Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for sebuah bentuk perlawanan ( pembersihan hal yang ghoib ) 2:
“ zaaaa…istigfar..istigfar…bangun zaaa…..” diantara rasa ketakutan yang hampir menguasai seluruh alam bawah sadar gw, suara yang sangat gw kenali seperti membangkitkan harapan gw untuk mengakhiri kejadian buruk ini…dengan perlahan gw buka pejaman mata ini…hingga akhirnya gw melihat sosok dedi yang terduduk di samping gw sambi, kedua tangannya mencoba mengguncang guncangkan tubuh gw
“ lu kenapa sih za…..sintinggg…lu benar benar nakutin gw…” ucap dedi dengan setengah berteriak begitu melihat gw mulai membuka mata, raut mukanya menunjukan rasa leganya
“ kalau sampai lu berlaku aneh za…sumpahh…gw enggak tau apa yang akan gw lakukan…” ucap dedi kembali, terlihat dia bangkit dari duduknya dan berjalan hilir mudiknya…layaknya seseorang yang tengah mencoba melepaskan ketegangannya
“ gila…ini gila…” maki gw sambil menerangkan kepada dedi tentang apa yang baru saja gw alami
“ sebaiknya kita mulai berkemas dan pergi dari sini ded…” ucap gw sambil melangkah ke kamar mandi, samar samar mulai terdengar suara azan shubuh yang berkumandang dari masjid terdekat
“ lu enggak sholat shubuh dulu za…?” tanya dedi sambil menggelar sajadahnya, tatapan matanya memperhatikan gw yang sedang beberapa helai baju ke dalam ransel, mendengar pertanyaan dedi, gw hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepala
“ kalau sudah selesai…gw tunggu lu di luar ded…bawa keperluan seperlunya saja..” tas besar yang terletak di lantai kini berada dalam genggaman tangan gw
“ tas ransel ini….” gumam gw pelan sambil mengambil tas ransel yang berada di kasur untuk kali keduanya…tas ransel yang pernah menemani gw dalam mengarungi petualangan di sebuah tempat di jawa timur…kini kembali menjadi teman setia yang menghiasi punggung gw
Setelah melalui kondisi lalu lintas yang tidak terlalu padat, akhirnya kamipun tiba di stasiun kereta yang akan mengantarkan kami ke sebuah tempat di jawa timur, lamunan gw seperti termanjakan oleh situasi stasiun yang tidak terlalu ramai, masih terbayang dalam ingatan gw saat saat ketika wulan mengantarkan keberangkatan gw di stasiun ini
“ wulan…” gumam gw pelan seraya memperhatikan sepasang kekasih yang sedang bercengkrama
“ woii…ngelamun aja…” kejut dedi sambil menyerahkan sebungkus roti, ini adalah momen terindah yang akan selalu gw kenang…ketika sebuah senyuman muncul dari seorang kawan yang dengan tulusnya menemani gw dalam mengakhiri semua kisah ini, hingga akhirnya setelah menunggu sekian lama…kereta yang kami nanti nantikan pun tiba
“ di stasiun ini…di kereta ini ded…kita akan memulai petualangan untuk mengakhiri ini semua…dan percayalah…di tempat ini juga…kita akan memijakan kaki ini dengan sebuah awal kehidupan yang baru…” ucap gw sambil tersenyum seiring dengan laju kereta yang mulai bergerak perlahan menjauhi stasiun
Setelah sekian jam menjalani perjalanan panjang yang cukup melelahkan, akhirnya kami pun tiba di sebuah tempat yang menjadi awal dari semua petualangan gw selama ini…hamparan pohon pohon jati yang menghiasi sepanjang perjalanan seperti lukisan indah yang memberikan kesejukan
“ kita sudah sampai ded….” ucap gw sambil menyerahkan sejumlah uang kepada pak supir yang mobilnya sengaja kami sewa untuk mengantarkan kami
“ ini tempatnya za ?” tanya dedi, matanya terlihat memperhatikan sebuah bangunan tua yang terlihat tidak terawat lagi..di beberapa sudut taman bisa gw lihat kumpulan rumput ilalang yang sudah meninggi…pagar besi yang terlihat sudah mulai berkarat…lampu redup yang menghiasi bagian teras depan…semua itu mengingatkan gw akan semua kenangan kelam yang gw alami di mess tua itu
“ kita istirahat dimana za…” tanya dedi, terlihat tatapan matanya memperhatikan keadaan sekitar yang tertutup kegelapan malam, tanpa menjawab..segera gw melangkahkan kaki menuju sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari mess…sebuah masjid yang sangat teramat jarang gw kunjungi selama gw tinggal di mess tua itu
Setelah meminta izin dan menjelaskan maksud kedatangan yang tentu saja gw samarkan tujuan utama dari kedatangan ini, beberapa orang pengurus masjid terlihat menyambut kami dengan ramah dan mempersilahkan kami untuk beristirahat di masjid
“ setidaknya kita mempunyai tempat istirahat ded….” ucap gw sambil meletakan tas di sudut ruangan masjid, beberapa orang yang masih terlihat asyik berzikir…sesekali menatap kami sambil melepaskan senyumnya
“ yang pasti…ini tempat teraman..dari semua tempat yang ada sekarang ini za…” kelekar dedi, kemudian dia berjalan menuju tempat wudhu yang berada di belakang masjid, gw yang sudah mulai merasakan kelelahan…segera merebahkan tubuh ini
“ sebaiknya tas kamu itu diletakan di luar masjid…” tegur seseorang disaat mata gw sudah hampir terpejam, mendengar perkataan orang itu..ada kebingungan yang gw rasakan..entah apa maksud dari semua perkataan orang tersebut
“ tas yang mana pak ?” tanya gw kepada orang yang tadi menegur gw…setelah gw memperhatikan secara seksama..wajah orang ini terasa sangat familiar dalam memori ingatan gw
“ yang besar itu…” ucapnya lagi sambil menunjuk tas besar, mengetahui dirinya sedang dalam perhatian gw, terlihat mata orang tua itu memperhatikan gw secara seksama
“ sepertinya..saya mengenal bapak…” tatapan mata gw masih tidak bergeming menatap wajah tua itu, begitupun sebaliknya..terlihat orang tua itu mencoba mengingat ingat sesuatu, hingga akhirnya di saat lelaki tua itu masih terlihat berpikir..gw mulai teringat dengan sosok lelaki tua yang kini tengah berdiri di hadapan gw
“ pak haji mustofa…..?” teriak gw dengan girang begitu berhasil mengingat nama lelaki tua tersebut
“ kamuu…?”
“ saya reza pak….reza….reza yang dulu pernah tinggal di mess tua itu “ ucap gw mencoba menerangkan, lama haji mustofa terdiam..hingga akhirnya haji mustofa pun bisa kembali mengingat gw
Lama kami terlibat dalam pembicaraan mengenai masa lalu di mess tua itu, wajah dedi terlihat serius menyimak setiap cerita yang keluar dari perbincangan ini
“ jadi kamu sudah melangkah sejauh itu….?” tanya haji mustofa seraya menatap gw dengan tajam, gw hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut haji mustofa
“ hari sudah terlalu malam….sebaiknya kamu beristirahat..besok kamu bisa mampir ke rumah saya..” ucap haji mustofa sambil menerangkan lokasi rumahnya yang tidak terlalu jauh dari masjid tempat kami beristirahat
“ bagaimana dengan tas ini…?” tanya gw sambil menepuk nepuk tas besar yang berisi benda benda antik peninggalan orang tua gw
“ biar saya bawa pulang…itupun jika nak reza enggak keberatan..” jawab haji mustofa, tanpa berpikir panjang segera gw menyerahkan tas besar itu kepada haji mustofa, gw tidak menyangka..dibalik tubuh yang terlihat sudah menampakan umurnya yang tua..haji mustofa masih mampu mengangkat tas besar yang lumayan berat…di temani beberapa orang yang sudah mengakhiri zikirnya, akhirnya haji mustofa berlalu pergi meninggalkan kami, sejurus keberadaan haji mustofa yang tidak terlihat lagi…berbagai macam pertanyaan segera keluar dari mulut dedi menanyakan sosok haji mustofa tersebut
“ ohh jadi begitu za…” ucap dedi, kedua matanya kini mulai tampak terpejam
“ semoga ini menjadi awal yang baik….” doa gw sambil turut memejamkan mata, hingga akhirnya kamipun terlelap dalam rasa lelah
Suara azan shubuh yang berkumandang seketika membangunkan kami, bergegas dedi mengambil wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah…gw hanya bisa terpaku menatap semua momen ini…keinginan gw untuk mengikuti semua itu…kini masih hanya sebatas keinginan yang belum bisa untuk gw realisasikan
“ kita cari makan dulu za….” ajak dedi ditengah rasa lapar yang mulai dirasakannya, setelah berpamitan dengan pengurus masjid, akhirnya kami pun meninggalkan masjid untuk mencari makan sekaligus setelah itu bertamu ke tempat kediaman haji mustofa
“ sepertinya enak tuh za…” ucap dedi sambil melirik ke sebuah warung bubur yang terletak tidak jauh dari mess, setelah memesan dan menyantap hidangan bubur yang disediakan, tatapan mata gw terpaku pada seseorang yang sedang duduk melamun dibawah pohon besar yang berada di depan mess….walaupun dari kejauhan..sepertinya gw mengenal sosok tersebut..sesekali terlihat sosok tersebut berteriak teriak dan tertawa
“ siapa za…” tanya dedi begitu mengetahui gw memperhatikan orang tersebut
“ ohhhh…itu mas dikin..sudah lama dia jadi gila seperti itu…tiap pagi…kadang sampai malam, dia selalu bertingkah laku seperti itu...kasihan…” ucap tukang bubur memotong pembicaraan kami, tatapan matanya terlihat ikut memperhatikan, mendengar ucapan tukang bubur tersebut, dengan sepontan gw berlari menghampiri sosok yang berada di bawah pohon…andai memang sosok yang berada dibawah pohon itu adalah sosok dari mas dikin yang gw kenal…..entah kata kata apa yang harus gw tuliskan untuk menggambarkan perasaan hati ini…hingga akhirnya…
“ mas dikin….” ucap gw tanpa bisa menahan air mata yang mulai mengalir membasahi pipi, ini benar benar pertemuan yang tidak gw duga dan gw tidak mengaharapkan pertemuan seperti ini…sosok mas dikin yang gw temui sekarang…sungguh sangat tidak pernah gw bayangkan….terlihat sorot mata mas dikin menatap tajam ke arah gw….kata kata makian terlontar dari mulutnya…hingga akhirnya mas dikin terlihat kembali terdiam lalu tertawa terbahak bahak tanpa alasan yang jelas
“ mas dikin….saya reza…mas dikin tentu ingat…saya yang dulu pernah tinggal bersama di mess itu..” ucap gw sambil menunjuk ke arah mess, rasanya semua perkataan gw terasa sia sia, mas dikin terlihat tidak mengacuhkan semua perkataan gw…ini sungguh sangat menyedihkan..berapapun upaya gw untuk menyentuh mas dikin…sosok mas dikin terlihat semakin tidak terkendali..tingkah liarnya semakin jelas terlihat..
“ sudah za….percuma lu lakuin semua itu….” tegur dedi seraya menarik tangan gw, enggan rasanya meninggalkan mas dikin dalam kondisi seperti ini…tapi inilah kenyataan yang harus gw terima…sebuah kenyataan pahit dari tiga orang sahabat yang selama ini telah menemani gw dalam situasi suka maupun duka
“ mas dikin…maafkan gw…” ucap gw sambil beranjak pergi meninggalkan mas dikin
“ apapun yang terjadi…semua diluar kehendak lu za…” terlihat dedi menepuk nepuk bahu gw, mencoba menegarkan hati gw yang terasa mulai rapuh, sepanjang jalan gw lebih banyak terdiam mencoba mengingat kenangan kenangan indah bersama indra, minto dan mas dikin….kini tidak ada lagi tawa canda mereka yang akan menghibur gw dalam menjalani kehidupan ini
“ akhirnya kalian datang juga…” sambut haji mustofa begitu melihat kehadiran kami, dengan santunannya dia mempersilahkan kami memasuki rumahnya, tas besar yang berisi benda benda antik itu kini terlihat berada di sudut ruangan tamu
“ nak reza…tentu sudah mengetahui apa yang telah terjadi pada dikin…” ucap haji mustofa, tata bahasanya terdengar santun dan menyejukan
“ semua terjadi diluar kehendak kita…apapun alasannya..semua terjadi karena kehendak tuhan..” gw hanya bisa terdiam mencoba mendengarkan cerita yang mengalir dari mulut haji mustofa, hingga akhirnya gw menceritakan peristiwa peristiwa buruk yang telah menimpa indra, minto, wulan, bapak dan yang terakhir mamah…ada raut keterkejutan dari wajah haji mustofa begitu mendengar itu semua
“ astagfirullah…sekali lagi…semua kejadian itu terjadi atas kehendak tuhan…apapun bentuk campur tangan yang membuat semua kejadian itu terjadi…tanpa adanya kehendak tuhan..semua itu takan terjadi..percayalah…”
“ entah saya harus berbuat apa untuk mengakhiri ini semua…” ucap gw sambil mencoba menerangkan rencana yang ingin gw lakukan
“ nak reza….itu bukan solusinya…untuk apa nak reza berusaha kembali lagi ke tempat pemujaan itu…untuk apa nak reza mencari kembali keberadaan mbah warsono…semua penyelesain ini kembali kepada nak reza sendiri…” terang haji mustofa sambil menarik tas besar yang berada di sudut ruangan, kini tangannya terlihat mulai membuka tas besar itu
“ di tas besar ini…andai nak reza bisa melihat sosok sosok yang mengikuti nak reza…” terlihat haji mustofa menghentikan ucapannya, matanya terlihat menerawang menatap gw
“ ini tidak baik untuk nak reza…percayalah…sesungguhnya apa yang saya lihat sekarang ini adalah bukan bentuk asli dari jin…manusia tidak mampu melihat wujud asli dari jin…apa yang saya lihat sekarang ini adalah sekumpulan jin jahat yang menyerupai berbagai wujud…”
“ apakah…haji mustofa mampu menampakan semua itu…atau setidaknya membuktikan keberadaan mereka…” tanya gw begitu membayangkan hal yang pernah dilakukan oleh mbah warsono
“ saya tidak mempunyai kemampuan itu nak reza….dan saya tidak tertarik untuk melakukan itu, kekuatan yang akan mereka tunjukan…itu tidak lebih dari sebuah tipu daya, kamu tidak akan bisa mengambil keuntungan dari itu semua…semua pelayanan ada harganya…dan itu jelas akan merusak keimanan kita sebagai umat beragama…” sungguh bijak apa yang di ucapkan oleh haji mustofa…gw benar benar merasakan kenyamanan…sebuah kata bijak meluncur dari seseorang yang tidak mempunyai maksud menggurui
“ apakah ada jalan keluar dari semua ini…..” tanya gw, berharap sebuah solusi akan ditemukan pada hari ini
“ kami akan melakukan pembersihan semua itu sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh agama kita..” terlihat haji mustofa mencoba menerangkan metode pembersihan yang akan dilakukan…dan buat gw itu terdengar lebih masuk akal…dibandingkan gw harus menyediakan sesajian sesajian yang kadang diluar akal sehat gw
“ kamu setuju…?” tanya haji mustofa sambil tersenyum, dengan menganggukan kepala tanda menyetujui..akhirnya hari ini merupakan awal dari pembersihan hal hal jahat yang selama ini meneror gw
Genap sudah seminggu gw melakukan semua pembersihan itu, hingga akhirnya tiba saat terakhir dari semua metode pembersihan yang dilakukan oleh haji mustofa, dengan bijak haji mustofa mencoba memberikan wejangan terakhirnya
“ apapun yang telah terjadi….ataupun yang akan terjadi…nak reza harus ingat..semua itu atas kehendak tuhan….dan terkadang tipu daya setan selalu berusaha menyesatkan umat manusia..” ucap haji mustofa mengakhiri wejangannnya….kumpulan benda benda antik koleksi bapak kini terlihat mulai dimasukan kedalam lubang yang telah di gali sebelumnya….untuk terakhir kalinya gw menyaksikan semua benda benda itu…hingga akhirnya semua benda tersebut menghilang seiring dengan timbunan tanah yang mulai menutupi lubang