Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Until The Day
Until The Day


********************************


Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.

~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.

Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.

Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.

© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.

INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
96
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#27
02 The Stretched Hand
“Itu dia!”

Gerombolan itu sudah tiba. Wajah-wajah garang nan bengis menyapa. Mereka seolah menunjukkan bahwa mereka siap membunuhku dengan parang mereka.

Dalam hatiku aku meminta tolong. Hanya saja kepada siapa aku minta tolong tidaklah jelas. Namun aku saat ini benar-benar berharap bahwa ada pertolongan bagiku. Jika aku mendapat kesempatan hidup sekali lagi, aku rasa aku akan menjalani kehidupan yang lebih baik. Walaupun itu mustahil sepertinya.

“Apa yang harus kita lakukan terhadap pencuri ini?” seorang pria bertanya pada gerombolan itu.

“Bakar saja dia!” salah seorang menjawab, dan jawaban itu membuatku ketakutan.

“Tidak. Lebih baik kita potong-potong saja tubuhnya menjadi beberapa bagian!” yang lainnya memberikan usul yang lebih mengerikan.

Tanpa kusadari, air mata keluar membasahi pipiku. Aku benar-benar tidak ingin mati saat ini. Usiaku masih dua puluh tahun. Aku seharusnya masih bisa hidup enam puluh tahun lagi. Oh, tolonglah aku. Siapapun atau apapun tolong aku.

“Lihat. Amati baik-baik. Bukankah dia itu si orang terkutuk?” seseorang mengatakan dengan lantang sebutan yang membuatku sengsara itu.

“Ya! Ya benar! Kita bunuh saja dia!”

“Jangan sampai dia memakan anak-anak kita!”

Mereka gila. Bagaimana seorang manusia seperti aku dapat memakan manusia lainnya? Aku bukan kanibal. Aku hanya seorang gadis yang difitnah.

“Dia harus segera dimusnahkan.”

“Dia itu monster!”

Ingin rasanya aku berteriak mengatakan bahwa aku bukan monster atau kanibal atau orang terkutuk seperti yang mereka katakan. Namun lidah ini begitu kelu hingga tak dapat mengatakan sesuatupun.

Mungkin ini memang saatnya. Hidupku harus berakhir disini. Berakhir dengan konyol. Dibunuh karena mencuri roti. Mungkin seperti itulah akan terdengar di Berita Masyarakat.

Dengan lemas aku terduduk di tanah becek dimana aku berada. Aku menyerah saat ini. Inilah akhir hidupku. Aporrifthike mati hari ini.

Kepalaku tertunduk. Seluruh tubuhku bersandar di gerobak yang ada di belakangku. Tidak ada harapan lagi.

“Ayo kita bunuh dia!” semua orang itu berteriak dengan kerasnya. “Kita lempari batu saja agar tangan kita tidak menyentuh orang terkutuk itu!”

“SETUJU!!!”

Matilah aku.

“SIAPA YANG TIDAK PERNAH MEMBUAT SUATU KESALAHANPUN SILAKAN MELEMPARKAN BATU UNTUK PERTAMA KALINYA.” Sebuah suara lantang terdengar.

Orang-orang mulai berbisik-bisik. Mereka membuatku pusing. Kepalaku. Ah, tidak. Pusing sekali. Ini menyakitkan.

Tak ada lagi orang bicara. Sepi. Mengapa aku tidak mendengar apapun? Kemana suara-suara itu pergi? Mungkinkah aku sudah mati? Kurasa memang aku sudah mati.

“Kau baik-baik saja?” sebuah suara lembut dengan sebuah tangan terulur, itulah yang otakku tangkap.

Ya, aku sudah mati sekarang.

“Hei, kau mendengarku?” suara itu kembali bertanya. “Kau belum mati. Ayo dengarlah suaraku.”

Belum mati? Pasti orang ini bercanda. “APA?” mataku tiba-tiba saja terbuka begitu lebar. “BELUM MATI? AKU BELUM MATI?”

Saat itulah aku melihat sosok seorang pemuda berlutut di depanku. Ia tersenyum memandangku.

APA? Tersenyum? Ada orang yang tersenyum padaku? Benarkah aku belum mati?

“Kau baik-baik saja kan?” pemuda itu bertanya kembali.

Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Pasalnya aku benar-benar tidak tahu apakah aku baik-baik saja. Namun sejauh yang aku lihat, aku masih ada di tempat yang sama. Aku masih kelaparan. Aku masih merasa lemas. Itu artinya aku hidup.

Pemuda itu mengulurkan tangannya padaku.

Namun melihatnya, aku hanya terdiam. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hidupku sudah terbiasa dengan penolakan. Mengapa hari ini aku melihat sesuatu yang berbeda?

“Ikutlah aku.”

Aku menelan ludah. Apa maksudnya?

“Kau tidak boleh berada di jalanan seperti ini. Tidak aman. Biarkan aku merawatmu.”

Kukerutkan keningku. Begitu banyak pertanyaan yang berjubel di otakku yang harus segera kukeluarkan karena begitu sesaknya.

Karena aku tidak segera menyambut uluran tangannya, dia mengambil tangan kananku dan menggenggamnya.

“Ayo ikut aku.” Ia menarikku sehingga mau tidak mau aku berdiri.

Kulepaskan tanganku dari genggamannya karena tiba-tiba saja aku merasa takut. Aku takut jika aku diapa-apakan oleh pemuda ini.

“Ada apa?” pemuda itu jelas tampak bingung atas apa yang barusan kulakukan. “Aku tidak akan menyakitimu. Sudah kukatakan aku akan merawatmu. Tidakkah kau dengar itu?” Ia mengamatiku dengan seksama. “Kurasa kau tidak tuli. Buktinya tadi kau mendengarku saat aku berkata kau belum mati.”

Kusipitkan kedua mataku dan memandangnya tajam. “Jangan melihatku seperti itu,” ucapku ketus. “Aku tidak tuli, kau tahu. Aku hanya tidak mengenalmu. Aku juga tidak terbiasa bergaul dengan siapapun.”

Pemuda itu menghela nafas yang terdengar jelas di telingaku. “Baiklah. Namaku Sotiras, dan aku adalah seorang pemuda yang baik.” Ia mengulurkan tangannya padaku, tetapi karena aku tidak mau untuk menjabat tangannya, ia memaksaku untuk berjabat tangan. “Siapa namamu?”

“Mengapa kau menanyakan hal itu? Itu adalah pertanyaan pribadi.” Aku masih enggan untuk mengenalnya. Pasalnya dia bisa jadi orang yang licik.

Pemuda itu mendesis kesal. “Apa susahnya menyebutkan siapa namamu? Kau ini.” Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Ya, mungkin kau merasa takut dan berpikir bahwa aku adalah orang jahat atau apalah itu. Tapi asal kau tahu, aku yang tadi menyelamatkanmu. Kalau aku tidak ada, tadi kau sudah mati.”

Tanpa sengaja mulutku menganga, tetapi aku sadar lalu cepat-cepat menutupnya. “Itu kau?” aku masih tak percaya.

Pemuda itu menunjukkan ekspresi kesalnya. “Iya. Masih tidak percaya? Apa aku perlu mengulangi perkataanku tadi yang menghentikan orang-orang itu dari niat mereka untuk membunuhmu?”

Kugigit bibir bawahku. “Hei, mengapa nadamu naik begitu? Aku kan hanya menjaga diri. Siapa tahu ini hanyalah akal-akalan orang untuk membunuhku.” Aku mengungkapkan rasa kesalku yang timbul akibat ucapan pemuda itu.

Pemuda itu berdecak. “Sudahlah. Ayo ikut aku.” Ia mengulangi lagi ajakannya.

Kali ini aku menurut. Maksudku dengan terpaksa. Aku tidak punya pilihan. Lebih baik aku mencoba untuk mengikuti pemuda ini ketimbang ada di tempat terbuka seperti ini, dimana orang-orang yang ‘buas’ dapat sewaktu-waktu memburuku.

Pemuda itu berjalan di depanku sementara aku mengikutinya. Kami berjalan keluar dari jalan buntu itu lalu berbelok ke kiri dimana ada kereta kuda yang sangat indah berhenti disana.

Belum pernah aku melihat kereta kuda seindah ini. Dulu aku pernah mendengar dari ayah bahwa kereta kuda semacam ini hanyalah dimiliki oleh kerajaan.

Pemuda itu berhenti tepat di samping kereta kuda itu, dimana seorang pria yang lebih tua darinya telah membukakan pintu kereta. “Masuklah,” katanya.

“APA?” mungkinkah aku salah dengar? Dia barusan memintaku masuk ke dalam kereta ini?

Pemuda itu mendesis kesal. “Kau ini tuli atau bagaimana?” Ia langsung menarikku lalu memaksaku masuk ke dalam kereta itu.

Mewah adalah kesan pertama ketika aku duduk di bangku kereta itu. Kulihat atap dan sekelilingku. Semuanya indah.

Pemuda itu pun akhirnya masuk juga dan duduk di sebelahku. Sontak, aku bergeser sedikit ke kanan untuk memberi jarak di antara kami.

“Ada apa?” tanyanya bingung.

“Kau duduk di sebelahku?” tanyaku.

Pemuda itu mengerutkan alisnya. “Apa maksudmu? Apa kau kira aku akan duduk di atas kereta ini? Atau di roda? Atau di—”

“Bukan.” Aku menyelanya. Dia rupanya banyak bicara. “Maksudku, karena aku..” bau. Itu yang ingin aku katakan. Mengapa dia tidak paham? Memangnya aku harus mengucapkan kata itu? Aku masih punya harga diri.

“Kau apa?” ia bertanya.

“Aku… tidak suka dekat dengan orang lain,” ucapku setelah memikirkan berbagai alasan di otak selama sepersekian detik.

Ekspresi wajah pemuda itu berubah dari kesal menjadi iba. Ya, aku dapat melihatnya. Dan aku tidak menyukai ekspresi seperti itu. Entah mengapa.

“Jangan memandangku iba seperti itu,” ucapku terang-terangan.

Pemuda itu berdecak lalu memalingkan wajahnya ke luar kereta sambil meminta kusir untuk menjalankan kereta.

Beberapa menit perjalanan di kereta, tidak ada satupun kata terucap. Kurasa itu gara-gara aku. Namun, aku tidak ingin mempertaruhkan harga diriku untuk membuka percakapan lebih dulu. Biarlah dia tahu bahwa aku bukan gadis yang gampang dibodohi. Lagipula, aku masih dalam penyelidikan terhadap dia.

~
“TIDAK!!” aku meraung-raung tanpa henti melihat tubuh ibuku tidak bergerak. “IBU JANGAN PERGI!”

Namun dia tidak bergerak. Ibu yang melahirkanku, ibu yang selalu mendukungku, ibu yang tidak pernah membiarkanku menangis, dia tidak bergerak.

“Mengapa kau meninggalkanku, ibu?” isakku sambil berucap lirih. Kupegang erat tangannya dan meletakkan kepalaku di atas perutnya. “Ibu, kembalilah.”

Namun dia tidak kembali. Dia hanya terbujur kaku di atas pembaringannya. Usahaku sia-sia. Aku tidak dapat menghidupkannya kembali.

Ayah kemudian menarikku perlahan agar membiarkan petugas kesehatan segera mengurus ibu. Aku ingin melepaskan diri untuk selalu bersama ibu, tetapi ayah menahanku.

“Jangan, Apo. Ibumu sudah tiada. Sia-sia saja kalau kau berteriak dan menangis semalam-malaman. Dia tidak akan bangkit lagi,” ayah mengatakan hal itu padaku sambil menangis.”Sayang, biarkan ibumu beristirahat dengan tenang.”

Mendengarnya, aku hanya menangis. Aku menyesal karena penyakit ibu baru diketahui beberapa hari terakhir sehingga tidak dapat diselamatkan. Ibu memang selalu tampak ceria dan aktif sehingga tak seorang pun tahu bahwa ia mengidap penyakit yang sangat berat.

Mengapa ibu harus pergi? Aku bahkan belum merayakan ulang tahunku yang kelimabelas. Mengapa?

~

Aku tiba-tiba tersadar bahwa aku telah larut dalam kenangan itu. Hari terakhir dimana ibu pergi. Kepergiannya beberapa tahun lalu benar-benar menyisakan kepedihan mendalam yang tak dapat kulupakan sama sekali.

Namun ini bukan waktunya untuk menangis. Aku harus menahannya. Tidak boleh seorang pun melihatku menangis. Aku tidak ingin diperdaya karena terlihat lemah. Biar siapapun melihatku sebagai gadis yang kuat. Termasuk orang yang duduk di sampingku ini. Siapa dia saja aku tidak tahu.

Tunggu. Bukankah seharusnya sudah jelas? Ini adalah kereta kerajaan. Dia, berarti dia adalah salah seorang anggota kerajaan.

Kupandang pemuda yang masih memalingkan wajahnya dariku itu dengan mata melebar. Kutelan ludahku karena tercengang dengan siapa aku sedang duduk.

Tubuhku menegang sejadi-jadinya. Aku ingat ayah berkata bahwa seseorang yang melakukan kesalahan menyangkut kerajaan akan dibunuh saat itu juga. Dan inilah yang dinamakan keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya!

Kudengar desahan pemuda itu sejenak sebelum dia akhirnya berkata, “Kau ini. Mengapa kau dapat bertahan selama ini tidak bicara sama sekali?”

Aku terlalu takut untuk berbicara lagi. Aku takut melakukan kesalahan dan dibunuh. Lebih baik mulai saat ini aku diam saja.

“Kau, hei, kau baik-baik saja?” pemuda itu bertanya padaku.

Aku bisa. Aku bisa. Jangan bicara sepatah katapun. Apo, tahan dirimu. Kalau kau bicara, kau bisa menyakiti orang lain. Dan kalau kau menyakiti orang lain, yang adalah anggota kerajaan, kau bisa mati. Aku hanya mengangguk sebagai respon.

Kurasakan sentuhan di tangan kiriku yang cukup membuatku terkejut.

“Tanganmu dingin sekali,” nada cemas terdengar dari ucapannya.

Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja.” Kuyakinkan pemuda itu.

“Tidak, kau tidak baik.” Tangan pemuda itu menarik wajahku sehingga mau tak mau aku harus memandangnya. Ia memperhatikanku dengan seksama. “Kau sakit. Biar kututup jendelanya.” Tangannya melepaskanku kemudian menutup jendela yang ada di sebelahnya dan juga di sebelahku.

Udara dingin yang tadi memenuhi kereta pun berkurang. Setidaknya aku tidak terlalu menggigil seperti tadi.

Hanya saja tiba-tiba rasa pusing yang tadi kurasakan kembali lagi. Sungguh saat yang tidak tepat. Kusandarkan kepalaku ke belakang demi menghilangkan rasa pusing ini. Kuharap kali ini aku dimaafkan karena tidak sopan terhadap anggota kerajaan.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.