipiku.

Kami benar-benar menikmati detik demi detik hingga langit bersinar terang. Aroma tubuhnya masih jelas dalam ingatanku peluh yang bercucuran dari lehernya yang jenjang itu. Kunikmati dekapan ini jengkal demi jengkal matahari beranjak ke peraduanny yang tertinggi
“Is it okay to leave this place Ra?”
“Yup, where we will go?”
“Do you have any idea?”
“Shopping places. But its up to you Di, which is better” wajah bidadari dibalik kacamata hitam itu tidak memberikanku pilihan
Para pria pasti tahu kalimat diatas. Kalimat yang tak mungkin kau tolak.
Segera kugenggam tangannya dan kami bergegas menuju parkiran. Lalu kupacu escudo ini bergegas menuju ke selatan Tugu.
Akhirnya kami sampai di malioboro setelah kuparkirkan mobil in di hotel Garuda kamipun turun.
“Ra, we will breakfast first ya?”
“yup”
Segera kugandeng tangannya dan kami pun bergegas sarapan.
“wait few seconds Di”, segera dia mengelap sisa saos yang belepotan di pipiku. Kemudian dia tersenyum. Sejenak memandangku.
“what happen ra?”
“oh nothing.” Sembari memalingkan wajahnya yang bersemu merah ke arah jalan setelah menatapku dengan lembut.
“okay lets go ra”
Kugenggam tangan itu dan kami mulai menjelajahi toko toko di malioboro.
Memang sudah kodrat pria menjadi malaikat pelindung wanitanya ketika berbelanja walaupun belum ada komitmen antara aku dan Laura. Tapi sebagai pria sudah menjadi kewajibanku untuk melindunginya. Dan saat itu aku bak Robbie Williams yang melindungi setiap langkah Kaya Scodelario.
“watch out Ra” segera kutangkis dengan kepalan tanganku ketika orang yang membawa karung berukuran besar hampir mengenai kepalanya.
Aku memang sedikit lengah dengan Laura berusaha mendahuluiku. Sebelumnya kutempatkan diriku di depan Laura sehingga orang dari arah berlawanan tidak sempat mengenai Laura. Hanya tas kecil yang berisi aksesoris dan tas plastik yang berisi tas sebelum kami melewati Beringharjo dan menyebrang ke mirota Batik.
“watch out”
Braaakkk....
Motor itu menabrakku. Untung hanya setangnya saja mengenaiku. Dan motor itu oleng lalu berhenti.
“are you okay Ra”
“huumm...” mengangguk kecil dalam dekapanku namun masih keadaan syok.
“woi mas jangan ngebut, gak lihat apa ada yang lagi nyebrang” bentakku ke pemuda yang mungkin sudah mahasiswa itu.
“makanya klo nyebrang liat2” sahut pemuda itu
“Buuuukkkkkkkkk” segera kulayangkan bogemku ke helmnya hingga helm itu hampir terlepas dari kepalanya. dengan kaca yang pecah akibat
Dan motor itu oleng namun tak sampai jatuh. Kemudian dua bocah itu hanya menatapku. Mereka tahu monster apa yang akan mereka hadapi.
“stop Di..relax.... i’m fine ” pelukan Laura menghentikan tinjuku selanjutnya.
Untung saja bidadari itu menghentikanku sebelum diriku benar-benar menjadi monster.
“wes ojo dilandeni.... iso modyar koe” bisik temannya yang dibonceng. Lalu dua anak muda itu segera kabur meninggalkan kami tanpa permintaan maaf.
“its alright Di.. look at me,,, its alright..... relax..” sembari mengelus dadaku.
Segera saja kami memasuki mirota batik sebelum menjadi ramai. Entah apa yang terjadi didalam diriku tetapi Laura benar-benar bisa memusnahkan monster yang akan bangkit dalam tubuhku ini. lenyap dan hilang tergantikan oleh senyumannya.
“Di, which is better this one or this?” sembari mencocokkan kedua dress batik yang satu bewarna ungu dan satunya bewarna orange.
“i think this one. Do you like purple right?”
“yup. But, how about this one.” Sembari menunjukkan dress bewarna hijau.
Kemudian dia letakkan dress bewarna ungu dan orange itu.
“perfect Ra.!”
“i think this one suits for me Di” sembari mencocokkan dengan dress bewarna biru.
“yup, youre looking beautiful Ra”
“how about this one Di” sembari meletakkan kembali dress yang sudah ia coba dan mengambil dress bewarna merah.
“it suits to you Ra. Perfect!”
“so which is the best Di. You make me confuse ”
“okay Ra, i think the last one is suit to you. I like the pattern” kutunjuk dress bewarna merah.
“good recommendation Di. I like that”
“but,,, i think this one suits to me” sembari mengambil dress ungu yang sudah kupilihkan untuknya tadi.
I wanna Die.........
“Di, look that unique stuff” sembari meyeretku.
Laura tampak gembira hari itu. Ia menyeretku dari sisi ke sisi lain. Tak apalah demi senyuman itu. Senyuman yang bisa melupakan dahagaku.
“Ra,, look that......”sembari kutunjuk gantungan yang berbentuk kelamin pria dan ada juga yang berbentuk wanita ketika kami berada di lantai dua
“dont being pervert” sembari menjewer kupingku mengikuti langkahnya.
Akhirnya hasrat Laura berbelanja telah mencapai klimaksnya.
“Di,, dont you buy anything else?” sembari memperhatikan bill di kasir.
Segera saja kuteringat piyama batik yang tertulis di kotak itu. Kotak yang sampai saat ini belum kubuka.
“wait for few minutes Ra..” kusegera mengambil piyama batik bewarna coklat dan lingerie batik itu. Lingerie yang juga dibeli Laura.
“what are you buying Di, its for your girlfriend in the office?” sembari memegang lingerie batik itu.
Whisky – Tango – Foxtrot moments.
“Just for my colleague Ra and she is not my girlfriend Ra, just close friends” jawabku dengan muka gelagapan
“dont be serious Di, i’m just kidding”
Fyuuuuh Lega.
“but, i think she has special relationship with you Di, how do you know details of her size?” sembari mengeluarkan kartu kreditnya.
Eng.........ing...................eng....................................
Kuberhentikan becak itu untuk mengantar kami ke Inna Garuda. Kupegang erat-erat tas belanjaanny yang membuat pandanganku ke jalan tidak terlihat. sementara Laura sepertinya sibuk memotret dan kemudian mengupload gambar tersebut di grup medsosnya
“Di... From Lala” sembari laura memberikan iphone4S nya ketika aku telah selesai merapikan tas belanjaanya di bagasi.
“Kak, telepon kok gak diangkat sih?” suara bocah itu Cumiakkan telingaku.
“Kak, ada barang yang gak ketemu di sini nih. Klo ke kota kejauhan. Minta tolong beliin di carefour. Ntar detailnya ku SMS”
“oia kak sekalian ajakin Laura ke Centro ya?” sambungnya.
Dan telepon itu diputus.
“Are you tired?” sembari menyeka keringatku dengan tissue ketika aku sudah berada di kemudi.
“Nope... so where we would like to go Ra?”
“I think Lala has benn told you...” sembari memakai kacamata hitamnya dan mendengus.
Dan segera kupacu mobil ini ke daerah timur. Sepnjang perjalanan itu Laura memandang pemandangan namun sesekali menatapku dibalik kacamata hitamnya sembari tersenyum kecil.
“whats up Ra” kulihat Laura sedang memandangku.
“nope” kemudian ia berpaling ke tape mobil dan memilih playlist mungkin karena musiknya terlalu seria
“we need more beat song for today” setelah ia memilih suatu lagu.
I was there to witness
Candice's inner business
She wants the boys to notice
Her rainbows, and her ponies
She was educated but could not count to ten
Now she got lots of different horses
By lots of different men
And I say
Liberate your sons and daughters
The bush is high but in the hole is water
You can get some, when they give it
Nothing sacred, but it's a living
Hey, ho, here she goes
Either a little too high or a little too low
Low self-esteem and vertigo
'Cause she thinks she's made of candy
Hey, ho, here she goes
Either a little too loud or a little too close
Got a hurricane at the back of her throat
She thinks she's made of candy
Laura bernyanyi lypsinc sembari menggoyangkan tangannya mengikuti irama lagu itu. Suaranya yang merdu itu cukup fasih melafalkan lagu itu. Dan kamipun bernyanyi bersama dan diakhiri dengan gelak tawa kami berdua.
Lagu yang mengingatkanku ketika kami berbelanja sepanjang Malioboro
Setelah sekitar ssetengah jam perjalanan akhirnya kami sampai ke Amplas. Mungkin tidak perlu dideskripsikan dengan kata mengenai hasrat belanja Laura yang kembali memuncak setelah dia mengetahui bahwa harganya lebih murah ketimbang di negara asalnya. Bahkan mungkin bisa sampai sepersepuluh kalinya dibanding di Finlandia. Mungkin hanya gambar-gambar ini yang menggambarkan betapa energiknya Laura dan kondisiku ketika menemani Laura berbelanja di Amplas terutama di Centro.


Ibarat di EPL distance coverage Laura sudah setara dengan Jame Millner

Diubah oleh rayana1988 12-01-2016 11:50
0
Kutip
Balas