Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for sebuah bentuk perlawanan ( pembersihan hal yang ghoib ):
“ bagaimana keadaan mamah om…” tanya gw kepada om wisnu yang hanya bisa terdiam membisu, ekspresi wajahnya masih menunjukan sisa sisa kekesalannya terhadap gw
“ mah…” jari jemari tangan gw mencoba memegang kedua tangan mamah yang bergerak tidak menentu..suara racauan yang keluar dari mulutnya seperti menggambarkan bentuk komunikasi dua arah yang terlihat sangat janggal..sesekali tatapan mata mamah yang terlihat kosong dan dingin menerawang ke segala penjuru ruangan
“ ini reza mah..rezaaa…” bisik gw pelan pada telinga mamah, tidak terlihat respon dari mamah atas bisikan yang gw berikan, mamah terlihat terlalu sibuk dalam permainan imajinasinya sendiri, entah sudah berapa kali gw harus mengulangi bisikan bisikan itu hingga akhirnya terlihat tanda kesadaran pada diri mamah walaupun itu hanya sekejap…
“ rezaa…zaaa..” panggil mamah, jari jemari tangannya terlihat semakin erat menggenggam tangan gw
“ rezaa disini mah…” jawab gw penuh dengan kekhawatiran, hati gw mengatakan ada sesuatu yang buruk pada pengelihatan mamah…tatapan mata mamah yang terlihat kosong seperti tidak menyadari keberadaan gw
“ apa yang terjadi pada mamah za…mamah enggak bisa melihat kamu…” gw hanya bisa terdiam dalam linangan air mata begitu menyadari bahwa apa yang gw perkirakan benar adanya, rasa sesal yang gw rasakanbagaikan sebuah anak panah yang menghujam dan melukai hati gw…gw benar benar merasa gagal untuk melindungi orang yang benar benar gw sayangi
“ tuhan dimana engkau….cobaan apa lagi yang engkau ingin tunjukan…”ucap gw pelan penuh kegeraman
“ bapak kamu za…bapak kamu…pergi kalian…pergiii…!!” teriak mamah dengan amarah, hingga akhirnya hanya kalimat kalimat racauan yang terucap dari mulut mamah, tanpa berpanjang lebar lagi, segera gw tinggalkan mamah menuju meja dokter yang bertugas, beberapa orang perawat terlihat memperhatikan gw, mungkin mereka sudah terbiasa untuk menghadapi situasi seperti ini..situasi dimana seseorang bermain main dalam sisi emosionalnya
“ apa yang sebenarnya terjadi pada orang tua saya dok…” tanya gw sambil menunjuk ke arah mamah, terlihat dokter tersebut berkonsultasi dengan dokter yang berada disampingnya
“ kami belum mengetahui secara pasti..apa yang menjadi penyebab semua ini..secara medis kami akan berusaha mencari tahu lebih lanjut…” jawab dokter tersebut sambil menanyakan riwayat penyakit mamah dan kondisi mamah dalam seminggu terakhir ini, setelah gw jelaskan tentang kondisi mamah yang terlihat baik baik saja dalam seminggu terakhir ini, ekspresi wajah dokter tersebut menunjukan keheranannya
“ aneh…” gumam dokter tersebut pelan
Hampir seharian gw terombang ambing dalam rasa cemas, melihat kondisi mamah yang belum menunjukan tanda tanda kesembuhan akhirnya gw memutuskan untuk meninggalkan mamah di rumah sakit, semua ini gw putuskan setelah melalui pertimbangan gw yang matang…gw ingin mamah menjalani semua pemeriksaan medis ini secara lebih intensif lagi, selain tujuan utama gw yaitu ingin menghindari mamah kembali ke rumah dalam waktu dekat ini…
“ bi nani…mang iwan…saya titipkan mamah untuk sementara ini pada kalian…” ucap gw sambil mencoba menerangkan langkah langkah yang harus diambil dalam soal biaya pengobatan mamah
“ lohh kang reza mau kemana….” ucap bi nani dan mang iwan hampir berbarengan, raut wajah mereka menunjukan ketidak setujuannya akan langkah selanjutnya yang akan gw utarakan, setelah mencoba memberikan penjelasan secara panjang lebar terlihat wajah bi nani dan mang iwan kini terlihat lebih menerima atas keputusan yang telah gw buat
