- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.3K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#518
Teduh – Part 6
Ujian nasional tinggal 3 bulan lagi. Kata – kata tersebut hampir sering di ucapkan oleh seluruh guru mata pelajaran yang mengajar kami, terutama guru matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan guru jurusan. Jam pelajaranpun ditambah agar mengoptimalisasi siswa dalam belajar. Bahkan pada saat jam tambahan bukan guru mata pelajaran yang mengisi, tapi guru bimbel yang sengaja dibayar oleh sekolah.
Logaritma, salah satu sub materi matematika yang akan di UN-kan terasa sulit untuk ku fahami. Aku sudah bertanya beberapa kali tetapi masih saja tidak bisa mengerjakan satu soalpun. Guru bimbelpun kebingungan bagaimana caranya untuk menjelaskan materi ini.
Materi demi materi matematika masuk kedalam fikiranku, namun entah 30 menit kedepan entah materi itu hilang terbawa langkah atau terbawa kerumitan yang lain. Guru bimbel tak henti menjejal – jejalkan materi kepada 30 kepala siswa kelasku. Kiri kananku sudah banyak yang menguap – nguap, bahkan di meja pojok belakang sudah ada yang masuk ke alam mimpi.
Aku memperhatikan isi kelasku. Di sini, foto – foto kami tergantung. Dari mulai kami saat pertama masuk, saat kami menjuarai futsal, beberapa dokumentasi saat lomba 17 agustus, foto wali kelasku saat kelas 1 sampai kelas 3, foto saat ujian praktek seni budaya, dan masih banyak lagi rangkaian foto yang menggantung di dinding sebagai saksi perjalanan putih abu – abu.
Dulu saat pertama kali kami menginjakan kaki di sekolah ini, kami ingin segera lulus. Namun saat di penghujung masa putih abu – abu kami malah ingin mengulang kembali kenangan – kenangan kami. Adri, ia selalu jail kepada anak perempuan sehingga ia di sebut si tengil. Rendi, orang yang susah untuk menyampaikan isi hatinya kepada sang pujaan. Aku ingat saat dulu ia menembak Icha di lapangan utama tangannya begitu bergetar hebat saat akan mengeluarkan mawar dari tasnya. Novita, perempuan yang hampir tiap minggu selalu berbagi cerita tentang kehidupannya. Evan sang predator, begitu ia dijuluki oleh siswa disini. Senggol dikit bacok, itulah filosofi yang sering ia gunakan. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku ceritakan tentang keaneka ragaman teman sekelasku.
Memang, kini dalam hatiku tumbuh benih – benih perasaan untuk seseorang yang menjadi teduh ku. Dean, entah bagaimana caranya ia bisa melunakan hatiku yang sempat beku karena Octa. Talk less do more, ia selalu begitu kepadaku. Aku sering salah tingkah dengan apa yang dia lakukan. Ada keinginan dalam diriku untuk menyatakan perasaan ini. Tapi bila sekarang? Terlalu dini untuk menyampaikannya. Aku masih perlu mengenal calon teman hidupku ini. Begitupun dia.
Ada suatu rencana untuk menyampaikan perasaanku nanti. Bukan sekedar “Mau jadi pacar aku?” cara itu terlalu biasa – biasa saja, apalagi dengan mawar ataupun coklat itu terlalu biasa. Namun aku masih bingung dengan cara apa? Aku ingin sesuatu yang aku buat sendiri untuk menyampaikan perasaan ini. Masalah di terima atau tidaknya biar dia dan Tuhan yang menjawab
Langit yang asalnya berwarna abu – abu kini kembali menjadi biru. Musim hujan telah berganti. Sejatinya mungkin musim untukkupun berubah. Aku mulai berbenah diri menjadi lebih baik. Mempersiapkan segala hal untuk masa depanku nanti. Ujian Sekolah, Ujian Kompetensi Nasional, dan Ujian Nasional telah menungguku.
Kegiatan manggung di kurangi karena kami memutuskan untuk lebih mementingkan penampilan kami. Dean selalu bisa menolak dengan halus tawaran manggung yang silih berganti datang. Kami sendiri menjadi rajin diam di perputsakaan sekolah.
“Coba kalo hari minggu perpus sekolah ga tutup kita ga usah ke perpus daerah.” Dean menggaruk – garukan kepalanya ia bingung. “Sama – sama aja perpustakaan ngapain harus dipermasalahin.” Ujarku santai.
Tumpukkan buku membatasi kami. Dean mempelajari tenses inggris, sedangkan aku masih kelabakan di mata pelajaran matematika. Angka demi angka saling bekerja sama untuk memusingkan kepalaku. Dan hasilnya? Angka – angka tersebut mampu menyelesaikan tugasnya. Terimakasih matematika telah membuatku uring – uringan.
Dean terlihat santai memahami tenses. Tidak seperti aku yang kelabakan mempelajari logaritma. Ia santai membuka halaman demi halaman buku. Kadang ia membetulkan letak kacamatanya.
Ujian nasional tinggal 3 bulan lagi. Kata – kata tersebut hampir sering di ucapkan oleh seluruh guru mata pelajaran yang mengajar kami, terutama guru matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan guru jurusan. Jam pelajaranpun ditambah agar mengoptimalisasi siswa dalam belajar. Bahkan pada saat jam tambahan bukan guru mata pelajaran yang mengisi, tapi guru bimbel yang sengaja dibayar oleh sekolah.
Logaritma, salah satu sub materi matematika yang akan di UN-kan terasa sulit untuk ku fahami. Aku sudah bertanya beberapa kali tetapi masih saja tidak bisa mengerjakan satu soalpun. Guru bimbelpun kebingungan bagaimana caranya untuk menjelaskan materi ini.
Quote:
Materi demi materi matematika masuk kedalam fikiranku, namun entah 30 menit kedepan entah materi itu hilang terbawa langkah atau terbawa kerumitan yang lain. Guru bimbel tak henti menjejal – jejalkan materi kepada 30 kepala siswa kelasku. Kiri kananku sudah banyak yang menguap – nguap, bahkan di meja pojok belakang sudah ada yang masuk ke alam mimpi.
Aku memperhatikan isi kelasku. Di sini, foto – foto kami tergantung. Dari mulai kami saat pertama masuk, saat kami menjuarai futsal, beberapa dokumentasi saat lomba 17 agustus, foto wali kelasku saat kelas 1 sampai kelas 3, foto saat ujian praktek seni budaya, dan masih banyak lagi rangkaian foto yang menggantung di dinding sebagai saksi perjalanan putih abu – abu.
Dulu saat pertama kali kami menginjakan kaki di sekolah ini, kami ingin segera lulus. Namun saat di penghujung masa putih abu – abu kami malah ingin mengulang kembali kenangan – kenangan kami. Adri, ia selalu jail kepada anak perempuan sehingga ia di sebut si tengil. Rendi, orang yang susah untuk menyampaikan isi hatinya kepada sang pujaan. Aku ingat saat dulu ia menembak Icha di lapangan utama tangannya begitu bergetar hebat saat akan mengeluarkan mawar dari tasnya. Novita, perempuan yang hampir tiap minggu selalu berbagi cerita tentang kehidupannya. Evan sang predator, begitu ia dijuluki oleh siswa disini. Senggol dikit bacok, itulah filosofi yang sering ia gunakan. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku ceritakan tentang keaneka ragaman teman sekelasku.
Quote:
Memang, kini dalam hatiku tumbuh benih – benih perasaan untuk seseorang yang menjadi teduh ku. Dean, entah bagaimana caranya ia bisa melunakan hatiku yang sempat beku karena Octa. Talk less do more, ia selalu begitu kepadaku. Aku sering salah tingkah dengan apa yang dia lakukan. Ada keinginan dalam diriku untuk menyatakan perasaan ini. Tapi bila sekarang? Terlalu dini untuk menyampaikannya. Aku masih perlu mengenal calon teman hidupku ini. Begitupun dia.
Ada suatu rencana untuk menyampaikan perasaanku nanti. Bukan sekedar “Mau jadi pacar aku?” cara itu terlalu biasa – biasa saja, apalagi dengan mawar ataupun coklat itu terlalu biasa. Namun aku masih bingung dengan cara apa? Aku ingin sesuatu yang aku buat sendiri untuk menyampaikan perasaan ini. Masalah di terima atau tidaknya biar dia dan Tuhan yang menjawab
***
Langit yang asalnya berwarna abu – abu kini kembali menjadi biru. Musim hujan telah berganti. Sejatinya mungkin musim untukkupun berubah. Aku mulai berbenah diri menjadi lebih baik. Mempersiapkan segala hal untuk masa depanku nanti. Ujian Sekolah, Ujian Kompetensi Nasional, dan Ujian Nasional telah menungguku.
Kegiatan manggung di kurangi karena kami memutuskan untuk lebih mementingkan penampilan kami. Dean selalu bisa menolak dengan halus tawaran manggung yang silih berganti datang. Kami sendiri menjadi rajin diam di perputsakaan sekolah.
“Coba kalo hari minggu perpus sekolah ga tutup kita ga usah ke perpus daerah.” Dean menggaruk – garukan kepalanya ia bingung. “Sama – sama aja perpustakaan ngapain harus dipermasalahin.” Ujarku santai.
Tumpukkan buku membatasi kami. Dean mempelajari tenses inggris, sedangkan aku masih kelabakan di mata pelajaran matematika. Angka demi angka saling bekerja sama untuk memusingkan kepalaku. Dan hasilnya? Angka – angka tersebut mampu menyelesaikan tugasnya. Terimakasih matematika telah membuatku uring – uringan.
Dean terlihat santai memahami tenses. Tidak seperti aku yang kelabakan mempelajari logaritma. Ia santai membuka halaman demi halaman buku. Kadang ia membetulkan letak kacamatanya.
junti27 dan 4 lainnya memberi reputasi
5