Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#443
Partitur no. 80 - Hari-hari Sebelum Ujian Yang Menentukan Masa Depan


Keesokan harinya setelah pulang dari Ancol, Bang Ichy memintaku untuk tidak menunggah foto yang ramai-ramai kemarin, karena ada foto Putri di dalamnya. Aku semakin bingung. Tasya dan teman-temannya memintaku untuk mengunggah semuanya. Foto-fotonya memang sudah ku upload, minus foto yang ramai-ramai itu.

“Yaudah, sini aku aja yang upload!” ujar Tasya.

Bang Ichy langsung mengirim pesan kepadaku, pesan yang berisi protes. “Kan udah gue bilang jangan di upload, Man!”

“Bukan gue, Chy. Coba lo tanya Tasya, deh.” Jawabku.

Setelah beberapa lama, akhirnya kami semua sepakat untuk tetap menguploadnya, hanya Bang Ichy maupun Putri tak perlu di tag di dalam foto ramai-ramai itu.

Beberapa hari kemudian, Bang Ichy mengabarkan kabar duka di grup. Ia mengatakan bahwa laptop saudaranya dicuri oleh seseorang. Tapi Tasya membantahnya dan mengatakan bahwa laptop yang dicuri adalah laptop milik Putri dan diambil oleh mantan kekasihnya.

***


Hari demi hari dihiasi dengan try out dan pendalaman materi yang tak kunjung ada hentinya. Tak hanya itu, Ujian Sekolah, Ujian Praktek dan Ujian Akhir Sekolah pun juga berlangsung minggu demi minggu. Padahal tinggal sedikit lagi Ujian Nasional akan berlangsung.

Untuk menghilangkan kejenuhan, aku dan teman-teman Kaskuser 280 tiap minggunya masih rutin berkunjung ke taman-taman kota seperti Taman Menteng, Taman Suropati atau Taman Situ Lembang. Atau kadang-kadang mampir ke Gramedia Matraman maupun ke rumahku.

Dalam titik kejenuhan yang paling tinggi, salah satu dari kami memberi ide untuk membuat sebuah video iseng yang sedang tren sekarang: Harlem Shake. Entah pada hari Rabu atau Kamis, akhirnya mereka semua datang ke rumahku untuk mengeksekusi rencana itu. Aku langsung meminjam handphone milik Harrys merekam mereka yang akan berjoget dengan kocaknya sambil menahan tawa. Benar saja, aku tak bisa seberani mereka!

Teman-temanku langsung basa-basi kepada ayahku yang kebetulan sedang ada di rumah untuk mengajarkan salah satu program aplikasi untuk video, yang sebenarnya tujuan aslinya adalah mengedit video itu agar terlihat lebih bagus. Kemudian langsung di unggah ke YouTube.

Keesokan harinya video itu sudah tersebar luas dikalangan guru-guru sampai tiga angkatan.

Sebelum ujian berlangsung, kembali berkali-kali aku beserta ayahku dipanggil ke ruang BP. Kali ini aku harus berjanji dan menandatangani di atas materai enam ribu. Beberapa hari kemudian setelah perjanjian, aku mendapati diriku kembali terlambat karena bus yang sangat lama. Di depan sekolah kulihat banyak orang yang tak bisa masuk karena gerbang ditutup oleh satpam sekolah. Karena takut dikeluarkan, aku langsung berlari dengan kencang menuju tempat biasa menunggu bus lalu pulang ke rumah. Orangtuaku yang baru saja mau berangkat hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuanku.

Ternyata, perbuatanku itu diketahui oleh guru bahasa Inggris-ku, Pak Ray. Meskipun ia sebenarnya sangat penyabar dan baik, tapi melihat kelakuanku kemarin di depan kelas aku disindir habis-habisan olehnya. Pak Ayi, guru matematika yang sering mengajakku bermain band pun berbicara berdua saja denganku, menyarankan agar aku jangan terlambat lagi, karena sayang jika harus keluar padahal sedikit lagi mau ujian. Wali Kelasku, Bu Erni, juga menyampaikan hal serupa. Hanya Bu Ike yang tetap berkomentar pedas mengenai diriku.

Saat Ujian Praktek berlangsung, aku menyadari tas kecilku yang hanya berisi buku catatan dan alat tulis tertinggal di sekolah. Hal itu kumanfaatkan dengan baik untuk berjaga-jaga, sehingga kalau diingat kembali membuatku tertawa terbahak-bahak. Satu hal yang tak pernah kulupa: membohongi Kepala Sekolah baru.

Sebenarnya aku tak pernah berniat membohongi siapapun. Sialnya saat itu Bu Sus yang berjaga di gerbang, jadi tak ada pilihan lagi. Tatapannya langsung penuh selidik ke arahku. Ia sangat baik kepadaku karena ia tahu aku sering bermain musik di sekolah. Tapi saat kembali bertugas ia tak pernah memandang bulu.

“Kamu dari mana? Udah catet di kertas telat belum?” tanyanya.

“Saya nggak telat, Bu, saya udah datang dari tadi, tadi saya ke sana abis ngambil dompet saya yang ketinggalan, janjian sama orangtua saya, Bu..” hatiku sangat berdebar-debar. Kebohongan yang sempurna. Tapi aku takut juga kalau ia mengetahui kalau aku bohong. “Nih, buktinya saya nggak bawa tas!” aku menunjukkan dompet yang tadi kumaksud sebagai bukti pendukung. “Tas saya udah di atas dari tadi.”
Bu Sus melihat untuk mengkonfirmasi. “Yaudah, kamu boleh masuk!”

Sang satpam sekolah yang menyebalkan itu membukakan gerbang sekolah hanya untukku. Rasanya seperti seorang tamu kehormatan yang sedang mendapat kunjungan bebas saat melewati penjaga yang mengesalkan. Berbohong demi kebaikan itu ada. Kalau sekarang tak berbohong, mungkin aku tak pernah lulus SMA karena dikeluarkan dari sekolah.

Minggu-minggu sebelum Ujian Nasional, aku menyibukkan diriku dengan kameraku lagi, sambil melepas penat sehabis rentetan ujian berlangsung. Aku memotret band kakakku manggung di Senayan, memotret acara ulang tahun Gigi di Bandung, memotret, menyanyi dan open mic di acara ulang tahun komunitas Gigi yang diadakan di rumahku, hingga memotret band Rama di Kelapa Gading.

Hubunganku dengan teman-teman komunitas android kaskus semakin erat, terlebih karena ada salah satu member aktifnya yang juga seorang developer tinggal dekat rumahku. Kami sering mengobrol di 711 dekat rumahku, membahas banyak hal. Akhirnya karena itu mereka mencoba meminjamkan satu unit handphone flagshipanti-air yang sedang ramai diperbincangkan untuk ku review dalam jangka waktu satu minggu, lalu menulis ulasannya. Tasya sampai iri, karena itu adalah handphone favoritnya. Aku sampai jatuh cinta terhadap brand itu, seperti para pecinta produk berlogo apel.

Sebenarnya kali ini aku masih bingung ingin menceritakan apa. Tapi, ada satu hal yang menggelitiki ingatanku secara tiba-tiba.

Jika boleh jujur, sesungguhnya aku selalu membayangkan ujian itu harus dinikmati, bukan menjadi beban. Jadi meskipun sekitar satu atau dua minggu lagi sebuah ujian yang menentukan masa depan dan menghantui pikiran setiap anak akan berlangsung, aku tetap bisa berjalan-jalan dengan cukup santai. Bukannya menganggap enteng, tapi.. Entahlah, aku sulit menjelaskannya.

