- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#461
Spoiler for Part 56:
“Tolong dong ini diperbaiki lagi..”
“Iya Mas, saya selesaiin laporan ini dulu..”
“Oke makasih ya.”
Katanya sambil meninggalkanku. Hari ini adalah hari yang cukup sibuk di kantor. Laporan-laporan sudah harus diselesaikan akhir minggu ini juga. Aku yang sebagai anak baru harus bisa mengikuti cara kerja yang sudah lama. Memang rasanya cukup lelah, namun aku harus menunjukkan kinerjaku secara baik agar aku dapat tetap bertahan di perusahaan ini. Dari kejauhan aku melihat Zahra menuju mejaku sambil membawa beberapa lembar kertas yang aku tidak tahu itu apa
“Bram, sibuk ngga?” Tanyanya menghampiriku
“Lumayan sih, kenapa emang Zah?”
“Kamu disuruh ke ruangannya Pak Abrar. Katanya dia ada perlu, penting banget.” Jelasnya
“Ada apaan emang? Kok sampe penting banget.” Tanyaku bingung
“Ngga tau juga, aku disuruh nemenin kamu juga. Makanya ayuk sekarang.” Katanya
Dengan masih dalam keadaan bingung, aku meninggalkan kerjaanku sejenak untuk bertemu dengan atasanku Pak Donanta. Dia adalah founder dari perusahaanku bekerja sekarang. Aku dan Zahra sudah ada di depan ruangannya, siap tidak siap aku harus menemuinya karena ini adalah urusan penting. Aku ketuk pintunya dan aku buka perlahan.
“Oh anda Bram? Masuk masuk..” Katanya sambil mempersilahkan aku dan Zahra untuk masuk ke ruangannya
“Iya pak Saya Bram, ada perlu apa ya?” Kataku sambil mendekati mejanya dan disusul dengan Zahra
“Anda ini satu kampus dengan Zahra kan?” Tanyanya
‘”Iya Pak, saya satu kampus dengan Zahra..” Jawabku cukup gugup
“Saya sudah mendengar ceritamu dari Zahra, saya cukup tertarik dengan caramu menyelesaikan masalah. Jadi saya memanggil kamu ke sini untuk sekedar bertukar pendapat.” Jelasnya
“Maksudnya gimana Pak? Saya masih belum mengerti.” Kataku sejujurnya
“Jadi gini, saya sedang membutuhkan tenaga ahli untuk pengembangan proyek saya yang ada di Bali. Dan Zahra menyarankan kamu untuk ikut dalam proyek ini. Katanya tugas akhir kamu sangat sempurna, jadi saya sepertinya membutuhkan kamu dalam proyek ini.” Jelasnya lagi
Bali? Itu lumayan jauh dari sini. Aku juga masih tergolong baru di perusahaan ini, kenapa tidak yang senior saja yang diangkat? Aku masih tidak mengerti
“Kamu duduk dulu, kamu juga Zahra.” Dia mempersilahkan kami untuk duduk
Kami sudah duduk di hadapannya saat ini
“Jadi benar kamu adalah lulusan terbaik?” Tanyanya
“Bisa dikatakan seperti itu Pak..” Jawabku dengan ragu
“Bisa dikatakan? Jadi kamu bukan lulusan terbaik?” Tanyanya lagi
Zahra menyenggol kakiku dengan tangannya, dia memberi isyarat agar aku menjawabnya dengan jujur
“Iya Pak.” Kataku dengan tegas
“Kamu siap untuk ambil kerja lapangan di Bali?”
“Siap Pak.” Kataku tanpa keraguan
“Bagus, ini jawaban yang saya tunggu tunggu. Saya membutuhkan orang yang kerjanya sangat maksimal meskipun masih baru daripada sudah lama tapi tidak kompeten dalam bidangnya. Jadi mulai minggu depan kamu, Zahra dan tim akan berangkat ke sana.” Katanya dengan jelas
Aku menyanggupinya. Dan setelah itu aku dan Zahra meninggalkan ruangannya dan kembali ke meja kerjaku
“Jadi itu maksud lu?” Kataku kepada Zahra
“Iya, sayang banget kalau orang kayak kamu ngga ditaruh di lapangan.” Katanya sambil tersenyum kepadaku
Ini sebuah perubahan yang cukup besar dan cepat dalam proses pekerjaan. Saat aku baru masuk beberapa bulan sudah bisa berpindah ke divisi lain. Dan akhirnya aku mengembalikan laporan yang harus ku kerjakan kepada orang lain karena aku akan berpindah tempat dengan yang lain
Sore pun tiba, hari kerja sudah usai. Aku berniat untuk menjemput Dinda hari ini, namun ternyata Dinda sudah ada di rumahku menemani Nanda. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja. Saat ku turuni lantai gedung ini, aku melihat Zahra sedang berinteraksi dengan seseorang di depan lobby gedung. Aku tetap memperhatikan mereka hingga aku sampai ke lantai dasar
“Udah cukup, sekarang aku mau pulang.” Kata Zahra kepada lelaki itu
Aku semakin mendekat kepada mereka dan ternyata lelaki itu adalah Tora, lelaki yang kemarin dibicarakan oleh Zahra.
