“Cewek aneh... Cewek aneh....” Gw meneriaki seorang senior gw yang saat itu sedang jajan dikantin. “Cewek aneh bibirnya sukanya monyong2, hahahahaha.”
Gw (masih) meneriaki, mengejek perempuan itu dari sewaktu dari kantin dan begitupula sewaktu perjalanan dari kantin menuju ke kelas. Waktu sampai depan kelas 5 mungkin dia sudah terlalu geram sama tingkah gw dan saat itu pula dia membalikan badannya dan BUGGGG... Sebuah bogem mentah mendarat tepat dimata kiri gw.
“Auuuhhhhh.... Sakit.” Kata gw meringis.
“Makanya jadi cowok itu jangan suka hina cewek. Kamu pikir aku gag berani apa nonjok kamu.” Kata perempuan itu sambil berlalu meninggalkan gw.
Gw pun masih berdiri memegangi mata sebelah kiri gw. Saking perihnya tanpa sadar gw meneteskan air mata, yap gw menangis saat itu. Gw pun buru-buru menuju ke toilet agar gag keliatan temen kalau gw nangis, dan kemudian di bully mereka. Setelah gw rasa cukup tenang, gw segera membasuh muka dan kemudia bercermin. Muka badak bener dah itu cewek kuat banget nonjoknya sampe sekeliling mata gw berwarna biru.
“Gila ini cewek kuat banget ninjunya. Padahal gw cuman ngejek dia aja. Dan sebenernya kan gw pengen kenalan aja sih sama dia, malah dapet tonjokan dah, apes bener.” Kata gw sambil memandangi gw di depan cermin. Dan tanpa gw sadari temen sekelas gw masuk juga ke toilet dan kemudian menegur gw. Sebut saja temen gw ini namanya afit.
“Eh kenapa mata lo Fin?” Tanya Afit.
“Habis ditonjok orang ini coy.” Kata gw.
“Siapa yang berani nonjok lo? Biar gw bales sini.” Kata Afit sambil memasang muka sangar.
“Udah gag usah gag apa2. Lagian dia gag sebanding kalau lawan kamu.” Kata gw. Memang temen gw yang namanya Afit ini orangnya termasuk ditakutin di sekolahan gw. Karena badan dia yang cukup besar untuk anak SD seperti gw ini.
“Ah gag bisa dibiarin ini. Lo itu sohib gw sob, jadi apapun yang berani ngelukain lo jadi perlu dikasih pelajaran. Belum tau dia siapa gw.”
“Udah sob gag usah lagian yang nonjok gw ini cewek kok. Kan gag banget kan lo berantem ama cewek?” Kata gw jujur. Gw emang sengaja jujur daripada masalah ini nanti jadi panjang kalau sudah kepegang afit.
“Apa? Gw gag salah denger? Lo ditonjok cewek? Tanya Afit.
“Iya bener kok.”
“BUAHAHAHAHAHA...... Lo ditonjok cewek? Wuahahahaha....” Kata Afit sambil ketawa.
“Iya puas lo, udah yuk ah balik ke kelas. Ntar dimarai guru lagi.” Kata gw.
“Hahahaha, bentar2 gw masih pengen ketawa. Seorang Alfian ditonjok cewek.” Kata Afit.
Gw pun hanya bisa tersenyum kecut menanggapi ucapan Afit. Karena jengkel gw pun meninggalkan dia ke toilet dan langsung masuk ke dalam kelas karena memang jam KBM sudah dimulai. Tak terasa bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Gw pun segera bergegas pulang karena memang hari ini cukup melelahkan. Setelah sampai diluar kelas gw menjumpai perempuan yang menonjok muka gw tadi, dan tampaknya dia sedang menunggu gw. “Waduh bahaya nih.” Batin gw sambil memutar arah lagi balik kedalam kelas dan sembunyi di balik tembok. Iya gw takut ketemu dia.
Cukup lama gw sembunyi dibalik tembok kelas gw. Sampai akhirnya gw beranikan buat nengok keluar dan tampaknya itu perempuan sudah tidak kelihatan wujudnya. Gw pun akhirnya bisa keluar kelas dengan tenang. Tapi tampaknya perkiraan gw itu salah, ternyata perempuan itu tadi sembunyi juga nunggu gw keluar.
“Hei kamu, ngapain kamu tadi sembunyi dikelas? Takut ya sama aku.” Kata perempuan itu.
“Eh...Engggg...Ampun ya mbak, maafin aku, aku salah. Aku janji gag bakal ngelakuin hal itu lagi.” Kata gw.
“Makanya kamu jangan sembarangan jailin orang. Nakal sih.” Kata dia sambil bersungut-sungut.
“Iya...Ma...Maaf mbak, maaf ya aku ngaku aku salah. Tapi jangan hajar aku lagi ya mbak.” Kata gw terbata-bata.
“Hahahaha, iya engga aku hajar, tapi sekalian mau aku mutilasi.” Kata dia.
