- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#565
Spoiler for Part 66:
“Mau kemana Zah?” Tanyaku
“Tidur Bram, besok kan masih kerja kita minggu terakhir..” Katanya
“Lu bisa tidur di sini...” Kataku bangun dari dudukku juga
“Kenapa Bram?” Tanyanya
“Setelah malam ini, kita udah ngga bisa kayak gini lagi. Apalagi yang harus ditunggu? Semua isi hati udah dicurahin, semua kejujuran udah dikeluarin, apalagi yang bisa ditunggu? Kecanggungan bakalan menanti kita esok hari...” Jelasku
Zahra menutup pintu kamarku dan segera memelukku lagi, kali ini aku balas pelukannya. Aku biarkan ini berlalu seperlunya, aku biarkan ia memelukku untuk yang terakhir kalinya. Malam ini adalah malam kejujuran, malam dimana tidak ada lagi kata malu untuk mengungkapkan perasaan.
Setelah itu kami sudah bersampingan di atas kasur, tapi kali ini kami saling tatap satu sama lain. Tanpa sadar Zahra mendekat dan semakin lama semakin mendekat ke arahku. Jarak kami hanya sekitar dua ruas jari, dan kami masih terdiam. Kemudian ia semakin mendekat ke arahku
“Aku milikmu malam ini..”
“Kan memelukmu sampai pagi..”
“Tapi nanti bila ku pergi..”
“Tunggu aku di sini..”
Lirik lagu yang aku putar itu cukup mewakilkan maksudnya kepadaku saat ini
“Hanya untuk malam ini...” Ucapnya pelan
“Akhir dari semuanya...” Ucapku pelan juga
Sebuah ciuman mengakhiri semuanya. Setelah itu, kami hanya saling tatap satu sama lain. Aku membenarkan posisiku menghadap langit-langit kamarku dan Zahra memelukku, kepalanya berada di atas bahuku sama seperti beberapa malam yang lalu. Rambutnya yang tergerai panjang dapat aku sentuh dan saat itu ia melihat ke arahku, aku melihatnya dan ia menghampiriku dan mencium keningku
“Makasih Bramantyo...”
Kemudian ia kembali ke posisi sebelumnya dan meninggalkanku tidur. Aku masih tersadar di malam ini, di kamar ini. Apa yang akan aku hadapi esok?
Semuanya berubah, setelah kejadian malam itu semuanya benar-benar berubah. Zahra sudah bukan lagi seperti yang dulu, dia menjaga jarak terhadapku. Biasanya jika kami sering berbincang di atas motor, kali ini sangat jarang. Ketika di penginapan biasanya kami menonton film atau sekedar berbincang di teras depan, tapi kali ini jarang sekali. Hanya sekedar pembicaraan tentang kerjaan setelah itu ia kembali ke kamarnya.
Begitu juga malam ini, biasanya saat ini aku sedang menonton film dengannya. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam namun ia masih tetap di kamarnya. Ini adalah hari terakhir kami di Bali karena pekerjaan kami di sini sudah selesai. Aku putuskan untuk keluar kamar dan duduk di depan teras. Suasana hening seperti ini sudah biasa aku temui, namun bedanya kali ini aku benar-benar sendiri di luar tanpa Zahra.
Aku mengingat kejadian hampir sebulan yang lalu, ketika aku bangun dari tidurku dan menemukan Zahra yang masih tertidur di sampingku. Di situ aku sadar, ketika ia bangun nanti semuanya akan berubah total. Aku pandangi wajahnya untuk beberapa saat, dan aku kembali menatap langit-langit kamar penginapan ini. Kejujuran yang berakhir luka, apa memang semua kejujuran akan mengakibatkan luka? Atau hanya beberapa kejujuran saja? Aku memutuskan untuk bangun dan menuju teras depan sambil menyalakan sebatang rokok. Pukul enam pagi menjadi favoritku untuk berada di luar, suasananya yang menyejukkan membuatku menyukainya.
