- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#495
Spoiler for Part 59:
Hari ini adalah hari pertamaku untuk kerja di lapangan. Aku sudah menyelesaikan presentasi tentang pengembangan proyek dan sekarang sudah berada di lapangan tempat pengembangannya berlangsung. Kemarin aku habiskan untuk beristirahat saja di penginapan bersama Zahra, hanya sore menjelang malamnya kami berdua mengadakan acara masak bersama dan menikmati malam di penginapan.
Siang ini cuacanya cukup panas, aku yang mengenakan kemeja sudah cukup bercucuran keringat daritadi. Aku lihat arlojiku sudah menunjukkan pukul tiga sore, sebentar lagi kerjaku selesai. Aku sedang duduk di pinggiran jalan memandangi lalu lintas yang hilir mudik, melihat orang-orang berkendara kesana-kemari. Zahra datang membawa tas dan beberapa laporan hasil kerja tadi
“Bram, ini laporan berikutnya coba di pelajarin aja dulu buat minggu depan. Kalo ada perbaikan langsung dikabarin aja.” Katanya sambil menyerahkan laporannya kepadaku
“Oke, paling besok gue bahasnya.” Kataku sambil memasukannya ke dalam tas
“Yaudah balik yuk, apa mau kemana dulu?” Katanya sambil mengenakan jaketnya
“Ke kafe aja dulu kali ya, pengen ngopi.” Usulku
“Yaudah berangkat.”
Akhirnya kami berdua memutuskan untuk pergi menuju kafe yang tidak jauh dari tempat kami bekerja. Setibanya di sana, kami memilih lantai atas dengan ruangan terbuka. Aku memesan kopi hitam seperti biasa dan Zahra memesan jus jeruk dan beberapa cemilan
“Gue kira Pak Nyoman udah tua, ternyata ngga beda jauh dari kita ya.” Kataku membuka percakapan
“Iya sama aku juga mikirnya gitu, ternyata umurnya baru dua puluh sembilan. Bayangin coba di umur segitu udah bisa punya perusahaan sendiri.” Tanggapnya
“Bisnis keluarga kali ya.” Kataku sambil menyalakan sebatang rokok
“Ngga menutup kemungkinan sih, nama perusahaannya aja kayak nama turunan keluarga gitu.” Jawabnya sambil membakar rokok juga
Pesanan kami datang juga. Dan sekitar hampir beberapa jam kami di sana, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan mengendarai motor fasilitas kerja. Aku dan Zahra langsung masuk ke kamar kami masing-masing. Setelah aku membersihkan diri, aku lebih memilih untuk tiduran di atas kasur sambil melihat-lihat laporan hasil kerja. Tidak lama berselang, Zahra masuk ke dalam kamarku
“Boleh masuk kan?” Katanya
“Ya boleh lah, masa ngga.” Kataku tidak berpaling dari beberapa lembar kertas ini
“Geseran..” Suruhnya
Aku bergeser tanpa bangun dari tidurku, aku masih fokus terhadap laporan ini yang harus aku bisa kuasai minggu depan. Aku tersadar kasur ini jadi lebih rendah dari biasanya, dan begitu aku melihat ke samping aku menemukan Zahra sedang berbaring juga sambil memainkan tabletnya.
“Gue kira lu cuma duduk Zah..” Kataku
“Kalo duduk mah di bawah sini juga bisa ada karpet..” Katanya tidak berpaling dari gadgetnya
Aku kembali fokus dengan laporan ini, aku baca secara teliti kata perkata, angka per angka dan gambar demi gambar. Aku rasa cukup untuk sekilas membacanya. Aku taruh lagi di atas meja dan segera menyalakan tv dan kembali berbaring lagi.
“Bram liat deh, lucu kan?” Katanya sambil memberikan tabletnya kepadaku
Aku lihat di sana ada fotoku bersamanya di dalam pesawat sedang duduk bersama. Dia mempublishnya di sosial media dan banyak orang yang tertarik dengan foto kami. Beragam komentarpun berdatangan
“Cie udah resmi nih? Makan-makan lah @zahrazahira”
“Loh beda lagi cowonya bukan yang kemaren? @zahrazahira”
“Obat peninggi badan dijamin sukses, @obatpeninggimantap tidak tipu-tipu @zahrazahira”
“Komentar macam apa ini yang terakhir?” Tanyaku dengan heran
“Ya orang jualan suka spam gitu.” Jelasnya sambil mengambil tabletnya lagi
Aku kembali fokus dengan acara di tv, menayangkan film-film lama yang disebut “Bioskop” channel tersebut. Acaranya cukup seru, tentang pencurian emas-emas batangan dan pengkhianatan antar sesama rekan pencuri.
