- Beranda
- Stories from the Heart
Cinta dan Persahabatan Cowok Cuek (True Story)
...
TS
mr.eights
Cinta dan Persahabatan Cowok Cuek (True Story)
Halo agan-agan semua, kenalin ane newbie banget di forum ini. Ane jadi teringat tentang masa lalu dan izinkan untuk menceritakan kisah cinta dan persahabatan yang gue jalanin semasa sekolah. Berhubung ini kisah nyata dan gue juga pengen ngejaga privasi orang-orang dalam cerita ini, jadi gue ubah nama dan beberapa hal untuk disamarkan. Kutipan percakapan kalimat tidak persis sama karena gue juga nggak ingat semua. Tapi tetap tidak mengubah jalan cerita dari yang gue alamin. Ini pertama kali gue bikin thread jadi pasti banyak yang kurang. Tapi sebisa-bisanya bakal diperbaiki sembari belajar 

Quote:
INDEX
Quote:
Diubah oleh mr.eights 22-12-2015 19:05
anasabila memberi reputasi
1
15.3K
50
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mr.eights
#37
PART 11
Rasanya waktu bergulir begitu cepat. Angin waktu serasa bersemilir berhembus dalam sekejap lewat. Tak terasa telah hampir tiga tahun gue menimba ilmu menggunakan baju putih biru. Rasanya baru kemarin masuk sekolah dan sekarang udah mau lulus. Banyak kenangan yang terjadi di sekolah ini yang tak bisa diungkapkan semua dengan kata. Tetapi menjalani banyak hal di masa sekolah cukup untuk menjadi tinta dalam catatan kisah hidup yang gue jalani. Itu pun artinya gue bakal berpisah dengan temen-temen untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Tetapi, tidak semua temen-temen gue bakal berpisah, karena bisa jadi ada sebagian mereka yang mungkin kembali lagi untuk berkumpul di SMA yang sama. Yang pasti bakal berpisah salah satunya adalah Bella. Karena dia udah diterima tanpa tes di sekolah kota lain.
Kelas 3D hendak mengadakan acara perpisahan yang rencananya akan dilaksanakan di malam hari. Acara perpisahan ini bakal diadakan di rumah Astrid. Rumah Astrid cukup besar dan punya halaman yang luas. Dengan tempat seluas itu, cukup bagi kami untuk mengadakan acara perpisahan kelas.
Tak lupa kami pun mengundang wali kelas dan beberapa guru yang mengajar di kelas 3D. Rasanya malam itu serasa menyenangkan mengadakan pesta acara. Rasanya baru kali ini kami berkumpul dengan teman-teman satu kelas untuk acara seperti ini.
Guru ketertiban pun datang menghampiri kelas kami dan memberi teguran, terutama kepada tadi yang bertengkar. Bahkan memberi tahu bahwa Bu Winda ingin diganti ke kelas lain dan kami bakal diajarin bahasa Inggris sama guru lain. Butuh waktu agak lama untuk menenangkan Bu Winda. Sampe akhirnya kami pun membujuk Bu Winda dan beliau mau ngajar lagi di kelas 3D.
Mengingat hal itu, seperti mengingat hal konyol yang seharusnya tak perlu terjadi. Tetapi kisah telah menorehkan penanya dan tintanya telah mengering. Setidaknya itu menjadi pelajaran untuk tidak menyia-nyiakan orang yang telah sangat baik kepada kita karena kita nggak pernah tahu; jika ia telah pergi apakah kelak kan ada kesempatan untuk kembali.
Malam semakin menampakkan pekatnya. Di saat acara perpisahan hampir usai, tiba-tiba temen-temen bersorak,
Acara sempat terdiam sejenak ngeliat gue yang terdiam, seolah mereka bertanya, "apa yang bakal dilakuin Tio?"
Sebenarnya gue hanya bingung karena tidak ada ide apa yang bakal dimainkan dengan piano ini. Tampilnya pun secara tiba-tiba.
Kami berdua pun di panggung dengan canggung. Bella tak tau harus berbuat apa dan bertanya-tanya kenapa ia juga harus maju ke atas panggung. Sedangkan kami berdua pun tak ada persiapan sama sekali.
Gue pun berbisik kepada Bella tentang apa yang harus dilakukannya. Sebenarnya gue hanya meminta ia untuk bernyanyi sedangkan gue mengiringinya dengan piano. Ketika gue ngasih tahu lagu apa yang bakal dinyanyikannya, untunglah dia tahu lagu itu. Hanya saja ada beberapa bagian lirik yang kurang dia hafal. Akhirnya gue pun ngeliat di daftar lirik lagu milik pemain band pengisi acara ini.
Banyak temen-temen yang menyangka selama ini gue udah lama naksir Juliya, padahal gue hampir nggak pernah ngobrol dengannya dan malah deket sama Bella. Dengan anggapan temen-temen bahwa gue naksir Juliya, maka gue pun bisa lebih bebas ngobrol dan becanda deketan bareng Bella tanpa orang lain curiga tentang perasaan gue. Tunggu... perasaan gue? Apakah gue menyukainya? Kebersamaan yang hanya akan menjadi kenangan. Pada akhirnya kami harus berpisah karena Bella bakal melanjutkan sekolah di kota lain.
Gelap petang semakin sunyi. Teman-teman seolah ingin memperhatikan apa yang kami untaikan. Sejenak menatap pada langit, purnama dan bintang-bintang pun menjadi saksi akan kemerduan malam. Gue mulai hadapkan jemari untuk menari di atas tuts piano. Sambil memandang kedua matanya gue bergumam dalam hati,
Kelas 3D hendak mengadakan acara perpisahan yang rencananya akan dilaksanakan di malam hari. Acara perpisahan ini bakal diadakan di rumah Astrid. Rumah Astrid cukup besar dan punya halaman yang luas. Dengan tempat seluas itu, cukup bagi kami untuk mengadakan acara perpisahan kelas.
Tak lupa kami pun mengundang wali kelas dan beberapa guru yang mengajar di kelas 3D. Rasanya malam itu serasa menyenangkan mengadakan pesta acara. Rasanya baru kali ini kami berkumpul dengan teman-teman satu kelas untuk acara seperti ini.
"Kepada guru-guru kami yang telah mengajar di kelas 3D, kami mengucapkan banyak terima kasih atas segala yang bapak ibu guru berikan. Terima kasih banyak atas ilmu dan kesabaran yang bapak ibu berikan kepada kami. Entah bagaimana kami harus membalasnya. Bapak ibu guru sangat berjasa untuk pendidikan kami. Tak lupa kami juga meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah kami perbuat. Ya... banyak kebodohan yang kami lakukan namun bapak ibu guru tetap sabar mendidik kami untuk menjadi lebih baik. Tak ada yang bisa kami ucapkan selain rasa terima kasih yang besar kepada bapak dan ibu guru sekalian.", Hedi sebagai ketua kelas memberikan pidatonya di acara perpisahan.
Para guru yang hadir di acara perpisahan kelas pun tersenyum dan sesekali mengangguk ketika Hedi mengucapkan permintaan maaf dari para siswa kelas 3D. Mungkin kalau diingat-ingat, temen-temen di kelas 3D memang banyak salah kepada guru. Bahkan kami pernah bikin nangis wali kelas, Bu Winda. Bu Winda yang sekaligus mengajar bahasa inggris di kelas kami, pernah marah dan mengatakan tidak mau lagi mengajar di kelas 3D. Waktu itu ada temen kami yang saling bertengkar. Nggak lucunya lagi, yang bertengkar antara cowok dengan cewek. Emang sih ceweknya tomboy, tapi rasanya nggak etis kalo yang tengkar antara cowok dengan cewek. Dan lebih nggak etis lagi pertengkaran itu terjadi saat berlangsungnya pelajaran. Bu Winda pun melerai mereka agar tidak bertengkar bahkan memarahi mereka. Dan lebih kurang ajar lagi, temen gue yang tomboy ini malah ngomong,"Ibu nggak usah ikut-ikutan ! Ini masalah kami !"