“ hati hati kang….semoga ini jalan yang terbaik..” gw bisa melihat ekspresi ketidak optimisan dari wajah om wisnu seiring ucapan yang terlontar dari mulut mang iwan
Meninggalkan mamah yang terbaring di rumah sakit dalam kondisi yang serba tidak pasti adalah sebuah pilihan yang berat..tapi..semua harus gw lakukan..gw ingin semua ini berakhir…gw tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi orang orang yang gw sayangi
“ jangan menyerah za…susah..senang..kita hadapi bersama..” ucap dedi memberikan gw semangat begitu melihat gw yang terdiam dalam sebuah lamunan panjang, tidak banyak percakapan yang terjadi selama perjalanan pulang ini, semua terdiam dalam lamunannya…sebuah lamunan tentang akhir dari semua kisah kelam ini
Tepat jam 7 malam, akhirnya mobil rental yang telah gw pesan untuk mengantar kepulangan om wisnu dan keluarga tiba di rumah, setelah mengemas semua perlengkapannya…terlihat om wisnu berjalan menuruni anak tangga di iringi oleh tante disya dan andira
“ kami pamit za…semoga semua akan baik baik saja…jangan sungkan sungkan menghubungi om jika kamu membutuhkan pertolongan..” ucap om wisnu sambil mencoba tersenyum, terlihat tante disya mencoba memalingkan pandangannya dari gw, mungkin dia merasa iba meninggalkan gw dalam situasi seperti ini
“ pa…ndira…”
“ jangan membantah lagi…kamu harus ikut pulang..” terlihat ekspresi kekecewaan di wajah andira, entah apa yang telah diperbincangkan oleh andira dan om wisnu, sebelumnya, tapi gw bisa mengerti dengan keputusan yang diambil oleh om wisnu
“ jaga diri kamu za……” ucap andira seakan enggan melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah menanti di luar rumah
“ saya akan lakukan yang terbaik untuk mengakhiri semua ini….percayalah…” seiring langkah andira yang mulai menjauh hingga akhirnya menghilang meninggalkan rumah, gw hanya bisa terdiam menyaksikan semua momen ini…sempat terlintas dalam pikiran gw bahwa ini adalah momen terakhir gw bisa berjumpa dengan andira…
“ ahhh…berakhir sudah siksaan hari ini….” tertegun gw mendengar ucapan yang keluar dari mulut dedi, entah alasan apa yang membuatnya berbicara seperti itu
“ sepanjang di rumah sakit tadi za….om wisnu itu enggak ada henti hentinya menyalahkan semua tindakan yang telah lu perbuat …awalnya sih gw menanggapi semua itu biasa saja…tapi lama lama gw berpikir orang itu terlalu menganggap benar dirinya sendiri…”
“ maksud lu apa ded..?” tanya gw sambil menyambut kotak rokok yang disodorkan dedi
“ lu dibilang terlalu keras kepala…apalagi saat dia berbicara tentang sesajen yang telah lu buang itu, jelas sekali terlihat ketidak sukaannya…”
“ biarkan saja ded…gw enggak akan melakukan semua itu tanpa alasan yang jelas..” terlihat dedi menganggukan kepalanya, tanda dia bisa memaklumi dengan apa yang gw lakukan
“ besok pagi kita berangkat ke mess tua itu ded…” ucap gw sambil memainkan asap rokok yang keluar dari mulut ini
“ lu serius za ?” tanya dedi sedikit terkejut mendengar rencana gw yang terasa serba mendadak, belum sempat gw menjawab pertanyaan dedi, gw mendengar suara daun pintu yang dibanting dan itu jelas berasal dari dalam rumah, untuk sesaat gw dan dedi hanya bisa berpandangan…hingga akhirnya kembali terdengar suara pecahan benda yang terjatuh, seperti mempunyai rasa keingin tahuan yang sama, gw dan dedi segera bergegas menuju kedalam rumah dan mencari asal sumber suara tersebut
“ suara apa itu za…” tanya dedi, pandangan terlihat menerawang ke suluruh sudut ruangan, rumah yang semula sunyi…kini semakin bertambah sunyi..semua terasa begitu kelam dan dingin, mencoba menjawab pertanyaan dedi dengan sebuah kebohongan kini tidak bisa lagi gw lakukan..dedi sudah terlalu jauh terlibat dalam masalah ini
“ gw enggak….”
“ brakkkk…” belum sempat jawaban gw tersusun sempurna, kembali terdengar suara bantingan daun pintu yang berasal dari lantai atas
“ zaaaa…lu yakin..?” ucap dedi mencoba menahan langkah gw yang mulai menaiki anak tangga, andai gw harus menjawab jujur..tentu gw akan menjawab gw enggak seberani yang lu pikirkan ded… gw juga takut…tapi…apakah dengan semua ketakutan itu..gw hanya harus terpaku berdiri dan bersiap untuk menerima teror teror yang lain
“ zaaa…” ucap dedi sekali lagi, gw hanya bisa terdiam dan melanjutkan langkah kaki ini, bisa gw rasakan cengkraman tangan dedi begitu kuat menarik baju ini, hingga akhirnya sesampainya di lantai atas tatapan mata gw terpaku pada ruangan dimana tersimpan benda benda antik koleksi bapak, dengan sangat perlahan gw mulai mendekati pintu kamar..semua terlihat dalam keadaan normal..pintu ruangan ini masih tertutup dengan rapat….setelah lama terdiam bergelut dalam rasa takut dan rasa keingintahuan yang besar…akhirnya gw putuskan untuk membuka pintu kamar
“ sialll…” maki gw begitu mendapati beberapa keris/kujang yang berhamparan dilantai, entah keberanian dari mana yang datang kepada gw, tanpa berpikir panjang segera gw membuka baju yang gw kenakan dan mencoba membungkus beberapa benda antik dengan baju itu
“ copot kaos lu ded…” pinta gw begitu melihat beberapa benda yang tidak bisa terbungkus lagi
“ mau lu apakan semua benda benda ini za…” tanya dedi sambil mulai meletakan dan mulai membungkus benda benda antik tersebut
“ cepat ded…” ucap gw dengan nada meninggi begitu merasakan aroma yang tidak sedap….bau busuk bangkai yang semula tidak pernah gw rasakan di ruangan ini, kini terasa begitu menyengat hidung
“ gila ini za..gilaaa…” sungut dedi begitu telah selesai membungkus sisa benda antik tersebut, tergambar jelas ketakutan yang dirasakannya, tanpa menunggu lebih lama lagi akhirnya gw putuskan untuk segera meninggalkan ruangan
“ lu benar benar gila za…mau lu apakan semua benda benda ini….?” tanya dedi begitu tiba di lantai bawah dengan nafas yang memburu
“ andai bisa gw bakar…akan gw bakar semua benda ini ded…” jawab gw sambil berusaha mengatur nafas, terlihat ekspresi kebingungan di wajah dedi
“ semua benda ini harus disingkirkan dari rumah ini ded…gw udah enggak tahan dengan semua teror ini…” melihat dedi yang yang masih terpaku dengan semua kebingungannya, gw segera melangkah menuju gudang untuk mengambil tas besar yang akan gw gunakan untuk membawa semua benda benda antik itu
“ gw harap semua keputusan yang lu buat ini sudah melalui pemikiran lu yang matang za…” gumam dedi begitu memasukan benda antik yang terakhir ke dalam tas, ada keraguan dalam setiap tutur katanya atas keputusan gw yang terlihat sedikit menantang itu
“ sebaiknya kita tidur ded…besok pagi kita harus berangkat pagi pagi..” ucap gw sambil merebahkan tubuh di kasur, seakan tidak ingin tertinggal dalam keadaan sadar seorang diri, dedi segera mengambil tempat disamping gw
“ tumben lu enggak gelar kasur dilantai…”
“ ahh kampret lu za…bagaimana gw bisa tidur dengan semua benda antik itu ada di kamar ini…” terlihat dedi mencoba memalingkan pandangannya dari tas besar yang berada di lantai
“ ded…semoga kejadian yang menimpa mamah..adalah kejadian buruk terkahir yang menimpa orang orang di sekitar gw…” ucap gw setelah sekian lama terdiam dalam kebisuan, bukannya sebuah jawaban yang gw dapatkan…kini suara dengkuran dedi mulai terdengar memecah kesunyian malam