“Bram, ngantuk nih..” Katanya
“Ya tidur lah, masa mau makan..” Kataku sambil meliriknya
“Eh iya kita belum makan loh dari siang, mau makan dulu ngga?” Tawarnya kepadaku
“Tapi gue males keluar, udah enak ini tiduran.” Sanggahku
“Yaudah aku bikinin mi aja ya, tunggu bentar.” Katanya meninggalkanku ke dapur
Tidak lama setelah itu, dia datang membawa mi instant kepadaku. Dan akhirnya kita makan bersama sambil tetap menonton acara yang ada di tv. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya dan segera tidur. Aku yang masih cukup kuat untuk membuka mata melanjutkan menonton tv dan mengabari Nanda dan juga Zahra. Kami menyempatkan untuk videocall selama kurang lebih satu jam, saling bertukar cerita tentang kejadian hari ini. Aku sangat senang karena Dinda menyanggupi untuk menjaga Nanda hingga aku kembali nanti. Setelah melakukan videocall, aku memutuskan untuk tidur karena besok pagi aku harus kembali ke lapangan untuk bekerja.
Sudah hampir seminggu aku berada di Bali, kerjaanku masih berlanjut hingga sekarang. Nanda sudah menanyakanku kapan aku bisa pulang, tapi sampai saat inipun jadwal masih padat tidak memungkinkan aku untuk pulang saat ini. Mungkin minggu depan aku sudah bisa kembali sebentar.
Malam ini, aku sedang duduk di teras depan kamar sambil membaca beberapa artikel. Malam ini sangat banyak bintang di langit, tanpa ada sedikitpun mendung. Zahra keluar dari kamarnya mengenakan kaos lengan panjang dan celana tidur miliknya sambil membawa dua gelas berisi kopi hitam milikku dan teh manis miliknya. Dia sekarang sudah duduk di sampingku.
“Langitnya bagus ya Bram..” Katanya sambil melihat ke atas
“Lebih tepatnya indah..”
“Diminum kopinya, udah dibikinin juga.” Katanya
“Ampasnya belum turun, sabar sebentar..” Kataku menghentikan membaca artikel tersebut
“Kalau ada orang yang suka sama kamu gimana Bram?” Tanyanya
“Ya gue bakalan berterima kasih kepada orang itu.”
“Kalau dia masih ngerjar kamu meskipun kamu udah punya pacar?” Tanyanya lagi
Aku sedikit bingung dengan maksud pertanyaannya
“Ya mau gimana lagi, seandainya emang beneran ada pasti dia ngga bakalan bisa.” Jelasku
“Oh ngga bakalan bisa ya..” Nadanya menurun
“Emang kenapa Zah? Lu suka ya sama gue?” Kataku bercanda
“Eh ngga kok ngga, cuma nanya aja.” Katanya sambil menunduk
“Hidup itu pilihan Zah, kamu harus milih untuk jalanin hidup kamu. Emang rasanya ngga adil ketika kita harus milih, cuma kita ngga bisa jalanin beberapa pilihan secara bersamaan. Pasti bakalan ada yang jadi prioritas dan bakalan ada yang terbuang. Semisalnya lu dapet dua pilihan antara kerja di bagian lapangan atau kerja di bagian penggambaran, lu ngga bisa jalanin dua-duanya. Bakalan ada yang lu prioritasin. Jadi maksud gue itu ketika ada orang yang suka sama gue tapi gue udah punya pacar, gue berterima kasih sama orang itu, tapi semua tergantung pilihan gue sendiri. Ngerti kan?”
“Iya aku ngerti kok.” Katanya sambil mengangguk
“Eh gue mau nanya deh, dari dulu lu selalu make bahasa aku-kamu ke gue sedangkan gue ya make gue-lu. Kenapa Zah?” Tanyaku
“Nggg........ Ngga tau kenapa, kalau sama kamu ya pengen pake bahasa itu aja.” Katanya membenarkan duduknya
Aku hanya mengangguk. Kemudian aku memutar lagu dari hpku agar suasana semakin santai. Aku putar lagu dari Dewa 19.
“Lagi kangen sama Dinda ya?” Tanyanya
“Lagi kangen sama Nanda, gimana dia hidup tanpa gue..” Sanggahku
Sebenarnya lagu ini aku peruntukkan untuk Nanda dan juga Dinda, cuma aku tidak enak jika membahas Dinda di depan Zahra
“Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa.”
“Percayalah padaku akupun rindu kamu, ku akan pulang.”
“Melepas semua kerinduan, yang terpendam.”
Begitulah lirik yang terdapat pada lagu Kangen dari Dewa 19. Kami menyempatkan diri untuk berbincang dan setelah merasa sudah mengantuk kami masuk ke dalam kamar kami masing-masing.
Siang ini cuacanya cukup panas, aku yang mengenakan kemeja sudah cukup bercucuran keringat daritadi. Aku lihat arlojiku sudah menunjukkan pukul tiga sore, sebentar lagi kerjaku selesai. Aku sedang duduk di pinggiran jalan memandangi lalu lintas yang hilir mudik, melihat orang-orang berkendara kesana-kemari. Zahra datang membawa tas dan beberapa laporan hasil kerja tadi
“Bram, ini laporan berikutnya coba di pelajarin aja dulu buat minggu depan. Kalo ada perbaikan langsung dikabarin aja.” Katanya sambil menyerahkan laporannya kepadaku
“Oke, paling besok gue bahasnya.” Kataku sambil memasukannya ke dalam tas
“Yaudah balik yuk, apa mau kemana dulu?” Katanya sambil mengenakan jaketnya
“Ke kafe aja dulu kali ya, pengen ngopi.” Usulku
“Yaudah berangkat.”
Akhirnya kami berdua memutuskan untuk pergi menuju kafe yang tidak jauh dari tempat kami bekerja. Setibanya di sana, kami memilih lantai atas dengan ruangan terbuka. Aku memesan kopi hitam seperti biasa dan Zahra memesan jus jeruk dan beberapa cemilan
“Gue kira Pak Nyoman udah tua, ternyata ngga beda jauh dari kita ya.” Kataku membuka percakapan
“Iya sama aku juga mikirnya gitu, ternyata umurnya baru dua puluh sembilan. Bayangin coba di umur segitu udah bisa punya perusahaan sendiri.” Tanggapnya
“Bisnis keluarga kali ya.” Kataku sambil menyalakan sebatang rokok
“Ngga menutup kemungkinan sih, nama perusahaannya aja kayak nama turunan keluarga gitu.” Jawabnya sambil membakar rokok juga
Pesanan kami datang juga. Dan sekitar hampir beberapa jam kami di sana, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan mengendarai motor fasilitas kerja. Aku dan Zahra langsung masuk ke kamar kami masing-masing. Setelah aku membersihkan diri, aku lebih memilih untuk tiduran di atas kasur sambil melihat-lihat laporan hasil kerja. Tidak lama berselang, Zahra masuk ke dalam kamarku
“Boleh masuk kan?” Katanya
“Ya boleh lah, masa ngga.” Kataku tidak berpaling dari beberapa lembar kertas ini
“Geseran..” Suruhnya
Aku bergeser tanpa bangun dari tidurku, aku masih fokus terhadap laporan ini yang harus aku bisa kuasai minggu depan. Aku tersadar kasur ini jadi lebih rendah dari biasanya, dan begitu aku melihat ke samping aku menemukan Zahra sedang berbaring juga sambil memainkan tabletnya.
“Gue kira lu cuma duduk Zah..” Kataku
“Kalo duduk mah di bawah sini juga bisa ada karpet..” Katanya tidak berpaling dari gadgetnya
Aku kembali fokus dengan laporan ini, aku baca secara teliti kata perkata, angka per angka dan gambar demi gambar. Aku rasa cukup untuk sekilas membacanya. Aku taruh lagi di atas meja dan segera menyalakan tv dan kembali berbaring lagi.
“Bram liat deh, lucu kan?” Katanya sambil memberikan tabletnya kepadaku
Aku lihat di sana ada fotoku bersamanya di dalam pesawat sedang duduk bersama. Dia mempublishnya di sosial media dan banyak orang yang tertarik dengan foto kami. Beragam komentarpun berdatangan
“Cie udah resmi nih? Makan-makan lah @zahrazahira”
“Loh beda lagi cowonya bukan yang kemaren? @zahrazahira”
“Obat peninggi badan dijamin sukses, @obatpeninggimantap tidak tipu-tipu @zahrazahira”
“Komentar macam apa ini yang terakhir?” Tanyaku dengan heran
“Ya orang jualan suka spam gitu.” Jelasnya sambil mengambil tabletnya lagi
Aku kembali fokus dengan acara di tv, menayangkan film-film lama yang disebut “Bioskop” channel tersebut. Acaranya cukup seru, tentang pencurian emas-emas batangan dan pengkhianatan antar sesama rekan pencuri.
