- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.8K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#1413
F Part 55
Pensil warna merah yang gue gunakan untuk mewarnai seekor naga yang gue gambar mendadak patah mendengar perkataan Ani. Jangankan pensil, telinga gue pun seperti mau pecah mendengar dia berkata seperti itu. Seumur-umur gue bersama dia, baru pertama kali dia curhat mengenai hal tersebut (suka sama seseorang).
“Ngomong naon maneh?! (Ngomong apa lu?)” Dengan bahasa Sunda yang keluar dari mulut gue, gue membalas ucapan Ani tadi. Gue memandanginya aneh dan geli. Gilak aja dia bakal ngomong seperti itu ke gue.
“Atuh Kak!” Ujar dia manja.-Geli!
“Gak!”
“Gak! Gak! Gue gak setuju lu suka sama Aditya, lagian dia kan masih kerabat juga. Mikir atuh maneh!” Ucap gue dengan nada agak emosi. Entah kenapa gue gak suka aja si Ani suka sama seseorang dan ditambah lagi seseorang itu adalah keluarga dari Ayah. Gue sebetulnya tidak terlalu menyukai keluarga dari Ayah. Memang sih mereka pada baik, tapi mereka itu… ah susah gue jelasinya kalau gue gak suka ya bakaln gak suka.
“Lagian, kenapa lu kok bisa sih?! Bingung aing.” Tanya gue ke Ani serius. Dia tampak diam saja dan menunduk seolah-olah dia menyesal karena curhat ke gue. Dia pasti tau kalau gue sedang kesal. Merasa dimarahi oleh gue, Ani tiba-tiba berdiri lalu pergi keluar. Dia pundung sepertinya.
“Huh~” Gue cuman bisa geleng-geleng kepala. Awalnya sih gue gak terlalu peduli dengan masalah ini. Awalnya gue pikir masalah Aditya itu gak terlalu serius, tapi dilihat dari cara Ani menyampaikan omongnannya tadi, ini udah serius. Dan, gue harus bertindak. Gue kemudian minta nomor Adhitya ke Nancy.
“Halo, kak Adit?” Sapa gue di telepon
“Ya, Halo, ini siapa?”
“Ini aku Felisha.”
“Oh, Felisha, ada apa Felisha?”
“Kak Adit, jangan deketin Ani.”
“Loh.. kenapa?” Tanya dia tampak bingung.
“Aku gak suka aja.”
“Eh-eh.. kok bisa begitu?”
“……” Gue bingng harus jawab apa. Gue langsung memutuskan panggilan telepon dengan kak Adit. Selang beberapa detik, hp gue berbunyi tanda panggilan masuk, gue langsung angkat telepon itu, mungkin kak Adit telepon balik gue.
“Ya, aku gak suka aja. Lagian kita kan masih keluarga.” Nyerocos gue ditelepon.
“Gak suka apa Felisha?”
Kok, suaranya beda ya dari yang tadi. Gue diam sejenak, lalu melihat ke layar hp gue, ternyata panggilan masuk itu dari nomor yang berbeda. Kampretos, ternyata nomor si Rangga.
“Eh.. kak Rangga, maaf. Salah bicara tadi. Hehe.”
Sebelum si Rangga ngomong lagi, gue langsung memutuskan panggilan darinya lalu melempar hp gue ke kasur. Bodo amatlah.
***
Keesokan harinya adalah hari pertama masuk sekolah lagi. Seperti biasanya, gue yang rajin ini udah siap-siap dan menunggu makanan di meja makan yang sedang di masak ibu. Si Ani baru turun ke bawah dan seperti biasa dia masih belum mandi. Perut aja yang diurus, oceh gue dalam hati melihat dia baru saja duduk dihadapan gue.
Si Ani entah masih pundung sama gue atau tidak, biasanya dia selalu nyapa gue, tapi kali ini hanya ayahnya saja dan ibu saja yang ia sapa. Gue sadar, karena biasanya pas dia turun dia selalu bilang “Pagi, kak Fe.” Atau “Wuiih kak Fe, udah bangun. Kakak rajin banget.” Dsb. Tapi, kali ini tidak, dia cuek saja ke gue. Eh, kenapa gue jadi mikirin itu. Astaga gak penting banget.
“Ani.. lihat kak Felisha, rajin sudah mandi. Kenapa kamu belum?” Tanya ayahnya. Ani diam saja mengacuhkan pertanyaan Ayahnya. Ayahnya jadi keki sendiri.
