- Beranda
- Stories from the Heart
Love My Hater
...
TS
gilbertagung
Love My Hater
WELCOME TO MY THREAD
Selamat malam Kaskuser, kali ini ane akan mem-postingsebuah cerita bersambung atau cerbung karya ane, judulnya...
Spoiler for Judulnya...:
Bagaimana jika kau mencintai seseorang yang justru sangat iri dan membenci dirimu? Apakah kau akan tetap berusaha memenangi hatinya atau kau akan menyerah dan mencari cinta yang lain?
Cerita ini hanya karangan fiktif belaka.
Quote:
Diubah oleh gilbertagung 29-03-2018 00:17
anasabila memberi reputasi
1
9.3K
36
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gilbertagung
#26
Part 11 - Perpisahan
Part 11 - Perpisahan
"Aku ingin minta maaf pada..." Claudia melanjutkan. Julia dan Friedrich menanti jawabannya dengan harap-harap cemas.
"Julia." Begitu namanya disebut oleh Claudia, Julia langsung terpukul.
"Maaf, Julia! Aku tak bisa meninggalkan Friedrich. Kami sudah saling mencintai dan tak terpisahkan. Dengan penuh pertimbangan, aku memilih Friedrich." Claudia menyelesaikan pilihannya. Julia sangat kecewa karena Claudia mengakhiri 14 tahun persahabatan mereka demi seorang lelaki yang baru dikenalnya sejak SMP.
"Baiklah, Claudia. Gue hormati keputusanmu tapi ingatlah. Lo bakal menyesali pilihan lo ini. Mulai sekarang, jangan pernah kontak atau nyapa gue lagi. Persahabatan kita putus sampai lo mengubah keputusan lo!" Ujar Julia sambil menjatuhkan rokok yang masih menyala ke lantai semen dan menginjaknya dengan sepatu kanannya. Ia berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Julia!" Claudia memanggil namun Julia tak meggubrisnya.
"Sudahlah, sayang! Julia hanya sedang dalam emosi buruk saja! Kalau hatinya sudah tenang dan pikirannya sudah jernih, ia akan kembali seperti biasa." Friedrich berusaha menenangkan Claudia yang mulai menitikkan air mata dan menyandarkan kepalanya ke dada Friedrich.
"Sayang, apa keputusanku ini benar?" Claudia mulai meragukan keputusan yang baru saja ia buat.
"Aku gak bisa bilang keputusanmu benar atau enggak. Tapi yang jelas, kita jangan mendekati Julia dulu. Dia sekarang gak ingin melihat apalagi berbicara dengan kita. Kita biarkan dulu dia tenang." Friedrich menguatkan Claudia.
Keesokan harinya, Claudia dan Friedrich pergi ke kampus, seperti biasa. Ketika mereka masuk ke dalam kelas, mereka tidak melihat Julia. Mereka khawatir bila terjadi sesuatu yang buruk terhadap Julia.
"Julia ke mana ya? Apa perasaannya masih terluka dengan kejadian kemarin dan ia pergi ke suatu tempat." Claudia bertanya-tanya.
"Entahlah." Friedrich tidak tahu.
"Julia baik-baik saja kok." Tiba-tiba Sofie menyela pembicaraan mereka.
"Maksud kamu?!" Tanya Claudia kebingungan.
"Julia hanya sedang terpukul mentalnya saja dan butuh ketenangan. Jadi, ia selama seminggu ke depan akan cuti kuliah. Tapi, aku gak tahu apa yang buat dia terpukul." Terang Sofie.
Claudia mulai diliputi perasaan bersalah. Ia takut Julia yang kecewa dengan keputusan yang ia buat kemarin akan melakukan sesuatu yang berbahaya.
Sementara itu, sambil duduk di lantai kamar kos dan menghisap rokok, Julia sedang memikirkan sesuatu. Terbayang saat ibunya memperkenalkan pacar barunya, 9 tahun lalu.
"Julia, Dieser Mann ist mein Freund, Joseph. Wir werden heiraten. Joseph, Sie ist meine Tochter, Julia. (Julia, pria ini adalah pacarku. Kami akan menikah. Joseph, dia anakku, Julia.)" kata ibu dalam bahasa Jerman.
"Julia, bleib bei uns! (Julia, tinggallah bersama kami!)" Pria itu mengajak Julia.
"Nein! Ich will das nicht! Mutter, bitte nicht! (Tidak! Aku tidak mau! Ibu, kumohon jangan!)" Julia memohon.
"Es tut mir leid, Julia! Ich konnte nicht mehr mit Ihrem Vater zu sein. (Maafkan aku, Julia! Aku tak bisa lagi bersama ayahmu.)" Ibu berkata demikian dan ia pergi keluar dari rumah bersama sang pacar baru.
Hati Julia terasa sangat sakit dan air matanya selalu menetes tiap membayangkan peristiwa itu. Ia tak habis pikir bagaimana ibunya tega meninggalkan ia, kedua adiknya, dan ayahnya dan pergi bersama pria lain. Bayangannya kemudian melangkah 7 tahun ke depan saat ia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Ia berhasil menjadi siswa lulusan terbaik.
"Aku berhasil! Aku berhasil lulus dengan nilai terbaik. Ayah pasti senang!" Julia melangkahkan kakinya kegirangan membayangkan bagaimana ayahnya akan membanggakan sang putri. Sampai ada sebuah panggilan masuk.
"Hallo, ich bin Julia. (Halo, ini Julia.)" Julia membuka percakapan. Terdengar suara tangisan dari dalam ponsel.
"Halo, Minami! Ada apa?! Kenapa menangis?" Julia menjadi panik.
"Ayah meninggal, kak!" dua kata pertama dari tiga kata yang diucapakan sang kakak cukup membuat Julia terdiam sejenak kemudian sekuat tenaga berlari menuju ke rumah sakit sambil menahan air matanya agar tidak menetes dulu. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju kamar sang ayah. Ketika ia membuka pintu, tampak kedua adiknya duduk di samping ayah yang sudah terbaring kaku di tempat tidurnya. Julia sudah tak dapat lagi menahan air matanya.
"Vater! Vater! Vater!! (Ayah! Ayah! Ayah!!)" Julia mengguncang tubuh sang ayah namun tak ada respon apapun dari sang raga. Julia mulai menangisi kepergian ayahnya.
Kembali ke alam nyata, air mata Julia kali ini benar-benar tumpah. Entah sudah yang keberapa kali ingatan akan peristiwa itu membuatnya menangis. Ia berusaha agar ingatan tersebut tak lagi menghantuinya namun ia selalu saja datang.
"Friedrich, aku ingin tahu kenapa orang tua kamu bercerai." Claudia tiba-tiba bertanya. Friedrich terkejut.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya seperti itu?" respon Friedrich yang terkejut.
"Aku cuma ingin tahu alasan Julia membencimu dari sudut pandangmu." Claudia menjelaskan.
"Ayahku itu seorang rentenir. Dia memberi pinjaman dengan bunga cukup tinggi. Ibu Julia suatu hari meminjam uang kepada ayahku untuk menutupi biaya pengobatan ayah Julia. Ayahku pada awalnya menolak karena tahu keluarga Julia tidak akan bisa membayarnya. Namun, ia memberikan pilihan. Jika ibu Julia mau menikah dengan ayahku, ia akan menanggung biaya pengobatannya secara cuma-cuma. Tapi, keduanya harus berpisah dengan pasangan masing-masing. Jadi, ayahku bercerai dari ibuku dan ibu Julia bercerai dari ayah Julia." Friedrich menjelaskan.
"Jadi, ibu Julia menikahi ayahmu bukan karena cinta?" Claudia mulai kebingungan.
"Iya. Sebenarnya ibu Julia hanya terpaksa menikahi ayahku agar bisa membiayai pengobatan suaminya. Tetapi, ia tak tahu kalau ayah Julia lebih membutuhkan kehadirannya daripada pengobatan." Friedrich melanjutkan.
"Lantas, bagaimana kehidupan pernikahan mereka sekarang?" Claudia kembali bertanya.
"Kehidupan mereka berantakan. Ayahku meninggal tahun lalu karena kecelakaan lalu lintas. Ibu Julia, meski mendapat warisan dari ayahku lumayan besar, hidupnya suram sejak ia tahu ayah Julia sudah meninggal. Ia setiap hari hanya menyesali pilihan yang sudah dibuatnya dulu." Friedrich menerangkan.
"Ngomong-ngomong, siapa yang memberitahumu? Kau 'kan baru tahu kalau ayahmu menikah lagi dengan ibunya Julia setelah Julia mengakui semuanya." Tanya Claudia.
"Kemarin ketika aku tahu semuanya, aku langsung menanyakannya kepada ibuku. Ibuku ternyata menyimpan rapat-rapat soal pernikahan kedua ayahku selama ini dariku. Aku memaksanya untuk menceritakan dan ia akhirnya mau." Terang Friedrich.
"Sayang, apa kamu tahu di mana ibu Julia tinggal? aku punya sebuah ide." Claudia tiba-tiba merencanakan sesuatu.
"Iya. Memangnya apa idemu?" Tanya Friedrich.
"Aku ingin minta maaf pada..." Claudia melanjutkan. Julia dan Friedrich menanti jawabannya dengan harap-harap cemas.
"Julia." Begitu namanya disebut oleh Claudia, Julia langsung terpukul.
"Maaf, Julia! Aku tak bisa meninggalkan Friedrich. Kami sudah saling mencintai dan tak terpisahkan. Dengan penuh pertimbangan, aku memilih Friedrich." Claudia menyelesaikan pilihannya. Julia sangat kecewa karena Claudia mengakhiri 14 tahun persahabatan mereka demi seorang lelaki yang baru dikenalnya sejak SMP.
"Baiklah, Claudia. Gue hormati keputusanmu tapi ingatlah. Lo bakal menyesali pilihan lo ini. Mulai sekarang, jangan pernah kontak atau nyapa gue lagi. Persahabatan kita putus sampai lo mengubah keputusan lo!" Ujar Julia sambil menjatuhkan rokok yang masih menyala ke lantai semen dan menginjaknya dengan sepatu kanannya. Ia berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Julia!" Claudia memanggil namun Julia tak meggubrisnya.
"Sudahlah, sayang! Julia hanya sedang dalam emosi buruk saja! Kalau hatinya sudah tenang dan pikirannya sudah jernih, ia akan kembali seperti biasa." Friedrich berusaha menenangkan Claudia yang mulai menitikkan air mata dan menyandarkan kepalanya ke dada Friedrich.
"Sayang, apa keputusanku ini benar?" Claudia mulai meragukan keputusan yang baru saja ia buat.
"Aku gak bisa bilang keputusanmu benar atau enggak. Tapi yang jelas, kita jangan mendekati Julia dulu. Dia sekarang gak ingin melihat apalagi berbicara dengan kita. Kita biarkan dulu dia tenang." Friedrich menguatkan Claudia.
Keesokan harinya, Claudia dan Friedrich pergi ke kampus, seperti biasa. Ketika mereka masuk ke dalam kelas, mereka tidak melihat Julia. Mereka khawatir bila terjadi sesuatu yang buruk terhadap Julia.
"Julia ke mana ya? Apa perasaannya masih terluka dengan kejadian kemarin dan ia pergi ke suatu tempat." Claudia bertanya-tanya.
"Entahlah." Friedrich tidak tahu.
"Julia baik-baik saja kok." Tiba-tiba Sofie menyela pembicaraan mereka.
"Maksud kamu?!" Tanya Claudia kebingungan.
"Julia hanya sedang terpukul mentalnya saja dan butuh ketenangan. Jadi, ia selama seminggu ke depan akan cuti kuliah. Tapi, aku gak tahu apa yang buat dia terpukul." Terang Sofie.
Claudia mulai diliputi perasaan bersalah. Ia takut Julia yang kecewa dengan keputusan yang ia buat kemarin akan melakukan sesuatu yang berbahaya.
Sementara itu, sambil duduk di lantai kamar kos dan menghisap rokok, Julia sedang memikirkan sesuatu. Terbayang saat ibunya memperkenalkan pacar barunya, 9 tahun lalu.
"Julia, Dieser Mann ist mein Freund, Joseph. Wir werden heiraten. Joseph, Sie ist meine Tochter, Julia. (Julia, pria ini adalah pacarku. Kami akan menikah. Joseph, dia anakku, Julia.)" kata ibu dalam bahasa Jerman.
"Julia, bleib bei uns! (Julia, tinggallah bersama kami!)" Pria itu mengajak Julia.
"Nein! Ich will das nicht! Mutter, bitte nicht! (Tidak! Aku tidak mau! Ibu, kumohon jangan!)" Julia memohon.
"Es tut mir leid, Julia! Ich konnte nicht mehr mit Ihrem Vater zu sein. (Maafkan aku, Julia! Aku tak bisa lagi bersama ayahmu.)" Ibu berkata demikian dan ia pergi keluar dari rumah bersama sang pacar baru.
Hati Julia terasa sangat sakit dan air matanya selalu menetes tiap membayangkan peristiwa itu. Ia tak habis pikir bagaimana ibunya tega meninggalkan ia, kedua adiknya, dan ayahnya dan pergi bersama pria lain. Bayangannya kemudian melangkah 7 tahun ke depan saat ia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Ia berhasil menjadi siswa lulusan terbaik.
"Aku berhasil! Aku berhasil lulus dengan nilai terbaik. Ayah pasti senang!" Julia melangkahkan kakinya kegirangan membayangkan bagaimana ayahnya akan membanggakan sang putri. Sampai ada sebuah panggilan masuk.
"Hallo, ich bin Julia. (Halo, ini Julia.)" Julia membuka percakapan. Terdengar suara tangisan dari dalam ponsel.
"Halo, Minami! Ada apa?! Kenapa menangis?" Julia menjadi panik.
"Ayah meninggal, kak!" dua kata pertama dari tiga kata yang diucapakan sang kakak cukup membuat Julia terdiam sejenak kemudian sekuat tenaga berlari menuju ke rumah sakit sambil menahan air matanya agar tidak menetes dulu. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju kamar sang ayah. Ketika ia membuka pintu, tampak kedua adiknya duduk di samping ayah yang sudah terbaring kaku di tempat tidurnya. Julia sudah tak dapat lagi menahan air matanya.
"Vater! Vater! Vater!! (Ayah! Ayah! Ayah!!)" Julia mengguncang tubuh sang ayah namun tak ada respon apapun dari sang raga. Julia mulai menangisi kepergian ayahnya.
Kembali ke alam nyata, air mata Julia kali ini benar-benar tumpah. Entah sudah yang keberapa kali ingatan akan peristiwa itu membuatnya menangis. Ia berusaha agar ingatan tersebut tak lagi menghantuinya namun ia selalu saja datang.
"Friedrich, aku ingin tahu kenapa orang tua kamu bercerai." Claudia tiba-tiba bertanya. Friedrich terkejut.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya seperti itu?" respon Friedrich yang terkejut.
"Aku cuma ingin tahu alasan Julia membencimu dari sudut pandangmu." Claudia menjelaskan.
"Ayahku itu seorang rentenir. Dia memberi pinjaman dengan bunga cukup tinggi. Ibu Julia suatu hari meminjam uang kepada ayahku untuk menutupi biaya pengobatan ayah Julia. Ayahku pada awalnya menolak karena tahu keluarga Julia tidak akan bisa membayarnya. Namun, ia memberikan pilihan. Jika ibu Julia mau menikah dengan ayahku, ia akan menanggung biaya pengobatannya secara cuma-cuma. Tapi, keduanya harus berpisah dengan pasangan masing-masing. Jadi, ayahku bercerai dari ibuku dan ibu Julia bercerai dari ayah Julia." Friedrich menjelaskan.
"Jadi, ibu Julia menikahi ayahmu bukan karena cinta?" Claudia mulai kebingungan.
"Iya. Sebenarnya ibu Julia hanya terpaksa menikahi ayahku agar bisa membiayai pengobatan suaminya. Tetapi, ia tak tahu kalau ayah Julia lebih membutuhkan kehadirannya daripada pengobatan." Friedrich melanjutkan.
"Lantas, bagaimana kehidupan pernikahan mereka sekarang?" Claudia kembali bertanya.
"Kehidupan mereka berantakan. Ayahku meninggal tahun lalu karena kecelakaan lalu lintas. Ibu Julia, meski mendapat warisan dari ayahku lumayan besar, hidupnya suram sejak ia tahu ayah Julia sudah meninggal. Ia setiap hari hanya menyesali pilihan yang sudah dibuatnya dulu." Friedrich menerangkan.
"Ngomong-ngomong, siapa yang memberitahumu? Kau 'kan baru tahu kalau ayahmu menikah lagi dengan ibunya Julia setelah Julia mengakui semuanya." Tanya Claudia.
"Kemarin ketika aku tahu semuanya, aku langsung menanyakannya kepada ibuku. Ibuku ternyata menyimpan rapat-rapat soal pernikahan kedua ayahku selama ini dariku. Aku memaksanya untuk menceritakan dan ia akhirnya mau." Terang Friedrich.
"Sayang, apa kamu tahu di mana ibu Julia tinggal? aku punya sebuah ide." Claudia tiba-tiba merencanakan sesuatu.
"Iya. Memangnya apa idemu?" Tanya Friedrich.
Diubah oleh gilbertagung 16-04-2016 20:56
0
