Kaskus

Story

kang.bastianAvatar border
TS
kang.bastian
I Want to Know What Mean of Love
I WANT TO KNOW WHAT MEAN OF LOVE


Assalamualaikum Wr Wb.
Haloo agan-agan penghuni forum SFTH semua. Sebelumnya aku mohon ijin untuk menuangkan cerita hidupku yang minimalis ini di forum ini. Tulisan kecil tentang kisah perjalanan hidup aku yang penuh asam manisnya kehidupan ini. Dan aku mohon maaf apabila dalam tulisanku ini masih jauh dari sempurna karena baru pertama kali ini aku mencoba menuangkan ingatan masa lalu aku dalam sebuah tulisan. Semoga agan-agan semua berkenan dengan tulisan aku ini.



GENERAL RULES

  • General Rules dari forum ini sendiri
  • Dilarang terlalu OOT maupun Oneliner
  • Bebas berkomentar apapun asal bahasanya sopan dan tidak menyinggung orang lain.
  • Demi kenyamanan tokoh-tokoh yang ada didalam cerita maka semua nama aku samarkan.
  • Tolong dibantu kritik dan sarannya ya biar tulisan ini lebih enak dibaca
  • Jadwal update tidak pasti. Sesuai kesibukan penulis dan mood penulis.
  • Tolong dibantu rate 5 ya gan emoticon-Big Grin


Quote:



Spoiler for Summary:
Diubah oleh kang.bastian 25-12-2015 18:40
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
4.9K
44
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
kang.bastianAvatar border
TS
kang.bastian
#15
PART 4

“Mau kemana mas sekarang kita?” tanya dia sambil naik keatas motor.

“Ke pantai yuk. Mau?”

“Tapi mendung begitu. Apa gag takut kehujanan mas?”

“Ehm nampaknya memang langit lagi galau. Ya udah kamu ada ide kemana dek?”

“Ke Amplas aja yuk mas. Aku ada barang yang mau dibeli. Udah lama kan gag nemenin aku ‘belanja’. Sekalian kita nanti makan siang disana. Mau?”

“Yaudah deh.”

Akhirnya aku membatalkan rencanaku ke pantai sama dia saat ini gara2 langit sepertinya sedang kelabu dan bersiap menurunkan air matanya ke bumi. Dan benar saja, tepat saat aku memakirkan motor di Mall yang berada dijalan raya Jogja Solo itupun hujan deras tampak mengguyur kota pelajar ini.

Elin nampak antusias sekali saat ini. Terlihat beberapa kali dia senyum sendiri menikmati moment ini. Nampak kebahagiaan di wajahnya yang cantik itu. Ah sungguh damai sekali hati ini menikmati moment kebahagiaan ini, syukurku dalam hati. Sepanjang kita memutari mall ini tangan dia terus melingkar di lengan kiriku. Mungkin dia merasa ingin bermesraan denganku atau dia hanya khawatir aku bakal meninggalkan dia karena dia tau aku paling males dengan yang namanya shoping bareng dia. Bukan masalah aku tak ingin bersama dia ataupun aku tak sayang dia, namun untuk menemukan satu barang yang dicarinya butuh waktu yang lama dan mungkin bisa saja mengitari seluruh tempat perbelanjaan ini. Dasar ‘girls’.

“Kamu mau cari apa to dek?”

“Sepatu mas, hehehehe. Beliin yah." emoticon-Big Grin

“Hehehehe, iyah aku beliin tapi jangan mahal-mahal. Maklum masih mahasiswa.”

“Oke siap bos. Yuk ke situ mas.”

“Ayuk deh.”
Akhirnya kita masuk kesalah satu stand yang menjual aneka sepatu olah raga yang didominasi warna orange itu. Dan seperti yang kuduga, saat di dalam dia hanya sibuk dengan dunia ‘belanjanya’ sendiri dan sepertinya nampak tidak peduli dengan aku disitu. Mungkin peranku disitu berubah menjadi tukang jinjing atau komentator pilihannya saja bukan sebagai cowoknya. Kalian merasa begitu juga kah?

“Mas ini bagus engga?” nunjukin sepatu warna pink.

“Bagus kok.” jawabku dengan malas.

“Kalau ini mas?” nunjukin sepatu warna biru laut.

“Bagus juga.” makin malas deh.

“Kalau gitu aku harus milih yang ini apa yang itu mas?”

“Emang kamu suka yang warna apa?”

“Dua-duanya, hehehehehe. Apa beli dua duanya ya? emoticon-Big Grin

“Gila bisa tekor aku mah kalau beli dua.”

“Yah sekali-kali ini ama pacar sendiri. Boleh ya ya ya.”

“Iya udah deh.” emoticon-Nohope

Mungkin kayaknya habis ini aku puasa seminggu deh demi nurutin kemauan gadis ini. Tapi tak mengapalah asal betis kakiku terselamatkan dari aktivitas berbahaya ini.

“Mas habis ini nyari baju ya.” emoticon-Big Grin

“Ets, no way. Aku laper sayang. Makan dulu aja yuk. Habis itu kita nonton.”

“Yah, ehmmmm.... Kamu mah gitu og mas. Kan jarang-jarang bisa ditemani kamu belanja.” Kata dia sambil memasang muka yang cemberut.

“Yah kapan-kapan lah aku temani belanja lagi ya. Aku udah laper banget sayang.”

“Ya udah deh, janji tapi ya.” emoticon-Big Grin

“Iya sayang iya....”

Akhirnya luluh juga dia. Baru saja aku ngorbanin uang sakuku buat nyelametin betisku. Masak aku harus terjerumus ke dunia yang membahayakan para lelaki itu lagi. Akhirnya kita masuk ke salah satu restoran bernuansa ungu yang ada di mall itu.

“Mas, mau pesen apa?”

“Ehm aku pesen nasi goreng spesial aja deh. Sama teh hangat manis ya.”

“Oke. Mbak ini sudah menunya.” Kata dia sambil nyerahin pesanan kami ke pelayan.

“Oke mbak jadi totalnya ‘sekian’.”

Aku pun segera mengambil dompet dan berhendak membayar pesanan itu. Tapi ternyata si Elina sudah memberikan sejumlah uang kepada pelayan itu.

“Kok kamu yang bayarin dek?”

“Yah gag apalah mas, kan tadi mas udah beliin aku sepatu.” emoticon-Big Grin

“Hehehehe, pengertian juga kamu ya dek.” emoticon-Big Grin

“Iyalah. Pacar siapa dulu. Kamu harusnya bangga punya pacar aku mas. Yang bisa mengerti kamu sepenuhnya. Jadi jangan sia-siain aku ya mas.”

“Iya sayang. Makasi ya. Eh aku ke toilet dulu ya sayang.”

“Iya deh. Boleh pinjem handphone mu mas?”

“Iya ini sayang.” Tanpa perasaan ragu pun aku kasihkan handphoneku ke dia. Aku memang sudah terbiasa meminjamkan hp ku dia. Kami sudah berkomit untuk selalu terbuka dan menghargai privasi masing-masing jadi kami tau harus bertindak bagaimana.

Aku pun berjalan meninggalkan dia ke toilet sekedar membuang panggilan alam yang sudah kutahan dari tadi. Selepas dari toilet segera kembali ke meja karena aku tak ingin kekasihku menunggu terlalu lama. Namun pemandangan berubah saat aku kembali ke meja kami. Muka Elina berubah dari yang ceria jadi gelap, mendung layaknya langit jogja sore itu yang masih setia diselimuti mendung pekat.
“Kamu kenapa sayang? Kok bete begitu.”

“Gag papa.”

Kuraih tangannya dan kugenggam erat-erat. Dia nampak malas-malasan dan enggan membalas genggaman tanganku. Fik kalau begini aku tau pasti ada yang salah. “Ada apa sayang. Aku sudah kenal kamu lama. Aku tau dengan raut muka mu yang begini, pasti ada yang salah. Ceritalah bukan kah kita sudah komit selalu terbuka?”

“Wulan itu siapa?” tanya dia datar. Dan aku pun tersenyum mendengar pertanyaan itu. emoticon-Smilie
Diubah oleh kang.bastian 17-12-2015 08:59
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.