Tidak lama setelah aku keluar, aku melihat ada bayangan bergerak dari dalam dan memang itu adalah Zahra yang sudah bangun juga dan dia menatapku
“Sudah pagi....” Katanya
Aku mengerti apa maksudnya, aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Ia menghampiriku sambil memberikan secangkir kopi hitam dan duduk di sampingku tentu saja sambil menyalakan sebatang rokok. Kami terdiam satu sama lain. Ini sudah pagi, apakah dia akan berubah seperti ucapannya atau ia kan tetap sama seperti biasanya?
Tidak lama setelah itu, dia bangun dari duduknya menuju kamarnya dan meninggalkanku sendiri di luar sini. Sebelum ia masuk ke dalam kamarnya, ia sempat melambaikan tangannya kepadaku
“Welcome a new day...” Katanya
------------------
Sudah setengah sembilan malam, sekitar tiga puluh menit aku memikirkan tentang hal itu. Dan sekarang aku putuskan untuk tidak terlalu memikirkan itu bahkan jika bisa aku akan melupakan kejadian-kejadian itu. Ku buka pintu kamarku dan aku terkejut melihat ada Zahra di sana, dia juga terkejut melihatku membuka pintu kamarku
“Eh, ada apa Zah?”
“Gini, charger hp aku rusak, boleh minjem ngga?” Tanyanya
“Boleh, ambil aja di dalem kalau mau dibawa boleh juga.” Kataku sambil duduk di teras depan
Setelah itu ia masuk ke dalam, aku pikir ia akan membawa chargernya ke kamarnya tapi ternyata tidak. Ia keluar membawa secangkir kopi hitam kesukaaanku
“Nih, udah lama kan ngga dibikinin kopi?” Katanya sambil meletakannya di atas meja
“Tumben banget Zah, biasanya balik kantor langsung diem di kamar..” Kataku heran melihatnya
“Lusa kita udah balik, disitulah kita benar-benar menjaga jarak seutuhnya tanpa terkecuali.” Katanya
Aku mengangguk pelan sambil menawarinya rokok, namun ia menolaknya sambil menunjukan bungkusan rokok miliknya. Kami kembali diam tanpa berbicara, hanya kepulan asap-asap kami saja yang saling bersatu. Kemudian ia masuk ke dalam kamarku yang aku tidak tahu apa yang ia lakukan
“Maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu”
“Membaca dan mengerti isi hatimu”
“Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian”
“Mencoba mencari celah dalam hatimu”
“Aku tau ku takkan bisa, menjadi seperti yang engkau minta”
“Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba, menjadi seperti yang kau minta..”
Ia keluar dari kamarku setelah memutar lagu dari Chrisye tersebut dan kembali duduk dengan senyuman yang sangat manis menurutku. Aku terheran melihatnya dengan ekspresi seperti itu
“Lu kenapa Zah?” Tanyaku
“Nggapapa, seengaknya sejak kejadian malam itu aku jadi sering dengerin lagu ini..” Jelasnya
Aku hanya terdiam membalasnya, aku mengerti apa maksudnya. Lagu itu tetap diputar hingga beberapa kali hinga akhirnya dia kembali ke dalam kamarnya dan meninggalkanku sendiri di teras depan ini. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar juga, namun lagu ini tidak aku matikan hanya aku pelankan volumenya untuk aku dengar sendiri. Aku dengarkan secara seksama dan aku kembali berfikir saat malam dimana Zahra mengungkapkan isi hatinya yang telah ia simpan sejak lama.
Aku berbaring di atas kasurku dan kembali menatap langit-langit yang seolah berbicara kepadaku
“Perlakuannya kepadamu selama beberapa tahun tidak kau balas, sedangkan dengan wanita yang kau kenal hanya beberapa saat saja kau balas?”
Aku terdiam, hanya ada suara dari lagu yang aku putar
“Aku tau ku takkan bisa, menjadi seperti yang engkau minta”
“Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba, menjadi seperti yang kau minta..”
“Aku tau dia yang bisa, menjadi seperti yang engkau minta”
“Namun selama aku bernyawa aku kan mencoba, menjadi seperti yan kau minta..”
