- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#236
Part 37.1: Hutan Ilusi
Spoiler for Part 37.1: Hutan Ilusi:
Quote:
“Dimana bocah ilusi itu?” tanya seseorang, “Kau kan vampire, pasti mudah bagi penglihatanmu untuk mencarinya di malam hari begini, kan?”
“Terakhir kali kulihat, dia sembunyi di balik pohon,” kata vampire, “Bocah sialan itu sempat mengeluarkan kemampuan ilusinya. Aku jadi kehilangan dia.”
“Oh, jadi karena kehilangan jejaknya, kau tidak menggunakan kecepatan vampiremu?’
“Tepat. Selain itu, aku khawatir jika bocah itu membuat kita berpencar-pencar. Karena itulah aku tetap berada di sini.”
“Ini sungguh memalukan. Tiga orang dewasa dan seorang vampire mengeroyok seorang bocah SMA dan hewan peliharaannya.”
“Terakhir kali kulihat, dia sembunyi di balik pohon,” kata vampire, “Bocah sialan itu sempat mengeluarkan kemampuan ilusinya. Aku jadi kehilangan dia.”
“Oh, jadi karena kehilangan jejaknya, kau tidak menggunakan kecepatan vampiremu?’
“Tepat. Selain itu, aku khawatir jika bocah itu membuat kita berpencar-pencar. Karena itulah aku tetap berada di sini.”
“Ini sungguh memalukan. Tiga orang dewasa dan seorang vampire mengeroyok seorang bocah SMA dan hewan peliharaannya.”
Pertarungan Dietrich dan Chernov melawan anak buah James Wood berada di Hutan Kota Manggarai. Dietrich dan Chernov bersembunyi dibalik tumpukan sampah dedaunan yang jaraknya tidak begitu jauh dari gerombolan anak buah James. Saat ini, Dietrich dan Chernov menghadapi tiga manusia dan satu vampire.
Spoiler for Hutan Kota Manggarai Malam Hari:
Quote:
“Kenapa tidak kita tinggalkan saja bocah ilusi ini dan kita keroyok teman-temannya yang bertarung di sungai?”
“Oh, ayolah! Kenapa kalian sebodoh ini??? Apa kau mau ketika kita mengeroyok teman-temannya sementara dia menembaki punggung kalian dari hutan?” kata si vampire, “Dan ketika kita membalikkan badan untuk menyerangnya, mata kita terjebak ilusinya kemudian … kemudian dengan mudahnya pelurunya melubangi batok kepala kalian ketika tubuh kalian tak bisa bergerak karena ilusinya. KALIAN MANUSIA!! TAK BISA BEREGENERASI!!”
“Oh, ayolah! Kenapa kalian sebodoh ini??? Apa kau mau ketika kita mengeroyok teman-temannya sementara dia menembaki punggung kalian dari hutan?” kata si vampire, “Dan ketika kita membalikkan badan untuk menyerangnya, mata kita terjebak ilusinya kemudian … kemudian dengan mudahnya pelurunya melubangi batok kepala kalian ketika tubuh kalian tak bisa bergerak karena ilusinya. KALIAN MANUSIA!! TAK BISA BEREGENERASI!!”
Bentakan terakhir vampire itu membuat teman-temannya terdiam. Kalimatnya yang panjang lebar cukup untuk membuat manusia yang menjadi bawahannya menyetujui pendapat si vampire. Manusia-manusia anak buah James Wood tak bisa membantahnya lagi.
Dilihat dari cara berpikirnya, vampire itu cukup pintar juga, pikir Dietrich sambil mengelus-elus punggung Chernov, Yah, sepertinya memang harus menghadapinya satu lawan satu. Kalau begitu, para manusialah yang harus kueliminasi lebih dulu.
Sudah terpikir sebuah rencana di otak Dietrich. Dia lalu segera menceritakan rencananya pada Chernov. Serigala itu mengangguk setuju. Hewan apapun yang dilatih oleh seorang beast master akan sanggup memahami bahasa manusia. Tapi manusia yang bukan beast master tentu saja tidak dapat memahaminya. Begitu pula Dietrich. Chernov paham inti rencana Dietrich. Untuk berkomunikasi dengan Dietrich, Chernov hanya mengangguk dan menggeleng saja.
Untuk menjalankan rencananya, Dietrich tiba-tiba keluar dari persembunyian. Matanya membidik dua calon korbannya. Begitu sudah yakin, Dietrich menembaknya. Salah satu tembakannya berhasil melubangi kepala salah satu lawannya. Sementara tembakan lainnya meleset. Lawan-lawannya terkejut melihat temannya terbunuh. Dietrich memanfaatkan keterkejutan mereka dengan terus menembak. Dietrich dan Chernov berlari dari pohon ke pohon. Sambil menembak, dia memandang semua lawannya dengan mata ilusinya. Namun lawannya lebih cerdik, tatapan mata mereka mengarah dan mengincar kaki Dietrich. Mereka paham, jika kontak mata dengan Dietrich, maka akan terkena ilusinya. Chernov yang tidak mau ambil risiko, dia langsung memanjat pohon dan berlari mengikuti Dietrich dari dahan ke dahan. Peluru-peluru berdesingan melewati kaki Dietrich. Melihat kondisi yang seperti itu. Dietrich segera berhenti di sebuah pohon cemara besar dan berlindung di baliknya. Peluru-peluru terus berdesingan melewatinya. Beberapa dari peluru itu mengenai pohon cemara tempat Dietrich bersembunyi.
Begitu tembakan demi tembakan berhenti. Dietrich menatap Chernov yang bersembunyi di pohon cemara sebelahnya. Chernov paham maksud Dietrich. Gerakan musuh sudah mereka prediksi.
Seorang vampire tiba-tiba muncul di hadapan Dietrich. Tentu saja vampire itu menggunakan kecepatan vampire. Di saat itu pula Dietrich mengaktifkan mata ilusinya. Dia menyeringai menunjukkan taring-taringnya yang tajam pada Dietrich. Meskipun prediksinya tepat, Dietrich tetap saja terkejut melihat seorang vampire menyeringai dihadapannya. Dietrich buru-buru menahan tangan sang vampire yang akan mengeluarkan handgunnya. Vampire itu terus menatap kaki Dietrich. Dengan kecepatan kakinya, dia menendang perut Dietrich sehingga membuat blasteran Jerman itu terhempas. Semuanya terjadi begitu cepat.
Chernov yang sudah mendapat posisi yang tepat, langsung turun dari ranting dan mengoyak leher si vampire. Darah mengucur deras dari lehernya. Serigala itu menggunakan listrik pelumpuh syaraf sehingga pergerakannya terhenti sesaat. Dua manusia anak buah James Wood menembaki Chernov dari kejauhan. Dietrich dan Chernov bisa melihat dua manusia itu berlari dengan susah payah dan terengah-rengah.
Quote:
“Giliranku, Chernov! Berlindunglah dari tembakan-tembakan itu!” kata Dietrich.
Chernov segera melepaskan gigitannya dan bersembunyi di kegelapan. Dietrich sekarang berdiri di hadapan vampire yang tergeletak tak bisa bergerak. Pemilik Eyes of Illusion ini segera memberikan ilusinya pada si vampire sambil menembaki tubuhnya. Rencana Dietrich adalah menikam jantung si vampire dengan pisaunya. Karena dua anak buah James Wood semakin mendekat, Dietrich dan Chernov segera berlari sambil menembaki lawan-lawannya. Salah satu pelurunya berhasil melubangi bahu salah satu manusia anak buah James Wood.
Dietrich dan Chernov sekarang sembunyi lagi. Kali ini mereka berada di bawah pohon beringin. Karena daunnya begitu lebat dan cocok untuk menyembunyikan diri, Dietrich dan Chernov memanjat pohon beringin ini. Tidak terlalu tinggi. Jika lawan-lawan mereka mendekat, Dietrich dan Chernov bisa dengan cepat melompat dan menyentuh tanah. Selain itu, akar-akar dari pohon beringin ini menutupi mereka. Mereka berdua menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat. Ilusi yang baru saja dikeluarkan Dietrich membutuhkan stamina yang lebih besar daripada biasanya. Selain itu, perut Dietrich sedikit sakit karena tendangan vampire.
Dietrich dan Chernov mengamati pergerakan lawan-lawan mereka. Dua manusia itu menggotong rekan vampirenya ke balik semak-semak. Jarak antara Dietrich dan Chernov dengan lawan-lawan mereka sedikit jauh. Karena itulah mereka tak bisa menangkap pembicaraan anak buah James dengan akurat.
Quote:
“Sadar, bung! Sadar! Kami tidak mungkin menyerang tanpamu!”
Dietrich tidak mendengar respon dari vampire yang menjadi korban ilusinya. Baru setelah beberapa detik kemudian terdengar suara yang cukup keras dari sang vampire. Malah lebih keras dari suara si manusia.