Terkadang Tasya menyempatkan datang ke rumahku untuk menemaniku belajar, meskipun malah lebih sering bernyanyi dan bermain bersama gitar akustik yang sedang dipinjam oleh Kang Naufal dari gitarisnya. Hari ini Tasya datang membawa film animasi yang kutitip untuk menghibur hariku yang suntuk.

Tanpa kami duga-duga, Bang Ichy juga datang ke rumah untuk latihan band bersama Kang Naufal dan yang lain. Aku meminta izin meminjam gitar akustiknya dan membawanya ke ruangan tempat biasa aku, Afi dan Harrys latihan. Ketika sedang asyik bernyanyi, tiba-tiba aku memiliki ide untuk merekam hasil iseng-iseng kami tersebut. Aku segera memanggil Harrys untuk bermain gitar juga. Tasya awalnya tak setuju karena malu. Setelah negosiasi yang cukup panjang akhirnya Tasya pun mau juga.

Alhasil kami berhasil merekam sekitar tiga lagu, seperti The Only Exception, A Thousand Years, sampai sebuah lagu yang mengharuskanku menyanyi, juga lagu paramore favorit kami berdua, Franklin. Kami menyanyi bagaikan Hayley dan Josh pada lagu itu. Begitu di upload, Hamim dengan cepat langsung mengomentari video tersebut. Syifa pun baru kali pertama mendengarkan Tasya bernyanyi terkejut ketika mendengar suaranya. Sedari dulu aku ingin sekali mengajak Tasya menuju impiannya, dan sekarang lah saatnya.

Beberapa hari kemudian, seperti yang kubilang tadi, bandnya Rama akan manggung di Kelapa Gading, di sebuah acara fashion. Tasya mengajakku untuk ikut, tapi aku tak bisa. Meskipun ia kecewa, tapi ia akhirnya tetap datang berdua saja dengan Rahma. Bang Ichy juga ternyata juga diajak oleh Tasya, tapi ia juga menjawab tak bisa.

“Have fun, ya, nanti salamin buat Rama..” ujarku di WhatsApp.

“Iya, sayang..” jawabnya tak lama.

Tapi sebenarnya, aku dan Bang Ichy beserta Kang Naufal sedang berada di rumah teman kami, seorang musisi jenius untuk berangkat bersama-sama ke Kelapa Gading. Kami sebenarnya memang sudah merencanakan untuk menonton band-nya Rama sejak seminggu lalu.

Seperti biasa, tempat ini selalu ramai, meskipun memang tak seramai ketika ada Shocktober. Panggung besar itu tak kehilangan pesonanya, meskipun sepi di atasnya. Kami mampir ke J.co sebentar untuk membeli kopi, lalu menuju gedung di sebelah panggung yang kemudian segera kusadari melihat orang yang sangat tak asing lagi parasnya.

Kuhampiri tempat duduk di depan gedung, menghentangkan tanganku dan menutupi mata satu orang yang sedang duduk.

“Siapa, nih?” tanyanya.

“Tebak!” kujawab dengan suara yang dibuat-buat.

Setelah akhirnya kubuka genggaman tanganku, aku berdebar-debar, semoga aku tak iseng dengan orang yang salah, karena itu sangat memalukan. Orang di sebelahnya hanya melihat ke arahku sambil tertawa.

Orang itu segera membalikan kepalanya dan melirik ke arahku.

Sial. Aku salah orang. Dengan segera aku menunduk meminta maaf.

Tapi bohong!

Orang itu langsung menyubitku dengan kencang. “Katanya nggak bisa dateng!” ujarnya.

“Hehe, kan kejutan!” aku langsung mengusap-usap lenganku.

“Dasar jelek!”

Bang Ichy dan Kang Naufal hanya tertawa saja di belakangku.

“Tempatnya di mana?” tanya Hessa.

“Di dalem gedung ini, Bang..” jawab Tasya.

“Hoo, gue kira di panggung gede ini..” ia menunjuk panggung tersebut.

“Duduk dulu sini..” pinta Tasya kepada kami semua.

“Rama-nya ke mana?” tanyaku.

“Tadi sih udah ketemu, terus tadi ngacir entah ke mana..”

Tak lama, Rama menampakan dirinya yang sedang menelpon di depan gedung itu. Setelah selesai tak sengaja ia melihat ke arah kami dan menyapa.

“Masuk aja, kali aja sambil liat-liat..” ajaknya.

Di dalam cukup ramai orang, meski tak seramai yang kukira.

“Man, coba lo dateng ke sini lebih cepet, ada semacem acara fashion show gitu, cakep-cakep ceweknya!” kata Rahma dengan semangat.

“Yah, tau gitu gue dateng duluan!” sahutku.

“Itu mah kamu aja yang pengen!” Tasya langsung menyambar dan menyubitku kencang dengan pipi memerah, kemudian mengambil tanganku untuk dipeluknya.

“Ecie cemburu!” ledekku. Ia begitu lucu kalau pipinya memerah seperti digoreng.

Malam terakhir sebelum memasuki minggu-minggu yang menegangkan untuk masa depan ini ditutup dengan mendengar alunan musik santai dari band-nya Rama yang memainkan lagu-lagu Pop Jazz ringan yang easy listening, mulai dari lagu sendiri hingga membawakan lagu orang. Tak kusangka, ia memiliki band yang sangat beda dengan influence yang sering ia berikan kepadaku.

“Maju, yuk, biar sekalian motret?” ajakku kepada Tasya.

“Nggak deh, aku di sini aja, kamu aja yang ke depan..” jawabnya sambil menikmati band-nya Rama bermain.

“Bareng aja,”

“Kamu aja..”

“Sekalian apresiasi, sayang, kamu juga pasti kalo manggung kan pasti pengen ditonton dari deket sama orang?”

Ia menatap ke arahku dan menghela nafas beratnya. “Yaudah..”

Ekspresi wajah Tasya menampakan ketidaksukaan. Terus cemberut. Tapi aku terus menggodanya dengan mencubit pipinya yang lucu sehingga malah cemberut. Di depan, aku sendiri yang malah merasa canggung. Entah mengapa, rasanya lebih baik agak mundur lagi seperti tempat awal.

Kuhilangkan kecanggunganku dengan memulai melukiskan cahaya di dalam kamera, juga dengan mencoba menikmati alunan nada-nada yang
mengambang di udara, perlahan demi perlahan, hingga band itu selesai memainkan lagunya.

Musik yang indah membuah semua orang yang menikmatinya berkumpul dalam satu tempat dengan minat yang sama. Alunan nada-nadanya bertransformasi menjadi sebuah adiksi.

“Makasih ya udah dateng!” ujar Rama dengan senang.

Mereka berbincang-bincang dengan asyik, sementara aku sibuk melihat-lihat foto yang berhasil kudapat tadi. Lalu, Tasya sudah tak cemberut lagi karena musik yang dimainkan tadi.

“Ciee Iman liatin mbak-mbak yang cantik itu!” ledek Bang Ichy.

“Hah?” kataku melihat ke arah yang Bang Ichy maksud. Memang wanita itu benar-benar cantik.

“Tuhkan genit!” sahut Tasya. Lagi-lagi pipinya memerah. Tentu saja tak ketinggalan dengan mencubitku.

“Aturan tadi lo diem-diem aja Chy ngasih taunya!”

Kiriman pelototan dari Tasya kembali melayang ke arahku.

Di jalan pulang sambil melihat jalanan malam dengan sorot lampu jalanan yang indah, kuambil nafas dalam-dalam, berharap momen seperti ini benar-benar bisa melegakan pikiranku akan Ujian Nasional. Dan berharap seakan bisa terus seperti ini saat Ujian Nasional usai.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.