Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#445
Partitur no. 81 - Ujian Nasional


“Nda, Yah, doain Iman lancar nanti UN-nya,” ujarku pagi-pagi ketika hendak berangkat.

“Aamiin, yang teliti ya ngerjainnya..” aku menyalami tangan mereka, lalu berjalan menuju Halte Bus. Aku sudah sengaja bangun pagi-pagi agar tidak telat di hari yang penting ini.

Saat datang, aku mencari-cari kelas yang ada namaku yang sesuai dengan nomor ujian. Terlihat teman-temanku sudah berkumpul di depan kelas. Ada yang santai saja, ada yang sedang berusaha mengingat apa yang dipelajari, ada yang terlihat putus asa, ada juga yang berkumpul melihat kunci jawaban yang baru saja dikirimi oleh sumbernya. Satu kelasku dapat karena temanku yang membelinya mengirimkan secara cuma-cuma ke grup kelas.

Tapi aku berusaha meyakinkan untuk mengerjakannya sendiri, karena aku sudah bekerja keras, meskipun aku tahu nantinya aku tetap tak akan mengambil jalur undangan atau mencoba SNMPTN atau SBMPTN.

Masing-masing dari temanku juga sudah bekerja keras, berusaha untuk mengejar impiannya masuk Universitas Negeri favorit di Indonesia melalui jalur apapun.

“Lo mah enak, Man, udah jelas mau masuk mana!” ujar Gilang di depan kelas.

Aku hanya cengar-cengir saja. Salah satu alasanku untuk tetap masuk kampus ayahku adalah hemat biaya, terlebih sesuai dengan apa yang kuingingkan. Aku menyukai musik, fotografi, juga menulis.

Impianku untuk kuliah di Perancis sudah tak begitu kupikirkan lagi. Membayangkan jauh dari orang-orang yang dekat denganku sangat menyakitkan. Aku takut ketika saatnya pulang, semuanya sudah berubah. Tapi, jika kuliah di negara berbahasa Inggris, bisa kupikirkan beribu-ribu kali lagi.

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Setiap pulang ujian, aku langsung mengistirahatkan tubuhku, makan, bersantai sampai sore, kemudian kembali belajar malam harinya.

“Good luck, Darl!” itulah pesan dari Tasya yang selalu kubaca saat detik-detik akan masuk ke kelas. “nanti pas kamu udah selesai UN, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat buat refreshing!” Ucapan darinya membuat pikiran optimisku muncul secara spontan.

Hanya bidang ekonomi—tepatnya akuntansi—yang menjadi kesulitanku hingga saat mengerjakannya di depan kertas. Entahlah, padahal Bundaku adalah lulusan jurusan akuntansi.

Satu hari sebelum hari terakhir Ujian Nasional, aku mendapat pesan dari Hamim, “Man, besok bawa kamera, ya.. Gue mau ngasih sesuatu buat Dina!” serunya.

“Siap!” tak sabar aku dengan apa kejutan yang akan diberikan Hamim nanti. “Emang lo mau ngasih apaan?”

“Besok aja gue jelasin, Man. Yang penting siap-siap aja!”

Hari terakhir Ujian Nasional rasanya bukan hari yang menguntungkan bagi temanku, namanya Bagus, murid pindahan yang gemuk dan menggemaskan. Ia adalah salah satu yang paling banyak mengoleksi photopack JKT48.

Hari terakhir itu ia sedang membawa handphone miliknya, dan di tengah ujian bunyi suara adzan kencang yang dikira sebuah contekan dan langsung disita oleh pengawas. Asal dari suara itu adalah dari handphone milik Bagus yang memiliki fitur adzan yang tak bisa diberhentikan saat selesai. Aku dan teman-teman langsung tertawa terbahak-bahak ketika diceritakannya saat apel setelah Ujian Nasional berlangsung.

“Gimana, Man? Bawa, kan?” tanya Hamim menghampiriku saat dekat dengan gerbang sekolah.

“Bawalah pasti!” jawabku. “ceritain dulu rencana lo.”

“Jadi gini, kemaren gue udah bikin dan ngedit video buat dia, biar dia ngenang masa-masa SMA kita, sekaligus gue memberanikan ngungkapin perasaan gue sama dia.” ujarnya. “nanti gue minta lo motretin pas gue ngasih CD itu ke dia..”

“Bisa itu mah, Mim! Serahin aja sama gue!” kataku percaya diri.

“Doain gue, Man!”

“Pasti, Mim!” aku mengacungkan jempolku. Secara tiba-tiba, Dandi sudah berada di sebelah kami untuk mengikuti kami melaksanakan rencananya.

Kucari posisi mengumpat yang nyaman untuk membidik fotonya sedara diam-diam agar tak ketahuan dengan Dandi. Tapi hal itu masih agak susah karena banyak teman-teman yang lain masih di depan gerbang sekolah untuk bersiap pulang atau jalan-jalan refreshing sehabis ujian yang menggelisahkan.

Terlihat Hamim sedang mengumpulkan keberaniannya dengan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia berjalan mendekati Dina. “Hai!” sapanya kepada Dina.

“Wah, bakal seru nih, Dan!” aku mulai menyalakan kameranya, berusaha membidik dengan angle yang pas, dan memotretnya. Satu, dua, bahkan lebih dari tiga foto sudah ada sebelum Dina menyadari keberadaanku dan Dandi.

“Ih jangan difoto, Man!” Dina langsung mengambil CD itu dan mengucapkan beberapa kata kepada Hamim, lalu pergi meninggalkan kami.

Kami hanya saling berpandangan.

“Gimana, Mim? Sukses?”

“Ya, doain aja.. Nanti gue bakal dikasih tau jawabannya sama dia.”

“Semoga yang terbaik deh, Mim. Cinta lo selama tiga tahun, tuh. Hehe,”

Hari yang berat itu kami akhiri dengan mencoba mencari passwod WiFi dari tempat-tempat seperti CK dan Lawson, kemudian membeli banyak makanan ringan untuk dimakan bersama-sama dengan teman-teman Kaskuser 280 di rumahku.
Diubah oleh Polyamorous 07-01-2016 20:20
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.