Quote:
“Bocah sialan itu … ilusinya … ilusinya … tiga Lady in the White mengikatku di sebuah tiang kemudian tiga hantu itu menyiksa pikiranku … lebih dari menakut-nakutiku … rambut mereka yang panjang terurai menutupi muka … lalu mereka memperlihatkan muka … muka mereka … muka mereka … penuh darah!” si vampire menceritakan ilusinya pada dua rekannya dengan suara yang cukup keras, “Lindungi aku!! Aku tidak bisa merasakan kaki dan tanganku!!”
Pada umumnya, orang yang mendengarkan deskripsi jelas seperti itu, pasti akan menyerang. Tapi tidak bagi Dietrich. Blasteran Jerman itu tahu vampire-vampire itu berusaja menjebaknya. Dietrich memutuskan untuk tetap dahan pohon beringin ini untuk menunggu staminanya pulih. Begitulah keputusan Dietrich sebelum dirinya dan Chernov menoleh ke belakang karena mereka merasakan ada seseorang.
Seorang wanita dengan rambut terurai panjang duduk di dahan yang berbeda namun masih pada pohon beringin yang sama dengan Dietrich dan Chernov. Jarak Dietrich dan Chernov hanya dua dahan dengan wanita aneh ini. Wanita ini memakai kain putih lusuh yang panjang. Saking panjangnya hingga menutupi kakinya. Kepalanya tertunduk sehingga mukanya tak terlihat. Dia mengayun-ayunkan kakinya dan terdengar nyanyiannya yang lirih. Tangan kirinya berpengangan pada salah satu akar pohon beringin. Tiba-tiba, gadis ini mengangkat tangan kanannya dan menunjuk Dietrich. Wanita itu tiba-tiba tertawa dan mulai mendongakkan kepalanya. Rambut-rambutnya yang panjang dan menutupi mukanya mulai bergerak. Sepertinya wanita ini akan menunjukkan mukanya pada Dietrich.
Dietrich bisa merasakan bulu di tengkuknya berdiri. Sebelum beradu pandang dengan makhluk ini, Dietrich dan Chernov cepat-cepat menundukkan pandangannya. Mereka berdua tahu makhluk apa yang mereka hadapi sejak awal kemunculannya. Hantu penunggu Hutan Kota Manggarai ini biasa disebut dengan Lady in the White.
Ada makhluk seperti ini di Hutan Kota Manggarai?Pikir Dietrich, Aku tidak percaya makhluk ini tidak terdeteksi oleh Divisi Supranatural dari Paladin.
Dietrich dan Chernov cepat-cepat turun dari pohon beringin ini. Pandangan mereka tetap tertunduk. Mereka berdua tiarap sambil bergerak secepat mungkin menjauhi pohon beringin itu. Tawa Lady in the White masih terdengar di telinga mereka. Dietrich dan Chernov tidak menoleh ke belakang. Tawa Lady in the White terdengar jauh. Namun Dietrich sempat sedikit melirik ke belakang dan blasteran Jerman itu melihat kain putih mengikutinya. Memang sesuai ceritanya. Jika Lady in the White tertawa jauh, berarti mereka dekat. Dietrich dan Chernov terus berkonsentrasi untuk mendekati mayat salah satu anggota James yang sudah tewas untuk diambil pelurunya.
Dietrich menembak ke langit. Tujuannya memang untuk menunjukkan posisinya pada anak buah James. Dietrich berhasil. Anak buah James langsung menembaki Lady in the White. Hantu sialan itu langsung menghilang. Masalah yang sekarang muncul adalah anak buah James mulai mendekati Dietrich dengan hati-hati.
Quote:
“Dia tak termakan jebakan kita,” kata si vampire yang terdengar marah.
“Aku menembak apa tadi? Semacam selimut putih terbang?”
“Bodoh! Itu pasti Lady in the White hasil ilusi bocah itu,” balas si vampire, “Terus jalan!”
“Kau tidak menggunakan kecepatan vampire lagi?”
“Inginnya sih begitu. Karena kejadian barusan, aku harus lebih hati-hati menggunakan kecepatanku.”
“Aku menembak apa tadi? Semacam selimut putih terbang?”
“Bodoh! Itu pasti Lady in the White hasil ilusi bocah itu,” balas si vampire, “Terus jalan!”
“Kau tidak menggunakan kecepatan vampire lagi?”
“Inginnya sih begitu. Karena kejadian barusan, aku harus lebih hati-hati menggunakan kecepatanku.”
Dietrich dan Chernov segera berlari menjauh melewati pepohonan. Peluru-peluru yang ditembakkan anak buah James berdesingan melewatinya. Ada beberapa peluru yang menghantam pepohonan. Dietrich berlari menjauh ke utara. Begitu melihat sebuah pohon palem besar di sebelah kanannya, Dietrich segera berlari ke arah timur sambil menembak llawan-lawannya dan mengaktifkan mata ilusinya. Di saat itulah rencana cerdik dimulai. Chernov langsung melesat meninggalkan Dietrich.
Quote:
“Dia roboh!” teriak si vampire, “Tembakan kita mengenainya!”
“Bagus. Ayo kita segera lihat mayatnya.”
“Kenapa kita harus melihatnya? Bukankah lebih baik kita langsung saja keluar dari hutan ilusi sialan ini dan kembali untuk membantu teman-teman kita?”
“Tidak,” kata vampire, “Apa yang terjadi jika dia masih hidup? Bukan tidak mungkin jika ketika kita berjalan kembali, kepala kita dilubangi olehnya dari belakang.”
Dua manusia itu terdiam
“Bagus. Ayo kita segera lihat mayatnya.”
“Kenapa kita harus melihatnya? Bukankah lebih baik kita langsung saja keluar dari hutan ilusi sialan ini dan kembali untuk membantu teman-teman kita?”
“Tidak,” kata vampire, “Apa yang terjadi jika dia masih hidup? Bukan tidak mungkin jika ketika kita berjalan kembali, kepala kita dilubangi olehnya dari belakang.”
Dua manusia itu terdiam
Tiga anak buah James itu segera mendekat dengan perlahan. Mereka melihat tubuh Dietrich dan Chernov terkapar di antara dua pohon palem. Si vampire memberi aba-aba pada temannya untuk berhenti sejenak. Mereka berkomunikasi dengan jari. Tiga anak buah James itu langsung menembaki tubuh Dietrich dan Chernov yang sudah mati. Setelah memastikan bahwa tubuh Dietrich benar-benar mati, mereka mulai mendekatinya. Vampire itu beberapa kali menendang perut Dietrich. Blasteran Jerman yang merepotkan itu benar-benar mati.
Mayat Dietrich tiba-tiba bangkit dan meraih kaki si vampire. Mayat Dietrich itu mendekap kaki si vampire begitu erat. Tentu saja tiga anak buah James semuanya panik. Di tengah kepanikan, dua manusia itu bermaksud menolong si vampire dengan cara menembaki mayat Dietrich yang hidup lagi. Namun, gara-gara panik, mereka malah menembaki kaki si vampire dan melumpuhkannya.
Dalam waktu yang sangat cepat, tiba-tiba dua manusia anak buah James itu roboh. Kepala mereka dilubangi oleh peluru. Mereka terbunuh dalam waktu yang nyaris bersarmaan. Di saat itulah zombie Dietrich yang merupakan ilusi buatan Dietrich menghilang. Vampire itu benar-benar syok melihat dua rekannya tewas tiba-tiba. Chernov yang muncul dari atas pohon langsung mengoyak leher si vampire dengan pengendalian listrik kuning untuk melumpukannya. Rencana Dietrich benar-benar sukses.
Dietrich muncul dari balik pohon palem yang jaraknya tidak terlalu jauh dari vampire. Dia berlari terengah-rengah sambil menggenggam sebilah pisau. Setelah sampai di tubuh vampire yang sudah dilumpuhkan oleh Chernov, Dietrich langsung menusuk-nusuk jantung lawannya berkali-kali. Setelah memastikan vampire ini benar-benar mati, Dietrich tiduran di rerumputan Hutan Kota Manggarai.
Quote:
“Kerja bagus, Chernov,” puji Dietrich sambil mengelus punggung Chernov, “Terima kasih atas kerja samanya.”
Chernov mengendus tangan kanan Dietrich sambil menggeram beberapa kali. Serigala Russia itu berusaha berkomunikasi dengan Dietrich. Tentu saja Dietrich tak paham bahasanya.
Quote:
“Aku tak paham bahasamu,” kata Dietrich, “Tapi rencana terakhir, rencana menembak tiga burung dengan satu peluru, benar-benar luar biasa sukses.”
Diubah oleh Shadowroad 27-12-2015 22:46
0
Kutip
Balas