Gambaran Desa Kembangan Ditahun Tahun 70-an
Banyak cerita tentang Indonesia, indah, berwarna, mempesona bahkan ada yang bilang " Indonesia itu indah sob, kamu jangan dikamar saja! ". Memang sangat indah, asri, sejuk, penuh dengan budaya. Begitu juga dengan desa kembangan, penuh dengan gambaran yang membuat kita selalu ingin hidup disana, terkadang hati mengajak raga ini untuk tidak meninggalkan kampung halaman.
Bicara tentang keindahan identik dengan sentuan berbagai warna, pada halaman ini tim prasojo kaniraras tidak akan mengemas indahnya indonesia, karena begitu luas dan sangat panjang bila digambarkan. Pada kemasan kali ini tim akan mengupas sedikit banyak tentang desa kembangan yang berbalut dengan suasan jaman dulu.
Sebelumnya penulis akan bercerita tentang penampakan desa kembangan di tahun 70-an, yang dimana para pemuda di jaman itu penuh dengan khayalan , impian, dan juga cita - cita. Pada saat itu suasana desa sangat begitu asri di pagi hari, sejuk tanpa polusi karena Sepeda motor belum begitu banyak, mungkin ada hanya beberapa, sehingga polusi tidak seperti saat ini.
Waktu itu yang memiliki sepeda motor menurut survei hanya dua orang, yaitu pertama bapak kaseman, ayahnya wak tari RT 6, kedua H. mansur atau H. Suraman RT 2, itu pun hanya sepeda motor Brompit / DKW. Baru beberapa tahun kemudian Bapak Karmadi RT 6 menyusul memiliki motor , disusul lagi bapak mustajib RT 3, Bapak Sukiran RT 2. Mereka bertiga memiliki motor honda astra swiwi.
Rumah warga juga masih sederhana , tiang dari bongkotan (batang bambu), dinding dari anyaman bambu ,sehingga terdapat AC alami dari cela gedhek. Dan hanya beberapa orang saja yang memliki rumah dari kayu jati. Rumah di desain dengan adat jawa. Jarak antara satu rumah dan rumah yang lainnya juga masih jauh dengan kata lain masih jarang.
Bicara rumah, pada jaman dulu belum ada istilah borongan dalam membangun sebuah rumah , hanya dengan rasa guyup dan kerukunanlah untuk membangun sebuah rumah, " Brokohan ",. istilah itu yang lebih dipegang. Brokohan adalah kerja sama antar warga yang didasari dengan harapan penuh berkah.
Karena jaman dulu 100% masyarakat masih beraktifitas dan bergantung hidup dengan pertanian , sehingga dari pagi sampai siang bahkan sampai sore hari mereka menghabiskan waktu disawah. di siang hari Disiang bolong , jika ingin beristirahat warga memilih berteduh dibawah rerumpunan bambu,., nggelar kloso pandan dengan angin sepoi - sepoi yang merilekskan tubuh. karena waktu itu 75% bumi kembangan tepatnya ditengah desa masih banyak rumpun bambu atau barongan.
Masih suasana jaman dulu, Suasana malam penerangan rumah masih menggunakan lampu templok atau lampu minyak, untuk penerangan jalan disetiap depan rumah hanya menggunakan " ting " istilah jaman dulu, yaitu lampu minyak yang di taruh didalam toples, sehingga suasana terasa sunyi , hanya kelap kelip lampu ting. Apalagi ketika dimusim hujan , malam hari suara orekan kodok disana sini menjadikan hiburan dimalam hari,. suara hewan malam bagai MP3 membuat semakin nyaman. Dimalam hari terasa ramai ketika hanya padang mbulan (ada sinar bulan ) saja , sehingga anak - anak memanfaatkan berbagai permainan, seperti sorogendem, sarcep, pitik - pitikan dan lain-lain.
Bicara desa pasti memiliki gardu / gapura, gardu untuk menandai bahwa disana ada pemukiman, dan sebagai pintu masuk utama desa. Desa kembangan sendiri memiliki tiga gardu, yaitu gardu utama adalah gardu kulon (barat) yang letaknya persis didepan rumah wak soradi (tukang potong). yang kedua ada di sebelah timur tepat didepannya rumah wak museni RT 6. yang ketiga di RT 7. tepatnya depan rumah wak kastolan yang sekarang tepat berada diwarung kopi joko saeah.