“ ckckckck…katanya enggak bisa tidur…” kembali gw melamun sambil memandang langit langit kamar, semakin gw terbawa dalam lamunan ini…semakin jelas gambaran menyeramkan yang bermain main dalam imajinasi gw…hingga akhirnya semua gambaran menyeramkan itu memudar seiring mata gw yang mulai terpejam
Entah sudah berapa lama gw terlelap dalam tidur, semua terasa begitu sempurna tanpa adanya sedikitpun gangguan, hingga akhirnya sebuah sentuhan gw rasakan ditubuh ini…sebuah sentuhan yang jika gw gambarkan seperti layaknya sentuhan seorang anak kecil yang mendekap ibunya dikala tidur…diantara rasa sadar dan tidak sadar…pikiran gw langsung terarah pada dedi yang tidur di sebelah gw…alangkah janggalnya jika orang lain melihat pemandangan ini…tanpa membuka pejaman mata, segera gw singkirkan tangan dan kaki dedi yang terasa menindih badan gw, untuk beberapa saat tidak lagi gw rasakan sentuhan tangan dan kaki dedi di tubuh ini…hingga akhirnya kembali gw rasakan sentuhan tangan dan kaki dedi kembali memeluk tubuh ini….terasa sangat erat mendekap…bahkan usaha gw untuk menyingkarkan semua dekapan itu terasa sia sia..dan ini jelas mulai memancing kejengkelan gw…belum pernah dedi berlaku seperti ini..
“ sial..lu apa apaan sih ded…..” gerutu gw pelan tanpa membuka pejaman mata ini, usaha gw untuk menyingkirkan tangan dan kaki dedi kembali menemui kegagalan…semakin gw berusaha melepaskan..semakin bertambah erat pelukan yang gw rasakan…hingga akhirnya di saat titik kesadaran gw hampir mencapai puncaknya…gw baru menyadari keanehan dari setiap sentuhan ini…lama gw terdiam tanpa ada usaha untuk melepaskan dekapan tersebut…detak jantung gw semakin berdegup kencang jika mengingat kejanggalan yang gw rasakan….kulit kulit tangan itu…kulit itu terasa dingin dan lentur…selentur layaknya kulit dari seseorang yang telah termakan usia…ini sangat berbeda sekali…tidak menggambarkan sosok dedi yang gw kenal…ingin rasanya gw segera membuka mata ini dan memastikan bahwa sosok yang kini memeluk tubuh gw memanglah bukan dedi yang gw kenal
“ tuhan sadarkan gw…sadarkan gw…semua ini hanya mimpi…” ucap gw didalam hati berusaha mengusir semua ketakutan yang semakin gw rasakan, dengan perlahan gw mencoba menolehkan wajah ini ke arah dedi walaupun dengan mata yang tetap terpejam…hingga akhirnya gw bisa mencium bau busuk dari setiap hembusan nafas dedi yang terasa menerpa wajah ini…dan ini sudah cukup memberikan gw bukti bahwa sosok yang sedang memeluk gw ini adalah salah satu sosok dari sosok mahluk ghoib yang selama ini memberikan terornya kepada gw…menyadari bahwa semua praduga gw kini menjadi kenyataan…detak jantung yang berdegup semakin tidak berirama…gw merasakan tubuh ini semakin terasa sulit untuk di gerakan…sangat sulit..bahkan keinginan gw untuk mendorong dan menendang tubuh yang berada disamping gw ini... kini hanyalah menjadi sebuah perintah yang hanya bisa melekat di otak ini
“ zaaaaa…..zaaaa…..” suara yang terdengar dari sosok yang berada disamping gw, telah memaksa gw untuk memejamkan mata ini semakin rapat, kini bisa gw rasakan sentuhan jari jari tangan itu mulai mencengkram dan mengguncang guncangkan bahu gw…dan ini jelas adalah hal terekstrim yang pernah gw alami
“ perrrrr…..arggggg…” kata kata yang ingin gw ucapkan untuk mengusir keberadaan mereka seperti melekat di lidah ini…ketakutan yang mereka berikan seperti racun yang memasuki tubuh dan mematikan seluruh fungsi saraf di tubuh ini
Next Chapter : sebuah bentuk perlawanan ( pembersihan hal yang ghoib ) 2