- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.4K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#440
Partitur no. 79 – Pergi Ke Pantai
Tengah malam yang dingin dengan bulan full moon yang nampak indah bersinar terang, akhirnya aku kembali membuka laptopku ditemani musik-musik pelan dan secangkir teh hangat, membuka folder yang sudah terbengkalai selama sekitar dua bulan. Satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2014, aku memutuskan untuk menulis ceritaku sendiri. Banyak hal yang terjadi mulai sejak itu hingga sekarang. Karena aku memutuskan untuk berani mempublikasikannya, aku bertemu dengan teman-teman yang baik dari dunia maya, bahkan ada yang menyisihkan waktu sibuknya untuk mengajariku menulis lebih baik lagi.
Tapi, setelah beberapa lama sibuk dengan laptopku dan berusaha mengingat apa yang terjadi beberapa tahun belakangan membuatku merasakan suatu perasaan yang aneh. Secara tiba-tiba aku ingin berhenti menulis. Atau setidaknya berhenti menulis cerita ini. Aku kehilangan nyawa dalam cerita ini. Lalu, aku bertanya kepada orang yang mau menyisihkan waktunya untuk mengajari diriku ini menulis apa yang kini harus kulakukan.
“Mungkin kamu hanya bosan, Man.” Jelasnya. “Coba kamu jangan sentuh dulu cerita dan laptop kamu, lakuin kegiatan lain yang selama ini hilang pas kamu nulis. Atau kamu coba nulis review apa gitu, terus nulis cerita baru. Terus pas kamu udah kangen, buka lagi laptop kamu, dengan mood baru itu, pasti kamu mau nulis lagi. Semangat!”
Aku mengambil sarannya. Kusibukkan diriku dengan band-bandku, membuat band baru, manggung, kembali memotret banyak hal, menonton sambil memotret gigs-gigs, membeli buku novel favoritku, mengoleksi serial Sherlock Holmes yang sedikit lagi akan lengkap, membacanya sampai habis, menonton film, menulis review musik, sampai menulis sebuah cerita fiksi bercampur pengalman nyata yang berjudul The Photograph.Itulah yang kulakukan selama dua bulan menghilang.
Sekarang aku sudah siap kembali menuliskan ceritaku. Dan pada tanggal 26 Desember 2015 ini, kupersembahkan lanjutan baru dari cerita ini. Biarkan alunan nada membuat imajinasi sendiri dalam otakmu.
***
“Liat aja, nanti Abang bakal bawa cewek!” tulis Bang Ichy dalam grup line yang Tasya dengan teman-temannya buat pada suatu hari. Aku diundang di dalam grup yang selalu ramai itu. Baru berapa menit kutinggali, pesan yang belum terbaca saja bisa hampir lima ratus. Terutama Bang Ichy yang tak pernah berhenti melawak.
Rencananya hari sabtu ini dalam rangka ulang tahun Syifa, sahabat Tasya, ia mengajak kami untuk berkumpul kembali di Ancol. Aku menyambutnya dengan antusias, karena dengan begitu aku bisa menambah stok untuk foto-foto lagi. Belakangan ini teman-temanku sering memotret sunset yang indah, membuatku penasaran untuk melakukannya. Lalu di tengah-tengah pembicaraan di group, Bang Ichy pun berkata seperti tadi.
Tentu saja kami semua sangat penasaran dengan orang yang dimaksud Bang Ichy. Karena setahu kami, Bang Ichy tak terlihat sedang mendekati siapa pun. Bahkan kami menganggap itu hanya candaanya Bang Ichy saja. Di bus TransJakarta menuju Ancol, aku dan Rahma bertanya kepada Tasya, dan Tasya juga tak mengetahui siapa orangnya.
Teman-teman yang lain belum datang saat kami sudah berada di sana. Hanya aku, Tasya dan Rahma saja yang berangkat bersama dari Halte, mengelilingi tempat-tempat di mana aku dan Tasya pernah menghabiskan hari hanya berdua saja. Kami duduk di pinggir dekat laut, berbicara panjang lebar tentang pengalaman Tasya dan Rahma menonton Thirty Seconds To Mars saat mereka konser di Indonesia. Aku juga baru tahu bahwa Jared Leto adalah adik dari Shannon Leto. Kukira malah sebaliknya. Banyak yang baru kutahu bahwa konser itu tetap ditunggu meskipun terjadi delay yang cukup lama. Juga ‘katanya’ ada konflik antara Jared dan Shannon, tapi tetap profesional di atas panggung.
Kuceritakan juga sedikit tentang paramore saat manggung di sini, sekaligus membahas lebih detil mengapa Farro bersaudara bisa keluar dari paramore, meskipun aku tahu itu bukan topik favorit Tasya.
Saat asyik mengobrol, tiba-tiba Syifa menghampiri kami yang sedang memasang wajah heran. Syifa heran dengan kami yang memasang muka serius saat mengobrol. Tentu saja ia bingung apa yang sedang kami bahas. Fira, Oki, dan Om Mamad pun datang beriringan tak lama setelah Syifa. Hanya tersisa Bang Ichy yang belum datang.
“Bang Ichy mana, nih, katanya mau bawa cewek?” tanya Fira penasaran.
“Gue juga penasaran, kali!” sahut yang lain bergantian.
Sambil menunggu Bang Ichy yang tak kunjung datang, aku melihat ke sekeliling. Pemandangan dari sini cukup indah. Banyak obyek yang bisa dijadikan sesuatu yang menarik untuk difoto. Di saat mereka sedang berbincang, aku mulai memotret siluet sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan dengan romantisnya, memotret bunga, perahu berlayar di balik sinar mentari, seorang anak kecil yang sedang asyik bermain gelembung membuatku ingat masa-masa kecil dengan hidup terasa tanpa beban, hingga memotret Tasya yang tertangkap diam-diam juga sedang asyik memotret. Saat ia berusaha mengambil gambar, aku memeluknya dari belakang sambil mengarahkannya mendapat komposisi foto yang asyik, meskipun aku juga belum mahir. Tak lama ia terlihat gatal ingin mencakar atau mencubitku seperti dulu, tapi tentu saja aku yang mendapatkan sinyal horror tersebut langsung kabur secepatnya.
Kulanjuti dengan memotret Rahma yang sedang asyik dalam kesendiriannya. Lama kelamaan, Fira memita aku untuk memotretnya bak model, kemudian foto bersama Tasya dan Syifa, dan tentu saja dengan Oki.
Tasya asyik mengikutiku yang sedang memotret Fira. Ia melihat cara-cara anehku untuk mengambil foto. Dan baru kusadari, di belakang Syifa sedang memotret kami berdua yang terlihat asyik dengan kamera. Ia hanya tertawa saja ketika ketahuan sedang memotret kami. Ketika kulihat, hasilnya ternyata bagus. Tasya sampai kegirangan sendiri.
“Man, pinjem kamera lo, dong, liat foto yang tadi!” ujar Fira. “Nanti gue pake buat foto wedding gue nanti boleh kan, Man?” Fira tertawa senang melihat hasil fotonya. “Pokoknya nanti harus di upload, ya!”
Saat itu juga, ketika yang lain juga sedang melihat foto-fotonya, seseorang di tempat parkir membuatku terkejut seketika. Orang itu baru saja membuka helmnya dan turun dari motor. Bang Ichy benar-benar membawa seorang perempuan hari ini. Dan ia benar-benar cantik. Teman-teman yang lain pun menyadari keterkejutanku dan mengeluarkan ekspresi yang sama.
“Tuh kan, gue beneran nepatin janji gue, kan!” kata Bang Ichy dengan senang.
Kami hanya melongo karena terpana. Terpana itu nama bandnya Kurt Cobain, kan?
“Putri,” ia mengulurkan tangan dengan senyumnya kepada masing-masing dari kami untuk memperkenalkan diri.
Ia cepat mengakrabkan diri dengan kami. Ia juga sesekali melempar sebuah lelucon kepada kami. Kontras sekali denganku yang sulit untuk beradaptasi.
Kami mulai berjalan menuju sebuah pantai yang cukup sepi. Sebuah tempat yang kutemui bersama Tasya beberapa waktu yang lalu. Sambil menuju ke sana, kami berjalan-jalan terlebih dahulu ke jembatan dekat dengan Le Bridge. Di sana benar-benar sangat ramai. Kami juga melewati sebuah panggung yang dekat dengan laut, terdengar dari kejauhan mereka sedang membawakan sepotong lagu paramore. Sesekali aku berhenti untuk memotret deretan lampu.
Sesampainya di pantai yang kami tuju dengan kaki yang pegal namun dengan semangat yang masih tinggi, Tasya memilih tempat yang sangat dekat dengan laut. Tepatnya pinggiran pantai. Seorang penyewa tikar langsung melihat dan mengambil kesempatan untuk menyewakan tikarnya kepada kami dengan harga yang cukup murah.
Kulihat, Tasya langsung benar-benar menyatu dengan pantai yang menurutnya memberikan ketenangan. Sementara itu, Syifa membukakan bekal yang sengaja ia buat untuk kami. Kami bercerita mengenai banyak hal. Termasuk satu hal yang baru saja kuketahui dan tak kalah mengejutkannya dengan Bang Ichy yang tiba-tiba membawa seorang perempuan yang sangat cantik. Rupanya beberapa bulan ini, Syifa sedang menjalain hubungan jarak jauh dengan seorang lelaki Indonesia yang bekerja di Amerika Serikat. Tepatnya Florida.
Tak sengaja, Fira yang sedang tertawa-tawa menyenggol seseorang di belakangnya. Orang itu langsung marah-marah kepada Fira karena ia mengenai gadgetnya. Aku tak mengerti mengapa ia marah, padahal hanya gadget-nya yang tersenggol sedikit. Atau ia sedang sangat serius? Setelah mengangguk-angguk untuk mengiyakan agar cepat selesai urusannya, kami memajukan tikar kami agar bisa duduk jauh dari orang itu. Dengan senyum liciknya, Fira mengulurkan tangannya padaku. “Pinjem kameranya deh, Man!”
Dengan cepat Fira langsung membidik orang tadi dengan nada kesal. “Rasain lo, mbak-mbak jahat!”
Kami semua langsung tertawa terbahak-bahak mendengar komentar dari Fira. “Pokoknya ini foto jangan didelete, Man. Dan nanti harus lo upload bareng foto-foto yang lain, biar tau rasa itu orang!”
Matahari mulai tenggelam, memancarkan warna jingga yang indah. Tasya dengan senang berdiri sambil menikmati peristiwa alam itu dengan gembira. Untaian kata tak bisa mengungkapkan kecantikannya yang menjadi sebuah siluet ketika sunset yang indah datang. Senyuman, tawanya, menjadi pelengkap yang membuat aku semakin mencintainya. Akan selalu ada senyuman di balik senja, bias melukiskan cahaya alam bertransformasi secara indah dalam memori fotografik, abadi dalam kamera, juga dalam kenangan.
Aku selalu merindukan pemandangan langit sore ketika matahari akan tenggelam, juga dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala untuk menyinari jalanan yang semakin gelap—membantu bulan menyinari dunia. Entah mengapa, aku sangat-sangat menyukainya. Seringkali warna sunset adalah warna kesedihan. Tapi kali ini ia memancarkan kebahagiaan yang tak terhitung.
Kekaguman itu berubah menjadi gelak tawa ketika teman-teman yang lain menggotong Tasya, menceburkannya ke dalam laut. Kucipratkan air ketika Tasya akan terbangun.
Sungguh menyenangkan. Aku menyukai momen ini. Ternyata bersama sahabatnya Tasya juga merupakan hal yang sangat menyenangkan. Rekaman memori detik ini tak pernah kulupakan, bahkan sampai ketika aku menulis bagian ini.
“Kamu bukannya nolongin!” ketus Tasya dengan wajah cemberutnya. Aku hanya bisa melanjutkan tawaku ketika melihat ekspresinya. Kuambil handuk kecilku yang belum kupakai untuk melap wajah Tasya yang basah kuyup.
Belum beberapa lama, kini giliran Syifa yang diceburkan ke laut. Kami tertawa bersama, ketika ternyata tak lama tangan dan kakiku sudah digenggam dengan kuat untuk diangkat. Aku melawan sekuat tenaga, sebisaku untuk lepas dari genggaman kuat itu sampai aku tersadar air sudah membasahi seluruh tubuhku dan air asin terasa di lidahku. Kacamataku juga terlepas.
Kini giliran Tasya yang tertawa lepas melihat keadaanku. Kami saling menertawai diri kami masing-masing beriringan dengan cipratan yang masing-masing kami cipratkan.
Tak jauh dari tempatku tercebur tadi untungnya ada sebuah kamar mandi. Dan untungnya aku membawa baju ganti dan celana pendek. “Kayaknya lo udah siap-siap banget mau diceburin, Man?” kata Om Mamad tertawa.
Seperti dugaanku, meskipun Tasya duluan yang membilas dan ganti pakaian, aku yang lebih dulu selesai.
Pemandangan malam di sini ternyata tak kalah dengan saat matahari tenggelam. Aku memandangi Le Bridge yang indah dengan sinar lampu yang menyala. Refleksi dari tempat itu pun tak kalah bagus. Jika saja aku memiliki tripod, mungkin sekarang sudah kupotret pemandangan indah ini. Aku hanya terbengong melihat pemandangan itu sampai Bang Ichy membuatku kaget. “Wah, lo liatin cewek ya, Man?”
“Eh, ng-nggak..”
“Bilangin Tasya, ah!” kata Bang Ichy, Oki dan Om Mamad secara kompak dengan wajah jahil.
Tasya yang tak lama datang hanya melihat kami dengan tatapan bingung.
“Sya, masa tadi—“
“Eh, nggak boong, boong!” kusela pembicaraan itu dengan cepat sambil panik.
“Kenapa, kenapa?” Tasya yang wajah jahilnya mulai terlihat memegang memborgol tanganku agar tak bisa menghentikan mereka berbicara.
“Tadi Iman liatin cewek nyampe nggak ngedip!”
Tasya hanya melihatku dengan tatapan kaget yang dibuat-buat. Mereka hanya tertawa terbahak-bahak. Sebelum lanjut entah ke mana, kami memutuskan untuk foto bersama-sama. Bang Ichy dan Om Mamad bergantian menggunakan kameranya, karena tak ada yang memotret lagi. Sebuah momen memabahagiakan yang belum tentu akan kembali terulang.
Perjalanan pun kami lanjutkan menuju restoran siap saji terdekat, karena perut kami tak kuat lagi menahan lapar. Saat makan, mereka merencanakan untuk ke Kelapa Gading setelah ini. Ingin sekali aku untuk ikut bersama teman-temannya, tapi Tasya tak memperbolehkanku, takut aku pulang terlalu larut malam.
“Nanti kalo kamu dicariin gimana?” ujarnya.
“Kan Bunda udah tau kalo aku lagi jalan sama kamu..” jawabku.
“Tetep aja nggak enak akunya kalo kamunya pulang malem mulu..”
“Sekarang aja udah malem..”
“Sayang..” Tasya memegang tanganku untuk meyakinkanku.
Aku hanya bisa pasrah melihat keteguhannya itu. Perasaanku sedikit kecewa sambil membayangkan bagaimana mereka bersenang-senang nanti. Terbesit dalam pikiranku bahwa mungkin lebih asyik menjadi sahabatnya Tasya daripada pacarnya. Atau setidaknya menjadi orang yang seumuran dengannya. Ini bukan kali pertamanya diriku berpikir seperti ini. Tapi pikiran itu selalu bisa kusingkirkan.
“Oke..” anggukku.
Kuakui mungkin aku memang sedikit kekanak-kanakan.
“Nanti bikin acara kayak gini lagi, yuk, kita-kita aja..” lagi-lagi Fira memberi ide cemerlang.
“Yuk, liburan ke mana kek gitu..” sahut Syifa.
“Pas banget bentar lagi gue mau UN!” tentu saja aku menyetujuinya.
“Ke Pulau Pari katanya bagus, tuh?” kata Om Mamad. Kemudian ia langsung mencarinya melalui handphone belogo apel miliknya. “Nih!” foto-foto dari mesin pencari pun langsung kami lihat bersama-sama.
“Pas banget kan, kita nabung dari sekarang, nanti abis Iman UN, kita langsung berangkat ke sana, siapin tanggal, dan cari info gimana ke sananya..” ujar Fira cepat. “Lumayan juga ada fotografer ikutan. Hehe,”
Rencana demi rencana sudah tersusun matang. Kami pun sudah mendapat tanggal yang pas untuk berlibur bersama. Tak lama, Tasya mengingatkan Bus yang mengelilingi Ancol sudah berhenti beroperasi sekarang. Terpaksa aku harus menumpang salah satu dari temanku ini sampai Halte untuk menunggu Bus TransJakarta.
Kebetulan, Om Mamad dengan senang hati menumpangiku sampai Halte. Ia orang yang sangat baik dan asyik diajak berbicara. Ia menanyaiku berbagai macam tentang Tasya. Padahal menurutku, ia lebih tahu tentang Tasya daripada diriku. Ia pernah berpacaran dengan Tasya, juga ia menjadi sahabat Tasya semenjak SMA.
Bayangan mengenai liburan yang menyenangkan terus memasuki pikiranku selama menunggu bus hingga saat sedang di jalan. Tapi sayangnya, hal yang menyenangkan itu juga menjadi awal terciptanya sebuah jurang kepedihan yang mendalam.
0