Gambaran gardu utama di embong kulon, menurut prasojo kaniraras digambarkan persis seperti gambar yang nampak pada header artikel ini.
artikel pic asli di
http://kembangan01.blogspot.co.id/20...aran-desa.html
Quote:
Mengenang Alam dan Sosial Desa Paremono 1970-an
Mencoba kembali memutar ingatan ke keadaan Desa Paremono di tahun 1970-an yang segera terbayang adalah sebuah suasana desa yang masih sangat tradisional. Jika ingin melihat visualisasi yang hampir mirip dengan gambaran tersebut, kita bisa menyaksikan film Ateng Minta kimpoi. Melalui internet di situs YouTube, saya pernah menyaksikan film ini sampai berkali-kali untuk mengenang kembali gambaran suasana yang sangat mirip dengan desa Paremono pada tahun 1970-an.
Film itu diproduksi sekitar tahun 1974. Sebagian besar shooting atau pengambilan gambarnya dilakukan di luar ruang (out door) di Desa Bojong, tetangga utara Desa Paremono yang dibatasi jalan raya yang membentang dari Semarang ke Jogja. Selain dibintangi oleh Ateng (alm) film itu juga melibatkan bintang lain seperti Eddy Sud (alm), Titik Puspa, Vivi Sumanti, Iskak (alm) dan penyanyi keroncong Eny Kusrini.
Ada beberapa scene (gambar) yang mengambil lokasi di Desa Paremono, yakni adegan memandikan kerbau di (bendungan) Kali Kuning yang menjadi bagian pembuka (opening) film ini. Di scene ini, beberapa warga Paremono dilibatkan sebagai figuran. Yang saya ingat adalah putra pertama Pak Su Tegalo ( saya lupa namanya, di film itu ia berambut kuncung) dan Latief (Krapyak, mantan pemain sepak bola kebanggaan Paremono, PORPA). Scene lain adalah sebuah adegan yang menggambarkan Tatiek Wardijono memberikan surat dari Vivi Sumanti untuk Ateng.
Rumah-rumah gedhek (anyaman kulit luar bambu) yang sebagian besar berlantai tanah, halaman-halaman luas berdebu dengan hamparan kepang-kepang untuk menjamur gabah, dan rimbunnya rumpun-rumpun bambu adalah sebuah gambaran umum desaku di masa lalu. Jarak antar rumah masih jarang. Terdapat kolam-kolam tempat mandi dan mencuci dengan kali yang airnya jernih dan di atasnya melintang jembatan bambu. Beberapa kandang kerbau menyelip di antara bangunan-bangunan rumah. Di tiang-tiang kandang itu dipasangi balok melintang yang menjadi penahan kerbau agar tidak keluar kandang.
Sebagian dari bangunan kandang dijadikan tempat untuk menampung lesung kayu besar untuk menumbuk padi. Alat transportasi umum berupa andong. Tak ada suara motor atau mobil lewat. Di bagian film itu juga digambarkan sepur trutuk berhenti di stasiun (Blabak?--sampai tahun 1976 jalur rel yang menghubungkan Semarang-Jogja yang dilewati oleh sepur trutuk masih hidup. Gara-gara banjir lahar dingin yang menjebol jembatan Kali Krasak tahun 1977 menyebabkan jembatan kereta api yang melintasi sungai tersebut ambrol dan tidak diperbaiki sampai saat ini) , suasana pasar tradisional tempat berkumpul pedagang tradisional yang menggelar dagangan di lapak-lapak seadanya. Benar-benar sebuah lintasan potret masa lalu desaku dan lingkungannya yang masih bisa kita saksikan secara visual.
