- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.6K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#422
Teduh – Part 4
Euforia penoton masih terasa dalam diriku. Baru pertama kalinya aku tampil diatas stage yang begitu besar dan ribuan orang. Aku tak pernah menyangka jika Dean adalah seorang soloist yang terkenal di kalangan SMA kota Bandung. Namun meskipun begitu ia adalah pribadi yang rendah hati. Hasil perform kemarin pun 50% kami sumbang untuk yatim piatu. Di kala kehidupannya yang serba mewah ia masih ingat jika ada sebagian hak dari hartanya tersebut.
Kala fajar sudah mulai muncul, aku mereview penampilanku kemarin dengan Dean yang di rekam oleh salah satu crew. Syukur, aku tidak memalukan diriku sendiri apalagi Dean. Kami saling mengisi satu sama lain. Menutupi missing part.
Semenjak penampilanku bersama Dean. Aku kebanjiran followers. Kebanyakan mereka tahu akun instagramku karena didalam salah satu caption post instagram Dean ia menyebutkanku.
Di antara ribuan buku perpustakaan milik Pemerintah Kabupaten Bandung ini kami sibuk dengan masing – masing buku yang kami cari. Aku membuka halaman demi halaman buku mencerna isi buku ini hingga benar – benar bisa tertangkap olehku.
Buku tentang seputar jaringan komputer telah aku lahap. Ku keluarkan si kecil merah untuk memanfaatkan fasilitas free wifi untuk mencari beberapa informasi PTN ataupun PTS.
Dalam sebuah website yang menampilkan list PTN mataku tetap tertuju pada Universitas yang ada di Bandung. Aku mengklik PTN itu. Di tampilkannya list program studi. Saat mataku hilir mudik melihat prodi demi prodi mataku terhenti pada satu jurusan, Jurnalistik. Cita – citaku pada waktu berseragam putih biru adalah menjadi seorang jurnalis. Meski aku tahu jurusan ini tidak nyambung dengan keahlianku saat ini tapi apa salahnya aku mencoba peruntunganku untuk menjadi seorang jurnalis. Alangkah indahnya nanti aku jika bisa meliput berita, berlari – lari mengejar nara sumber, dan tidak lupa menggenakan id card “pers” yang menggantung di leher ku nanti.
Dean yang duduk di sampingku masih sibuk membaca buku tentang sejarah Sunda. Aku sudah tiga kali ingin mengajak ia berbicara namun ia selalu membalasnya dengan “suuut, jangan berisik.” Sesimple itu ia mematahkan usahaku untuk mengajaknya berdiskusi.
Dean ku biarkan untuk berduaan dengan buku yang ia baca. Aku kembali mencari PTS sebagai plan kedua jika aku tidak diterima. Setelah hilir mudik dari satu web ke satu web yang lainnya akhirnya ada sebuah PTS yang akan menjadi tujuanku kelak bila aku nanti tak berjodoh dengan Jurnalistik.
Tidak terlintas dalam benakku untuk kuliah di kampung orang. Aku sendiri memilih masih tetap di Bandung
karena kualitas Universitas di sini masih lebih baik dari pada kota – kota lainnya. Ada jiwa petualang yang ada dalam diriku namun tidak usah jauh – jauh menuntut ilmu jika di kampungku sendiri masih ada. Aku tidak ingin mempertanyaan kepada Dean dan beradu argumentasi. Biarlah ia mempunyai pilihan sendiri begitupun aku. Kami mengetahui mana yang pantas untuk diri kami masing – masing.
Perpustakaan milik Pemerintah Kabupaten ini mulai penuh. Beberapa orang berdiri di deretan rak buku mencari apa yang mereka cari. Ada juga yang memanfaatkan fasilitas free wifi. Meskipun sudah ramai banyak orang suasana perpustakaan masih kondusif. Adapun yang membuat gaduh, petugas langsung memperingatinya.
Kami masih terjaga dari hujan di dalam perpustakaan. Dean sudah lelah dengan rentetan buku yang ia baca. Kini ia mengeluarkan headset dari sling bag kulit lalu menancapkan ke smartphone miliknya.
When You Love Someone milik Endah N’ Rhesa menghangatkan kami dari rintik hujan. Akhir – akhir ini Dean memang sedang menyukai lagu ini. Di sela – sela waktu pun kadang ia menyenandungkan penggalan lagu ini. Aku sendiri memang menyukai lagu ini liriknya tidak lebay namun masih terasa sisi romantis.
Hujan semakin deras. Membuat Dean selalu menguap. Apalagi tadi ia sudah mendengarkan lagu akustik. Tiba – tiba kepalanya bersandar di bahku kedua tangannya memeluk pinggangku. Refleks tangan kananku mengelus kepalanya. Kebahagiaan itu mungkin sudah terganti oleh kebahagiaan yang baru. Mungkin itu kamu.
Pagi ini terasa berat untuk beranjak dari kasur tipis yang menjadi alasku untuk tertidur. Ku pejamkan kembali mataku untuk menerima ajakan ‘ngantuk’. Belum genap 5 menit aku tertidur. Handphoneku tak henti – hentinya berdering.
“Bangun, cepet temenin.” Ujar Dean. “He-em” Ujarku yang disambung menguap. “Aku jemput kamu jam 10:30”. Ujarnya, lalu Dean memutuskan sambungan telepon.
Aku beranjak dari kantukku, langsung mengguyur diri. Setelah itu aku memilih pakaian yang akan aku kenakan, rasanya kemeja dengan putih yang di kombinasikan dengan rompi abu – abu cocok untuk menghadiri acara semi-formal.
Dean yang berdampingan denganku mengenakan pakaian berwarna putih yang beraksen abu – abu. Aku tidak menyangka bila kita akan memakai warna pakaian yang senada. Ia begitu anggun. Beberapa teman lamanya menyapa, ia selalu menyimpulkan senyum terbaiknya.
“Betewe kita udah kesana kemari, tapi mana yang ulang tahunnya.” Aku menyebarkan pandanganku, semoga saja tidak ada yang aku kenal disini. “Dia lagi di dalem tapi bentar lagi keluar kok.” Dean mengetuk – ngetuk smartphone.
Euforia penoton masih terasa dalam diriku. Baru pertama kalinya aku tampil diatas stage yang begitu besar dan ribuan orang. Aku tak pernah menyangka jika Dean adalah seorang soloist yang terkenal di kalangan SMA kota Bandung. Namun meskipun begitu ia adalah pribadi yang rendah hati. Hasil perform kemarin pun 50% kami sumbang untuk yatim piatu. Di kala kehidupannya yang serba mewah ia masih ingat jika ada sebagian hak dari hartanya tersebut.
Kala fajar sudah mulai muncul, aku mereview penampilanku kemarin dengan Dean yang di rekam oleh salah satu crew. Syukur, aku tidak memalukan diriku sendiri apalagi Dean. Kami saling mengisi satu sama lain. Menutupi missing part.
***
Quote:
Semenjak penampilanku bersama Dean. Aku kebanjiran followers. Kebanyakan mereka tahu akun instagramku karena didalam salah satu caption post instagram Dean ia menyebutkanku.
Di antara ribuan buku perpustakaan milik Pemerintah Kabupaten Bandung ini kami sibuk dengan masing – masing buku yang kami cari. Aku membuka halaman demi halaman buku mencerna isi buku ini hingga benar – benar bisa tertangkap olehku.
Buku tentang seputar jaringan komputer telah aku lahap. Ku keluarkan si kecil merah untuk memanfaatkan fasilitas free wifi untuk mencari beberapa informasi PTN ataupun PTS.
Dalam sebuah website yang menampilkan list PTN mataku tetap tertuju pada Universitas yang ada di Bandung. Aku mengklik PTN itu. Di tampilkannya list program studi. Saat mataku hilir mudik melihat prodi demi prodi mataku terhenti pada satu jurusan, Jurnalistik. Cita – citaku pada waktu berseragam putih biru adalah menjadi seorang jurnalis. Meski aku tahu jurusan ini tidak nyambung dengan keahlianku saat ini tapi apa salahnya aku mencoba peruntunganku untuk menjadi seorang jurnalis. Alangkah indahnya nanti aku jika bisa meliput berita, berlari – lari mengejar nara sumber, dan tidak lupa menggenakan id card “pers” yang menggantung di leher ku nanti.
Dean yang duduk di sampingku masih sibuk membaca buku tentang sejarah Sunda. Aku sudah tiga kali ingin mengajak ia berbicara namun ia selalu membalasnya dengan “suuut, jangan berisik.” Sesimple itu ia mematahkan usahaku untuk mengajaknya berdiskusi.
Dean ku biarkan untuk berduaan dengan buku yang ia baca. Aku kembali mencari PTS sebagai plan kedua jika aku tidak diterima. Setelah hilir mudik dari satu web ke satu web yang lainnya akhirnya ada sebuah PTS yang akan menjadi tujuanku kelak bila aku nanti tak berjodoh dengan Jurnalistik.
Quote:
Tidak terlintas dalam benakku untuk kuliah di kampung orang. Aku sendiri memilih masih tetap di Bandung
karena kualitas Universitas di sini masih lebih baik dari pada kota – kota lainnya. Ada jiwa petualang yang ada dalam diriku namun tidak usah jauh – jauh menuntut ilmu jika di kampungku sendiri masih ada. Aku tidak ingin mempertanyaan kepada Dean dan beradu argumentasi. Biarlah ia mempunyai pilihan sendiri begitupun aku. Kami mengetahui mana yang pantas untuk diri kami masing – masing.
Perpustakaan milik Pemerintah Kabupaten ini mulai penuh. Beberapa orang berdiri di deretan rak buku mencari apa yang mereka cari. Ada juga yang memanfaatkan fasilitas free wifi. Meskipun sudah ramai banyak orang suasana perpustakaan masih kondusif. Adapun yang membuat gaduh, petugas langsung memperingatinya.
Kami masih terjaga dari hujan di dalam perpustakaan. Dean sudah lelah dengan rentetan buku yang ia baca. Kini ia mengeluarkan headset dari sling bag kulit lalu menancapkan ke smartphone miliknya.
Quote:
Quote:
When You Love Someone milik Endah N’ Rhesa menghangatkan kami dari rintik hujan. Akhir – akhir ini Dean memang sedang menyukai lagu ini. Di sela – sela waktu pun kadang ia menyenandungkan penggalan lagu ini. Aku sendiri memang menyukai lagu ini liriknya tidak lebay namun masih terasa sisi romantis.
Hujan semakin deras. Membuat Dean selalu menguap. Apalagi tadi ia sudah mendengarkan lagu akustik. Tiba – tiba kepalanya bersandar di bahku kedua tangannya memeluk pinggangku. Refleks tangan kananku mengelus kepalanya. Kebahagiaan itu mungkin sudah terganti oleh kebahagiaan yang baru. Mungkin itu kamu.
***
Quote:
Pagi ini terasa berat untuk beranjak dari kasur tipis yang menjadi alasku untuk tertidur. Ku pejamkan kembali mataku untuk menerima ajakan ‘ngantuk’. Belum genap 5 menit aku tertidur. Handphoneku tak henti – hentinya berdering.
“Bangun, cepet temenin.” Ujar Dean. “He-em” Ujarku yang disambung menguap. “Aku jemput kamu jam 10:30”. Ujarnya, lalu Dean memutuskan sambungan telepon.
Aku beranjak dari kantukku, langsung mengguyur diri. Setelah itu aku memilih pakaian yang akan aku kenakan, rasanya kemeja dengan putih yang di kombinasikan dengan rompi abu – abu cocok untuk menghadiri acara semi-formal.
Dean yang berdampingan denganku mengenakan pakaian berwarna putih yang beraksen abu – abu. Aku tidak menyangka bila kita akan memakai warna pakaian yang senada. Ia begitu anggun. Beberapa teman lamanya menyapa, ia selalu menyimpulkan senyum terbaiknya.
“Betewe kita udah kesana kemari, tapi mana yang ulang tahunnya.” Aku menyebarkan pandanganku, semoga saja tidak ada yang aku kenal disini. “Dia lagi di dalem tapi bentar lagi keluar kok.” Dean mengetuk – ngetuk smartphone.
Quote:
junti27 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup