Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Until The Day
Until The Day


********************************


Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.

~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.

Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.

Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.

© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.

INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.6K
96
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#23
01 IDENTITY
Yang namanya fitnah selalu tidak enak. Terlebih jika fitnah itu membuat hidupmu menjadi sengsara.

Tertuduh sebagai pembunuh adik sendiri. Itulah yang terjadi padaku. Itulah fitnah yang dilontarkan oleh ibu tiriku. Sangat, sangat dan sangat menyakitkan.

Kurasa kisah Cinderella masih belum ada apa-apanya dengan kisah hidupku. Dia masih enak karena masih dapat tinggal di rumah ayahnya. Sedangkan aku? Aku tidak punya rumah sehingga harus berpindah-pindah tempat sekadar untuk tidur. Belum lagi ketika orang-orang mengusirku.

Semua itu gara-gara ibu tiriku yang memasang wajahku dimana-mana dengan menuliskan sebutan ‘orang terkutuk’. Tidak satupun orang menginginkanku. Ya. Tidak satupun.

Kau mungkin tidak akan percaya mendengar kisahku ini. Tapi inilah kenyataannya. Aku terbuang. Tidak. Aku dibuang. Aku ditolak. Aku hanyalah sampah. Tepat sekali dengan arti namaku, Aporriftikhe: Yang Tertolak. Hh, menggelikan.

/UTD/


“Ibu, tolonglah. Jangan usir aku,” aku memohon dengan sangat padanya. Kuletakkan kepalaku di lantai, tepat di depan kaki ibu.

Bukannya mendapat belas kasihan, justru aku ditendangnya.

“Ah!” aku tidak sanggup menahan rasa sakit yang ditimbulkan tendangan itu. Air mata tanpa kusadari keluar dari kedua mataku, seolah mendukung adanya rasa sakit di tubuhku.

Saat ini aku benar-benar berharap bahwa ayah dapat menolongku. Dimana dia saat aku membutuhkan pertolongan? Kenapa juga dia harus tunduk di bawah kuasa istrinya? Tidak, wanita jahat ini bukan istrinya. Dia merebut tempat ibuku.

“Aku sudah tahu sejak awal. Semenjak Xena bertemu denganmu, dia menjadi sakit-sakitan. Sudah seharusnya aku bertindal lebih awal agar Xena tidak mati gara-gara kau. Dasar, kau ini anak terkutuk!”

Ia mendorongku sangat keras dengan kakinya sehingga aku terpelanting ke belakang. Benar-benar malangnya aku karena tubuhku terlalu kecil dan lemah sehingga aku tidak dapat melawan.

Atau mungkin lebih tepatnya, aku tidak ingin melawan. Bahkan memohon seperti yang kulakukan terus menerus setengah jam terakhir ini.

Sebelum ibu – tidak – wanita itu mengusirku, perlahan aku berdiri. Kupandang wajahnya dengan tatapan terluka bercampur marah selama beberapa detik, lalu kubalikkan badanku daripadanya.

Kutinggalkan rumah itu, rumahku, untuk pergi entah kemana. Biarlah aku berjuang sendiri di luar sana. Pasti ada jalan.


~


“Pasti ada jalan?” aku menyesali perkataanku di hari aku keluar dari rumahku sendiri. Sungguh tidak masuk akal.

Bagaimana aku begitu bodoh? Seharusnya aku merebut rumah itu.Kuremas rambutku dengan kedua tanganku. Begitu kesalnya aku saat ini. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

Tiba-tiba, bunyi-bunyian layaknya orang mengerang terdengar dari dalam perutku. Aku lapar. Aku harus mencari makan.

Aku bangkit dari tempatku untuk menuju pasar. Kupakai mantel yang kutemukan terjatuh di pinggir jalan sebulan lalu untuk menutupi wajahku agar tidak seorang pun melihat siapa aku.

Dengan berhati-hati aku memasuki pasar. Mata elangku membantu aksiku mencari makan. Kucari celah dimana tak seorang pun dapat melihat. Seperti biasanya, aku akan berhasil mendapatkan banyak makanan. Makanan yang membuatku bertahan sampai saat ini.

Di sudut pasar, ada penjual roti kesukaanku. Disana terdapat banyak orang sibuk membeli. Ini adalah kesempatan yang bagus untukku. Aku harus segera mengambil beberapa potong roti yang sedap baunya itu.

Aku berjalan layaknya orang lain, berlagak seolah ingin membeli sesuatu. Namun di bawah mantelku, tanganku siap untuk mengambil roti-roti itu dengan lihainya, tanpa seorang pun mengetahui.

~


Kesalahan itu bukanlah kesalahanku. Aku hanya menurutinya berjalan-jalan di padang rumput di belakang rumah. Saat itu aku sudah menahan Xena untuk tidak pergi karena cuaca kurang baik. Namun dia begitu memaksaku. Aku tidak ingin mengecewakan adikku itu. Meskipun dia bukan adik kandungku, aku sangat menyayanginya.

Namun, kejadian naas itu tanpa kusangka terjadi begitu saja. Aku sedang mengambilkan beberapa tangkai bunga edelweis seperti yang ia minta. Entah bagaimana, lima menit setelah aku kembali dengan membawa bunga itu, aku kehilangan dia. Aku menangis sambil mencarinya, tetapi dia tidak kutemukan.

Aku berlari sekencang-kencangnya kembali ke rumah untuk mengatakan pada ayah mengenai kejadian ini. Dengan cepat, ayah memanggil bala bantuan untuk mencari Xena. Setelah seharian kami mencari, akhirnya Xena ditemukan di pinggir sungai tanpa nyawa.

Semua orang menyalahkanku. Semua orang tidak mempedulikan aku. Semua orang hanya mencaciku dan menyebutku pembawa sial. Ayah, hanya bisa terdiam tanpa pembelaan.


~


Beberapa ibu-ibu sedang memperbincangkan mengenai roti mana yang rasanya enak. Aku berpura-pura mendengarkan, tetapi tanganku juga bergerak mengambil potongan-potongan roti yang tersusun dengan tidak rapi itu. Kondisi seperti ini begitu menguntungkan karena penjual roti tidak akan tahu bahwa aku sudah mengambil beberapa potong rotinya.

Ketika aku hampir selesai dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu, suara seorang anak kecil mengejutkanku dan semua orang yang ada di pasar itu.

“Ada pencuri!” anak itu menunjukku sehingga semua pasang mata tertuju padaku.

Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari meninggalkan tempat itu. Tentu saja tanganku masih menggenggam roti-roti itu. Aku sangat lapar dan aku butuh kekuatan dari hasil curianku itu.

Secepat kilat aku berlari menerobos banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di pasar.

“Ada pencuri! Tangkap dia!” seseorang berteriak sambil mengejarku.

Sekilas kulihat ke arah belakangku, dan menemukan bukan hanya satu atau beberapa orang mengejarku. Segerombolan orang begitu garangnya memburuku. Beberapa dari mereka membawa parang di tangan mereka. Entah itu karena aku, atau karena mereka adalah pemotong daging.

Ah entahlah. Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan siapa mereka. Aku harus segera menghilang dari pandangan mereka agar tidak terbunuh sia-sia di tangan mereka.

Aku hampir kehilangan kekuatan sekarang. Kakiku lemas sekali. Bahkan setelah aku makan roti-roti ini sambil berlari, kekuatanku masih belum bertambah. Aku masih merasa lelah.

Di ujung jalan terdapat belokan ke kiri. Aku berharapa agar menemukan sebuah tempat persembunyian disana. Karena itu, dengan segenap kekuatan yang kumiliki saat ini, aku berlari lebih cepat.

Matilah aku. Bukannya belokan seperti yang kuharapkan, tapi sebuah jalan buntu lah yang kudapatkan.

Jantungku berdetak begitu kencang. Tetapi akalku belum mati. Aku bisa mencari jalan.

Pasti ada jalan.Perkataanku setahun lalu berputar kembali di otakku. Saat ini aku berharap perkataan itu bisa menjadi kenyataan.

Kulihat sekelilingku untuk mencari apapun yang bisa menjadi jalan keluarku. Tetapi malangnya tidak kutemukan jalan apapun. Tidak ada jendela rumah atau pintu yang terbuka yang bisa aku masuki. Sementara itu, suara gerombolan yang mengejarku tadi sudah terdengar begitu dekat.

Tidak. Aku akan mati. Kali ini aku tidak bisa pergi. Aku akan mati.
Diubah oleh yohanaekky 03-01-2016 10:41
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.