“Heeeee?????

” Kata gw kaget.
“Engga-engga, aku bercanda, gag usah serius gitu. Eh itu sampai hitam begitu ya, aduh aku terlalu keras ya nonjoknya? Coba lihat sini.” Kata dia sambil memegang muka ku yang habis di tonjok sama dia, satu hal yang sangat aku ingat waktu dia pegang muka ku, tangannya halus.
“Aduhhhh.... Sakit mbak.” Kata gw sambil meringis.
“Sakit ya, maaf ya. Ya udah yuk ikut aku ke rumahku dulu. Rumahku gag begitu jauh kok dari sini.” Kata dia.
“Eh mau ngapain mbak?” Kata gw bertanya-tanya.
“Udah ikut aja, jangan banyak bawel. Ntar aku tonjok lagi kamu.” Kata dia.
“Eh iya mbak, ampun jangan ditonjok lagi.” Kata gw.
Gw pun akhirnya mengikuti cewek seram ini ke rumahnya yang ternyata gag begitu jauh dari sekolahan gw dan dia. Sampai di rumahnya gw disuruh menunggu di teras depan rumahnya. Rumahnya besar dan banyak tumbuh2an jadi menampakan suasana asri. Gw masih duduk menikmati hembusan angin, sampai dia keluar membawa kotak P3K dan beberapa camilan.
“Sini aku obatin lukanya kamu.” Kata dia.
“Eh tapi mbak...” Kata gw.
“Udah gag ada tapi2an, atau mau aku tonjok lagi nih?” Kata dia sambil memasang muka sangar.
Gw pun hanya menurut kata-kata dia. Daripada kena tonjok lagi kan? Akhirnya luka lebam gw pun diobatin dia. Dengan teliti dan hati2 gw dirawat sama dia. Mula2 luka gw dibersihin pake revanol abis itu dikompres pakai es yang sudah dibungkus sama kain. Perlahan dan telaten dia memperlakukan gw siang itu. Sungguh siang yang berkesan buat gw.
“Luka kayak gini harus cepat diobatin biar bengkaknya cepat kempes.” Kata dia. “Makanya jadi cowok itu jangan nakal, jangan suka godain cewek, cewek itu juga ada yang pinter berkelahi.”
Gw hanya diem dengerin omongan dia. Jujur gw gugup, karena seumur2 belum pernah ada orang yang belai muka gw selain ibu gw. Dan ini ada seorang perempuan cantik, berkulit putih, berambut sebahu yang dengan telatennya membasuh muka gw yang durjana ini, hehehe. Jantung gw seakan berdetak 10 kali lipat waktu itu (okay lebay lupakan ini)

.
“Nah udah beres. Nanti sampai rumah langsung mukanya dibersihin dan itu lukanya dikompres lagi ya biar cepet sembuh.” Kata dia. “Itu cemilannya dimakan dulu.” Imbuh dia.
“Eh iya mbak makasih ya.” Kata gw sambil mengambil kue kering yang ada ditoples. “Oh ya mbak sampai lupa, aku Alfian, Alfian Putra.”
“Aku Sandy. Amalia Sandy.” Sahut dia.
Dan setelah itu hubungan gw dan Sandy semakin akrab. Hampir setiap hari waktu pulang sekolah Sandy selalu menunggu aku didepan kelas untuk pulang bareng. Oh ya Sandy ini sebenernya seumuran ama gw tapi dia masuk sekolah setahun lebih cepet dari gw oleh karena itu dia setingkat lebih senior dari gw. Selesai pulang sekolah gw selalu mampir sebentar ke rumahnya untuk sekedar melepas lelah setelah belajar disekolah ataupun sekedar menumpang solat dhuhur dirumahnya. Kedua orang tuanya Sandy pun sudah mengenal baik dengan gw karena gw memang sering main ke rumahnya.
Perkenalan konyol sewaktu SD itu pun berlanjut sampai ke SMP. Kebetulan kita masih diberi kesempatan untuk satu sekolah lagi. Dan keakraban kita semakin erat. Bahkan banyak yang mengira kita pacaran. Jujur sih gw saat itu sudah sangat menyayangi dia tapi karena kecupuan gw saat itu gw hanya bisa memendam perasaan gw. Sandy juga pernah bilang kalau gag mau pacaran dulu karena dia mau konsentrasi ke prestasinya. Sandy ini tergolong anak yang pintar karena memang dia selalu menjadi pararel pertama di SMP gw.
Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Itulah hukum alam sebab akibat di alam ini. Sampai waktu dia lulus SMP dan melanjutkan ke SMA diluar kota, akhirnya menyebabkan hubungan gw dan dia menjadi benar2 jauh. Gw bener2 lost contack sama dia. Apalagi jaman kita smp handphone masih menjadi barang mahal dan hanya beberapa anak yang memilikinya. Dan sampai akhirnya gw pun gag pernah dengar kabar dia, seorang Sandy, cinta pertama gw.