---------------
Bali menyimpan banyak kisah yang aku jalani selama beberapa tahun belakangan. Terkadang aku masih suka mengingat kejadian-kejadian yang aku alami bersama Zahra di sana. Aku terdiam melihat jalanan yang tidak terlalu padat siang ini
“Diem aja lu, kenapa?” Tanya Reza
“Nggapapa, capek aja.” Sanggahku
“Yaudah kita ke kafe aja dulu gimana?” Usulnya
“Boleh deh, tapi bayarin dulu ya. Gaji gue baru turun lusa.” Kataku
“Santai, masih aja kaku sama gue..” Kata Reza dengan senyuman ontanya
Setelah itu kami singgah sebentar
“Zahra ngajakin gue jalan besok.” Katanya dengan tersenyum bahagia
“Weh jadi sering jalan lu sekarang hahaha..”
“Gundulmu sering, dia baliknya samaan kayak lu mana seringnya.” Katanya
“Tapi seenggaknya dibanding sama pas dulu-dulu gimana?” Tanyaku
“Ada benernya juga sih lu. Tapi beberapa bulan belakangan dia jadi sering ngechat gue selama dia di Bali. Katanya dia stress gitu dah sama galau, cuma dia ngga cerita kenapa galaunya. Dia ngga cerita apa-apa gitu ke lu pas di sana?” Tanyanya
“ Ngga, dia ngga cerita apa-apa.” Sanggahku
Setelah dari sana, kami memutuskan untuk pulang ke rumahku. Setibanya di rumah aku sudah menemukan Nanda dan juga Dinda yang sedang duduk di dekat kolam berenang. Di sana aku juga melihat ada lelaki yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ketika aku turun dari mobil, Dinda, Nanda dan lelaki itu menghampiriku
“Kok lama?” Kata Dinda
“Tadi mampir dulu ke kafe biasa, maaf ya bikin nunggu..” Kataku
Kemudian Nanda dengan lelaki itu menghampiriku
“Ini......” Kataku heran melihat lelaki yang bersama Nanda
“Kenalin ini Irfan Bang..” Kata Nanda memperkenalkan lekaki itu
“Saya Irfan Bang..” Katanya mengulurkan tangannya kepadaku
“Oh, Bram..” Kataku menjabat tangannya
“Jadi sebenernya Nanda sama Irfan ini...” Kata Dinda
“Apa?” Tanyaku bingung
“Ngobrol aja sama Irfannya Bram, aku sama Nanda mau bikinin minum dulu sambil bawain tas kamu...” Kata Dinda sambil mengajak Nanda masuk ke dalam rumah
“Bang...” Kata Irfan memanggilku
“Iya, kenapa? Santai aja ngomongnya jangan terlalu formal, gue bukan dosen penguji skripsi kok” Kataku
“Iya Bang, jadi gini gue ini senior kelasnya Nanda. Kita awal ketemu pas ospek kampus. Terus kita tuker-tukeran kontak, terus suka chat-chatan tiap hari sampai akhirnya.......”
Aku mendengarkan dengan seksama, dan sesekali melihat Reza
“Beberapa bulan yang lalu, gue jujur ke Nanda soal perasaan gue. Gue nembak dia, dan......”
Aku mengangkat alisku sambil mendengarkan perkataanya
“Kita jadian Bang, sampai sekarang. Dia bilang kalau pas Bang Bram balik harus ngomong, soalnya seleksinya harus sama Bang Bram.” Jelasnya
“Apa yang bikin lu suka sama Nanda? Eh ngerokok ngga?” Kataku sambil menawarkan kepadanya
“Ada Bang ada..” Katanya sambil ikut menyalakan sebatang rokok
“Yaudah jawab pertanyaan gue dulu..” Kataku
“Emang harus ada alesannya ya Bang buat suka sama seseorang?” Tanyanya
“Iya juga Bram, kan kebanyakan kalau cinta yang tulus itu ngga beralasan..” Kata Reza juga
“Gini gue kasih tau satu hal. Ada aksi pasti ada reaksi, ada perbuatan pasti ada tindakan, ada jawaban pasti ada alasan. Gue makan karena gue laper, gue tidur karena gue ngantuk, gue kentut biar sehat..”
“HAHAHAHAHA apaan tuh..” Kata Reza tertawa lepas
“Loh bener kan, kalau kentut ditahan jadi penyakit. Jadi kita hidup ini pasti beralasan, dan sekarang yang gue tanya itu apa yang bisa bikin lu suka sama Nanda?” Kataku
“First love at the first sight Bang tepatnya.” Katanya
“Gue suka karena pandangan pertama Bang, ini untuk yang pertama kali. Dulu gue orangnya pemilih soal cewe, harus yang cantik lah, putih lah, kastanya sama lah. Tapi, pas gue ketemu sama Nanda semuanya berubah Bang. Dia ngajarin soal kesederhanaan. Dia juga belajar dari Bang Bram katanya. Jadi sekaya apapun lu itu, lu harus tetap nunduk biar bisa tau gimana keadaan yang lain yang membutuhkan.” Jelasnya
Aku mengangguk menanggapinya, dan kemudian aku melihat Reza dan dia juga mengangguk pelan
“Lu tau soal sifat gue?” Tanyaku
“Tau Bang. Bang Bram itu paling ngga suka sama orang yang durhaka ke orang tua, yang suka nyakitin hati cewe, sama orang yang suka mainin wewenang seenaknya aja.” Jelasnya lagi
“Lu tau apa akibatnya?” Tanyaku lagi
“Bakalan di goreng make adonan bakwan Bang...” Katanya pelan
“HAHAHAHAHAHAHA..” Aku dan Reza tertawa sangat kencang
Aku sangat terhibur mendengar perkataanya, ternyata Nanda benar-benar menceritakan seperti apa yang pernah aku bilang. Sebenarnya itu hanyalah candaan semata, namun yang orang tau itu adalah tindakan yang benar-benar aku lakukan
“Makanya, kalau lu sampai nyakitin hatinya Nanda bakalan digoreng lu sama dia nih..” Kata Reza sambil menepuk pundakku
Dia menelan ludah, menyangka aku akan benar melakukannya.
“Beneran Bang?” Tanyanya memastikan
“Beneran kok, makanya gue mastiin lu bisa jaga adik gue ngga?” Tanyaku
Dia terdiam sejenak. Aku sempat melihat ke arah pintu ruang tamu dan menemukan Nanda dan juga Dinda yang melihat secara diam-diam. Aku memberi isyarat agar mereka berdua tetap di situ dulu
“Bang.....” Katanya pelan
“Iya....” Kataku memerhatikannya
“Gue siap jadi orang yang lu goreng seandainya gue nyakitin hatinya Nanda..” Katanya
“Kalau lu udah janji sama Nanda buat jalan dari lama tapi mendadak orang tua lu ngebutuhin lu, gimana?” Tanyaku menjebaknya
Dia diam sejenak
“Gue bakalan milih Nanda...” Katanya
“What?” Kata Reza
“Iya, gue bakalan milih nanda buat jadi orang yang nunggu setelah urusan sama orang tua gue selesai..” Katanya
Aku dan Reza saling pandang. Dan akhirnya, aku mengulurkan tanganku kepada Irfan
“Kenapa Bang?” Tanyanya heran
“Selamat datang di keluarga Satya Adjie..” Kataku
Dia tersenyum sambil menjabat tanganku. Kemudian Nanda keluar dengan senang bersama Dinda.
Hari ini, aku baru tahu bahwa akan ada yang sering datang ke rumahku untuk bertemu dengan kami. Mungkin Nanda sudah merasa bosan dengan kesendiriannya, jadi ia memutuskan untuk kembali menjalin hubungan dengan lelaki lain
Malam hari ini aku sudah kembali ke kamarku, kamar yang sudah aku tempati hampir tujuh tahun belakangan ini. Kamar yang mempunyai banyak cerita, banyak kenangan dan masih banyak lagi yang aku dapat dari kamar ini. Suasananya cukup hening, hanya ditemani oleh alunan lagu dari radio dalam kamarku. Aku duduk di balkon kamarku menghadap ke arah kolam berenang.
Datang Dinda membawakan secangkir kopi hitam untukku dan dia duduk di sampingku
“ Aku kira kamu ngga bakalan nerima si Irfan” Kata Dinda
“Nanda juga pasti punya waktu untuk kembali lagi kayak dulu..” Kataku
Dinda tersenyum dan bersandar di bahuku. Malam ini aku sudah kembali ke kehidupanku yang dulu, dimana orang-orang yang aku sayang masih bisa aku jaga
“Tidur Bram, besok kan masih kerja kita minggu terakhir..” Katanya
“Lu bisa tidur di sini...” Kataku bangun dari dudukku juga
“Kenapa Bram?” Tanyanya
“Setelah malam ini, kita udah ngga bisa kayak gini lagi. Apalagi yang harus ditunggu? Semua isi hati udah dicurahin, semua kejujuran udah dikeluarin, apalagi yang bisa ditunggu? Kecanggungan bakalan menanti kita esok hari...” Jelasku
Zahra menutup pintu kamarku dan segera memelukku lagi, kali ini aku balas pelukannya. Aku biarkan ini berlalu seperlunya, aku biarkan ia memelukku untuk yang terakhir kalinya. Malam ini adalah malam kejujuran, malam dimana tidak ada lagi kata malu untuk mengungkapkan perasaan.
Setelah itu kami sudah bersampingan di atas kasur, tapi kali ini kami saling tatap satu sama lain. Tanpa sadar Zahra mendekat dan semakin lama semakin mendekat ke arahku. Jarak kami hanya sekitar dua ruas jari, dan kami masih terdiam. Kemudian ia semakin mendekat ke arahku
“Aku milikmu malam ini..”
“Kan memelukmu sampai pagi..”
“Tapi nanti bila ku pergi..”
“Tunggu aku di sini..”
Lirik lagu yang aku putar itu cukup mewakilkan maksudnya kepadaku saat ini
“Hanya untuk malam ini...” Ucapnya pelan
“Akhir dari semuanya...” Ucapku pelan juga
Sebuah ciuman mengakhiri semuanya. Setelah itu, kami hanya saling tatap satu sama lain. Aku membenarkan posisiku menghadap langit-langit kamarku dan Zahra memelukku, kepalanya berada di atas bahuku sama seperti beberapa malam yang lalu. Rambutnya yang tergerai panjang dapat aku sentuh dan saat itu ia melihat ke arahku, aku melihatnya dan ia menghampiriku dan mencium keningku
“Makasih Bramantyo...”
Kemudian ia kembali ke posisi sebelumnya dan meninggalkanku tidur. Aku masih tersadar di malam ini, di kamar ini. Apa yang akan aku hadapi esok?
Semuanya berubah, setelah kejadian malam itu semuanya benar-benar berubah. Zahra sudah bukan lagi seperti yang dulu, dia menjaga jarak terhadapku. Biasanya jika kami sering berbincang di atas motor, kali ini sangat jarang. Ketika di penginapan biasanya kami menonton film atau sekedar berbincang di teras depan, tapi kali ini jarang sekali. Hanya sekedar pembicaraan tentang kerjaan setelah itu ia kembali ke kamarnya.
Begitu juga malam ini, biasanya saat ini aku sedang menonton film dengannya. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam namun ia masih tetap di kamarnya. Ini adalah hari terakhir kami di Bali karena pekerjaan kami di sini sudah selesai. Aku putuskan untuk keluar kamar dan duduk di depan teras. Suasana hening seperti ini sudah biasa aku temui, namun bedanya kali ini aku benar-benar sendiri di luar tanpa Zahra.
Aku mengingat kejadian hampir sebulan yang lalu, ketika aku bangun dari tidurku dan menemukan Zahra yang masih tertidur di sampingku. Di situ aku sadar, ketika ia bangun nanti semuanya akan berubah total. Aku pandangi wajahnya untuk beberapa saat, dan aku kembali menatap langit-langit kamar penginapan ini. Kejujuran yang berakhir luka, apa memang semua kejujuran akan mengakibatkan luka? Atau hanya beberapa kejujuran saja? Aku memutuskan untuk bangun dan menuju teras depan sambil menyalakan sebatang rokok. Pukul enam pagi menjadi favoritku untuk berada di luar, suasananya yang menyejukkan membuatku menyukainya.
Tidak lama setelah aku keluar, aku melihat ada bayangan bergerak dari dalam dan memang itu adalah Zahra yang sudah bangun juga dan dia menatapku
“Sudah pagi....” Katanya
Aku mengerti apa maksudnya, aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Ia menghampiriku sambil memberikan secangkir kopi hitam dan duduk di sampingku tentu saja sambil menyalakan sebatang rokok. Kami terdiam satu sama lain. Ini sudah pagi, apakah dia akan berubah seperti ucapannya atau ia kan tetap sama seperti biasanya?
Tidak lama setelah itu, dia bangun dari duduknya menuju kamarnya dan meninggalkanku sendiri di luar sini. Sebelum ia masuk ke dalam kamarnya, ia sempat melambaikan tangannya kepadaku
“Welcome a new day...” Katanya
------------------
Sudah setengah sembilan malam, sekitar tiga puluh menit aku memikirkan tentang hal itu. Dan sekarang aku putuskan untuk tidak terlalu memikirkan itu bahkan jika bisa aku akan melupakan kejadian-kejadian itu. Ku buka pintu kamarku dan aku terkejut melihat ada Zahra di sana, dia juga terkejut melihatku membuka pintu kamarku
“Eh, ada apa Zah?”
“Gini, charger hp aku rusak, boleh minjem ngga?” Tanyanya
“Boleh, ambil aja di dalem kalau mau dibawa boleh juga.” Kataku sambil duduk di teras depan
Setelah itu ia masuk ke dalam, aku pikir ia akan membawa chargernya ke kamarnya tapi ternyata tidak. Ia keluar membawa secangkir kopi hitam kesukaaanku
“Nih, udah lama kan ngga dibikinin kopi?” Katanya sambil meletakannya di atas meja
“Tumben banget Zah, biasanya balik kantor langsung diem di kamar..” Kataku heran melihatnya
“Lusa kita udah balik, disitulah kita benar-benar menjaga jarak seutuhnya tanpa terkecuali.” Katanya
Aku mengangguk pelan sambil menawarinya rokok, namun ia menolaknya sambil menunjukan bungkusan rokok miliknya. Kami kembali diam tanpa berbicara, hanya kepulan asap-asap kami saja yang saling bersatu. Kemudian ia masuk ke dalam kamarku yang aku tidak tahu apa yang ia lakukan
“Maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu”
“Membaca dan mengerti isi hatimu”
“Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian”
“Mencoba mencari celah dalam hatimu”
“Aku tau ku takkan bisa, menjadi seperti yang engkau minta”
“Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba, menjadi seperti yang kau minta..”
Ia keluar dari kamarku setelah memutar lagu dari Chrisye tersebut dan kembali duduk dengan senyuman yang sangat manis menurutku. Aku terheran melihatnya dengan ekspresi seperti itu
“Lu kenapa Zah?” Tanyaku
“Nggapapa, seengaknya sejak kejadian malam itu aku jadi sering dengerin lagu ini..” Jelasnya
Aku hanya terdiam membalasnya, aku mengerti apa maksudnya. Lagu itu tetap diputar hingga beberapa kali hinga akhirnya dia kembali ke dalam kamarnya dan meninggalkanku sendiri di teras depan ini. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar juga, namun lagu ini tidak aku matikan hanya aku pelankan volumenya untuk aku dengar sendiri. Aku dengarkan secara seksama dan aku kembali berfikir saat malam dimana Zahra mengungkapkan isi hatinya yang telah ia simpan sejak lama.
Aku berbaring di atas kasurku dan kembali menatap langit-langit yang seolah berbicara kepadaku
“Perlakuannya kepadamu selama beberapa tahun tidak kau balas, sedangkan dengan wanita yang kau kenal hanya beberapa saat saja kau balas?”
Aku terdiam, hanya ada suara dari lagu yang aku putar
“Aku tau ku takkan bisa, menjadi seperti yang engkau minta”
“Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba, menjadi seperti yang kau minta..”
“Aku tau dia yang bisa, menjadi seperti yang engkau minta”
“Namun selama aku bernyawa aku kan mencoba, menjadi seperti yan kau minta..”
---------------
Bali menyimpan banyak kisah yang aku jalani selama beberapa tahun belakangan. Terkadang aku masih suka mengingat kejadian-kejadian yang aku alami bersama Zahra di sana. Aku terdiam melihat jalanan yang tidak terlalu padat siang ini
“Diem aja lu, kenapa?” Tanya Reza
“Nggapapa, capek aja.” Sanggahku
“Yaudah kita ke kafe aja dulu gimana?” Usulnya
“Boleh deh, tapi bayarin dulu ya. Gaji gue baru turun lusa.” Kataku
“Santai, masih aja kaku sama gue..” Kata Reza dengan senyuman ontanya
Setelah itu kami singgah sebentar
“Zahra ngajakin gue jalan besok.” Katanya dengan tersenyum bahagia
“Weh jadi sering jalan lu sekarang hahaha..”
“Gundulmu sering, dia baliknya samaan kayak lu mana seringnya.” Katanya
“Tapi seenggaknya dibanding sama pas dulu-dulu gimana?” Tanyaku
“Ada benernya juga sih lu. Tapi beberapa bulan belakangan dia jadi sering ngechat gue selama dia di Bali. Katanya dia stress gitu dah sama galau, cuma dia ngga cerita kenapa galaunya. Dia ngga cerita apa-apa gitu ke lu pas di sana?” Tanyanya
“ Ngga, dia ngga cerita apa-apa.” Sanggahku
Setelah dari sana, kami memutuskan untuk pulang ke rumahku. Setibanya di rumah aku sudah menemukan Nanda dan juga Dinda yang sedang duduk di dekat kolam berenang. Di sana aku juga melihat ada lelaki yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ketika aku turun dari mobil, Dinda, Nanda dan lelaki itu menghampiriku
“Kok lama?” Kata Dinda
“Tadi mampir dulu ke kafe biasa, maaf ya bikin nunggu..” Kataku
Kemudian Nanda dengan lelaki itu menghampiriku
“Ini......” Kataku heran melihat lelaki yang bersama Nanda
“Kenalin ini Irfan Bang..” Kata Nanda memperkenalkan lekaki itu
“Saya Irfan Bang..” Katanya mengulurkan tangannya kepadaku
“Oh, Bram..” Kataku menjabat tangannya
“Jadi sebenernya Nanda sama Irfan ini...” Kata Dinda
“Apa?” Tanyaku bingung
“Ngobrol aja sama Irfannya Bram, aku sama Nanda mau bikinin minum dulu sambil bawain tas kamu...” Kata Dinda sambil mengajak Nanda masuk ke dalam rumah
“Bang...” Kata Irfan memanggilku
“Iya, kenapa? Santai aja ngomongnya jangan terlalu formal, gue bukan dosen penguji skripsi kok” Kataku
“Iya Bang, jadi gini gue ini senior kelasnya Nanda. Kita awal ketemu pas ospek kampus. Terus kita tuker-tukeran kontak, terus suka chat-chatan tiap hari sampai akhirnya.......”
Aku mendengarkan dengan seksama, dan sesekali melihat Reza
“Beberapa bulan yang lalu, gue jujur ke Nanda soal perasaan gue. Gue nembak dia, dan......”
Aku mengangkat alisku sambil mendengarkan perkataanya
“Kita jadian Bang, sampai sekarang. Dia bilang kalau pas Bang Bram balik harus ngomong, soalnya seleksinya harus sama Bang Bram.” Jelasnya
“Apa yang bikin lu suka sama Nanda? Eh ngerokok ngga?” Kataku sambil menawarkan kepadanya
“Ada Bang ada..” Katanya sambil ikut menyalakan sebatang rokok
“Yaudah jawab pertanyaan gue dulu..” Kataku
“Emang harus ada alesannya ya Bang buat suka sama seseorang?” Tanyanya
“Iya juga Bram, kan kebanyakan kalau cinta yang tulus itu ngga beralasan..” Kata Reza juga
“Gini gue kasih tau satu hal. Ada aksi pasti ada reaksi, ada perbuatan pasti ada tindakan, ada jawaban pasti ada alasan. Gue makan karena gue laper, gue tidur karena gue ngantuk, gue kentut biar sehat..”
“HAHAHAHAHA apaan tuh..” Kata Reza tertawa lepas
“Loh bener kan, kalau kentut ditahan jadi penyakit. Jadi kita hidup ini pasti beralasan, dan sekarang yang gue tanya itu apa yang bisa bikin lu suka sama Nanda?” Kataku
“First love at the first sight Bang tepatnya.” Katanya
“Gue suka karena pandangan pertama Bang, ini untuk yang pertama kali. Dulu gue orangnya pemilih soal cewe, harus yang cantik lah, putih lah, kastanya sama lah. Tapi, pas gue ketemu sama Nanda semuanya berubah Bang. Dia ngajarin soal kesederhanaan. Dia juga belajar dari Bang Bram katanya. Jadi sekaya apapun lu itu, lu harus tetap nunduk biar bisa tau gimana keadaan yang lain yang membutuhkan.” Jelasnya
Aku mengangguk menanggapinya, dan kemudian aku melihat Reza dan dia juga mengangguk pelan
“Lu tau soal sifat gue?” Tanyaku
“Tau Bang. Bang Bram itu paling ngga suka sama orang yang durhaka ke orang tua, yang suka nyakitin hati cewe, sama orang yang suka mainin wewenang seenaknya aja.” Jelasnya lagi
“Lu tau apa akibatnya?” Tanyaku lagi
“Bakalan di goreng make adonan bakwan Bang...” Katanya pelan
“HAHAHAHAHAHAHA..” Aku dan Reza tertawa sangat kencang
Aku sangat terhibur mendengar perkataanya, ternyata Nanda benar-benar menceritakan seperti apa yang pernah aku bilang. Sebenarnya itu hanyalah candaan semata, namun yang orang tau itu adalah tindakan yang benar-benar aku lakukan
“Makanya, kalau lu sampai nyakitin hatinya Nanda bakalan digoreng lu sama dia nih..” Kata Reza sambil menepuk pundakku
Dia menelan ludah, menyangka aku akan benar melakukannya.
“Beneran Bang?” Tanyanya memastikan
“Beneran kok, makanya gue mastiin lu bisa jaga adik gue ngga?” Tanyaku
Dia terdiam sejenak. Aku sempat melihat ke arah pintu ruang tamu dan menemukan Nanda dan juga Dinda yang melihat secara diam-diam. Aku memberi isyarat agar mereka berdua tetap di situ dulu
“Bang.....” Katanya pelan
“Iya....” Kataku memerhatikannya
“Gue siap jadi orang yang lu goreng seandainya gue nyakitin hatinya Nanda..” Katanya
“Kalau lu udah janji sama Nanda buat jalan dari lama tapi mendadak orang tua lu ngebutuhin lu, gimana?” Tanyaku menjebaknya
Dia diam sejenak
“Gue bakalan milih Nanda...” Katanya
“What?” Kata Reza
“Iya, gue bakalan milih nanda buat jadi orang yang nunggu setelah urusan sama orang tua gue selesai..” Katanya
Aku dan Reza saling pandang. Dan akhirnya, aku mengulurkan tanganku kepada Irfan
“Kenapa Bang?” Tanyanya heran
“Selamat datang di keluarga Satya Adjie..” Kataku
Dia tersenyum sambil menjabat tanganku. Kemudian Nanda keluar dengan senang bersama Dinda.
Hari ini, aku baru tahu bahwa akan ada yang sering datang ke rumahku untuk bertemu dengan kami. Mungkin Nanda sudah merasa bosan dengan kesendiriannya, jadi ia memutuskan untuk kembali menjalin hubungan dengan lelaki lain
Malam hari ini aku sudah kembali ke kamarku, kamar yang sudah aku tempati hampir tujuh tahun belakangan ini. Kamar yang mempunyai banyak cerita, banyak kenangan dan masih banyak lagi yang aku dapat dari kamar ini. Suasananya cukup hening, hanya ditemani oleh alunan lagu dari radio dalam kamarku. Aku duduk di balkon kamarku menghadap ke arah kolam berenang.
Datang Dinda membawakan secangkir kopi hitam untukku dan dia duduk di sampingku
“ Aku kira kamu ngga bakalan nerima si Irfan” Kata Dinda
“Nanda juga pasti punya waktu untuk kembali lagi kayak dulu..” Kataku
Dinda tersenyum dan bersandar di bahuku. Malam ini aku sudah kembali ke kehidupanku yang dulu, dimana orang-orang yang aku sayang masih bisa aku jaga
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas