“Di,, wake up....” suara lembut itu membangunkanku.
Masih teringat jelas senyum itu dan rambutnya yang basah. Mata abu-abu dan alis yang indah itu membangunkanku dari kondisi Kentang yang kualami semalam.
“Good morning Ra?” sambil berusaha menegakkan badan.
“ morning Di, please take the shower then we are breakfast together” sembari merapikan rambutku.
Segera kuberanjak dari sofa itu dan menuju kamar mandi
“kak, Lala ga jadi dapet dedek bulek nih...” sembari membuka kulkas.
“eh bocah tahu darimana?”
“Laura yang cerita kalo bangun-bangun udah di kamar. Aku juga denger kok waktu kakak pulang. Wong malemnya masih nonton film di laptop” sembari menjulurkan lidah.
Masih teringat di malam itu. Hasrat yang merambat dari bagian bawahku ikni dapat dikalahkan oleh akal sehatku. Entah apa yang membuatku seperti itu. Jeans dan polo yang menunjukkan lekuk tubuh yang indah akhirnya harus kalah dengan senyuman yang merekah dalam lelapnya.
Aku lebih memilih mengubur dalam-dalam hasratku. Bidadari ini takkan mungkin kunodai tanpa kerelaanya untuk melepaskan.
Segera setelah ritual itu selesai aku beranjak menuju kamar tidur Lala hanya dengan mengunakan handuk yang menutupi pusarku hingga lutut. Tampak Laura sedang mengiris bawang bombay sementara Lala merebus pasta. Aku dan Laurapun berpandangan sekian detik
“aaaawwwwwww.....” pekik Laura terkena sayatan pisau itu.
Segera saja kuambil hansaplast di dalam P3K yang kebetulan berada diatas kulkas. Lalu kuhisap darah yang keluar dari luka itu. Kemudian kubersihkan jarinya dengan aliran air.
“is it Fine Ra?”
“feel better Di, thank you” sembari tersenyum.
Kemudian kukecup hansaplast yang merekat di jarinya.
“kak, pastanya dah mateng” suara cempreng itu membuyarkan konsentrasi kami.
Dan segera kumenuju kamar untuk berganti pakaian. Setelah pintu itu terbuka semerbak aroma pasta menggoda hidungku.
“Di, lets join us... we take breakfast first” kemudian Laura menyajikan beberapa sendok itu untukku.
Pasta itu sungguh pas di lidahku walaupun aku lebih suka makanan yang pedas.
“it’s very delicious Ra, i’ve never eat pasta such as delicious this”
“really” muka manisnya pun bersemu merah.
Setelah menyelesaikan sarapan itu kami bergegas mengantarkan Lalal ke tempat KKN-nya.
Sinar matahari di pagi ini sangat hangat. Semakin ke selatan meninggalkan perempatan Terminal Giwangan pemandangan hamparan beton semakin jarang berganti hamparan sawah yang baru mulai ditanami. Lala dan Laura sedang berbincang-bincang tentang fashion dan tempat berbelanja.
“unfortenaly, we couldn’t shopping together”
“Kak Adi know where the places, he will take you there”
“kak.. jangan lupa anterin Kak Ra jalan-jalan ke malioboro ma Amplas ya? Kasian kak Ra klo Cuma kakak ajak main di kamar”
“iya....iya.........”
“dasar bocah sialan” gumanku dalam hati.
Aku kembali fokus mengemudi. Meluncur ke arah selatan tempat yang terkenal karena pemakaman raja-raja tersebut.
Akhirnya kami sampai ke sebuah pelataran joglo. Tampak Beberapa mahasiswa dan mahasiswi sibuk merapikan barang bawaan mereka. Mereka pun menghentikan aktifitas mereka sejenak memandang kami ketika aku, Lala dan Laura turun.
“Hi all, sorry ya udah lama nunggunya.. ” sembari menuntun Laura menuju kerumunan itu.meninggalkan aku dan barang-barang Lala.
“kenalin kakakku Laura” sambungnya.
“Laura....” sembari membalas juluran tangan dari anak-anak itu.
Tampak juga beberapa mahasiswi itu beberapa ada yang tengah berbisik sembari sesekali mencuri pandang denganku
Pagi itu benar-benar menjadi kerja baktiku. Aku dan beberapa teman pria Lala membantu mengangkat dan menata beberapa perabot ke dalam rumah kosong yang tampaknya sudah bersih itu. Sementara Lala dan Laura bersama beberapa teman wanita yang lain sedang bermain dengan anak anak kecil kampung ini. Mereka sangat antusias bermain dengan Laura yang perawakannya memang berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia.
“Mbak, Laura ma Lala kemana?” setelah rumah kosong itu kubereskan
“tadi sih kayaknya ke sawah mas bareng unit yang lain” ujar teman Lala ketika aku keteras.
Segera kumenyusul ke sawah.
“Bu, nyuwun sewu. Cah-cah seng KKN niku tindak’e neng di yo Bu” ketika ku melihat ibu-ibu yang berpapasan denganku. Nampaknya ia barusan dari sawah.
“oowh seng barengan karo wedok Londo, njih Mas”
“Inggih Bu...”
“neng wetane sungai mas”
“maturnuwun Bu” segera kubergegas ke sawah itu.
Sinar matahari yang belum teralu terik itu Laura dan beberapa gadis itu mencoba menanam padi. Tampak juga beberapa pemuda yang seolah mencari perhatian ke Laura. jengkal demi jengkal jarak yang harus diperhatikan supaya nantinya selain rapi padi juga akan tumbuh sempurna saling berbagi nutrisi dari tanah. Sama halnya hatiku yang telah berbagi ini.
Dan untuk pertama kali
Cintaku terbagi
Dan ku ingin milikinya....
“Di, cmon.. lets join with us”gadis pirang itu membuyarkan lamunanku dan kusegera beranjak menghampirinya.
“Di, please take my phone in that bag” tunjuk Laura yang berdiri di sawah dimana mata kakinya tertutup lumpur. seraya menunjuk tas hitam itu.
Kemudian setelah kubawa handphone ia segera membelakangiku.
“please take a photo. My hands full of mud” sembari menunjukkan tangannya yang penuh dengan lumpur.
Ganteng dikit cekrek...ganteng banyak cekrek... ganteng banget....... (oke itu salah satu iklan provider telekomunikasi)
Masih kuingat jelas Aroma keringat bercampur parfum kesukaanya bercampur menjadi satu. Peluh keringat meluncur dari lehernya yang mulus dan jenjang itu.
“kyaaaa....... its snake Di....” pekik Laura sembari mendekap tubuhku. kulihat belut yang sedang melintas di kaki .segera saja kuberusaha menangkap belut itu namun gagal. Akhirnya bocah-bocah kecil itu yang bisa menangkapnya.
“its okay Ra. It is not snake. its just eel” segera kubuka hapeku untuk mencari definisi belut di google dan kutunjukkan ke Laura.
Gengaman erat ke kaosku pun dilepaskannya dengan menimbulkan jejak lumpur.
“sorry Di”
“thats fine Ra”
“lets go back” kutuntun lengan itu ke kali kecil kemudian kubasuh kaki dan tangan Laura yang penuh lumpur.
Matahari semakin beranjak ke tengah satu persatu dari kami kembali ke rumah tempat Lala menjalankan KKN. Di depan rumah itu tampak beberapa wanita mengerumuni tukang jamu keliling. Tampak beberapa bumbu dapur seperti kunyit dan beras kencur yang sudah ditumbuk halus.
“kak Laura...” segera saja Laura melepaskan genggamanku menuju tempat Lala dan beberapa temen wanitanya.
Setelah beberapa menit tampak laura membawa batuk kelapa yang berisi kunyit asem itu ke arahku.
Kemudian duduk disampingku. Lalu diseruputnya jamu itu. Tak pernah kulupakan mimik wajahnya yang tampak kemasaman.
“how the taste ra?
“the taste almost likes havtron Di, but little bit Sour” dengan wajah kemasaman
* havtron adalah buah yang tumbuh di finlandia yang warnanya mirip jeruk namun buahnya sangat kecil seperti salok (cherry jawa) klo orang jawa bilang. Vitamin C nya sih katanya seribu kali dari jeruk.
“La, manisanny jangan lupa bawa kesini”
“nih kak” ketika lala membawa batok kelapa berisi campuran air, gula merah dan jahe itu.
“please drink this one Ra. It will be neutralize the taste” perlahan kudekatkan batok kelapa it sampai ke bibirnya.
Senyum itupun mengembang ketika satu batok kelapa manisa itu habis diminumnya. Kemudian kami pun bersiap untuk meninggalkan desa ini. ketika kami bergegas menuju mobil.
“Kak......”.
“Kak, biasa kak buat jajan. Tadi belum sempet ambil duit di ATM” sembari menyodorkan tangannya setelah menghampiriku.
Akhirnya kukeluarkan beberapa lembar uang bewarna biru.
“nih jangan boros ya?”
“makasih kak”
“Kak, kayaknya lucu deh klo Lala punya dedek bulek mumpung rumah sepi..” bisik gadis itu kemudian meninggalkanku.
“apa maksudnya bocah ini?”
Kemudian kusegera menuju mobil dan kutinggalkan rumah itu dengan lambaian tangan mahasiwa/i yang tengah KKN itu yang dibalas oleh Laura. Sesampainya di jalan besar.
“where are we going to go, Di?” sembari Laura memakai kacamata hitamnya.