Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini emoticon-Smilie
Semoga masih ada yang inget sama gue ya emoticon-Malu
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian emoticon-Smilie

Sometimes Love Just Ain't Enough



*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.


Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
afrizal7209787Avatar border
DhekazamaAvatar border
jenggalasunyiAvatar border
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
422.4K
1.5K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#943
PART 39

Gue melalui fase KKN tanpa ada kejutan satu apapun, semua datar-datar aja. Sekali dua kali gue balik ke kosan karena keperluan kampus sekaligus nongkrong bareng anak-anak. Fira juga ambil KKN di periode yang sama seperti gue, dan komunikasi antara kami berdua berjalan lancar meskipun terpisah puluhan kilometer jauhnya. Selama KKN itu gue lebih menganggap sebagai liburan, karena memang itulah kegiatan gue disana. Makan, nongkrong, tidur. Program kerja yang kami susun sebelumnya justru cuma merupakan selingan.

Seusai KKN, kehidupan gue kembali seperti biasanya. Gue mulai berkutat dengan kesibukan di kampus lagi, ngejar matakuliah yang belum sempet gue ambil, atau ngulang gara-gara nilainya jeblok. Tapi gue merasa ada yang berbeda setelah gue kembali ke kampus seusai KKN. Rasa-rasanya gue jadi semakin bisa memaklumi kehidupan di masyarakat. Begitu pula dengan temen-temen gue lainnya. Gue merasakan ada perubahan dari cara pandang kami, dan itu membuat kami semakin dewasa.

Perubahan itu membuat gue dan temen-temen yang udah menjalani KKN menjadi semakin nyaman di kampus. Satu hal yang menurut gue ironis, justru ketika kami merasa paling nyaman dan merasa udah sangat mengenal temen-temen satu sama lain, di saat itulah kami harus menyadari bahwa kebersamaan kami di kampus mungkin gak lama lagi. Paling cepat semester depan sebagian dari kami telah wisuda.

“cepet banget ya kita udah pada mulai ngerjain skripsi…” celetuk Fira suatu saat.

Gue yang sedang makan ketoprak di deket kampus, ditemani oleh Fira dan beberapa anak-anak lain, mengangguk-angguk sambil mengunyah.

“matakuliah udah pada abis, tinggal ngerjain skripsi doang, pasti jadi jarang ngampus lagi deh….” timpal salah satu temen gue.

“padahal semester kemaren aja udah pada kepisah-pisah gara-gara ambil bidang minat yang beda, sekarang tambah kepisah lagi…” sahut Fira dengan lirih.

“tapi kalo suruh ngulang kuliah lagi dari awal gue mah ogah…” sahut temen gue yang lain sambil nyengir. Gue mau gak mau jadi ketawa mendengar itu.

“gak perlu ngulang dari awal lagi sih, ngulang aja di matakuliah-matakuliah yang susah…” gue menimpali.

“nah itu malah paling males, udah tau susah kok diulang…”

“katanya mau barengan lagi?”

“itu mah dodol namanya…”

Kami semua tertawa dengan kesimpulan akhir itu.


Gue kemudian menemani Fira pulang ke kosnya dengan berjalan kaki. Hari itu entah kenapa gue malas membawa motor, dan pagi tadi gue ke kampus dengan cara nebeng temen. Fira juga oke-oke aja jalan kaki dari kampus ke kosnya, karena emang gak begitu jauh. Kebetulan cuaca hari itu juga mendukung. Kami berjalan berdampingan dengan sesekali membicarakan hal-hal yang layak dikomentari di sepanjang jalan.

“lo udah nemuin Sherly, gebetan lo itu?” tanyanya tiba-tiba.

Gue sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. Sosok Sherly yang beberapa waktu belakangan ini perlahan mulai gue lupakan, jadi terbayang lagi gara-gara pertanyaan barusan. Gue membutuhkan waktu beberapa saat untuk menjawab pertanyaan itu. Gue menggeleng pelan.

“belum…” jawab gue lirih.

gue menoleh ke Fira sambil tersenyum tipis, “….dan gue gak yakin apa dia masih layak disebut gebetan gue setelah 3 bulan lebih gak ada kabar sama sekali.”

“berarti udah bukan gebetan?” tanyanya sambil memasukkan tangan ke kantong jeans.

“bukan, eh, entahlah….gue gak tau…”

Fira mengerling ke gue sambil tersenyum.

“susah banget ya buat ngelupain dia?”

gue menggeleng, “bukan dia nya sih yang susah dilupain, tapi cerita hidupnya yang bikin gue susah ngelupain… karena gak ada orang lain yang gue kenal selain Sherly yang punya cerita seperti itu.”

“iya juga sih…” Fira menghela napas, “mungkin gak seharusnya gue iri sama ceritanya kalo gitu…” ujarnya pelan.

“hm? apa tadi?”

Fira menggeleng sambil tersenyum memandangi jalanan, “gakpapa kok, gak penting. Hehehe…”


Kami berdua berjalan dalam kebisuan, hingga akhirnya sampailah kami di kosan Fira. Sebelum dia masuk ke dalam, kami sempat berdiri berhadapan di depan pagar, dengan dia bersandar di pintu pagar yang setengah terbuka.


thanks yak udah dianterin pulang. Semoga lo gak kesasar ya baliknya. Hahaha…”

“haha, kesasar gimana sih, mana mungkin kesasar gue disini.”

Fira tersenyum.

“bukannya sekarang lo udah kesasar ya?” sahutnya.


Beberapa minggu kemudian.
Siang itu gue memutuskan balik ke kos lebih cepat, dan gak ikut nongkrong bareng anak-anak di kantin kampus. Alasannya simpel sih, perut gue mules. Gue merasa lebih nyaman (maaf) boker di kos daripada di kampus. Sesampai di kosan gue langsung masuk ke WC dan menyelesaikan urusan gue. Keluar dari WC gue melihat temen sebelah kamar kos gue, Novan, sedang duduk di depan kamarnya sambil bermain gitar. Gue menghampirinya.


“gak kuliah lo, Van?”

“ntar sore…” sahutnya tanpa memandang gue dan tetap bermain gitar.

“ooh…” gue mengangguk-angguk dan kemudian masuk ke kamar.


Pintu kamar gue biarkan terbuka, sementara Novan bermain gitar persis di sebelah pintu kamar gue. Sambil sedikit merapikan kamar, gue ganti kemeja gue menjadi pake kaos oblong doang. Kemudian gue mendengar Novan ngomong ke gue dari luar kamar.


“tadi ada yang kesini cari lo.”

“siapa?”

“itutuh cewek yang dulu sering kesini, yang pake kacamata, Sherly ya kalo gak salah namanya?”


Gue terperanjat dan langsung bangkit dari duduk, kemudian keluar kamar, berdiri di depan Novan.


“tadi Sherly kesini? ngapain? cari gue?”

“iya tadi doi kesini nyariin lo. gue baru bangun tidur, keluar kamar, ada doi yang lagi berdiri di depan pintu kamar lo.”

“trus dia bilang apaan?” cecar gue.

“ya cuma nanya lo kemana, gue jawab aja kuliah. Trus gue tanya, ada pesen apa buat lo, dia bilang gak ada. Udah itu doang. Abis itu dia pamit pergi.” Novan memandangi gue, “emang dia gak ngeBBM lo?”

Gue menggeleng, “enggak sama sekali.”


gue kemudian duduk di tembok pembatas rendah di depan kamar sambil menghadap ke Novan.


“udah dia cuma nanya gitu doang?” tanya gue.


Novan mengangguk-angguk dan meletakkan gitarnya, kemudian menyulut rokoknya.


“oh iya tadi kayaknya dia lagi sakit deh.”

“kenapa emang?”

“tadi pas ngomong ke gue mukanya agak pucet gitu. Ngomongnya juga agak lemes gitu, tapi gue juga gak tau sih apa emang biasanya juga gitu.”


gue terdiam dan memandangi langit di kejauhan.
Diubah oleh jayanagari 10-01-2016 00:23
itkgid
oktavp
pulaukapok
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.