- Beranda
- Stories from the Heart
Vita est Militia (Cerita Si Belalang Tempur)
...
TS
aldogunz
Vita est Militia (Cerita Si Belalang Tempur)
Vita est Militia ( Cerita Si Belalang Tempur )

Vita est Militia artinya itu “Hidup adalah Perjuangan” , ya kehidupan memang harus kita perjuangkan sampai selesai. Aku menggambarkan diriku seperti belalang, belalang tempur tentunya. Belalang ini unik, dia tidak mempunyai senjata atau apapun untuk melindungi dirinya, ia hanya mampu melompat jauh, dan belalang tidak pernah berhenti melompat, dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi belalang adalah pejuang kehidupan, sama sepertiku yang terus mencoba mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
F.A.Q
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Kasih Rate dan Cendol kalau agan suka cerita ini ya, makasih gan.

Cerita akan diupdate secara berkala ya gan.
Quote:
TERIMA KASIH, CERITA INI BERAKHIR DI PART 07, CERITA SELANJUTNYA DI THREAD ANE YANG BARU YA GAN, KARENA AKAN GANTI JUDUL.
.Lanjutan ceritanya: Senja di Sungai Chaopraya
Diubah oleh aldogunz 14-12-2015 13:48
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
3.7K
24
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldogunz
#14
PART 06
Memulai kehidupan baru sebagai seorang pelayanan restoran, aku bekerja dengan semangat yang cukup besar. Bekerja dimulai jam delapan pagi dengan membersihkan restoran terlebih dulu. Jam Sembilan kembali ke mes untuk mandi dan berganti seragam. Jam sepuluh pagi bekerja sampai jam dua siang. Dari jam dua siang sampai jam lima sore, waktu tidur siang. Menyenangkan ya masih punya waktu untuk tidur siang. Dari jam lima sore bekerja sampai jam sembilan malam, kalau lewat dari itu dihitung lembur. Karena aku menyukai makanan, bekerja di restoran ini sangat menyenangkan tentunya. Makanan-makanan Korea yang masih asing untukku, aku pelajari secara bertahap menu-menu yang ada di sana. Mr. Kim cukup galak, tapi sebenarnya dia sosok yang lembut, dia sering memberikan makanan untuk kucoba, maklum karyawan lainnya tidak bisa mencoba karena makanan korea banyak berbahan dasar babi.
Gajiku satu bulan sebesar 700.000 rupiah, gaji ini terkadang hanya habis dalam waktu dua hari, karena harus bayar kasbonan di warung. Tetapi tidak masalah, bekerja di restoran tidak akan pernah mati kelaparan. “Masita” menjadi andalan atau penyambung hidup. “Masita” ini singkatan dari makanan sisa tamu. Aku tak pernah malu atau gengsi untuk menyantap makanan-makanan sisa yang masih bisa dikonsumsi. Untuk gizi pastinya sangat terpenuhi, makanan korea banyak berbahan dasar daging dan sayuran. Jika ada bookingan untuk group besar, biasanya akan banyak makanan tersisa, karena menu yang disajikan berupa prasmanan. Aku sungguh bahagia bekerja di sana, selain itu aku mendapatkan teman-teman baru yang luar biasa. Mereka baru saja mengenalku, tapi ada rasa kekeluargaan yang kurasakan. Ada perhatian-perhatian yang mereka berikan, dari mengajariku dengan sabar, sampai membelikan makanan karena mereka tau kadang aku tak punya uang.
Ada kejadian yang tak bisa kulupakan, memecahkan beberapa piring saat membersihkan meja. Jadi waktu itu aku dan beberapa teman lainnya membersihkan salah satu meja yang ada di lantai dua. Di meja tersebut masih ada sisa minuman dari botol Soju (minuman beralkohol khas Korea) yang beisi setengahnya. Karena kesempatan langka, jadi langsung kutenggak sampai habis setelah kucampur dengan jeruk nipis, karena selama pengamatanku mereka minum Soju dengan cara seperti itu. Ternyata Soju ini cukup keras, dan kebetulan malam sebelumnya aku kurang tidur karena begadang nonton bola di mes. Dengan wajah yang mulai tampak merah, dan konsentrasi yang mulai hilang, tentu tangan ini tak lagi sanggup menahan tumpukkan piring yang kubawa. Aku sadar ada beberapa piring yang mulai keluar jalur dari nampan, tapi suara ini tak bisa keluar, aku ingin minta tolong kepada salah satu teman sebenarnya. Praaang…Priaaaaang…!!! Kaki ini rasanya lemas, pasti Mr. kim akan marah dan memotong gajiku. Suaranya terdengar satu restoran, tapi ternyata keberuntungan masih ada di pihakku. Beberapa detik sebelum piring jatuh ternyata Mr. Kim keluar dari restoran, jadi dia tidak mendengar suara piring yang pecah berantakkan. Teman-teman yang lain langsung membantu membersihkan piring-piring itu. Melakukan pekerjaan dibawah pengaruh alkohol memang sangat tidak dianjurkan. Bersambung...
Memulai kehidupan baru sebagai seorang pelayanan restoran, aku bekerja dengan semangat yang cukup besar. Bekerja dimulai jam delapan pagi dengan membersihkan restoran terlebih dulu. Jam Sembilan kembali ke mes untuk mandi dan berganti seragam. Jam sepuluh pagi bekerja sampai jam dua siang. Dari jam dua siang sampai jam lima sore, waktu tidur siang. Menyenangkan ya masih punya waktu untuk tidur siang. Dari jam lima sore bekerja sampai jam sembilan malam, kalau lewat dari itu dihitung lembur. Karena aku menyukai makanan, bekerja di restoran ini sangat menyenangkan tentunya. Makanan-makanan Korea yang masih asing untukku, aku pelajari secara bertahap menu-menu yang ada di sana. Mr. Kim cukup galak, tapi sebenarnya dia sosok yang lembut, dia sering memberikan makanan untuk kucoba, maklum karyawan lainnya tidak bisa mencoba karena makanan korea banyak berbahan dasar babi.
Gajiku satu bulan sebesar 700.000 rupiah, gaji ini terkadang hanya habis dalam waktu dua hari, karena harus bayar kasbonan di warung. Tetapi tidak masalah, bekerja di restoran tidak akan pernah mati kelaparan. “Masita” menjadi andalan atau penyambung hidup. “Masita” ini singkatan dari makanan sisa tamu. Aku tak pernah malu atau gengsi untuk menyantap makanan-makanan sisa yang masih bisa dikonsumsi. Untuk gizi pastinya sangat terpenuhi, makanan korea banyak berbahan dasar daging dan sayuran. Jika ada bookingan untuk group besar, biasanya akan banyak makanan tersisa, karena menu yang disajikan berupa prasmanan. Aku sungguh bahagia bekerja di sana, selain itu aku mendapatkan teman-teman baru yang luar biasa. Mereka baru saja mengenalku, tapi ada rasa kekeluargaan yang kurasakan. Ada perhatian-perhatian yang mereka berikan, dari mengajariku dengan sabar, sampai membelikan makanan karena mereka tau kadang aku tak punya uang.
Ada kejadian yang tak bisa kulupakan, memecahkan beberapa piring saat membersihkan meja. Jadi waktu itu aku dan beberapa teman lainnya membersihkan salah satu meja yang ada di lantai dua. Di meja tersebut masih ada sisa minuman dari botol Soju (minuman beralkohol khas Korea) yang beisi setengahnya. Karena kesempatan langka, jadi langsung kutenggak sampai habis setelah kucampur dengan jeruk nipis, karena selama pengamatanku mereka minum Soju dengan cara seperti itu. Ternyata Soju ini cukup keras, dan kebetulan malam sebelumnya aku kurang tidur karena begadang nonton bola di mes. Dengan wajah yang mulai tampak merah, dan konsentrasi yang mulai hilang, tentu tangan ini tak lagi sanggup menahan tumpukkan piring yang kubawa. Aku sadar ada beberapa piring yang mulai keluar jalur dari nampan, tapi suara ini tak bisa keluar, aku ingin minta tolong kepada salah satu teman sebenarnya. Praaang…Priaaaaang…!!! Kaki ini rasanya lemas, pasti Mr. kim akan marah dan memotong gajiku. Suaranya terdengar satu restoran, tapi ternyata keberuntungan masih ada di pihakku. Beberapa detik sebelum piring jatuh ternyata Mr. Kim keluar dari restoran, jadi dia tidak mendengar suara piring yang pecah berantakkan. Teman-teman yang lain langsung membantu membersihkan piring-piring itu. Melakukan pekerjaan dibawah pengaruh alkohol memang sangat tidak dianjurkan. Bersambung...
0