“Bram, ngantuk nih..” Katanya
“Ya tidur lah, masa mau makan..” Kataku sambil meliriknya
“Eh iya kita belum makan loh dari siang, mau makan dulu ngga?” Tawarnya kepadaku
“Tapi gue males keluar, udah enak ini tiduran.” Sanggahku
“Yaudah aku bikinin mi aja ya, tunggu bentar.” Katanya meninggalkanku ke dapur
Tidak lama setelah itu, dia datang membawa mi instant kepadaku. Dan akhirnya kita makan bersama sambil tetap menonton acara yang ada di tv. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya dan segera tidur. Aku yang masih cukup kuat untuk membuka mata melanjutkan menonton tv dan mengabari Nanda dan juga Zahra. Kami menyempatkan untuk videocall selama kurang lebih satu jam, saling bertukar cerita tentang kejadian hari ini. Aku sangat senang karena Dinda menyanggupi untuk menjaga Nanda hingga aku kembali nanti. Setelah melakukan videocall, aku memutuskan untuk tidur karena besok pagi aku harus kembali ke lapangan untuk bekerja.
Sudah hampir seminggu aku berada di Bali, kerjaanku masih berlanjut hingga sekarang. Nanda sudah menanyakanku kapan aku bisa pulang, tapi sampai saat inipun jadwal masih padat tidak memungkinkan aku untuk pulang saat ini. Mungkin minggu depan aku sudah bisa kembali sebentar.
Malam ini, aku sedang duduk di teras depan kamar sambil membaca beberapa artikel. Malam ini sangat banyak bintang di langit, tanpa ada sedikitpun mendung. Zahra keluar dari kamarnya mengenakan kaos lengan panjang dan celana tidur miliknya sambil membawa dua gelas berisi kopi hitam milikku dan teh manis miliknya. Dia sekarang sudah duduk di sampingku.
“Langitnya bagus ya Bram..” Katanya sambil melihat ke atas
“Lebih tepatnya indah..”
“Diminum kopinya, udah dibikinin juga.” Katanya
“Ampasnya belum turun, sabar sebentar..” Kataku menghentikan membaca artikel tersebut
“Kalau ada orang yang suka sama kamu gimana Bram?” Tanyanya
“Ya gue bakalan berterima kasih kepada orang itu.”
“Kalau dia masih ngerjar kamu meskipun kamu udah punya pacar?” Tanyanya lagi
Aku sedikit bingung dengan maksud pertanyaannya
“Ya mau gimana lagi, seandainya emang beneran ada pasti dia ngga bakalan bisa.” Jelasku
“Oh ngga bakalan bisa ya..” Nadanya menurun
“Emang kenapa Zah? Lu suka ya sama gue?” Kataku bercanda
“Eh ngga kok ngga, cuma nanya aja.” Katanya sambil menunduk
“Hidup itu pilihan Zah, kamu harus milih untuk jalanin hidup kamu. Emang rasanya ngga adil ketika kita harus milih, cuma kita ngga bisa jalanin beberapa pilihan secara bersamaan. Pasti bakalan ada yang jadi prioritas dan bakalan ada yang terbuang. Semisalnya lu dapet dua pilihan antara kerja di bagian lapangan atau kerja di bagian penggambaran, lu ngga bisa jalanin dua-duanya. Bakalan ada yang lu prioritasin. Jadi maksud gue itu ketika ada orang yang suka sama gue tapi gue udah punya pacar, gue berterima kasih sama orang itu, tapi semua tergantung pilihan gue sendiri. Ngerti kan?”
“Iya aku ngerti kok.” Katanya sambil mengangguk
“Eh gue mau nanya deh, dari dulu lu selalu make bahasa aku-kamu ke gue sedangkan gue ya make gue-lu. Kenapa Zah?” Tanyaku
“Nggg........ Ngga tau kenapa, kalau sama kamu ya pengen pake bahasa itu aja.” Katanya membenarkan duduknya
Aku hanya mengangguk. Kemudian aku memutar lagu dari hpku agar suasana semakin santai. Aku putar lagu dari Dewa 19.
“Lagi kangen sama Dinda ya?” Tanyanya
“Lagi kangen sama Nanda, gimana dia hidup tanpa gue..” Sanggahku
Sebenarnya lagu ini aku peruntukkan untuk Nanda dan juga Dinda, cuma aku tidak enak jika membahas Dinda di depan Zahra
“Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa.”
“Percayalah padaku akupun rindu kamu, ku akan pulang.”
“Melepas semua kerinduan, yang terpendam.”
Begitulah lirik yang terdapat pada lagu Kangen dari Dewa 19. Kami menyempatkan diri untuk berbincang dan setelah merasa sudah mengantuk kami masuk ke dalam kamar kami masing-masing.
khuman dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas