Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini emoticon-Smilie
Semoga masih ada yang inget sama gue ya emoticon-Malu
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian emoticon-Smilie

Sometimes Love Just Ain't Enough



*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.


Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
pulaukapokAvatar border
afrizal7209787Avatar border
DhekazamaAvatar border
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
422K
1.5K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#886
PART 37

“Itu pacar lo?” tanyanya ke gue sambil memandangi foto di dompet gue.

Gue tertawa, kemudian menggeleng pelan.

“Bukan…” jawab gue.

“Mantan?”

“Bukan juga…”

“Terus siapa dong? Hahaha…”

“Cuma temen kok…” sahut gue.

“Namanya siapa?” tanyanya lagi.

“Sherly.”

“Temen kok sampe ada fotonya di dompet? Hayooo hahaha…”

Gue tertawa lirih.

“Panjang ceritanya, Fir…”

“Kayaknya serius banget?” tanyanya dengan ekspresi heran.

Gue tersenyum dan merenung, flashback kenangan-kenangan gue tentang Sherly. Kehadirannya singkat, tapi begitu berkesan di hati gue. Tampaknya Fira menangkap besarnya arti Sherly di hidup gue.

“Lo cinta ya sama dia?” tanyanya lagi.

Gue menarik napas dan menggelengkan kepala. “Entahlah, gue gak tau…” sahut gue lirih.

“Kalo lo ragu-ragu berarti iya….”

Gue melirik ke Fira dan tersenyum.

“Mungkin lebih tepatnya gue belum sampe kesana…” sahut gue.

“Anak mana dia?” tanyanya sambil mencomot kentang goreng.

“Fisip.”

“Lah, tetanggaan dong?”

“Iya…”

“Kenalin ke gue dong sini…”

Gue menghela napas dan tersenyum tipis. Fira memandangi gue dengan heran, sambil merapikan rambutnya yang hitam dan indah itu. Gue sedang memilah-milah kenangan di otak gue, dan memilih cerita yang mana yang akan gue sampaikan ke Fira.


“Gue mau sih ngenalin dia ke lo, tapi sayangnya sekarang dia udah pergi…” jawab gue sambil memaksakan senyum.

“Maksud lo?” tanyanya heran.

“Dia udah pergi.” gue mengulangi.

“Dia udah….meninggal?” tanyanya hati-hati.


Gue menyadari bahwa perkataan gue itu ambigu, dan kemudian gue ralat secepatnya. Gue menggeleng.

“Oh enggak, bukan gitu. Dia pergi tanpa ada pesan apapun ke gue, dan sekarang gue gak tau dia dimana.” jawab gue.

Fira mengangguk-angguk.

“Kapan terakhir kali lo ketemu dia?”

“Emm, sekitar 2 bulan yang lalu, kalo gue gak salah ngitung.”

“Dia orang mana?”

“Jakarta.”

“Kira-kira kenapa dia kok mendadak ngilang gitu?”

Gue mengangkat bahu.

“Gak tau juga gue, rasa-rasanya gak ada apa-apa, antara gue sama dia juga gak ada masalah. Terakhir sebelum dia ngilang itu dia lagi sibuk banget di kampus, katanya.” jawab gue.

Fira mengangguk-angguk lagi.

“Lo udah cari di kampusnya? Atau di rumahnya?”

“Udah, gue udah cari di kampusnya, tapi dari pihak kampus gak ngasih jawaban yang jelas. Rumahnya gue gak tau…”

“Temen-temennya?”

Gue menggeleng pelan.

“Jarang ada yang tau dia. Dia tipe anak pendiem, dan kebetulan anak-anak Fisip yang gue kenal, gak pada ngeh sama dia.”

“Susah juga ya….” ucapnya simpatik.

* * *


Gue turun dari mobil yang diparkir di halaman tak berumput, dan kemudian menunggu Bas keluar dari mobil untuk kemudian bersama-sama berjalan ke bangunan besar yang pernah gue kunjungi sebelumnya ini. Gue merasa familiar dengan segala hal yang ada disini, dan merasa damai ketika gue kembali lagi. Kami berdua melihat papan nama bangunan ini, dan gue mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu perlahan sambil mengucapkan salam.

Kami menunggu beberapa saat sampai akhirnya pintu terbuka, dan tampaklah bu Ismi, wanita setengah baya yang menjadi pengurus dari tempat ini. Ya, gue siang itu mengunjungi panti asuhan tempat gue dan Sherly pernah berkunjung. Gue tersenyum dan menyalami beliau, begitu pula Bas.

“Siang bu Ismi, maaf kami mendadak mengganggu kesini…” ucap gue sebagai pembuka.

“Selamat siang, ini mas-nya yang dulu kesini sama mbak Sherly itu ya?” sambut beliau dengan wajah sumringah.

Gue tersenyum dan mengangguk.

“Iya bener Bu, saya Dhika yang dulu pernah main kesini…”

“Ayo sini masuk-masuk, mas Dhika… Kalo yang ini mas siapa namanya?”

Bas tersenyum.

“Nama saya Baskoro bu…” jawab Bas lembut sambil memiringkan kepalanya.

“Mas Baskoro ya, ayo masuk-masuk mas….” ajak beliau ramah.


Kami berdua pun masuk ke ruang tamu, dan dipersilakan duduk di sebuah kursi rotan yang telah melapuk karena usia. Gue kemudian menceritakan garis besar tentang hilangnya Sherly, dari awal. Bu Ismi mendengarkan itu dengan penuh perhatian dan sesekali mengekspresikan kesedihannya. Ketika gue udah selesai bercerita, Bu Ismi tersenyum dan mengelus-elus punggung tangannya sendiri. Kemudian beliau mulai bercerita.


“Jadi begini, mas Dhika, mbak Sherly memang udah lama gak main kesini. Terakhir main kesini ya bareng sama mas Dhika dulu itu. Tapi memang setelah itu dia beberapa kali telepon kesini, sekedar untuk nanyain kabar adik-adiknya disini…” urainya.

“Kapan itu bu?” tanya gue.

Bu Ismi tersenyum dan menggeleng.

“Wah udah lupa saya mas, ada mungkin kalo bulan lalu. Teleponnya juga singkat-singkat kok, dan mbak Sherly juga minta maaf kalo dia belum bisa main lagi kesini, gitu katanya…” jawab bu Ismi lembut.

Gue dan Bas mengangguk-angguk.


Setelah beberapa waktu ngobrol-ngobrol, kami berdua pamit pulang. Bu Ismi mengantarkan kami sampai ke jalan setapak dekat mobil diparkir. Setelah mengucapkan salam, gue kemudian melihat sesosok anak kecil berdiri di pintu, dan tersenyum ke gue sambil melambaikan tangan. Anak kecil itu adalah Arga, yang dulu sewaktu gue kesini dia sedang terbaring sakit. Gue tersenyum, dan balas melambaikan tangan ke Arga, kemudian masuk ke mobil.
itkgid
oktavp
pulaukapok
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.