Ihwal rumah-rumah gedhek, ada sisi masa lalu menarik yang bisa diungkap untuk menggambarkan betapa nilai-nilai kebersamaan, kegotongroyongan dan solidaritas warga sangat kental waktu itu. Benar-benar guyup dan rukun. Apabila ada warga desa yang sedang membangun rumah, para tetangga sekitar akan ramai-ramai membantu yang disebut sebagai sambatan. Mereka bekerja bergotong royong tanpa imbalan uang kecuali para tukang kayu. Imbalan yang sering diterima adalah makanan yang diantarkan langsung dari rumah orang yang nyambat ke para warga sekitar yang ikut bekerja. Namanya munjung (dari kata punjung) atau ter-ter (dari kata ngeteri-eteri, memberi antaran)
Wadah punjungan biasanya berupa bakul yang terbuat dari anyaman bambu (ceting). Nasi ditaruh di bagian paling bawah dan diatasnya diberi pembatas alas daun pisang yang dipotong melingkar mengikuti bentuk bakul. Lauk pauk yang ditaruh di piring beralas daun pisang biasanya terdiri atas sambal goreng kentang-krecek atau buncis, mi kuning atau bihun goreng, dua biji telur bebek rebus yang masing-masing dipotong menjadi dua bagian atau dendeng daging yang ditaruh di atas serundeng dilengkapi ento-ento (gorengan tepung beras yang dibumbui ketumbar, kemiri, santan dan garam yang dibentuk bulatan kecil-kecil), perkedel serta kerupuk udang. Agar tidak tumpah dan mudah membawanya, punjungan ini dibungkus dengan taplak meja dan diikat dengan cara mempertemukan keempat pojok taplak meja tersebut di bagian atasnya.
Sambatan yang melibatkan banyak warga sekitar biasanya hanya berlangsung dua hari. Pekerjaan yang tersisa biasanya ditangani oleh para tukang kayu dan sebagian kecil warga kampung yang memang diminta tolong untuk membantu penyelesaian bangunan dengan imbalan upah. Sudah menjadi tradisi pula, saudara-saudara yang tempat tinggalnya agak jauh akan datang membantu dengan menyumbang uang atau beberapa bahan makanan seperti beras, kelapa, bihun atau mi kuning kering, gula dan teh. Sebagai timbal balik, mereka inipun akan menerima punjungan pula.
Hanya keluarga-keluarga yang tergolong sangat mampu saja yang memiliki bangunan rumah permanen (gedong). Di film Ateng Minta kimpoi yang mirip dengan gambaran di desaku, rumah-rumah gedong itu berlantai tinggi dengan tembok tebal. Lantai biasanya telah diplester dengan semen (dijubin) dengan dua atau tiga tangga memanjang. Di bagian tengah tangga dilengkapi prosotan atau plengsengan untuk menaikkan sepeda. Dinding bangunan berupa tembok dari bata merah dan semua kayunya dari kayu jati atau kombinasi jati dan nangka.
Di bagian dalam dipasang gebyok dari papan-papan kayu jati sebagai pemisah antarruangan. Hiasan atau aksesori rumah biasanya berupa kapstok tempel (gantungan topi, kopiah atau baju) dilengkapi cermin bulat. Di sisi lain digantungkan patung kayu berupa kepala menjangan bertanduk. Mebel atau perabotan terdiri atas lemari jati, bufet, beberapa biji kursi dengan dudukan dan sandaran dari anyaman rotan dan alas meja bulat dari marmer. Semua mebel dan aksesori tersebut, jika dilihat dengan kaca mata saat ini sudah termasuk kategori benda-benda antik yang diburu para kolektor dan bernilai jual tinggi.
Setiap dusun yang rata-rata terdiri dari 50- 70 kepala keluarga (KK) paling-paling hanya memiliki satu atau dua rumah tembok. Bentuk bangunan berupa joglo atau limasan biasanya berada di lahan yang cukup luas. Halamannya jika siang hari digunakan untuk menjemur gabah dan di sore atau malam hari sering menjadi tempat bermain anak-anak di kala senggang sepulang sekolah maupun sewaktu terang bulan purnama. Permainan anak-anak yang sangat populer waktu itu adalah petak umpet (jelumpet), gobak sodor, kelereng , ular naga, bentik, sepak bola dan tinju (boksen). Variasi permainan lainnya antara lain mandi rame-rame di kolam (blumbang ) milik warga sambil perang air, terjun dari pohon atau pagar kolam ke air, dan pertandingan menyelam dan sebagainya.
Infrastruktur desa waktu itu masih menggambarkan sebuah potret “desa tertinggal” yang kental dengan tradisi masyarakat petani. Tanah-tanah yang luas dan kebun kosong masih cukup mudah dijumpai di berbagai pelosok desa. Tidak sebagaimana saat ini yang untuk mencari tanah kosong saja sulit dan jarak antarrumah sudah sangat rapat ibarat genteng rumah satu ketemu dengan genteng rumah yang lain.
Burung Jalak Suren Teman Petani
Jika musim kemarau mencapai puncaknya, suasana malam begitu dingin (bediding). Udara dingin menembus sela-sela dinding gedhek yang dilapisi kepang menyebabkan selimut (berupa kain sarung atau kain jarit) harus menutup seluruh tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki sepanjang malam. Saat bangun di pagi hari, udara dingin menusuk sampai ke tulang sumsum menyebabkan bibir biru dan saat berbicara mengeluarkan asap (persis seperti para bintang film Barat berdialog di film saat musim dingin). Burung jalak suren tak henti berkicau di pohon cangkring yang tengah berbunga lebat (kembang celung). Sekumpulan burung trotokan berlarian sambil mengeluarkan bunyi sangat riuh-rendah di pohon amplas (rempelas) yang rimbun sambil menjatuhkan buah-buah amplas yang sudah matang. Di sana-sini terlihat beberapa kelompok orang menyalakan tumpukan larahan, daun bambu kering untuk berdiang, menghangatkan badan. Dalam balutan musim seperti ini, sudah biasa jika mendapatkan kulit kaki dan tangan pecah-pecah dan berwarna putih (busiken). Sebagian warga, terutama anak-anak sekolah menyiasati hal ini dengan mengoleskan minyak goreng (lengo klentik) agar kaki dan tangan kelihatan lebih halus.
Pada musim kemarau seperti ini, para petani biasanya tengah menanam tembakau. Banyak warga Paremono yang mengandalkan jenis tanaman ini sebagai sarana memperoleh rejeki besar. Jika musim sedang bersahabat (tidak pernah turun hujan dalam jangka waktu panjang) dan harga tembakau sedang bagus, banyak warga desa yang berhasil menjadi petani kaya dadakan. Namun jika musim sedang kurang berpihak dan harga komoditas ini anjlok, banyak pula warga desa yang stress dan angles (loyo) hidupnya. Pasalnya tanaman tembakau biasanya menguras modal, tenaga dan pikiran para petani. Komoditas ini juga banyak membuka lapangan kerja bagi masyarakat sejak tanaman ini akan ditanam hingga masa panen. Jika masa panen tembakau mencapai puncaknya, suasana desa sangat hidup hampir 24 jam sehari.
Kembali ke sawah, sehabis panen padi, kumpulan-kumpulan burung kuntul dan blekok yang putih hinggap mencari makan berupa cacing tanah di pagi dan sore hari. Burung jalak suren menjadi teman para pembajak sawah. Satu-dua hinggap di tubuh kerbau mencari kutu kerbau. Sekitar jam 08.00 istri pemilik sawah akan datang membawa minuman teh manis panas (tehnya cap Tjatoet kemasan biru) yang dibawa di ceret. Bersama minuman, dibawa pula nyamikan seperti misalnya ketan dengan parutan kelapa , ketan salak (wajik gula jawa yang dimakan dengan cocolan parutan kelapa) , tempe goreng atau pisang goreng untuk disantap pembajak sawah.
Di sungai-sungai yang mengalir di pinggir-pinggir atau menembus tengah desa, masih cukup mudah menjumpai ikan-ikan seperti lele lokal (lele asli, endemik Jawa), tawes, gabus (kotes), wader, uceng dan mujair. Di beberapa lokasi sepanjang sungai, cukup banyak kita jumpai warga yang membuat kubangan diberi pembatas gundukan tanah ditutupi ranting-ranting pohon (siwakan) untuk menjebak ikan agar masuk dan berumah di situ.
Jika sedang beruntung, setelah dibiarkan beberapa bulan, dari siwakan ini bisa dipanen berkilo-kilo ikan yang sebagian bisa dijual dan sebagian dimakan sebagai lauk sekeluarga. Masakan mangut lele yang disantap dengan nasi panas beras Jawa (varietas beras lokal yang rasanya sangat enak) adalah makanan paling mewah dan nikmat bagi warga kebanyakan. Pada saat-saat tertentu (biasanya menjelang Lebaran atau mau mengadakan pesta pernikahan) , warga yang memiliki kolam akan mengeringkan kolam untuk diambil ikannya. Selain mendapatkan ikan yang benihnya ditebar sendiri seperti gurame yang besar (bahkan ada yang sebesar bantal), akan didapatkan pula ikan-ikan pendatang seperti lele, mujair, belut, tawes dan wader.
Di beberapa sungai agak besar seperti Kali Kuning atau Kali Kunjang yang memiliki kubangan air cukup dalam dan dekat tebing dengan pohon-pohon semak yang rimbun, di kubangan air tersebut pada saat-saat tertentu masih bisa kita lihat berang-berang (regul) yang biasa memangsa ikan. Berang-berang itu membuat lubang (rumah) perlindungan dengan cara melubangi pinggir tebing. Tetanggaku yang punya kebiasaan mencari ikan di malam hari menyusuri sungai (ngobor, nyuluh), suatu saat pernah membawa pulang seekor berang-berang yang kemudian dimasak gulai. Untuk menangkap berang-berang, yang sering dilakukan adalah dengan cara membuat api dan mengasapi lubang perlindungan berang-berang secara terus-menerus. Akibat kepanasan dan tidak kuat dengan bau asap membuat berang-berang tersebut keluar dari lubang persembunyiannya. Saat-saat inilah menjadi hiruk-pikuk karena orang-orang yang sudah sekian lama menunggu di depan lubang akan berteriak-teriak mengejar dan menangkap berang-berang tersebut.
mencari belut sawah
Saat sawah selesai dibajak (digaru) dan siap ditanam bibit padi, di situ cukup mudah menemukan belut sawah yang ukurannya kecil-kecil tapi rasanya sangat gurih. Di beberapa kolam milik warga juga bisa ditemukan moa (belut bertelinga, pelus) sebesar pergelangan tangan orang dewasa.
Pak Lik ku yang sekarang bermukim di nDeli (Sumatera Utara) sebagai transmigran swakarsa awal tahun 1970-an pernah menangkap seekor moa. Saking besarnya, saat membawa pulang, moa tersebut dipanggul di pundak. Di manakah jenis-jenis satwa yang dulu menghuni lingkungan pedesaan dan sangat akrab dengan kehidupan keseharian warga desa? Dimana burung jalak suren, jalak pito, pelatuk, betet atau kuntul? Di mana satwa-satwa air tawar seperti lele lokal, moa atau berang-berang?
Kembali ke tahun 1970-an, waktu itu kendaraan bermotor roda dua, apalagi roda empat masih sangat langka. Beberapa merek motor yang dimiliki oleh sangat sedikit warga Paremono adalah BMW , BSA, AJS ,Vespa atau DKW. Kendaraan bermesin roda dua yang disebut terakhir ini tergolong sangat unik karena bisa dikendarai dengan cara menghidupkan mesin atau dikayuh layaknya sepeda. Kendaraan roda dua keluaran Jepang waktu itu bisa dikatakan belum dikenal dan baru merajalela di akhir tahun 1970-an.
Akan halnya kendaraan roda empat, di lingkungan saya orang yang pertama kali memiliki kendaraan ini adalah Mbah Djo sekitar tahun 1973. Jenisnya adalah oplet yang disopiri oleh Pak Slam, putera sulungnya. Kendaraan penumpang ini melayani rute Muntilan-Magelang dan pada saat-saat tertentu disewa untuk kendaraan pengangkut rombongan pengantin.
Sore hari sebelum masuk ke garasi, oplet ini biasanya dicuci di Kali Kuning. Pada saat seperti itu, satu dua kali saya pernah ikut numpang, sekadar merasakan “nikmatnya” naik mobil sesaat.
artikel asli lengkap di
http://paremonobloggercom.blogspot.c...-paremono.html
-------