“Kamu tinggal satu semester lagi ya? Sebentar lagi dong.” Ayahnya mengalihkan obrolannya ke gue.
“Iya om..” Jawab gue.
“Semangat ya..” Kata dia.
“Iya om, makasih.” Balas gue.
“Tuh Ani, contoh kak Felisha dari kelas satu rangking satu terus. Kamu mah gak masuk sepuluh besar kemarin juga.” Kata ayahnya ke Ani. Gue perhatikan Ani hanya memainkan nasi dengan sendok dan tampak kesal. Dia kemudian berdiri lalu balik lagi ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Idih! Ni anak ngambek atau gimana. Gak jelas juga, pengen gue timpuk rasanya.
“Itu Ani kenapa? Kok gak jadi makan.” Tanya ibu yang baru saja menyajikan lauk.
Baik gue dan ayahnya tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan ibu. Memang makin kesini si Ani bagi gue tambah gak jelas dan sulit dimengerti.
***
Hari pertama sekolah pasti selalu dimulai dengan upacara yang membosankan. Gue udah paling gak betah kalau denger kepala sekolah atau guru pidato di depan. Gue biasanya suka ngedumel sendiri kalau sudah muali kesal. Masa sudah hampir 30 menit pembina upacaranya ngomong di depan. Padahal dalam imajinasi gue, mulut kepala sekolah tiba-tiba berbusa lalu kepala sekolah jatuh pingsan kemudian kepala sekolah meninggalkan dunia, bukan meninggalkan upacara.
“Felisha, cicing! (diam)” Kata seseorang di belakang gue. Gue pun kemudian menoleh kebelakang mencari tahu siapa yang barusan ngomong ke gue dan ternyata itu adalah salah guru. Gue cuman bisa nyengir aja lalu kembali melihat ke depan, mencoba tertib.
Selain tidak bisa diam dan ngedumel, yang dilakukan gue ketika sedang upacara adalah melihat ke sekitar. Kadang gue suka melihat siswa-siswa lain yang senasib dengan gue, yaitu siswa-siswa yang tidak bisa diam dan membenci upacara yang lama. Kadang gue selalu memperhatikan dimulai dari barisan kelas X. Pas gue memperhatikan kelas X-8 kelas si Ani, ada yang tampak ganjil. Maksudnya, gue tidak melihat Ani. Sepanjang gue tau, dia suka baris di depan ketika upacara, tapi untuk kali ini dia tidak ada. Gue pun jadi penasaran. Apa dia tidak masuk hari ini?
Upacara selesai, dan kepala sekolah pun tidak jadi mati, gue langsung menuju ke barisan kelas X khususnya kelasnya Ani. Kondisi yang masih rusuh karena baru bubaran membuat gue sulit untuk menemukan seseorang yang gue kenal yang hendak gue tanyai.
“Za, Ani gak masuk?” Hanya Reza yang gue tau di kelasnya Ani.
“Bukanya serumah sama kakak?” Dia malah nanya balik.
“Eh, Za seriusan gue tadi duluan berangkatnya.”
“Sebentar kak. Tanya dulu.”
…..
“Woi.. nempo si Ani teu ? Asup teu si Ani?” (Woi liat si Ani gak? Masuk gak dia?) Teriak Reza ke kepada teman-temannya.
“Gak katanya Kak, Ani gak ada.”
“Oh.. yaudah.”
Beneran si Ani gak masuk, dan gue ngerasa ini gara-gara ada sangkut pautnya dengan gue, gue merasa kayaknya dia ngambek ke gue gara-gara gue omelin dan gue nyuruh gak suka ke Adhitya, tapi plis deh Ani masa sampai segininya. Ani ngambek ada-ada aja.
….
“WOY!!! Buka!” Gue menggedor-gedor pintu kamar Ani yang terkunci. Gue terus menggedor-gedor sampai akhirnya dia membukakan pintu.
“Lama amat sih..” Kata gue ketika dia membukakan pintu. Dia masih mengenakan baju tidur dan belum mandi. Astagfirulloh.
“Idih can mandi.” Gue nyelenong masuk ke kamarnya.
“Heh! Kenapa gak sekolah ?”
Dia seperti biasa diam saja dan gue bisa membaca dari raut mukanya yang pundung.
“Astaga Ani, lo ngambek ya ke gue gara-gara gue larang lo suka sama Adhitya?”
Masih diam saja dan mencoba nyuekin gue dengan mainin hpnya.
“Alasan gue ngelarang lu itu gara-gara dia itu playboy!”
“Gak percaya? Mau bukti?” Lanjut gue.
Entah darimana gue bisa ngomong ngasal seperti itu..
“Ngomong naon maneh?! (Ngomong apa lu?)” Dengan bahasa Sunda yang keluar dari mulut gue, gue membalas ucapan Ani tadi. Gue memandanginya aneh dan geli. Gilak aja dia bakal ngomong seperti itu ke gue.
“Atuh Kak!” Ujar dia manja.-Geli!
“Gak!”
“Gak! Gak! Gue gak setuju lu suka sama Aditya, lagian dia kan masih kerabat juga. Mikir atuh maneh!” Ucap gue dengan nada agak emosi. Entah kenapa gue gak suka aja si Ani suka sama seseorang dan ditambah lagi seseorang itu adalah keluarga dari Ayah. Gue sebetulnya tidak terlalu menyukai keluarga dari Ayah. Memang sih mereka pada baik, tapi mereka itu… ah susah gue jelasinya kalau gue gak suka ya bakaln gak suka.
“Lagian, kenapa lu kok bisa sih?! Bingung aing.” Tanya gue ke Ani serius. Dia tampak diam saja dan menunduk seolah-olah dia menyesal karena curhat ke gue. Dia pasti tau kalau gue sedang kesal. Merasa dimarahi oleh gue, Ani tiba-tiba berdiri lalu pergi keluar. Dia pundung sepertinya.
“Huh~” Gue cuman bisa geleng-geleng kepala. Awalnya sih gue gak terlalu peduli dengan masalah ini. Awalnya gue pikir masalah Aditya itu gak terlalu serius, tapi dilihat dari cara Ani menyampaikan omongnannya tadi, ini udah serius. Dan, gue harus bertindak. Gue kemudian minta nomor Adhitya ke Nancy.
“Halo, kak Adit?” Sapa gue di telepon
“Ya, Halo, ini siapa?”
“Ini aku Felisha.”
“Oh, Felisha, ada apa Felisha?”
“Kak Adit, jangan deketin Ani.”
“Loh.. kenapa?” Tanya dia tampak bingung.
“Aku gak suka aja.”
“Eh-eh.. kok bisa begitu?”
“……” Gue bingng harus jawab apa. Gue langsung memutuskan panggilan telepon dengan kak Adit. Selang beberapa detik, hp gue berbunyi tanda panggilan masuk, gue langsung angkat telepon itu, mungkin kak Adit telepon balik gue.
“Ya, aku gak suka aja. Lagian kita kan masih keluarga.” Nyerocos gue ditelepon.
“Gak suka apa Felisha?”
Kok, suaranya beda ya dari yang tadi. Gue diam sejenak, lalu melihat ke layar hp gue, ternyata panggilan masuk itu dari nomor yang berbeda. Kampretos, ternyata nomor si Rangga.
“Eh.. kak Rangga, maaf. Salah bicara tadi. Hehe.”
Sebelum si Rangga ngomong lagi, gue langsung memutuskan panggilan darinya lalu melempar hp gue ke kasur. Bodo amatlah.
***
Keesokan harinya adalah hari pertama masuk sekolah lagi. Seperti biasanya, gue yang rajin ini udah siap-siap dan menunggu makanan di meja makan yang sedang di masak ibu. Si Ani baru turun ke bawah dan seperti biasa dia masih belum mandi. Perut aja yang diurus, oceh gue dalam hati melihat dia baru saja duduk dihadapan gue.
Si Ani entah masih pundung sama gue atau tidak, biasanya dia selalu nyapa gue, tapi kali ini hanya ayahnya saja dan ibu saja yang ia sapa. Gue sadar, karena biasanya pas dia turun dia selalu bilang “Pagi, kak Fe.” Atau “Wuiih kak Fe, udah bangun. Kakak rajin banget.” Dsb. Tapi, kali ini tidak, dia cuek saja ke gue. Eh, kenapa gue jadi mikirin itu. Astaga gak penting banget.
“Ani.. lihat kak Felisha, rajin sudah mandi. Kenapa kamu belum?” Tanya ayahnya. Ani diam saja mengacuhkan pertanyaan Ayahnya. Ayahnya jadi keki sendiri.
“Kamu tinggal satu semester lagi ya? Sebentar lagi dong.” Ayahnya mengalihkan obrolannya ke gue.
“Iya om..” Jawab gue.
“Semangat ya..” Kata dia.
“Iya om, makasih.” Balas gue.
“Tuh Ani, contoh kak Felisha dari kelas satu rangking satu terus. Kamu mah gak masuk sepuluh besar kemarin juga.” Kata ayahnya ke Ani. Gue perhatikan Ani hanya memainkan nasi dengan sendok dan tampak kesal. Dia kemudian berdiri lalu balik lagi ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Idih! Ni anak ngambek atau gimana. Gak jelas juga, pengen gue timpuk rasanya.
“Itu Ani kenapa? Kok gak jadi makan.” Tanya ibu yang baru saja menyajikan lauk.
Baik gue dan ayahnya tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan ibu. Memang makin kesini si Ani bagi gue tambah gak jelas dan sulit dimengerti.
***
Hari pertama sekolah pasti selalu dimulai dengan upacara yang membosankan. Gue udah paling gak betah kalau denger kepala sekolah atau guru pidato di depan. Gue biasanya suka ngedumel sendiri kalau sudah muali kesal. Masa sudah hampir 30 menit pembina upacaranya ngomong di depan. Padahal dalam imajinasi gue, mulut kepala sekolah tiba-tiba berbusa lalu kepala sekolah jatuh pingsan kemudian kepala sekolah meninggalkan dunia, bukan meninggalkan upacara.
“Felisha, cicing! (diam)” Kata seseorang di belakang gue. Gue pun kemudian menoleh kebelakang mencari tahu siapa yang barusan ngomong ke gue dan ternyata itu adalah salah guru. Gue cuman bisa nyengir aja lalu kembali melihat ke depan, mencoba tertib.
Selain tidak bisa diam dan ngedumel, yang dilakukan gue ketika sedang upacara adalah melihat ke sekitar. Kadang gue suka melihat siswa-siswa lain yang senasib dengan gue, yaitu siswa-siswa yang tidak bisa diam dan membenci upacara yang lama. Kadang gue selalu memperhatikan dimulai dari barisan kelas X. Pas gue memperhatikan kelas X-8 kelas si Ani, ada yang tampak ganjil. Maksudnya, gue tidak melihat Ani. Sepanjang gue tau, dia suka baris di depan ketika upacara, tapi untuk kali ini dia tidak ada. Gue pun jadi penasaran. Apa dia tidak masuk hari ini?
Upacara selesai, dan kepala sekolah pun tidak jadi mati, gue langsung menuju ke barisan kelas X khususnya kelasnya Ani. Kondisi yang masih rusuh karena baru bubaran membuat gue sulit untuk menemukan seseorang yang gue kenal yang hendak gue tanyai.
“Za, Ani gak masuk?” Hanya Reza yang gue tau di kelasnya Ani.
“Bukanya serumah sama kakak?” Dia malah nanya balik.
“Eh, Za seriusan gue tadi duluan berangkatnya.”
“Sebentar kak. Tanya dulu.”
…..
“Woi.. nempo si Ani teu ? Asup teu si Ani?” (Woi liat si Ani gak? Masuk gak dia?) Teriak Reza ke kepada teman-temannya.
“Gak katanya Kak, Ani gak ada.”
“Oh.. yaudah.”
Beneran si Ani gak masuk, dan gue ngerasa ini gara-gara ada sangkut pautnya dengan gue, gue merasa kayaknya dia ngambek ke gue gara-gara gue omelin dan gue nyuruh gak suka ke Adhitya, tapi plis deh Ani masa sampai segininya. Ani ngambek ada-ada aja.
….
“WOY!!! Buka!” Gue menggedor-gedor pintu kamar Ani yang terkunci. Gue terus menggedor-gedor sampai akhirnya dia membukakan pintu.
“Lama amat sih..” Kata gue ketika dia membukakan pintu. Dia masih mengenakan baju tidur dan belum mandi. Astagfirulloh.
“Idih can mandi.” Gue nyelenong masuk ke kamarnya.
“Heh! Kenapa gak sekolah ?”
Dia seperti biasa diam saja dan gue bisa membaca dari raut mukanya yang pundung.
“Astaga Ani, lo ngambek ya ke gue gara-gara gue larang lo suka sama Adhitya?”
Masih diam saja dan mencoba nyuekin gue dengan mainin hpnya.
“Alasan gue ngelarang lu itu gara-gara dia itu playboy!”
“Gak percaya? Mau bukti?” Lanjut gue.
Entah darimana gue bisa ngomong ngasal seperti itu..
itkgid memberi reputasi
1