Di situ Bu Winda merasa sedih. Sebenarnya ini bukan masalah utamanya. Sebelumnya kelas kami juga beberapa kali bikin ulah. Dan puncaknya kejadian tadi yang bikin Bu Winda jadi nangis."Ibu nggak dihargai di kelas ini! Jangan harap Ibu mau ngajar lagi di kelas ini !", lalu Bu Winda pun pergi keluar kelas dengan tumpahan air matanya.
Temen-temen kelas pun pada nyalahin mereka yang tengkar, terutama si tomboy yang nggak tau sopan santun itu. Bu Winda guru yang bawel dan lucu, tapi sangat baik dan sabar. Hanya saja temen-temen menyalahgunakan kesabaran beliau dengan melakukan perbuatan yang nggak baik. Guru ketertiban pun datang menghampiri kelas kami dan memberi teguran, terutama kepada tadi yang bertengkar. Bahkan memberi tahu bahwa Bu Winda ingin diganti ke kelas lain dan kami bakal diajarin bahasa Inggris sama guru lain. Butuh waktu agak lama untuk menenangkan Bu Winda. Sampe akhirnya kami pun membujuk Bu Winda dan beliau mau ngajar lagi di kelas 3D.
Mengingat hal itu, seperti mengingat hal konyol yang seharusnya tak perlu terjadi. Tetapi kisah telah menorehkan penanya dan tintanya telah mengering. Setidaknya itu menjadi pelajaran untuk tidak menyia-nyiakan orang yang telah sangat baik kepada kita karena kita nggak pernah tahu; jika ia telah pergi apakah kelak kan ada kesempatan untuk kembali.
Malam semakin menampakkan pekatnya. Di saat acara perpisahan hampir usai, tiba-tiba temen-temen bersorak,
"Ayo, Tio. Tio maju ke depan."
Gue noleh keheranan, buat apa gue di depan pentas? Ternyata gue disuruh main piano. Jelas gue nggak mau. Tapi temen-temen ada yang ngedorong gue ke depan. Ya, akhirnya gue pun maju ke depan. Acara sempat terdiam sejenak ngeliat gue yang terdiam, seolah mereka bertanya, "apa yang bakal dilakuin Tio?"
Sebenarnya gue hanya bingung karena tidak ada ide apa yang bakal dimainkan dengan piano ini. Tampilnya pun secara tiba-tiba.
"Canon! Johann Pachelbel !", Luna berteriak ngasih saran biar gue memainkan salah satu musik klasik abad ke-17 karya Johann Pachelbel.
Ya, itu memang musik kesukaan Luna, tapi gue sendiri kurang suka. Dan itu artinya gue cuman tampil sendiri di acara ini. Gue pun ngeliat ke arah tempat duduk temen-temen dan yang terlihat adalah Bella. Tiba-tiba muncul ide untuk mengajak Bella ke depan."Gue minta Bella juga ke depan", gue mendekat ke arah microphone.
Bella nampak kaget keheranan mendengar gue memintanya untuk maju ke depan. Tampak ia malu untuk menampakkan wajah. Rasanya kaki menjadi akar yang menghujam ke dalam tanah membuatnya tak tergerak tubuh walau sesaat. Temen-temen ngedorong Bella buat maju ke depan. Pun akhirnya keraguan untuk melangkah terkalahkan oleh kuatnya hati untuk menyingkapkan tabirnya.Kami berdua pun di panggung dengan canggung. Bella tak tau harus berbuat apa dan bertanya-tanya kenapa ia juga harus maju ke atas panggung. Sedangkan kami berdua pun tak ada persiapan sama sekali.
Gue pun berbisik kepada Bella tentang apa yang harus dilakukannya. Sebenarnya gue hanya meminta ia untuk bernyanyi sedangkan gue mengiringinya dengan piano. Ketika gue ngasih tahu lagu apa yang bakal dinyanyikannya, untunglah dia tahu lagu itu. Hanya saja ada beberapa bagian lirik yang kurang dia hafal. Akhirnya gue pun ngeliat di daftar lirik lagu milik pemain band pengisi acara ini.
"Maaf om, bisa pinjem buku lirik lagunya?", gue meminta izin untuk meminjam buku lirik lagu yang tebal itu.
"Ini, dek. Silahkan", orang itu memberikannya dengan ramah.
Gue pun ngebuka buku lirik lagu itu dan mencari lagu yang pengen kami nyanyikan. Dan... untunglah, ternyata ada. "Bella, ini lirik lagunya. Udah tahu nada-nadanya kan? Dan juga hayati lirik lagunya ya."
Bella mengernyitkan dahi seolah ada yang ditanyakannya. Akan tetapi sempitnya waktu membuat ia membiarkan rasa penasaran itu memudar, "Ok, thanks ya Tio."
Bella memandang wajah gue seolah ia menunggu dentingnya suara piano. Saat itu gue pun menatap wajah Bella. Saat kedua mata kami saling berpandangan, dalam sekejap tiba-tiba terlintas memori yang pernah gue alamin masa-masa bersama Bella. Saat pertama kali gue melihatnya masuk kelas memakai baju putih biru, saat pertama kali gue mengenalnya, saat pertama kali gue ngobrol dengannya, saat pertama kali gue becanda dengannya, memandangnya tersenyum, kemarahan yang pernah menghinggapi, menatapnya cemberut, kekonyolan yang kami lakukan berdua, dan melihatnya tertawa. Duduk di hadapannya dengan membelakanginya, kedekatan yang telah kami lalui bersama, ada ikatan rasa yang kami jalin namun tak sampai untuk diutarakan. Seperti ia yang berpura-pura menulis surat cinta hingga gue harus bertanya-tanya,"Bella, apakah lo mengungkapkan perasaan lo yang sebenarnya?" Banyak temen-temen yang menyangka selama ini gue udah lama naksir Juliya, padahal gue hampir nggak pernah ngobrol dengannya dan malah deket sama Bella. Dengan anggapan temen-temen bahwa gue naksir Juliya, maka gue pun bisa lebih bebas ngobrol dan becanda deketan bareng Bella tanpa orang lain curiga tentang perasaan gue. Tunggu... perasaan gue? Apakah gue menyukainya? Kebersamaan yang hanya akan menjadi kenangan. Pada akhirnya kami harus berpisah karena Bella bakal melanjutkan sekolah di kota lain.
Gelap petang semakin sunyi. Teman-teman seolah ingin memperhatikan apa yang kami untaikan. Sejenak menatap pada langit, purnama dan bintang-bintang pun menjadi saksi akan kemerduan malam. Gue mulai hadapkan jemari untuk menari di atas tuts piano. Sambil memandang kedua matanya gue bergumam dalam hati,
"Apakah lirik lagu ini adalah apa yang sebenarnya ku rasa? Apakah lirik yang kau nyanyikan adalah bahasa dari hatiku yang bersyair? Tak hanya aku bertanya-tanya tentang perasaanmu padaku bahkan aku pun bertanya-tanya tentang perasaanku sendiri padamu. Ungkapan yang tak terucap, kata yang tak pernah terdengar telinga namun hanya bisa dirasa. Suara hati yang tak pernah berdusta, hanya saja telinga hatiku terlalu tuli untuk mendengarnya. Kenangan yang telah kita torehkan akan menjadi bagian dari hidup...., hidup dalam kesendirian dan takdir kita masing-masing. Ah, terlalu dini untuk memikirkan. Semoga engkau sukses dengan studimu di sana. Selamat tinggal Bella."
Gue pun menganggukkan kepala memberi tanda kepada Bella untuk mulai menyanyikan lagunya,Quote:
Diubah oleh mr.eights 22-12-2015 19:49
0