“Udah sayang, aku anter pulang ya.” Kata Tora dengan nada yang menjijikan buatku
“Ngga mau..” Kata Zahra menolaknya
“Eh Zah, jadi ngga? Kan kita harus kumpul sama tim buat proyek lapangan minggu depan..” Kataku sambil menepuknya dan memberikan isyarat mata agar dia mengikutiku saja
“Eh Bram... Oh iya jadi jadi, daritadi ditungguin lama banget turunnya. Yaudah berangkat sekarang.” Katanya mengikutiku yang tentu saja itu hanya pengalihan
“Eh eh kamu mau kemana say?” Kata Tora
“Masih ada kerjaan, lupa.” Kata Zahra sambil meninggalkan dia di lobby gedung dan mengikutiku ke parkiran
Begitu kami masuk di dalam mobil, Tora juga sudah masuk ke dalam mobil dan membawa kendaraannya dengan cukup ugal-ugalan. Padahal ini masih pelataran parkir, bagaimana kalau dia sudah di jalan raya.
“Makasih ya Bram, untung ada kamu kalau ngga pasti udah ribet jadinya.” Katanya sambil menghela nafas
“Tora masih ngedeketin lu juga? Kan udah jelas dia yang salah.” Kataku
“Iya, makanya aku ngga ngerti sama jalan pikirannya dia. Yaudah aku keluar ya.” Katanya sambil memegang handle pintu mobilku
“Mau kemana? Emang bawa kendaraan?” Tanyaku
“Nanti naik taksi aja..” Katanya
Aku hanya mengangguk karena aku tidak bisa memaksanya. Dan setelah kejadian itu, aku putuskan untuk pulang ke rumah untuk bertemu Nanda dan juga Dinda. Perjalanan memang cukup macet karena ini adalah jam kerja. Aku lihat arloji tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh malam, berarti aku sudah hampir dua jam berada di dalam mobil. Dan tak ku sangka, setelah tiga jam akhirnya aku berhasil tiba di rumah. Itu adalah waktu terlama untuk sampai ke rumah. Setelah aku parkirkan mobilku, aku langsung masuk ke dalam sambil menyalakan sebatang rokok
“Kamu kok baru pulang?” Kata Dinda menghampiriku
“Iya tadi macet banget jalanan, ngga tau tumbenan banget sampe tiga jam gini.” Jelasku
“Sini tasnya..” Katanya sambil meraih tasku
Aku terheran melihat perilaku Dinda, kami hanya pacaran tapi perlakuannya seperti orang yang sudah berumah tangga
“Kamu mau kopi?” Tanyanya
“Boleh deh kalau kamu ngga kerepotan.” Kataku sambil memandangnya
Dia tersenyum dan menggelengan kepalanya. Sungguh senyuman yang membuat lelahku terbayarkan. Aku terduduk di sofa ruang tamu dengan membuka dua kancing kemejaku sambil menonton acara di tv. Dia datang dengan membawa secangkir kopi untukku dna kemudian dia duduk di sebelahku
“Nanda mana?” Tanyaku
“Lagi ke depan, katanya mau ngasih barang ke temennya.” Jawabnya
“Loh kok ngga di rumah aja?” Tanyaku lagi
“Ngga tau deh. Oh iya, gimana kerjaan kamu?”
Aku kepikiran tentang pemindahan kerjaku ke divisi lain dan sudah harus menjalani proyek di luar kota
“Aku pindah divisi jadi ke lapangan, minggu depan harus ngejalanin proyek di Bali.” Jelasku
“Wah kamu hebat juga, baru berapa bulan udah bisa pindah.” Katanya sambil tersenyum
“Makanya aku bingung, udah gitu harus ninggal Nanda lagi kan..” Kataku ragu
“Kamu ngomong aja dulu sama dia, mungkin dia bisa ngertiin kok. Cuma jangan hari ini juga, kayaknya dia lagi sibuk tugas.” Ucap Dinda sambil menepuk bahuku
Aku hanya menghela nafas. Apa yang harus aku lakukan saat ini?
“Iya Mas, saya selesaiin laporan ini dulu..”
“Oke makasih ya.”
Katanya sambil meninggalkanku. Hari ini adalah hari yang cukup sibuk di kantor. Laporan-laporan sudah harus diselesaikan akhir minggu ini juga. Aku yang sebagai anak baru harus bisa mengikuti cara kerja yang sudah lama. Memang rasanya cukup lelah, namun aku harus menunjukkan kinerjaku secara baik agar aku dapat tetap bertahan di perusahaan ini. Dari kejauhan aku melihat Zahra menuju mejaku sambil membawa beberapa lembar kertas yang aku tidak tahu itu apa
“Bram, sibuk ngga?” Tanyanya menghampiriku
“Lumayan sih, kenapa emang Zah?”
“Kamu disuruh ke ruangannya Pak Abrar. Katanya dia ada perlu, penting banget.” Jelasnya
“Ada apaan emang? Kok sampe penting banget.” Tanyaku bingung
“Ngga tau juga, aku disuruh nemenin kamu juga. Makanya ayuk sekarang.” Katanya
Dengan masih dalam keadaan bingung, aku meninggalkan kerjaanku sejenak untuk bertemu dengan atasanku Pak Donanta. Dia adalah founder dari perusahaanku bekerja sekarang. Aku dan Zahra sudah ada di depan ruangannya, siap tidak siap aku harus menemuinya karena ini adalah urusan penting. Aku ketuk pintunya dan aku buka perlahan.
“Oh anda Bram? Masuk masuk..” Katanya sambil mempersilahkan aku dan Zahra untuk masuk ke ruangannya
“Iya pak Saya Bram, ada perlu apa ya?” Kataku sambil mendekati mejanya dan disusul dengan Zahra
“Anda ini satu kampus dengan Zahra kan?” Tanyanya
‘”Iya Pak, saya satu kampus dengan Zahra..” Jawabku cukup gugup
“Saya sudah mendengar ceritamu dari Zahra, saya cukup tertarik dengan caramu menyelesaikan masalah. Jadi saya memanggil kamu ke sini untuk sekedar bertukar pendapat.” Jelasnya
“Maksudnya gimana Pak? Saya masih belum mengerti.” Kataku sejujurnya
“Jadi gini, saya sedang membutuhkan tenaga ahli untuk pengembangan proyek saya yang ada di Bali. Dan Zahra menyarankan kamu untuk ikut dalam proyek ini. Katanya tugas akhir kamu sangat sempurna, jadi saya sepertinya membutuhkan kamu dalam proyek ini.” Jelasnya lagi
Bali? Itu lumayan jauh dari sini. Aku juga masih tergolong baru di perusahaan ini, kenapa tidak yang senior saja yang diangkat? Aku masih tidak mengerti
“Kamu duduk dulu, kamu juga Zahra.” Dia mempersilahkan kami untuk duduk
Kami sudah duduk di hadapannya saat ini
“Jadi benar kamu adalah lulusan terbaik?” Tanyanya
“Bisa dikatakan seperti itu Pak..” Jawabku dengan ragu
“Bisa dikatakan? Jadi kamu bukan lulusan terbaik?” Tanyanya lagi
Zahra menyenggol kakiku dengan tangannya, dia memberi isyarat agar aku menjawabnya dengan jujur
“Iya Pak.” Kataku dengan tegas
“Kamu siap untuk ambil kerja lapangan di Bali?”
“Siap Pak.” Kataku tanpa keraguan
“Bagus, ini jawaban yang saya tunggu tunggu. Saya membutuhkan orang yang kerjanya sangat maksimal meskipun masih baru daripada sudah lama tapi tidak kompeten dalam bidangnya. Jadi mulai minggu depan kamu, Zahra dan tim akan berangkat ke sana.” Katanya dengan jelas
Aku menyanggupinya. Dan setelah itu aku dan Zahra meninggalkan ruangannya dan kembali ke meja kerjaku
“Jadi itu maksud lu?” Kataku kepada Zahra
“Iya, sayang banget kalau orang kayak kamu ngga ditaruh di lapangan.” Katanya sambil tersenyum kepadaku
Ini sebuah perubahan yang cukup besar dan cepat dalam proses pekerjaan. Saat aku baru masuk beberapa bulan sudah bisa berpindah ke divisi lain. Dan akhirnya aku mengembalikan laporan yang harus ku kerjakan kepada orang lain karena aku akan berpindah tempat dengan yang lain
Sore pun tiba, hari kerja sudah usai. Aku berniat untuk menjemput Dinda hari ini, namun ternyata Dinda sudah ada di rumahku menemani Nanda. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja. Saat ku turuni lantai gedung ini, aku melihat Zahra sedang berinteraksi dengan seseorang di depan lobby gedung. Aku tetap memperhatikan mereka hingga aku sampai ke lantai dasar
“Udah cukup, sekarang aku mau pulang.” Kata Zahra kepada lelaki itu
Aku semakin mendekat kepada mereka dan ternyata lelaki itu adalah Tora, lelaki yang kemarin dibicarakan oleh Zahra.
“Udah sayang, aku anter pulang ya.” Kata Tora dengan nada yang menjijikan buatku
“Ngga mau..” Kata Zahra menolaknya
“Eh Zah, jadi ngga? Kan kita harus kumpul sama tim buat proyek lapangan minggu depan..” Kataku sambil menepuknya dan memberikan isyarat mata agar dia mengikutiku saja
“Eh Bram... Oh iya jadi jadi, daritadi ditungguin lama banget turunnya. Yaudah berangkat sekarang.” Katanya mengikutiku yang tentu saja itu hanya pengalihan
“Eh eh kamu mau kemana say?” Kata Tora
“Masih ada kerjaan, lupa.” Kata Zahra sambil meninggalkan dia di lobby gedung dan mengikutiku ke parkiran
Begitu kami masuk di dalam mobil, Tora juga sudah masuk ke dalam mobil dan membawa kendaraannya dengan cukup ugal-ugalan. Padahal ini masih pelataran parkir, bagaimana kalau dia sudah di jalan raya.
“Makasih ya Bram, untung ada kamu kalau ngga pasti udah ribet jadinya.” Katanya sambil menghela nafas
“Tora masih ngedeketin lu juga? Kan udah jelas dia yang salah.” Kataku
“Iya, makanya aku ngga ngerti sama jalan pikirannya dia. Yaudah aku keluar ya.” Katanya sambil memegang handle pintu mobilku
“Mau kemana? Emang bawa kendaraan?” Tanyaku
“Nanti naik taksi aja..” Katanya
Aku hanya mengangguk karena aku tidak bisa memaksanya. Dan setelah kejadian itu, aku putuskan untuk pulang ke rumah untuk bertemu Nanda dan juga Dinda. Perjalanan memang cukup macet karena ini adalah jam kerja. Aku lihat arloji tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh malam, berarti aku sudah hampir dua jam berada di dalam mobil. Dan tak ku sangka, setelah tiga jam akhirnya aku berhasil tiba di rumah. Itu adalah waktu terlama untuk sampai ke rumah. Setelah aku parkirkan mobilku, aku langsung masuk ke dalam sambil menyalakan sebatang rokok
“Kamu kok baru pulang?” Kata Dinda menghampiriku
“Iya tadi macet banget jalanan, ngga tau tumbenan banget sampe tiga jam gini.” Jelasku
“Sini tasnya..” Katanya sambil meraih tasku
Aku terheran melihat perilaku Dinda, kami hanya pacaran tapi perlakuannya seperti orang yang sudah berumah tangga
“Kamu mau kopi?” Tanyanya
“Boleh deh kalau kamu ngga kerepotan.” Kataku sambil memandangnya
Dia tersenyum dan menggelengan kepalanya. Sungguh senyuman yang membuat lelahku terbayarkan. Aku terduduk di sofa ruang tamu dengan membuka dua kancing kemejaku sambil menonton acara di tv. Dia datang dengan membawa secangkir kopi untukku dna kemudian dia duduk di sebelahku
“Nanda mana?” Tanyaku
“Lagi ke depan, katanya mau ngasih barang ke temennya.” Jawabnya
“Loh kok ngga di rumah aja?” Tanyaku lagi
“Ngga tau deh. Oh iya, gimana kerjaan kamu?”
Aku kepikiran tentang pemindahan kerjaku ke divisi lain dan sudah harus menjalani proyek di luar kota
“Aku pindah divisi jadi ke lapangan, minggu depan harus ngejalanin proyek di Bali.” Jelasku
“Wah kamu hebat juga, baru berapa bulan udah bisa pindah.” Katanya sambil tersenyum
“Makanya aku bingung, udah gitu harus ninggal Nanda lagi kan..” Kataku ragu
“Kamu ngomong aja dulu sama dia, mungkin dia bisa ngertiin kok. Cuma jangan hari ini juga, kayaknya dia lagi sibuk tugas.” Ucap Dinda sambil menepuk bahuku
Aku hanya menghela nafas. Apa yang harus aku lakukan saat ini?
khuman dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas