She finds it hard to trust someone,
She's heard the words cause they've all been sung.
She's the girl in the corner,
She's the girl nobody loved.
But I can't, I can't, can't stop thinking about you everyday,
And you can't, you can't,
you can't listen to what people say.
They don't know you baby,
Don't know that you're amazing,
But I'm here to stay.
When you lose your way and the fight is gone,
Your heart starts to break
And you need someone around now.
Just close your eyes while I put my arms above you,
And make you unbreakable.
She stands in the rain, just to hide it all.
If you ever turn around,
I won't let you fall down now.
I swear I'll find your smile,
And put my arms above you,
And make you unbreakable.
I'll make you unbreakable.
Cause she's the girl that I never had,
She's the heart that I wanted bad.
The song I heard on the radio
That made me stop and think of her.
And I can't, I can't, I can't concentrate anymore.
And I need, I need,
Need to show her what her heart is for,
It's been mistreated badly,
Now her world has started falling apart,
Falling apart.
When you lose your way and the fight is gone,
Your heart starts to break
And you need someone around now.
Just close your eyes while I put my arms above you,
And make you unbreakable.
She stands in the rain, just to hide it all.
If you ever turn around,
I won't let you fall down now.
I swear I'll find your smile,
And put my arms above you,
And make you unbreakable.
You need to know that somebody's there all the time,
I'd wait in line, and I hope it yours.
I can't walk away 'til your heart knows,
That it's beautiful.
Oh, I hope it knows, It's beautiful.
When you lose your way and the fight is gone,
Your heart starts to break
And you need someone around now.
Just close your eyes while I put my arms above you
And make you unbreakable.
She stands in the rain, just to hide it all.
If you ever turn around,
I won't let you fall down now.
I swear I'll find your smile,
And put my arms above you,
And make you unbreakable.
Cause I love, I love, I love, I love you darling.
Yes I love, I love, I love, I love you darling.
And I'll put my arms around you,
And make you unbreakable.
Hari itu, Sabtu malam, jarum jam di pergelangan tangan gua menunjukkan angka 7 lebih 30 menit. Gua duduk diatas sepeda motor yang diam mematung ditepi jalan kecil di suatu tempat didaerah Grogol, Jakarta-Barat. Temaram lampu jalan, membias kuning kemerahan diatas sebuah kertas bertinta biru, berisi alamat rumah yang ditulis oleh Marcella kemarin. Gua mengedip-kedipkan mata, mencoba memahami isi tulisan tangan yang bentuknya indah namun tetap sulit untuk gua mengerti. Huruf-huruf di tulisan itu seperti menari, bergoyang-goyang seperti enggan untuk dibaca, saling berpindah tempat sehingga membingungkan. Gua lalu memejamkan mata kembali, kali ini sambil menggeleng-gelengkan kepala, berharap setelah ini, tulisan di atas kertas tersebut mampu gua baca dengan baik. Tapi, hasilnya tetap sama.
Gua lalu turun dari atas motor, berjalan menghampiri seorang pemuda yang sepertinya juga tengah menunggu seseorang diatas sepeda motornya.
“Misi mas, boleh numpang nanya?” Gua menyapa pemuda tersebut. “Oh monggo-monggo..” “Kalo alamat ini dimana ya mas?”Gua bertanya sambil menyodorkan secarik kertas dari Marcella tadi.
Pemuda tersebut meraih kertas tersebut, kemudian menerawangnya, mencari cahaya dari lampu jalan yang lebih terang. Beberapa saat kemudian dia mengangguk seperti menggumam sendiri, kemudian kembali menyerahkan kertas tersebut ke gua.
“Kamu dari sini lurus aja, nanti keluar jalan raya, ada rumah sakit, trus masuk ke gang disebelah rumah sakit…” Pemuda itu berusaha menjelaskan, sembari tangan-nya menunjuk, mengurai jalan dengan telunjuknya.
Gua nggak memperhatikan gerakan tangannya, hanya mencoba berusaha mengingat apa saja yang barusan dia ucapkan. Sambil meraih kembali secarik kertas berisi alamat dan mengucapkan terima kasih, gua kembali ke tempat motor gua terparkir lalu bergegas mengikuti arahan pemuda tersebut. Begitu gua melalui pemuda tadi, dia mencoba mengulangi instruksi-nya dengan tangan dan suara yang lebih keras, sementara gua mengangguk dan kembali mengucapkan terima kasih.
Sampai di lokasi yang dimaksud pemuda tadi, tentu dengan mengikuti instruksi yang dia berikan. Gua kembali menghentikan sepeda motor dan mematikan mesin-nya. Gua turun dari sepeda motor dan menuju ke sebuah warung rokok kecil disudut jalan. Diwarung tersebut, gua kembali bertanya alamat sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat rumah Marcella, si penjaga warung lalu memberikan petunjuk dengan menjelaskan arah sambil menunjuk-nunjuk kearah gang.
Dan, finally… setelah beberapa kali nyasar, beberapa kali salah jalan, dan berkali-kali bertanya. Akhirnya gua sampai didepan sebuah rumah berlantai dua yang posisinya benar-benar sulit untuk dicari, bahkan mungkin oleh orang ‘normal’ sekalipun. Rumah bercat kuning gading dengan pagar berwarna merah yang nyaris setinggi langit-langit itu berada didalam gang kecil yang hanya selebar 1,5 sampai 2 meter-an, gua pun agak kesulitan saat memarkir motor disana. Disebelahnya, berderet bangunan-bangunan serupa yang ‘rata-rata’ berpagar tinggi dan terdiri dari dua lantai, bahkan lebih.
Sebuah plat besi hitam terpasang ditembok bagian luar, bertuliskan angka 18 berwarna putih dan ornamen-ornamen berbau oriental mengelilingi angka tersebut. Gua berdiri, celingak-celinguk didepan pagar yang bisa dibilang hampir nggak bisa di-intip itu, lalu berinisiatif mengetuk pagar besi itu dengan gagang kunci motor gua, sambil berujar ; “Assalamualaikum..”
Eh..
Gua lalu meralat salam gua barusan, dan buru-buru menggantinya dengan ; “Permisi..”
Setelah mengucapkan salam ralat-an gua beberapa kali sambil mengetuk-ketuk pagar besi, beberapa saat kemudian terdengar suara kunci pintu diputar, decitan pintu terbuka kemudian disusul suara langkah mendekat ke-arah pagar. Lalu dari sela-sela pagar besi yang tertutup mika plastik, yang sepertinya sengaja dilubangi untuk menngintip calon tamu yang datang, terlihat potongan wajah. Potongan wajah yang sangat familiar buat gua, sepasang mata sipit yang mengapit hidung yang tidak terlalu mancung, Marcella.
Sesaat kemudian terdengar suara mendecit dan pagar pun bergeser terbuka.
“Malem banget…” Marcella berujar sambil kemudian berlalu masuk kedalam lagi.
Gua masih berdiri mematung. Gila! Gua nggak dipersilahkan masuk.
Lalu disusul teriakan dari dalam rumah; “Masuk…”
Gua lalu melangkah pelan melaui pagar yang sedikit terbuka. Dibalik pagar terdapat teras berlantai granit berwarna hitam, berukuran dua meter persegi. Disudut-sudutnya terapat tumpukan kardus-kardus usang dan beberapa onderdil sepeda motor yang terlihat terbengkalai. Di sudut berlawanan terdapat sebuah pintu berdaun lebar bercat merah dengan sebuah papan beraksara mandarin tergantung diatasnya. Gua masuk perlahan seperti mengendap-endap, sementara Marcella terlihat duduk disalah satu kursi rotan sambil memeluk kedua lututnya, matanya memandang bebas, seperti enggan bertatapan dengan gua.
“Duduk…” Marcella memberi instruksi sembari menunjuk kursi rotan disebelahnya dengan dagunya. “Mau minum apa?” Marcella bertanya begitu melihat gua sudah duduk. “Apa aja deh..” gua menjawab sambil menebar senyum. “Racun mau?”
“Buset..”
---
Sementara Marcella mengambilkan minum keadalam, gua duduk menunggu diatas kursi rotan yang terlihat antik, sementara di hadapan gua terbentang sebuah meja kayu berbahan (sepertinya) Jati padat yang berpernis mengkilap. Pada dinding ruangan terpampang banyak foto-foto berbingkai dengan berbagai macam ukuran. Sebuah foto yang terlihat lawas menarik perhatian mata, gua lalu bangkit dan mendekat ke sisi dinding dimana foto berukuran 20R itu terpasang. Terlihat sebuah keluarga kecil bahagia sedang tersenyum kearah kamera, sebuah keluarga dengan seorang ayah yang tengah memeluk seorang wanita dan seorang gadis mungil, gadis mungil yang gua kenali sebagai Marcella.
“Itu bokap sama nyokap gua..” Suara Marcella memecah keheningan.
Dia baru saja kembali dari dalam dengan membawa segelas minumam berwarna orange, gelas tersebut lalu digenggamgam ditangan gua, sementara matanya kemudian memandang foto berbingkai tersebut.
“Oh.. nyokap lu cakep..” Gua berujar.
Marcella nggak menjawab, dia hanya tersenyum. Senyumnya terlihat terpaksa dan seperti ada kepedihan didalamnya. Dia lalu mengusap sosok wanita didalam foto kemudian mulai bicara; “Nyokap gua udah meninggal, rif..”
“Eh..sorry.. sorry..Cell, gua…..”
“Alah.. udah nggak apa apa.. nyantai aja” Marcella mencoba menghibur diri, kemudian merebahkan diri diatas kursi rotan. “Lo belom jawab pertanyaan gua tadi..” Marcella bertanya. “Pertanyaan yang mana?”
“Kenapa malem banget kesini nya?”
“Ooh.. gua nyasar, cel..”
“Ya masa orang nyasar sampe tiga jam…” Marcella bicara, kemudian air muka-nya berubah sedikit kesal. “Gua…mmm… gua…” gua tergagap, mencoba untuk menjelaskan, tapi bingung harus mulai darimana. “Trus, mau ngapain kalo dateng udah jam segini?...” Marcella bicara sambil dagu-nya mengarah ke arah jam dinding yang menunjukkan angka 9.
“Ya.. ngobrol.. “ “Ngobrol? Kalo ngobrol mah disekolah bisa, rif.., lo janji katanya mau ngajak gue nonton kan kemaren.. dan lo juga yang janji mau jemput gue…nyatanya dateng-nya telat, nonton juga nggak jadi..” “…”
“Trus lo dateng tanpa rasa bersalah, planga-plongo kayak orang bego..”
“Iya, sorry cel.. sorry deeh..” Gua berusaha meminta maaf kepadanya, ya walaupun kayaknya nggak begitu banyak membantu.
Kemudian suasana mendadak berubah menjadi hening. Gua terdiam, Marcella terdiam, yang terdengar hanya suara detak jam yang bergerak stabil dan sesekali suara deru mesin motor yang menggema saat melintasi gang didepan rumah. Rencana awalnya, gua bakal menjemput Marcella dan mengajaknya nonton di bioskop, setelah itu gua bakal ‘nembak’ dan minta dia jadi pacar gua. Tapi, kalo begini kejadiannya ya terpaksa gua batalin aja rencana awal gua, daripada kemungkinan ditolaknya meningkat.
“Abisin tuh minumnya, abis itu lo pulang aja.. ngantuk gue..” Marcella bicara sambil menggeser gelas minuman ke arah gua.
“Lah..”
Gua lalu menyeruput setengah isi gelas. Belum juga gua menyelesaikan tegukan, Marcella menyerobot gelas lalu menenggaknya habis, kemudian dia bangkit berdiri dan berjalan kearah pintu depan, membukanya dan berdiri di sisi pintu. Lengan kanannya diletakan dipinggang sementara lengan satunya masih menggenggam gelas yang kosong.
Gua lalu berdiri, merespon pengusiran halus-nya Marcella kemudian berjalan pelan menuju ke pintu keluar. Sambil melalui pintu dan Marcella gua berkata lirih; “Maaf ya Cel, padahal gua udah jalan dari rumah jam 5..”
Marcella lalu meraih lengan gua yang hampir melaluinya.
“Maksud lo, tulisan gua nggak kebaca? Tulisan tangan gua jelek?”
Gua nggak menjawab, lalu mengeluarkan secarik kertas yang berisi alamat kepadanya.
“Nggak cel, tulisan lu bagus kok, bahkan bagus banget.. tapi emang gua nggak bisa baca..” Gua mencoba menjelaskan sambil beberapa kali meralat ucapan gua.
“Maksudnya gua bisa baca, tapi… gua..”
“…”
“Gua…”
“…”
“Gua disleksia, cel..”
“Lo kenapa?”
“Disleksia, gua bisa baca.. tapi sulit banget, apalagi kalimat-kalimat panjang dengan campuran symbol atau angka, dimata gua huruf-huruf kayak muter-muter, menari-nari..” Gua mencoba menjelaskan sambil berlalu kemudian duduk diatas sepeda motor. Sambil menyalakan mesin motor gua berujar kepadanya; “Buat orang kayak gua, nyari alamat tuh susah banget, cel..”
Kemudian gua pergi.
Bias - Cinta Kamu
Ketika melangkah ke sana
Api asmara tiada berkilah
Tuk mencoba ungkapkan
Segala gejolak cinta lama
Terpendam di dalam dada
Tak ingin diriku tanpa ada kamu
Berdua rangkuh s'gala rasa milik kita
Cinta kamu
Walau sedetik saja
Bawa daku
Susuri relung hati
Biar tak mungkin selamanya
Ada rasa ragu
Slalu membelenggu harapan kasih
Yang tlah tertumpah sirami jiwa